
Tak terasa sebulan sudah Laras meninggalkan pujaan hatinya, rasa kangen rindu dan cinta yang Laras rasakan seolah sudah menumpuk disanubari, terhitung dari sekarang berarti sudah dua bulan Tama memejamkam matanya tak sadarkan diri, Laras sering menangis dalam diamnya, ingin rasanya dia selalu berada disamping Tama sampai dia bangun, tapi dengan biaya pengobatan Tama yang tak sedikit tak nyaman rasanya jika dia membebankan semuanya kepada mertuanya, meskipun mereka adalah orang tua kandung Tama, keiklasan hati Laras untuk membuat suaminya sembuh mendapatkan jalan yang dibilang mudah, banyak sekali orang orang disana yang menyukai karyanya sampai perusahaan yang menaunginya kadang kadang mulai merasa kewalahan dan harus pesan diawal dulu jika menginginkan desain Laras, bahkan banyak agensi artis yang merangkul perusahanya sekarang, membuat sang pemilik merasa bangga pada Laras.
Hari ini adalah pertama kalinya Laras menerima gajinya, ketika mengecek notif di hpnya mata Laras terbelalak tak percaya ini sangat amazing, lebih besar nominalnya dibanding nominal yang ia tanda tangani di surat perjanjian kontraknya, ketika dia mengkonfirmasi ke pada big bosnya Chintya hanya tersenyum.
tok tok tok.
"Masuk." jawab seseorang didalam ruangan itu.
"Boleh saya masuk miss?" tanya Laras.
"Tentu Ras masuk aja ada apa?"
"Miss apa ini ga salah, gaji saya banyak sekali miss?" tanya Laras Chintya malah tertawa kecil.
"Tidak Ras, itu hak mu berkat kamu ada disini perusahaan kita memiliki banyak pelanggan dan mereka sangat puas dengan kita, kamu tenang saja Ras, bukan hanya kamu yang mendapatkan bonus lebih bahkan bagian produksi pemasaran desain sampai clening servis juga aku kasih bonus." jawab Chintya, senyumnya manis sekali batin Laras.
"Miss kenapa anda baik sekali, pantesan singa sialan itu ngomongin anda terus uppss." Laras menutup mulutnya dan menunduk, Kali ini Chintya tak mau terpancing, dia malu malu dan menyuruh teman barunya ini keluar.
"Laras cukup ya ga godain aku, udah sana hus hus, gambar yang banyak jangan promosiin singa mu itu terus." Chintya memaksa Laras keluar ruangannya dengan lembut.
"Cie miss, muka nya merah." goda Laras lagi. Chintya tak ingin terpancing oleh godaan Laras, itu sebabnya dia memaksa ibu hamil satu ini segera keluar ruanganya, saat Chintya hendak membuka pintunya disana sudah ada Ryan yang akan menemuinya, Chintya tertegun shock karena jujur dia belum sepenuhnya berhasil menata perasaanya akan candaan Laras eeeee ini malah orang yang dimaksud muncul didepan matanya.
"Hay singa tampan." goda Laras, Chintya hanya diam.
"Singa tampan jidat mu." umpat Ryan.
"Ciieee yang malu tapi mau, yang sabar ya miss, ayo singa tunjukan keberanianmu." Chintya wanita hebat dia sanggup mengontrol emosinya didepan Ryan, begitu pun Ryan dia juga pandai menyembunyikan perasaanya didepan Chintya, lalu kalau kalian berdua jaim terus kapan jadianya geng huuufff, aneh tapi nyata.
Laras pun meningalkan dua sejoli yang saling tertarik tapi masih belum berani mengunkapkan rasa yang mereka sama sama miliki itu.
"Hay." sapa Ryan.
"Hay juga." balas Chintya.
"Sory aku baru bisa dateng kamu udah buka email aku kan?" tanya Ryan, seperti biasa Ryan langsung duduk disofa ruang Chintya. Chintya mengambil tabnya dan membuka beberapa desain tuxedo yang akan Chintya pesan untuk pemotretan minggu depan.
"Aku pakai desainmu 7 dulu ya soalnya gaun pengantinnya yang ready baru tujuh juga." ucap Chintya sambil serius menandai beberapa koleksi milik rumah mode Ryan.
__ADS_1
"Heemm." jawab Ryan singkat matanya tak lepas dari wajah cantik Chintya. Chintya tau jika Ryan terus menatapnya membuatnya gugup.
"Apa?" Chintya berani bertanya.
"Ga kamu indah." jawab Ryan pelan.
"Yang mana yang indah yang ini."jawab Chintya sambil menunjukan beberapa rancangan gaun pengantin milik rumah modenya.
"He em." jawab Ryan mengikuti alur yang diciptakan Chintya.
Mereka sama sama tersenyum malu. dan mulai profesional membicarakan masalah pekerjaan mereka, terkadang mereka juga saling curi curi pandang, kalian ini mau sampai kapan seperti ini,dasar menggemaskan.
