PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Dia Luar Biasa


__ADS_3

Sejam sudah Tama dan Ryan meninggalkan rumah sakit, tak ada kabar apapun dari mereka bahkan tak ada tanda tanda mereka akan segera kembali.


Laras semakin gelisah bahkan ketika baby Zia meminta ASI nya dia pun tak tenang, Laras sangat takut jika Tama nekat, Ryan adalah sahabat satu satunya bagaimana kalau terjadi apa apa padanya, apa lagi itu terjadi karena dia, Laras tak sabar lagi ahirnya dia pun mengirim pesan pada Ryan.


Laras


" Yan lo dimana, lo ga di apa apain kan ama laki gue."


Ponsel Laras tertera keterangan online di kontak Ryan.


"Ih cepetan baca dong Yan." Chintya kini paham kenapa Tama sampai sebegitu cemburunya ternyata benar apa yang Tama katakan bahwa Laras sangat perduli pada Ryan tak selayaknya seorang sahabat.


"Ras ga papa ni Ryan kirim pesan ke aku kalau dia ga papa." ucap Chintya sambil menunjukan pesan dari Ryan.


"Mana miss (Laras membaca pesan Ryan di ponsel Chintya) Alhamdulilah Ya Allah miss aku udah deg degan." ucap Laras lalu kembali duduk disamping Chintya yang sedang menggendong baby cantik Laras.


...


Disis lain..


"Bro bini lo nanyain kabar gue takut amat dia." ucap Ryan.


"Mana sini biar gue kerjain." pinta Tama, Ryan pun memberikan ponselnya.


Lalu Tama pun mengetik pesan balasan untuk Laras.


Ryan (yang pegang ponsel Tama ya gaes)


"Laki lo gila Ras, gue jelasin kagak ngarti ngarti."


Keterangan pesan dibaca...


Tak lama ponsel Tama berdering, "Bro dia telpon gue." Tama dan Ryan tertawa.


"Dasar suami PA lo hahaha." Ryan tertawa, Izal hanya tersenyum.


"Ya hallo." jawab Tama.


"Mas, Ryan mana?" tanya Laras suaranya bergetar Tama tau dia gugup.


"Katanya ga ada apa apa lalu ngapain kamu nanyain, kayak gini kan bikin aku tambah curiga." jawab Tama, Ryan membekap mulutnya agar suara tawanya ga didengar Laras. Izal hanya menggeleng gelengkan kepalanya, dilihat dari segi manapun bosnya ini emang rada eror.

__ADS_1


"Aku sama dia ga ada apa apa mamas Ya Allah." jawab Laras lagi.


"Kalau ga ada apa apa kenapa kamu milih desain terbaikmu kamu kasih kedia, kenapa kamu milih kerja ama dia dibanding sama aku, kan dimanapun kamu kerja tetep sama kan, desain juga, itu namanya kan penghianat masih aja kamu ngeyel ga ada hubungan special sama dia." ucap Tama. "Wah parah lo ngerjainya." bisik Ryan sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Ya kan lain mas, ditempat mas kan main nya casual dia kan gaun pengantin mas gaun gaun malam, Ya ampun mas aku ga ada perasaan apa apa sama dia." balas Laras.


"Jadi kamu cintanya sama siapa?" tanya Tama.


"Aku cintanya cuma sama kamu mas, demi Tuhan." nah kena kan lo, Tama tersenyum menang, dasar pria licik ada aja akalnya bikin Laras ngaku.


"Oke pengakuan diterima, aku kerja lagi jangan ganggu, belum puas aku gebukin temenmu." jawab Tama.


"Mas jangan aku mohon, mas dimana sekarang Laras kesana."Laras terdengar mekat.


"Eehhhh, mau ngapain kamu baru habis melahirkan ya jangan macem macem, kalau kamu kesini alamat temen kamu aku lempar dari gedung ini." tambah Tama.


"Massss." Laras merajuk.


"Iya sayang apa kangen ya." jawab Tama sehalus mungkin.


"Nyebelin."


"Tau ah." Klik Laras menutup telponnya kesal, Tama dan kedua temanya ketawa ngakak.


"Bener kata Laras, emang lo rada sinting." umpat Ryan.


"Godain dia tu menyenangkan bro, heran gue orang kagak bisa marah." jawab Tama.


