PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Hobi Baru Tama


__ADS_3

Siang itu asisten Tama memberi kabar bahwa salah satu kontraktor yang akan bekerja sama dengan perusahanannya menginginkan pertemuan mendadak sehingga mau ga mau Tama pun harus meninggalkan Laras sendiri, tak lupa dia meminta bik Marni datang untuk menemani istrinya.


Tama sedang bersiap, dia tau bahwa Laras terus memperhatikanya, seketika ide jahilnya datang.


"Tu kan aku bilang juga apa jangan terlalu benci padaku nanti jatuh cinta, jatuh cinta bener kan." Tama mendekati Laras sambil mengalungkan dasinya, Laras tak membalas candaan Tama.


"Bantuin pakai dong." pinta Tama sambil mengarahkan tubuhnya mendekati Laras.


"Bisa kan sendiri." Laras melirik Tama kesal.


"Biasanya sih bisa pasang sendiri pas ada kamu kok aku jadi grogi ya, gugup sampai ga bisa pakai sendiri." terpaksa Laras menuruti keinginan pria menjengkelkan didepan nya ini. Tama menatap mesra wajah istri nya, bibir pink Laras yang tertutup rapat itu seakan menggodanya.


Ingin rasanya Tama memakan bibir indah didepanya, andai Laras sudah tak marah padanya pasti dia nekat.


"Besok udah boleh pulang lo, mau pulang kerumah sendiri apa ikut mamas ke apartemen?" tanya Tama, Laras menatap Tama dengan tatapan kemarahan.


"Dih ditanya baik baik marah mulu yak pengen dicium ya, sini." kali ini Tama nekat dia pun memberikan ciuman dibibir Laras, Tama merasakan Laras berontak dan mendorong dadanya, tapi sayang peluk kan Tama begitu kuat sehingga percuma Laras melawan, perlahan pertahanan Laras runtuh dia pun mengikuti alur yang Tama ciptakan, entah apa yang ada dihati mereka nyatanya ciuman yang mereka lalukan sekarang begitu lembut dan mendalam, tangan Laras yang mulanya mendorong dada Tama perlahan turun dan memeluk pinggang pujaan hatinya, meski hatinya menangis tapi Laras tak mampu menahan dorongan cinta yang menggebu didalam hatinya, ciuman itu berkali kali mereka ulangi bahkan mereka tak ingat lagi dengan masalah yang membelit hubungan mereka, mereka tak perduli pangutan itu tetap berlanjut seolah mereka sedang memakan makanan yang mengandung bumbu bumbu kerinduan yang lama terpendam, Tama melepaskan pangutanya dan mengelap bibir pink Laras yang sedikit membengkak karena ulahnya.


"Tanpa mas katakan mas yakin kamu paham dengan apa yang ada dihati mas sekarang Ras." ucap Tama, Laras hanya mengangguk meski dia tak paham serta masih sibuk merutuki kebodohanya.


"Mau ciuman lagi." goda Tama, spontan Laras menutup mulutnya dengan jari jari manisnya dan menggeleng.


"Ya udah kalau ga mau kamu makan dulu gi, bentar lagi sibaby bakalan datang minta jatahnya." Tama sekarang makin hobi menggodanya.


Tama berdiri dan menyiapkan makan untuk istrinya, Laras ingin bertanya tapi takut, bukan karena apa, manusia satu didepanya ini sangat aneh dia susah ditebak jalan pikiranya.


"Emm mas." Laras memberanikan diri membuka suaranya.


"Apa masih mau mas cium."


"Dih enggak mesum banget sih." umpat Laras.


Tama tersenyum dan duduk disisi ranjang istrinya. Laras mengaduk aduk nasinya pelan, Tama tau istrinya ingin mengatakan sesuatu tapi ragu, dia pun mulai menggodanya lagi.


" Kenapa mami nya baby ga mau ditinggal apa mau disuapin heemm?" goda Tama.


" Enggak mamas dih, bukan itu." jawab Laras.


"Lalu, apa mau yang itu, kan baru melahirkan belum boleh, ntar ya kita puasa dulu." tambahnya, Laras kembali menatap Tama dengan muka ingin mencakarnya.

__ADS_1


"Ya Allah mas kamu ini kenapa?" ternyata selama ini Tama benar, dia tak salah menilai Laras, Laras adalah wanita yang sulit mengekpresikan kemarahanya hampir mirip dengan nya tapi masih jauh.


