PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Ada Rasa


__ADS_3

Izal mengikuti langkah istrinya masuk kedalam rumah, Niken mampir dulu kedapur menaruh tas kerjanya di kursi meja makan dan mengambilkan air minum untuk suaminya.


"Minum dulu."


"Makasih." Izal sengaja tak mengahabiskan air minum nya dia langsung memberikan gelas ituvpada istrinya, tanpa bicara Niken langsung menghabiskanya bahkan dia nambah lagi, Izal pun demikian dia meminta gelas bekas nya dan bekas istrinya untuk nya minum kembali, dalam hatinya Izal tersenyum dia ini kenapa lah ga pernah menyadari kemodusan ku.


"Bapak udah maem belum?" tanya Niken.


"Belum." jawab Izal.


"Mau maem apa?" tanya Niken.


"Apa aja." jawab Nya.


"Apa aja oke, mau mandi dulu apa maem dulu ?" tanya Niken.


"Mandi dulu."


"Ya udah bapak naik aja maeman nya aku siapin." ucap Niken.


"Mbak nya kemana emang?" tanya Izal modus padahal dalam hatinya dia ngajakin istrinya kekamar nya.


"Ada pasti dikamar mama lagi bantuin mama yang satunya lagi kan pulang kampung, yang atunya kalau sore pulang kan." jawab Niken sambil mengeluarkan bahan makanan yang hendak dia masak, Izal memperhatikan langkah cekatan istrinya, dia bukan hanya cantik tapi juga terampil dalam hal memasak.


Niken merogoh kantong nya mencari ikat rambut dia merasa aneh kok ga ada ya, ahirnya dia pun memutuskan untuk menggulung asal rambutnya, Izal terus tersenyum ketika memperhatikan tingkah istrinya, bahkan didapur pun dia masih memakai highheels nya, apa ga pegel itu masak pakek highleels batin Izal.


Izal mendekati Istrinya dan menawarkam bantuan.


"Mau dibantuin ga?" tanya Izal.


"Boleh bapak cuci sayur nya aja." jawab Nike.


"Siap sayangku." Niken menoleh dan menatap Izal sambil tersenyum Niken merasa Izal aneh dan lucu, kenal juga baru udah panggil sayang aja.


"Kenapa?" tanya Izal.


"Ga." Niken tersenyum lagi Izal tau jika Niken terkejut ketika Izal memanggil nya sayang.


"Apa kamu biasa masak sendiri kalau pulang kerja?" tanya Izal

__ADS_1


"Enggak sih biasanya kalau lagi ketemu klien atau hangout bareng temen aku makan diluar, kalau sekarang kan ceritaanya lain aku udah ada temen dirumah jadi aku batasin jam kerja aku." jawab Niken.


"Biasanya jam segini kamu belum pulang?" tanya Izal lagi.


"Belum lah toko tutupnya jam 10 biasanya aku masih disana." jawab Niken.


"Ooo, kalau selalu ditoko kapan kencan nya?" goda Izal.


"Aku ga pernah kencan kencan ya, tunangan ku ga pernah ngajakin aku jalan paling kalau di ada acara resmi aja baru ngajakin kalau ga ada ya kita masing masing." jawab Niken mulai mau terbuka akan masa lalu nya.


"Hah tunangan jadi??" tentu saja Izal terkejut.


"Mukanya biasa aja dong pak bos mantan tunanganku udah meninggal lama." jawab Niken.


" Oo, kamu bilang tunangan kok ga pernah jalan aneh aku dengernya." Izal mulai kepo.


"Sini aku bisikin." Niken meminta Izal mendekatlan pendengaranya.


"Apa?"


"Kami dijodohin." Niken menengok kesana kemari aman ternyata mama nya belum turun.


"Bukan takut aku lebih jaga perasaan mama aja soalnya tu pria kesayangan mama padahal tempramen nya luar biasa, dia kalau marah mukulin aku." jawab Niken sedih.


"Kamu dipukul." entah kenapa Izal merasa geram.


"He em," jawab Niken sambil memasukan sayuranya ke penggorengan.


"Kok kamu pasrah aja sih." Niken mendengar suara Izal emosi, Niken malah tersenyum.


"Udah ga perlu dibahas kan dia udah ga ada nanti malah ga tenang kasihan dia." jawab Niken, kalau boleh jujur saat ini hati Izal seperti tergores mendengar cerita masa lalu istrinya.


"Mulai hari aku ga mau ada satu orang pun yang nyakitin kamu istriku." bisik Izal sambil memeluk istrinya dari belakang bahkan dia menaruh wajahnya ditengkuk Niken dan memberikan beberapa kecuman disana Niken merasakanya bahkan bulukuduknya merinding membuat Niken gugup.


"Bapak jangan begini." pinta Niken.


"Kenapa?"


"Bapak membuatku gugup."

__ADS_1


"Itu tandanya kita udah ada rasa sayang." bisik Izal, Niken hanya diam dia terus saja melanjutkan aktifitasnya meski Izal terus saja menempel ditubuhnya, Niken berusaha sebisa mungkin menata gemuruh didadanya.


Satu masakan jadi dia mulai memasak yang lain, Izal malah tersenyum gemas pada istri cantiknya.


"Udah mau masak ini mandi sana terus maem." pinta Niken.


"Mandi bareng yuk." ajak Izal.


"Enggak nanti kamu nakal, sana ih gantian entar." Niken mendorong lembut tubuh suaminya.


"Cium dulu." pinta Izal.


"Ga mau disini banyak CCTV." bisik Niken, padahal dia boong.


"Ah ga asik." jawab Izal sambil tersenyum dan berjalan menaiki tangga.


Asisten tangga dirumah Niken dateng dia meminta maaf karena tak membantu Niken memasak.


"Maaf non bibik ga tau kalau non udah pulang malah masak sendiri." ucap bik Romla.


"Ga papa bik titip daging nya ya aku mandi dulu." pinta Niken.


"Siap non." jawab Bik Romla


Niken pun meninggalkan dapur dan masuk kedalam kamarnya, dikamar dia mendengar gemricik air sepertinya Izal sedang mandi dia pun menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


Niken pun bersiap siap mandi juga, tak lama Izal pun keluar dari kamar mandi, mereka saling melempar senyum.


"Aku mandi dulu ya tungguin." pinta Niken.


"Baik istriku." jawab Izal sambil tersipu malu, dia masih merasa ini seperti mimpi berteman dengan istrinya sendiri dan ahhh aku tak bisa mendefinisikan perasaanku yang ada hanya tidak menyangka dan ya aku bahagia meski cara pertemuan kami bisa dibilang ekstrim.


Izal memakai baju santai yang disiapkan oleh istri nya, ini sangat membahagiakan bahkan wanita yang pernah mengisi hatinya dan dia nikahi pun belum pernah melakukan hal ini padanya, yang ada malah sama sekali tak perduli padanya bahkan tak ada angin tak ada hujan sering marah marah padanya, mungkin kan istrinya yang sekarang adalah jawaban dari doa doa nya dulu yang pernah dia ucapkan selama bersama istri pertamanya.


Izal merebahkan tubuhnya dikasur sambil membalas pesan pesan dari teman teman nya di club futsal digrup rame banget berita tentang pernikahan dadakanya, bahkan saat ini dia jadi bahan bullyan temen temen nya, siapa lagi penyebar gosip kalau bukan si raja lemes Aldo.


Niken keluar kamar mandi dengan wajah polosnya, dia mau make up mau enggak tetep cantik dimata Izal, entah kapam perasaan ini hadir yang jelas Izal sudah mulai mengagumi istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2