
Laras tak bisa tidur meski dari pertama dia naik keranjang Tama sudah mendekapnya, Laras malah terbius oleh pemikiran nya sendiri, kenyataan yang baru Tama ucapkan membuat jiwanya goyah Laras merasa merinding mengetahui dia bukalah anak kandung dari orang tua yang membesarkanya, bahkan pada kenyataanya pria yang sangat ditakutinya adalah ayah kandung nya bagaimana mungkin dia akan menerima kenyataan ini sedangkan Robin sudah menjadi momok menakutkan buatnya ketika dia masih dalam asuhan paman dan bibiknya.
"Sayang kenapa kamu ga bobo hemm?" tanya Tama.
"Laras ga bisa bobo dad." jawab Laras.
"Kenapa hemm?"
"Apakah yang daddy katakan tadi serius?" tanya Laras, Tama mempererat pelukanya mencium kening istrinya dan memberikan ciuman hangat dileher Laras.
"Daddy ga bohong sayang, sudahlah sayang jika kamu belum bisa menerima kenyataanya jangan terlalu kamu pikirkan anggaplah kamu belum mendengarnya sayang." ucap Tama berusaha memberi pengertian pada istri agar tak terlalu memikirkan kenyataanya yang ada.
"Bagaimana bisa begitu dad, aku anak haram dad." seketika tangis Laras pecah, bertambah lagi sekarang beban mental yang Laras rasakan.
"Sstt kamu ga boleh ngomong gitu, didunia ini ga ada anak haram semua anak itu terlahir bersih tanpa dosa, anak tidak menangung kesalahan orang tuanya aku harap kamu mengerti itu istriku." tambah Tama.
"Aku malu suamiku."
"Kamu malu sama siapa?"
"Laras malu sama kamu suamiku ternyata Laras anak dari hasil yang tidak baik." ucap Laras, dia kembali membenamkan wajahnya didada suaminya.
"Untuk apa kamu malu istriku kamu ga salah dalam hal ini, kita kan ga bisa milih kita mau lahir dari rahim siapa iya kan?"
Laras masih saja larut dalam tangisan nya, meski Tama selalu berusaha menenangkan nya, entah mengapa saat ini dia merasa sangat kotor dan hina terlebih suaminya yang duluan mengetahui kenyataan tentangnya.
***
Bukan Luna namanya kalau tak bisa mengelabuhi para musuhnya, dia berhasil terbang ke Korea dengan selamat tanpa ada halangan apapun, sesampainya disana dia langsung membuat janji pada ahli bedah untuk merombak ulang wajahnya.
Robin tersenyum sinis ketika mengetahui fakta ini, dia bukan tidak tahu bahkan dia sangat paham dengan tak tik dimainkan seorang Luna, bahkan Robin sudah menyewa beberapa orang orangnya untuk selalu mengawasi pergerakan Luna.
Luna merasa bagaikan burung yang sudah bebas dan merasa telah keluar dari sangkarnya, bahkan sekarang proses perceraian dengan Antok pun sudah ia jalani.
"Sekarang waktunya menikmati hidup." gumam Luna .
__ADS_1
Robin memberi sedikit kebebasan pada Luna karena saat ini dia sedang sangat bahagia, tapi tidak begitu saja melepaskanya, dia sudah mulai menyusun strategi untuk membuat Luna membusuk dipenjara.
"Buatlah sebanyak mungkin kesalahan wanita gila agar aku lebih mudah menghabisimu."gumam Robin sambil tersenyum sinis.
....
Keesoka harinya Tama meminta Izal asistenya untuk menjadwalkan pertemuan dengan Robin.
Robin pun membuka kedua tangan nya untuk menerima kedatangan menantunya dihotel dimana dia menginap.
"Sore pa." sapa Tama.
"Sore nak silahkan masuk." balas Robin.
"Maaf pa aku menganggumu ada sesuatu yang mau saya tanyakan. " ucap Tama.