"Ya emang gitu dia, dibikin kesel ama siapa aja dia ga pernah marah, dia bener bener pemaaf bro." Balas Ryan.


"Okey kita lanjut." Tama menunjukan lagi hasil penemuanya pada Ryan.


"Ini kan bro aset aset milik Om Herman yang kini dikendalikan oleh Om Antok dan Istrinya." Ryan mengangguk anggukan kepalanya.


"Bro beneran ga sih Laras dinikahkan supaya tanggung jawab mereka terhadap bini gue cepet kelar, biar mereka bisa segera mengusir Laras?" tanya Tama penasaran.


"Sepertinya ia bro, pas pertama dia nikah sama pak tentara itu juga dipaksa, waktu itu gue belum paham gue kan masih kecil juga cuma pas papi nyampek di rumah mereka, semua udah telat, mereka sudah menikahkan Laras, gue lihat badan dia ga tega waktu itu bro, sebenernya papi mau nglaporin kejadian ini ke polisi tapi saat itu bekingan mereka lebih kuat, buktinya bisa dapet mantu tentara kan." jawab Ryan.


"Emang umur lo berapa bro sekarang?"


"Gue seumuran bini lo beda ga nyampek setahun, beda bulan doang gue ama dia gue februari bini lo oktober." jawab Ryan.

__ADS_1


"Ooo, okey kita lanjut, lo tau ga kira kira om Herman punya kuasa hukum ga ya yang mengatur surat wasiatnya?" tanya Tama.


"Astaga kenapa gue bisa nglupain itu bro, ***** banget gue, pengacara om Herman tu ayah sahabat gue, mau ketemu sekarang apa besok?" tanya Ryan.


"Mungkin kah papi ku kenal dengan ayah sahabatmu itu bro." ucap Tama.


"Bisa jadi bro, tapi terahir aku dengar dia kena strok bro, semoga beliau masih bisa mengingat ya bro." sedikit ada kekhawatiran dihati mereka.


Ryan mengirim pesan pada sahabat yang dimaksudnya, tak lama dia pun mendapat balasan.


"Bro ni dia balas, katanya sekarang dia lagi di Brunai, dia balik selasa gimana?" tanya Ryan.


"Boleh deh bikinin janji sama dia." jawab Tama.


"Tapi sory bro bukanya gue ga mau bantu lo sama Laras gue besok mesti balik, lo tau kan calon bini gue sibuknya ngalahin artis." Ryan tertawa, Tama tersenyum dengan itu dia paham bagaimana perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta.


"Okey gue paham, lo udah bantu gue sampai sini aja gue udah makasih banyak bro, ini nomer ponsel sama email gue, ntar kalau gue ada apa apa gue tanya lo ya." ucap Tama.


"Boleh bro, lo ga usah sungkan ama gue, gue cuma minta lo jagain Laras kasihan lah dia, cukuplah sudah penderitaanya." Balas Ryan.


"Bener bener makasih gue bro, disono kata mami juga elo yang selalu jaga bini gue, anterin dia priksa kandunganya juga."


"Santai bro dia udah kayak adek gue sendiri, dia juga berjasa buat gue, dia yang jomblangin gue ama bos nya hahaha." Mereka seneng banget ngomongi Laras.


"Wah bakat juga bini gue hahahaha." Tama malah tertawa mendengar cerita Ryan.


"Sekali lagi gue minta maaf sama elo bro, waktu terahir kita ketemu ingetan gue masih samar samar." jelas Tama.


"Iye gue ngerti bro, ga papa gue juga udah kasih tau Laras kalau orang bangun tidur itu indikasinya nyawanya belum ngumpul."ucapan Ryan sedikit membuat Izal tertawa.


"Apa lo ketawa." hardik Tama.


"Enggak bos, kan saya juga ikut ngrasain kelainan bos kan." jawab Izal sejujur jujurnya.


"Brengsek lo berani ngatain bos lagi, potong gaji bulan ini lo." hardik Tama lagi.


"Ampun bos maaf." jawab Izal.


Mereka pun tertawa, sekarang Ryan mengerti bahwa sebenernya Laras dan suaminya saling mencintai, mungkin cara Tama bersikap saja yang salah, buktinya tanpa sepengetahuan Laras, Tama berusaha mendapatkan hak Laras, mencintai itu memang banyak caranya, bahkan mengekspresikanya pun berbeda, semoga Laras segera bisa memahami Tama.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2