PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Berjanji Dalam Hati


__ADS_3

Dengan susah payah ahirnya Tama mampu membuat istrinya terlelap, dielusnya rambut Laras penuh kasih sayang Tama menatap wajah teduh istrinya, hatinya terasa diremas oleh sesuatu yang pernah dia lakukan pada Laras, perlakuan kasar yang pernah dia berikan pada Laras tiba tiba terlintas lagi di pikiranya, dikecupnya lagi kening wanita cantik ini seolah memberikan penawar luka untuk hati pemilik untuh cintanya.


Mungkin perasaan yang udah diinstal ulang inilah yang membuat Tama mampu merasakan sakit yang istrinya rasakan, dia bahkan berjanji dalam hatinya sendiri akan menemani Laras hingga maut memisahkan mereka.


Tama bangun dan beranjak dari ranjangnya ketika mendengar tangisan putri kecilnya, digendongnya putri cantiknya itu keluar kamar.


Tama meminta susi untuk menghangatkan ASI untuk Zia, dengan penuh kesabaran dia mendiamkan putrinya, mengajaknya bicara kesana kemari Pak Bram yang melihat kejadian itu langsung bertanya.


"Hay kesayangan opa kenapa nangis nak?" tanya Pak Bram.


"Adek haus opa." jawab Tama mewakili baby Zia.


"Ooo haus sini sama opa nak." ucap Pak Bram sambil meminta Zia dari gendongan Tama.


"Emang papi punya t****k pi?" tanya Tama menggoda papinya dan Plaaakkk.


Pukulan pelan mendarat dikepala Tama, Tama pun meringis kesakitan.


"Aduh sakit pi." ucap Tama sambil tersenyum lebar, Tama memang sudah berubah sejak dia memiliki cinta dia lebih ceria dan suka bercanda, sudah tak kaku lagi, Ya begitulah kekuatan cinta bisa mengubah segalanya.


Susi sang asisten rumah tangga dirumah pak Bram datang menghampiri mereka dan membawa sebotol ASI yang sudah dihangatkan.


"Den maaf ini susu untuk dedek." ucap Susi.


"Makasih mbak Susi." jawab Tama, Susi hanya tersenyum.


"Pi ini gimana cara kasihnya ya?" tanya Tama.


"Papi juga ga tau Tam, cem mana ini kasih nya he.." pak Bram pun bingung, Susi kembali membalikan badanya kemudian dengan sedikit tertawa dia mulai berbicara, ketika melihat muka kedua majikanya lagi dia tertawa lagi, pak Bram dan Tama saling pandang.


"Berani sekali dia ketawain kita pi." ucap Tama wajahnya terlihat serius tapi Susi tau jika Tama hanya bercanda padanya.


"Maaf den, mari biar saya saja yang kasih." ucap Susi menggigit bibir bawahnya karena menahan tawa.


"Enak saja, saya bapaknya Sus saya pasti bisa, kasih tau caranya saja." jawab Tama ketus.


"Baiklah mari." Tama mengambil baby Zia dari gendongan papi nya kemudian memangkunya, Susi mengambil kan bantal besar sebagai tatakan tubuh munggil Zia agar Tama bisa duduk tegak ga terlalu lelah, sedangkan bantal kecil Susi letak kan dilengan Tama agar Zia merasa nyaman saat menyusu.


"Ribet banget yak mau n***n aja." ucap Tama.


"Biar aden ga terlalu capek nanti nya, kan pasti lama mimiknya den." jawab Susi, kemudian Susi memasukan botol susu ke mulut mungil Zia, Zia pun mulai menikmati ASInya.


"Pegangnya agak miring gini ya den biar dedej Zia ga kesedak, kalau mulutnya berhenti mimik nanti aden ketuk pelan aja botolnya biar dia mau mimik lagi." ucap Susi.


"Oke oke, ternyata ada tekniknya pi." jawab Tama tertawa, Susi tersenyum lagi.


"Udah sana Sus, kamu ketawain kita terus malu aku." usir Tama, Susi pun segera melangkah pergi.


"Susah juga ya pi jadi emak emak ya." tambah Tama.


"Makanya jangan berani berani kamu sama emak mu."


"Hem papi, eh pi ngomong ngomong ibu ratu masih ngambek kagak?" goda Tama.

__ADS_1


"Ck mamimu mana bisa lama lama marah sama papi, dia mana bisa tidur tanpa ketek papi." jawab pak Bram, Tama pun tertawa mendengar jawaban papinya, dasar tua tua keladi.


"Eehheemmm( pak Bram menghela nafas berat), apa istrimu baik baik saja?" tanya pak Bram.


"Semalam Tama sudah jujur sama dia pi. tentu saja dia shock dan semaleman dia ga tidur makanya pas Zia nangis Tama ga tega bangunin dia." jawab Tama


Pak Bram menganguk angukan kepalanya.


"Semalam mertuamu menghubungi papi, menceritakan apa yang dia ketahui tentang Luna, kita bakalan dapat kejutan Tama, kamu harus siap siap." ucap pak Bram mengingatkan.


"Apa itu pi?"


"Luna oprasi plastik merombak seluruh wajahnya untuk mengelabuhi kita." ucap Pak Bram.


"Apa papa yang kasih tau ini?" tanya Tama.


"Kamu benar, Robin sengaja membiarkan Luna melakukan apa yang dia mau, dia ingin Luna melakukan banyak kesalahan agar lebih lama nantinya dia mendekam dipenjara." jawab Pak Bram.