"Tentu saja mari duduklah apa kamu suka wine?" tanya Robin pada menantunya.
"Tidak pa terimakasih, kalau saya berani minum itu alamat bisa dipecat jadi suami saya sama putri papa hahaha."ucapan Tama tentu membuat Robin tertawa, ternyata putrinya mempunyai pesona yang sama dengan mamanya.
"Papa bisa aja, begini pa maksud kedatangan saya kesini ingin menayakan sesuatu pada papa ini mengenai ayah Herman." balas Tama.
"Tentu saja silahkan, apa yang kamu mau tau tentangnya." jawab Robin.
"Apakah papa mengenal tante Luna?" tanya Tama, Robin tertawa licik.
"Tentu saja dulu dia mantan pacar Herman sebelum menikah dengan Lusi." jawab Robin.
"Apakah papa tau penyebab kematian Ayah?" tanya Tama.
"Kalau soal kematian Herman aku tidak tau, saat itu aku masih di Jerman, sejak mama mu memutuskan papa, papa langsung bertolak ke Jerman papa mulai mengajar disana ketika papa menerima kabar bahwa Hana kecelakaan dan meninggal papa juga masih disana, sebenernya tujuan papa ke Jerman juga ingin mengumpulkan banyak uang supaya bisa meminang mama mu, tapi sayang takdir berkata lain, bahkan papa tak tau bahwa mama mu hamil karena papa." Tama menangkap hati yang penuh penyesalan di wajah Robin.
"Sabar ya pa, nanya sekali lagi boleh pa?"
"Tentu."
__ADS_1
"Kabarnya papa sempat menikah?"
"Kamu benar nak, namanya Erline pernikahan kami hanya bertahan tiga tahun karena dia berselingkuh dibelakang papa, setelah itu papa mulai main perempuan dan bertemu dengan Luna empat tau yang lalu di New york dan ya kami memulai hubungan terlarang itu ." jawab Robin jujur.
"Berarti papa tidak tak penyebab kematian Ayah?"tanya Tama lagi.
"Tentu saja tidak, setau papa ayahmu meninggal karena serangan jantung." jawab Robin.
"Jadi papa baru berhubungan dengan tante Luna empat tahun terahir ini?" tanya Tama menyakinkan.
"Ya begitulah, tapi dia bukan hanya main denganku dia banyak dipakai juga oleh banyak pengusaha pengusaha di lingkup papa." jawab Robin.
"Pa, sebener nya ayah meninggal bukan karena serangan jantung, ayah meninggal karena diracun pa, coba papa dengarkan rekaman ini." ucap Tama sambil memberikan rekaman kesaksian mantan pembantu Laras dirumah lama mereka. Robin mendengarkanya dengan sangat teliti.
"Jadi ini ulah Antok dan Luna." jawab Robin.
"Papa benar." jawab Tama.
"Sebenernya saya sedang mengumpulkan bukti untuk menjerat mereka pa." ucap Tama.
"Untuk urusan itu kamu ga perlu khawatir nak, biar papa dan papimu yang urus, sebaiknya kamu tidak perlu terlibat karena Luna bukan wanita sembarangan, dia banyak kenal mafia mafia seperti papa, jadi kita harus benar benar jeli menghadapinya." tambah Robin.
"Kamu percayakan saja urusan Luna dan Antok pada papa biar papa yang urus. kamu jaga saja putri dan cucu papa saja mengerti."
"Baik pa, sori pa apa papa masih lama di Indo?" tanya Tama.
"Mungkin lusa papa harus ke Brunei ada undangan anak teman bisnis papa menikah."jawab Robin.
"Setelah dari Brunei apakah papa mau makan malam lagi dirumah kami."
"Tentu saja kenapa tidak."jawab Robin.
Setelah mendapat jawaban atas keraguanya ahirnya Tama pun mengundurkan diri, kalau boleh jujur Tama belum begitu percaya pada Robin, tapi dia berusaha bersikap sebiasa mungkin.
Bersambung...
__ADS_1