***
Laras mendapat panggilang Video dari Aldo adek iparnya, disana ada Tama yang sedang berbaring lemah, bahkan Aldo memciumi kening abangnya sambil meneteskan air matanya, siapa pun yang melihat adegan ini pasti tak akan mampu menahan sesak didadanya.
"Kak, apa kabar?" sapa Aldo.
"Aku baik Al, kamu gimana apa pria tampanku sudah mandi hari ini." Laras berusaha seceria mungkin agar Tama mendengar suaranya lebih jelas.
"Hehehehe, gemes aku Al sama dia, kangen pengen dek gigit." jawab Laras.
"Nyebelin ya kak, seneng banget dia bobo ga bangun bangun." jawab Aldo.
"Iya dia nakal, ga tau aku kangen setengah mati hiks hiks hiks," kali ini Laras tak mampu lagi mempertahankan aktingnya tangisnya pun pecah ketika Aldo mendekatkan ponselnya ke wajah Tama, rasanya dunia Laras hancur mengingat sudah dua bulan Tama belum sadarkan diri.
"Sabar ya kak, pasti abang segera sadar percayalah. oia bagaimana pekerjaan kakak disana apakah bos kakak baik?" tanya Aldo, disana juga ada mama Arini yang ikut mendengarkan.
"Aku mencintainya Al bagaimana aku bisa sabar hiks hiks hiks." Laras menangis lagi. Aldo malah ikutan menagis, mami Arini tak ikit bicara dia memilih diam. dia tak akan sanggup perkata kata ketika mengingat betapa beratnya perjuangan Laras untuk putranya.
"Kami tau kak kami percaya sama kakak." jawab Aldo.
"Bos kakak baik Al, sangat malahan oia bilang sama mami ya Al kakak udah transfer gaji kakak buat biaya mas Tama, nanti uangmu yang mas Tama pakai aku ganti bulan depan ya Al." ucap Laras.
"Ga usah kak, biar aja lagian ga semua pakai uangku abang kan ada asuransi waktu itu, santai aja. Kakak simpan aja uangnya buat si baby nanti." jawab Aldo, mami Arini membuka notif di ponselnya, betapa terkejutnya mamI Arini melihat jumlah uang yang Laras kirim.
"Ras kamu ga salah ini kirim uangnya?" tanya mami Arini.
__ADS_1
"Ga mi, itu gaji sama bonus Laras mi buat mas Tama sama mami, Laras belum bisa balas kebaikan mami sama Laras papi juga." jawab Laras, Ras mulia sekali hatimu segitu tulusnya kamu mencintai putraku batin mami Arini, dia pun tersenyum.
"Ras bulan depan kamu ga usah kirim, ini sudah cukup nanti gaji perawatnya biar mami aja yang bayar." ucap mami Arini, dia pun kasihan pada anak mantunya ini, pasti dia berkerja sangat keras hingga mampu mendapatkan gaji dan bonus yang boleh dibilang fantastis.
"Jangan mi pakai itu aja, disini Laras juga masih bisa nabung, Laras akan hemat hemat bersyukurnya mi dedek bayi ga pernah rewel dia sangat mengerti miminya." ucap Laras sudah mulai bisa tersenyum.
"Ya udah terserah kamu aja Ras, kamu baik baik disana ya." ucap mami lagi.
"Iya mi Laras akan jaga diri, mi kontrak Laras hanya 4 bulan disini Laras pulang sampai kontrak habis ga papa kan mi, tapi jika mas Tama sudah sadar Laras boleh pulang kapanpun Laras mau, bos Laras mengerti mi." pinta Laras.
"Iya nak ga papa, pokoknya kamu juga jaga kesehatan ya."
"iya mi." panggilan Video Al pun berahir, Laras tidak menyadari jika Ryan sudah berdiri di depan pintu ruanganya dan ikut mendengarkan obrolanya.
"Udah ngobrolnya, gimana keadaan Tama?" tanya Ryan langsung duduk didepan meja kerja Laras.
"Dia masih belum merespon Yan, gue sudah kangen." jawab Laras sambil menangis lagi.
" Sabar Ras, percayalah dia pasti bangun." jawab Ryan menguatkan.
"Elo udah makan?" tanya Ryan. Laras menggeleng.
"Makan bareng yuk." ajak Ryan.
"Dimana?" tanya Laras.
" Diruangan calon istri, dia lagi siapin buat kita dia minta gue ngajak elo, gue tau dia gugup kalau cuma berdua ama gue , dia lucu menggemaskan." celetuk Ryan, Laras tersenyum.
"Kenapa sih kalian jaim, udah sih lo kan laki kenapa ga nembak duluan." pinta Laras.
"Ntar ada saatnya yang lagian gue yang mau ngejalanin kenape lo yang semangat?" goda Ryan.
"Kelamaan lo, ntar diambil orang nyahok lo. lo ma kalah cepet ama laki gue dia ragu tapi gerak cepet ga lelet kaya lo, percumabgue julukin lo singa kalo lelet ngalahin siput." Laras bisa juga ngomel.
"Iye bentar lagi sabar napa." balas Ryan. mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan Chintya.
Bersambung...
__ADS_1