"Apa benar pi kalau papa baru berhubungan dengan tante Luna empat tahun terahir ini?" tanya Tama.


"Sepertinya benar, dia hanya mau membalas perselingkuhan istrinya tapi malah kebablasan, dia malah hobi main perempuan dasar laki laki." pak Bram tertawa ketika menceritakan tentang sahabatnya.


"Dia terlihat sangat mencintai almarhum mama Hana pi." ucap Tama.


"Kamu bener bahkan foto Hana masih tersimpan rapi didompetnya." jawab Pak Bram.


"Mencintai memang sakit." ucap Tama, pak Bram hanya melirik dan tersenyum ketika mendengar ucapa putranya.


*****


Aldo sudah siap dengan stelan kerjanya hari ini dia diminta pak Bram untuk mewakilinya rapat dengan kuasa hukum pak Bram yang menangani masalah resort Laras di Bali yang sempat mau dilelang oleh Antok paman Laras.


Dengan gagahnya Aldo masuk keruang rapat. disana sudah ada tim kuasa hukum kepercayaan pak Bram.


"Selamat siang semua." sapa Aldo.


"Siang." sapa mereka.


"Silahkan duduk, mohon maaf papi tidak bisa menghadiri rapat ini karena ada kepentingan lain, oke bisa kita mulai sekarang." ucap Aldo.


"Maaf pak Aldo asisten saya masih baru, dia yang membawa berkas berkasnya, apakah anda keberatan jika menunggunya sebentar saja, dia bilang sudah dekat sini." ucap kuasa hukum Pak Bram.


"Tidak masalah." jawab Aldo.


"Sebelumnya biar saya jelaskan pak Aldo nanti anda bisa langsung tanda tangan disurat serah terima nya."


"Baik tak masalah." jawab Aldo.


Kuasa hukum itu pun menjelaskan kronologi dan bagaimana caranya serta solusi yang mereka ambil sehingga mereka berhasil menggagalkan rencana pelelangan resort milik Laras.


"Bagus, saya suka." jawab Aldo.


"Apakah paman dari pemilik resort ini bisa kita tuntut atas kasus ini?" tanya Aldo.

__ADS_1


"Tentu pak, beliau sudah tau itu ini termasuk tindak pidana penggelapan dan pencurian aset, untuk aset yang lain sedang kami proses." jawab nya, tak lama terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Masuk." jawab Aldo, sang asisten patner kerjanya pun masuk, Aldo tekejut hah jadi asistenya si lampir, hah asik ni batin Aldo licik.


"Maaf pak." ucap Sharon.


"Oke tak masalah, silahkan duduk." jawab Aldo, Sharon pun duduk dan segera menyerahkan semua berkas berkas yang dia bawa pada atasanya.


" Perkenalkan ini adalah asisten baru saya pak namanya Sharon dia luar biasa."


"Luar biasa kok telat." gerutu Aldo.


"Apa bapak mengatakan sesuatu?" tanya pak kuasa hukum.


"Tidak ayo teruskan." jawab Aldo, atasan Sharon melihat jam tangan nya seketika dia ingat bahwa ada rapat ditempat lain, dia pun ijin pamit pada Aldo dan Aldo pun langsung mengizinkanya, ahhh kesempatan ini batin Aldo.


Diruangan itu tinggalah Aldo dan Sharon, Sharon dengan teliti menjelaskan apa yang perlu dia sampaikan pada Aldo.


"Gue udah tau lo telat." jawab Aldo ketus, dia berjalan mendekati pintu dan mengunci pintu itu serta mengantongi kuncinya.


"Ngapain lo kunci kunci pintu musang?" tanya Sharon sedikit takut.


"Suka suka gue lah kantor kantor gue takut lo ya." goda Aldo.


"Jangan macem macem lo ya." hardik Sharon.


"Siapa suruh lo dateng pas banget gue lagi pengen." makin seru aja lihat muka Sharon yang sedikit gugup.


"Pengen apa lo?" tanya Sharon gugup.


"Lagi pengan makan cewek." celetuk Aldo.


"Lo jangan kurang ajar ya musang." umpat Sharon, Aldo berdiri dibelakang Sharon dan dengan nakalnya dia menatap kearah belahan dada Sharon, Sharon yang sadar dengan mata nakal Aldo langsung menutup dadanya.


"Ngapain ditutupin, kan disini cuma ada kita." Aldo makin suka menyulut emosi Sharon, Sharon masih berusaha tenang.


Aldo kembali setelah berhasil menikmati kegugupan musuhnya.


"Lo tenang aja lampir biar dada lo gede gue ga nafsu makan elo, mana sini yang perlu gue tanda tangani." pinta Aldo sambil melirik kearah Sharon, dia memang cantik kalau marah batin Aldo.


Sharon pun memberikan beberapa berkas yang harus Aldo tanda tangani.


"Kapan lo kawin, ngundang gue kagak?" tanya Aldo tiba tiba bersahabat.


"Ogah." jawab Sharon ketus.


"Kenapa?" tanya Aldo.


"Makan lo banyak."


"Dih sok tau."


Sharon mengambil berkas yang sudah Aldo tanda tangani dan merapikan nya kembali.

__ADS_1


Sharon hendak berpamitan tapi Aldo malah menatapnya, tatapan dengan beribu pertanyaan membuat Sharon salah tingkah.


Bersambung....


__ADS_2