"Mas ga papa, kalau kamu minta sekarang ya ayok." Tama hendak memeluk Laras, spontan Laras mengangkat sendoknya.


"Jauhin ga tanganya." hardik Laras.


"Duh galaknya." Tama memundurkan badanya dan beranjak turun dari ranjang Laras, dia pun melangkah mengambil jas nya dan memakainya, Laras memanggilnya kembali.


"Mas."


"Tu kan bener ga rela mau ditinggal, mas meeting bentar doang honey nanti mas balik kesini." Tama semakin semangat melakukan hobi barunya yaitu membuat Laras kesal.


" Bukan itu mamas ih, Laras cuma mau.."


"Mau apa kalau ga cepetan mamas tinggal ni."


"Laras mau pinjam KTP mamas, boleh?" tanya Laras gugup.


"Buat apa KTP?" tanya Tama, pertanyaan Tama membuat Laras sedikit gugup.


"Pihak rumah sakit memintanya untuk bikin surat tanda lahir si dedek." jawab Laras.


"Boleh kenapa enggak tapi ga gratis tentunya." balas Tama.


"Ya mau ga?"


"Mas mau berapa?" tanya Laras, Tama mendekati Laras lagi.


"Semua yang kamu miliki, gimana?"


"Mamas kan tau Laras ga punya apa apa, kan Laras tinggalnya juga dirumah mamas, mobil motor juga punya mamas kan, Laras ga punya apa apa mamas." jawab Laras mulai naik emosinya.


"Ya udah kalau kamu ga punya apa apa kamu kasih diri kamu aja buat aku gimana."


"Ya Allah mau pinjam KTP aja susahnya, pinjam doang mamas toh itu buat putrimu bukan buat aku,"


" Bukan urusanku itu ma mau buat siapa nantinya, yang pasti kan kamu yang pinjam jadi kamu yang harus bayar." jawab Tama. bisa aja ni orang jawabnya, heran gue.


"Ya udah mamas mau diri Laras kan ambil pisau sana potong bagian mana yang mamas mau biar mamas puas sekalian."

__ADS_1


"Aku mau bagian hatimu yang memiliki cinta apa kamu sanggup memberikanya untukku." Mata mereka saling menatap Laras tak bisa mengeluarkan kata katanya, dulu kamu menolaknya mas lalu kenapa sekarang kamu memintanya kembali, seketika Laras tersadar dan mengingat lagi tetang surat tanda lahir putrinya.


"KTP dulu." Laras mengulurkan tanganya, mata Tama masih menatapnya mesra, Tama mengeluarkan dompetnya, dan memberikan semuanya pada Laras.


"KTP nya doang mamas."


"Satu kartu disitu harganya satu ciuman, jika kamu ambil dua atau tiga ya disesuaikan." balas Tama.


"Mas tadi kan udah."


"Ya kan lain ceritanya."


"Licik banget sih mas." umpat Laras.


"Bukan licik tapi cerdas."


"Tau ah, Laras ambil KTPnya ni, mana pipinya sini in." Laras sudah tak sabar ingin menyudahi perdebatanya dengan pria menyebalkan disampingnya ini.


Laras menangkap kedua pipi Tama dan meciumnya sekali.


"Emuh nah udah."


"Itu bukan ciuman namanya."


"Lalu." Tama tak menjawab pertanyaan Laras, dia pun memiringkan wajahnya dan mulai memangut lagi bibir Laras yang sudah menjadi hobinya. Tama tersenyum.


"Makasih." ucap Tama sambil mengusap lembut pipi istrinya. dia pun beranjak dari duduknya dan bersiap pergi.


"Yakin ni cuma KTP ga mau kartu yang lain, mumpung belum jalan?" Tama semakin menjadi.


"Ga ini aja." jawab Laras.


"Ya udah mas jalan dulu ya, bentar lagi bik Marni dateng mamas udah tunggu sama Izal di lobi, jangan lupa dimakan oke."


"Hemm"


"da.."


Tama pun meninggalkan ruangan Laras dengan senyum penuh kemenangan karena dia berhasil membodohi istri cantiknya itu dengan akal bulusnya.

__ADS_1


"Lucu sekali dia.."


Bersambung....


__ADS_2