
Robin sangat menyesali keputusan putrinya tapi dia juga tak mungkin memaksakan kehendaknya, bukan Robin namanya kalau otaknya tidak cerdas dia pun segera terbang ke Indonesia untuk mendiskusikan masalah ini dengan besan nya, dia tak ingin jika rumah tangga anak nya berantakan, dia sangat tau bahwa hati Laras sepenuhnya milik Tama, begitupun Tama hatinya juga hanya milik Laras, hanya saat ini keegoisanlah yang telah menyelimuti hati keduanya.
"Bram kita perlu bicara." ajak Robin.
"Ada apa Bin, sepertinya penting?" tanya Pak Bram.
"Bisakah kita bicara berdua saja, diruang kerjamu mungkin." usul Om Robin.
"Baik tidak masalah." jawab Pak Bram, mereka berdua pun segera berjalan menuju ruang kerja pak Bram.
"Bram gimana kabar Tama?"tanya Robin.
"Dia hancur Bin dua wanita yang jadi penyemangat hidupnya telah pergi meninggalkanya." jawab pak Bram, suasana menjadi hening, Pak Bram tak kuasa menahan perasaan nya, air matanya menetes tanpa bisa dibendung, tak ada kata malu baginya jika berhadapan dengan nasib buruk rumah tangga putra dan mantu kesayanganya.
"Maaf Bin aku malah menangis cengeng sekali." ucap Pak Bram.
"Ga papa Bro biar gue anggota preman juga kalau gue sedih ya nangis." Robin memberi semangat pada sahabatnya agar tak malu padanya.
"Gue ga tau Bin mesti gimana ngobatin Tama, dia ga mau ketika gue panggilkan psikiater, kemarin dia marah Bin dokternya dilemparinya pakai semua yang ada disampingnya." Cerita pak Bram.
"Seandainya dia bisa lebih sedikit bersabar Bram, mungkin kejadiaan ga bakalan kayak gini." ucap Robin.
"Kamu benar Bin, itu yang sangat gue sesali sifat egois dan labilnya itu yang membuat putraku hancur." ucap pak Bram lagi.
__ADS_1
"Bram apa lo sayang sama Laras?" tanya om Robin.
"Gila lo Bin pertanyaan macam apa itu, sebelum kita ketemu juga gue udah nyariin dia, dia udah gue anggep anak sendiri Bin." jawab Pak Bram.
"Gimana kalau kita akalin mereka Bram?" om Robin mulai mengutarakan idenya.
"Selama Tama tak menceraikan Laras secara hukum kita biarkan saja mereka, biarkan mereka menenangkan diri dulu." ucap Om Robin.
"Boleh juga tu Bin, tapi gimana penghubung antara mereka sudah ga ada Bin." ucap pak Bram sedikit down.
"Ah elu Bram sama aja begoknya dengan wanita wanita itu, kelamaan diketek bini lo sih makanya otak lo separo hilang." ledek om Robin setengah mengumpat.
"Maksud lo apaan Bro kagak nyambung gue?" tanya pak Bram.
Tentu saja pak Bram terkejut." Ini gila Bin kenapa gue ga kepikiran sampai sana, Ya Tuhan Bin ini sangat Amazing, gue kasih tau Tama ya." ucap Pak Bram sambil beranjak dari duduk nya.
"Eee mau apa lo, duduk." perintah Robin.
"Tapi Bro sumpah ini lo ga lagi PHPin gue kan?" tanya Pak Bram.
"Kayak cewek aja lo pakek istilah PHP PHPan segala, ya enggak lah lo pikir gue apaan." jawab Robin.
"Ya Tuhan Bin lo tau gue bahagia banget, gue janji bakalan cari cucu gue buat putra dan mantu gue." janji Pak Bram sangking bahagianya dia pun kembali menangis lagi.
__ADS_1
"Telat." ucap Robin.
"Maksud lo?" tanya Pak Bram.
"Tu anak sekarang udah sama emak nya."jawab Robin gemes dengan kebodohan sahabatnya.
"Serius Bin, lo ga boong."Pak Bram berdiri dan tertawa sambil menangis bahagia, dia memeluk sahabatnya dan mengguncang guncang badan Robin.
"We we stop sakit *****."umpat Robin.
"Bin gue ga tau gue mesti bilang apa ama elo, rasanya jantung gue mau meledak karena ini." ucap Pak Bram saking bahagianya.
"Gue ada rencana bro biar mereka bisa lebih berfikir dewasa, sakit hati gue bro ketika cucu gue nyariin bapaknya, nangi gue ketika Laras bilang kalau daddy nya kerja, gue tau kebiasaan Tama kalau pagi selalu bikinin susu untuk anaknya dan mungkin karena kebiasaan itu Zia jadi terus nanyain daddy nya kalau pagi."jawab Robin.
"Ya Tuhan gue mesti gimana Bin supaya bisa bikin mereka rujuk kembali demi anak mereka?" tanya Pak Bram.
"Gue bilang biarin dulu mereka saling menenangkan saling intropeksi diri, sebisa mungkin lo jagain anak lo kasih tau dia supaya lebih bisa mengendalikan emosinya, sebaliknya gue bakalan bujuk anak gue juga supaya bisa memaafkan suaminya demi buah hati mereka Bro, gimana?" menurut pak Bram ini adalah ide paling brilian.
"Oke bro apapun akan gue lakukan untuk kebahagiaan mereka Bin, gue ga rela mereka pisah dan ngorbanin kebahagiaan Zia." jawab pak Bram.
Robin merasa lebih lega ketika sudah selesai berdiskusi dengan besanya, terlebih Bram paham menerima apa yang dia usulkan, kali ini mereka tinggal menjalankan apa yang sudah mereka sepakati.
Bersambung...
__ADS_1