
Robin meminta ijin pada istrinya untuk keluar sebentar dengan berat hati tante Arika yang hamil besar itu pun mengizinkan suaminya pergi, maklumlah ibu hamil jadi kolokan.
Robin memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi meluapkan emosinya disana rasa sakit yang dia rasakan dihatinya seolah menuntunnya untuk melakukan ini.
Ditemani beberapa ajudanya Robin menuju apartemen dimana Laras berada sekarang, sebelumnya mereka sudah mengintai menunggu Rosi pergi dari rumah agar dia bisa leluasa ngobrol dengan putrinya. Bukan Robin namanya kalau tak bisa memainkan tak tik mafianya, banyak orang yang terlalu bodoh untuk mengerti jalan pikiranya.
"Tahan wanita itu jangan biarkan dia kembali dengan cepat." perintah
"Baik bos." jawab mereka.
Tiga orang sudah siap membuntuti kemana mereka pergi dan menghalangi Rosi agar tak cepat kembali seperti perintah Robin, dengan langkah tegap Robin pun masuk ke apartemen yang Laras tinggali.
"Buka." perintah Robin, salah satu ajudan Robin pun membuka pintu itu dengan kunci yang mereka curi dari Rosi ahirnya Robin pun bisa masuk dengan leluasa.
"Kalian tinggu dibawah." perintah Robin lagi, mereka pun paham maksud bosnya biar tidak ada yang curiga dengan kedatangan dan maksud mereka.
"Ras." panggil Robin dia melihat putrinya meringkuk di sofa ruang Tamu Rosi.
Laras yang mendengar seseorang memanggil namanya langsung bangkit dari tidurnya, Laras bengong pikiranya belum konek, lalu dia pun bertanya.
"Bagaimana om bisa ada disini?" tanya Laras.
"Kamu lupa siapa papa?" Robin bertanya balik dengan gaya aroganya.
"Ras maafkan papa tak bisa menjagamu dengan baik, maafkan papa belum bisa jadi orang tua yang baik untukmu tapi mulai saat ini papa berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu apa kah mau mau hidup bersama papa nak?" tanya Robin selembut mungkin, Laras hanya diam tak menjawab, bahkan matanya pun tak berkedip ketika menatap Robin rasa traumanya membuatnya belum bisa berfikir.
"Ras apa kamu percaya yang kita kebumikan tadi adalah putrimu?" tanya om Robin penuh teka teki, seketika Laras mengerutkan dahinya bingung dengan apa yang diucapkan om Robin.
"Apa maksud om, jelas jelas itu baju sepatu dan gelang Zia yang kita temukan." jawab Laras dengan polosnya.
"Ras kamu jangan bodoh seperti suamimu dan keluarganya, apa kamu tau siapa yang menculik putrimu?" lagi lagi pertanyaan om Robin membuat Laras bingung, Laras menggeleng. Robin tersenyum.
"Maukah kamu percaya pada papa?" tanya Robin lagi, Laras masih belum bisa menjawab apapun.
"Berdoalah Ras jika yang kita kebumikan tadi bukan lah Zia kesayangan kita, karena papa yakin itu bukan putrimu, tunggulah tes DNAnya keluar maka kita akan tau itu putrimu atau bukan." tambah om Robin, seketika Laras menghambur kepelukan papanya.
__ADS_1
"Om hiks hiks Laras takut." ucap Laras dalam tangisnya.
"Sstt..... jangan takut sayang papa akan selalu ada untukmu, berdoalah bahwa Zia baik baik saja tanamkan kepercayaan dirimu lagi sayang jangan merasa sendiri ada aku papamu yang akan menemani dan menjagamu mulai saat ini heeemmm." Robin memeluk putri kesayangan nya dengan kasih sayangnya.
"Apakah mau mau ikut papa sekarang kita cari Zia sama sama." ucap Robin lagi, Laras mengangguk ada setitik harapan jika dia ikut dengan papa kandungnya.
Robin berdiri dan membantu putrinya beranjak.
"Sebentar ya Om Laras tulis pesan dulu buat dokter Laras." ucap Laras.
"Dokter?" tanya Robin.
"Iya yang ngedampingin Laras tadi sekaligus pemilik rumah ini itu Dokter nya Laras om." jawab Laras.
"Waduh." Om Robin mengusap kasar keningnya sambil tersenyum malu.
"Kenapa om?"tanya Laras curiga.
"Barusan papa kerjain dia." jawab Robin jujur.
"Kerjain gimana om?"
sambil menunjuk tas yang dia letakan disofa.
"Hah, om gimana bisa, isengnya, terus sekarang dia gimana?" tanya Laras khawatir.
"Papa sudah suruh anak buah papa buat bantu dia juga kamu tenang aja." kawab Om Robin.
"Om ma iseng." gerutu Laras.
"Kalau ga iseng mana bisa masuk sini." gumam Robin sepelan mungkin.
"Om bilang apa?" tanya Laras.
"Enggak papa pa bilang apa apa, terus saja menulis papa tunggu." jawab Robin, ternyata putriku polos juga Robin tertawa dalam batin nya.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan keisengan papanya Laras pun kembali menulis pesan untuk Rosi dan Aldo.
to: Rosi sahabatku.
Thanks ya Ros lo udah jaga gue seminggu ini, tak ada yang bisa gue kasih ke elo selain doa dan ucapan terimakasih, maaf kalau gue hanya bisa ngrepotin elo tolong sampaikan maaf dan terimakasih gue buat Aldo, gue janji akan jaga diri gue baik baik bilang sama dia jangan khawatirin gue, ya...semoga kita bisa ketemu lagi.
Salam sayang Laras, daaaa....
"Mari om Laras sudah siap." ucap Laras.
Laras pun mengemasi barang barangnya dan memilih ikut pergi bersama orang tuanya.
"Ras, kamu mau langsung terbang ke Singapura apa masih mau disini sama papa?" tanya om Robin.
"Laras mau ikut om cari Zia."jawab Laras.
"Baiklah kamu tinggu papa di Singapur ya, malam ini juga kamu papa bawa kesana." jawab on Robin.
"Bagaimana dengan tante om?"
"Papa sudah pamit tadi dengan mama mu kalau papa ada kerjaan." jawab om Robin santai.
"Om makasih banyak ya."ucap Laras.
"Sama sama nak jangan sungkan aku papamu kan." jawab Om Robin berusaha terus mendekatakan dirinya pada putri kesayanganya.
"Om bagaimana cara Laras membalas kebaikan om?" tanya Laras, pertanyaan yang bagus batin Robin.
"Kamu cukup memanggil ku dengan sebutan papa saja sudah cukup." jawab Robin.
"Ga mau." goda Laras sambil tersenyum, Robin sedikit bahagia walaupun masih terpaksa Laras sudah bisa tersenyum.
"Anda om ku bukan papaku, ayahku Herman namanya."jawab Laras sambil membuang pandanganya keluar jendela, jawaban Laras menumbuhkan sifat iseng Robin.
"Aku yang membuatmu lo, bahkan waktu itu aku sangat semangat ketika membuatmu." goda om Robin, Laras melirik sebel kearah Robin, Laras tak mau meladeni kekonyolan Robin, dia hanya tersenyum malu akan candaan papanya. setitik harapan dihati Laras bahwa bersama papanya dia akan mendapatkan titik terang akan keberadaan putrinya kesayanganya.
__ADS_1
"Zia."
Bersambung...