
Untuk merayakan kesembuhanya Aldo mengajak teman temanya hangout ke club terbesar disalah satu kawasan Jakarta barat dekat apartemenya.
Entah kenapa malam ini Aldo merasa perasaanya tak nyaman, dia hanya meminum sedikit minuman yang barusan ia pesan, Aldo gelisah dan ingin segera pulang.
"Bro gue balik dulu ya, gue ada janji sory ya." pamit Aldo pada teman teman nya.
"Ah ga asik lo Al baru juga duduk udah mau kabur aja lo." jawab salah satu teman nya.
"Serius man gue ada janji, kapan kapan kita main lagi oke, gue cabut dulu ya." ucap Aldo sambil melambaikan tangan, ketika dia berbalik didepan matanya ada seorang wanita yang sedang mengamuk sepertinya dia mabuk, Aldo memperhatikan wanita itu sepertinya dia kenal, Aldo pun mendekatinya benar saja dia mengenal wanita itu.
"Ah bener itu silampir ngapain dia dimari pakek mabok segala lagi." guman Aldo, dia pun langsung berjalan mendekati para securiti yang hendak memaksa Sharon yang sedang membuat keributan untuk segara keluar club.
"Sori pak dia pacar saya." ucap Aldo, Sharon yang mabuk langsung memeluk Aldo.
"Tu kan bener aku sama pacarku, kalian bodoh ga percaya padaku hahahaha." racau Sharon dalam keadaan mabuk, sesekali dia mau jatuh dengan sigap Aldo menangkapnya.
"Maaf ya pak." ucap Aldo dia pun meminta teman nya untuk membayar tagihan Sharon agar bisa membawa Sharon pergi, digendongan Aldo Sharon malah menciumi pipi Aldo dari belakang.
"Sayang kamu itu tampan sekali gemes deh eemmuuaah." ucap Sharon sambil mencium pipi Aldo lagi.
"Heemm" jawab Aldo.
"Makasih ya udah hancurin hati aku kamu seneng hah?" seketika Sharon teringat penghianatan yang dilakukan oleh kekasihnya.
"Hemm."
"Turunin turunin.." teriak Sharon sambil meronta, Aldo pun menurunkanya Sharon dari gendonganya, Sharon duduk sambil menangis menjadi jadi, Aldo malah tersenyum lucu sambil berkacak pinggang melihat tingkah Sharon yang menggemaskan.
"Udah nangisnya?" tanya Aldo, dia pun berjongkok didepan Sharon, melihat Aldo didepanya Sharon langsung memeluk Aldo dan memukuli dada pria yang mau menolongnya.
"Kamu jahat kita mau nikah kenapa kamu tega hah, aku membencimu." dan huweekk hu wehhh, ih menjijikan Sharon memuntahkan semua isi perutnya, Aldo mengambil sapu tangan dan mengelap mulut Sharon, tak lama Sharon lemas tak sadarkan diri.
Aldo membopong wanita yang merepotkan ini dan memasukanya kedalam mobilnya.
"Dasar wanita aneh." gerutu Aldo.
Dia pun menginjak gas mobilnya dan melajukan kendaraan nya dengan kecepatan pelan.
__ADS_1
"Dimana rumahnya si lampir ni hah, dasar merepotkan." gerutu Aldo lagi.
"Dibawa ke hotel apa apartemen aja ya?" Aldo masih berfikir, seketika ide jahilnya pun muncul, ahirnya dia pun memutuskan membawa Sharon ke apartemenya.
"Ah penasaran pengen lihat muka ketakutanya lagi?" Aldo pun tersenyum licik.
***
Laras menjadi pendiam lagi setelah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.
Laras makin hanyut dalam lamunan nya bahkan ketika Tama datang pun dia tak menyadarinya.
Tama memeluk istrinya dari belakang, dia menyadari bahwa beban yang istrinya rasakan sangatlah berat, Tama mencium pipi istrinya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Tama.
"Hemm."
"Masih memikirkan papamu?"
"He em."
"He em, mamas udah maem belum?" tanya Laras.
"Belum laper ni." jawab Tama.
"Laras siapin ya." ucap Laras.
"Sekalian temenin ya." pinta Tama.
"He em." jawab Laras.
"Aku mandi dulu ya sayang."
"Oke."
"Beri aku satu ciuman dulu." Laras memberikan keningnya pada Tama, dengan senang hati Tama mengecup kening istrinya.
__ADS_1
Laras membawa baby Zia keluar kamar pas banget mami Arini juga keluar kamar.
"Hay cantik mau kemana?"tanya oma Arini.
"Mau siapin daddy maem oma."jawab Laras.
"Sini main sama oma aja biar mami siapin maem buat daddy." Laras pun memberikan putrinya pada ibu mertuanya.
Didapur Laras sudah siap dengan apron nya, hari memang sudah boleh dibilang larut, semua pembatu dirumah itu sudah kembali kerumah belakang, tinggalah sekaran Laras sendiri didapur sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Laras terkejut ketika tiba tiba tanganya ditarik oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan suami nakalnya.
"Ada apa mas."
"Sstttt" Tama meminta Laras untuk diam.
"Apaan." bisik Laras.
"Tadi aku mintanya ciuman bukan kecupan kenapa kamu kasihnya kening." ucap Tama.
"Ya Tuhan mas, nanti lah dikamar disini malu nanti ada yang lihat." Laras berusaha menghindar, Tama tak putus asa ditariknya tangan Laras.
"Alasan, sini." Tama mengajak Laras sembunyi dibalik kulkas dapur agar tak ada yang melihatnya, Tama tak mau membuang waktunya lagi dia mulai melancarkan keinginan nya, ciuman ini berasa lain karena mereka melakukanya dengan suasana yang berbeda, ada rasa takut ketahuan orang dihati Laras, ah kalian ini seperti pacaran saja.
*****
Apartemen Aldo.
Aldo menutup seluruh tubuh Sharon dengan selimut, kemudian membuka baju Sharon yang kena muntahan tadi dan mengantinya dengan kaos oblong miliknya.
"Hah, merepotkan sekali." gumam Aldo.
"Penasaran pengen lihat kamu bangun tidur ada aku hahaha, maaf kan aku ya lampir sekali lagi mau bikin kamu shock." ucap Aldo sambil mengangkat Sharon naik keranjangnya, dia membiarkan baju Sharon bahkan BH serta sepatu Sharon berserakan dilantai kamarnya, dia pun melepas kemeja dan celana panjangnya dia sengaja hanya memakai boxernya, sambil tertawa dia pun membaringkan tubuhnya disamping Sharon.
"Haha, rasain siapa suruh galak sama gue." Aldo benar benar meniknati keisenganya, Aldo sudah ga sabar pengen lihat muka emosi Sharon.
Bersambung....
__ADS_1