PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Vitamin Kehidupan


__ADS_3

Laras mengelus lengan Tama.


"Mas." panggil Laras, Tama masih memikirkan apa yang barusan Laras ucapkan, dia menyadari kebodohanya, Tama benar benar menyesali keegoisanya sekarang, Tama menjatuhkan tubuhnya dengan pelan disandaran sofa mencoba mencerna apa yang selama ini disesalinya.


"Kenapa mami baru kasih tau daddy sekarang mi kalau Zia kita masih ada ?" tanya Tama sepelan mungkin.


"Tentu saja Laras takut sama mamas lah apa lagi, mamas kan udah nolak Laras, galakin Laras, suruh Laras pergi ya masak iya Laras tiba tiba datang gitu, takut lah." jawab Laras, sedikit masuk akal sih padahal Laras bohong bukan itu alasan sebenernya, tapi Laras ga mau menjatuhkan harga diri Tama jika tau alasan sebenernya Laras melakukan ini.


"Maafin daddy ya mi udah bikin mami takut." ucap Tama pelan.


"Iya mas Laras udah maafin yang penting lain kali kalau marah lihat sikon dulu, sebenernya waktu itu Zia udah ga sakit terus Ryan ga bisa dateng maminya masuk rumah sakit dan Chintya lagi ngidam makanya Ryan minta tolong Laras buat gantiin, karena Laras merasa ga enak sama dia ahirnya Laras minta bantuan mami Arini buat dateng kerumah jaga Zia dan Laras juga ga tau kejadian itu bakalan terjadi." ucap Laras menceritakan duduk kronologi kejadian yang menimpa mereka.


"Mami Arini udah cerita waktu itu mi makanya daddy jadi seperti ini karena daddy berfikir daddy pantas dihukum." jawab Tama.


"Mulai sekarang mamas jangan hukum diri mamas sendiri ya, katanya mau jagain Laras kalau Laras hamil lagi, Zia pasti sedih kalau lihat daddy tampan nya jadi kurus kering jelek kayak gini." ucap Laras mencoba menghibur suaminya.


"Maemnya dihabisin ya biar cepet sembuh pasti Zia mau gendong daddy nanti kalau dia dateng." ucap Laras sambil memberikan suapan lagi mulut suaminya, Aldo dan Sharon yang sedari tadi mendengarkan obrolan Tama dan Laras menjadi penasaran, bagaimana kronologi Zia diculik dan ditemukan.


"Kak kami penasaran gimana Zia bisa diculik sampai kakak bisa menemukanya?" tanya Aldo sambil duduk bergabung dengan mereka.


"Iya mi, daddy juga pengen tau." ucap Tama tak kalah pemasaranya.


"Baiklah kakak bakalan cerita asalkan pria galak dan labil ini menghabiskan makananya." ucap Laras memberikan syaratnya.


"Oke mi daddy akan makan, akan daddy habisin semuanya yang mamibkasih ke daddy asalkan mami mau cerita sini biar daddy makan sendiri." ucap Tama bersemangat, Aldo dan Sharon saling menatap heran, benar saja dengan cepat Tama menghabiskan makanannya tanpa protes, dia juga langsung meminum vitamin dan obatnya tanpa banyak bicara mereka bertiga yang melihat tingkah aneh Tama menjadi melongo heran.


"Aaahhh udah habis mi ayo cerita daddy udah ga sabar ini." ucap Tama, Laras tersenyum dia membantu suaminyab mengelap bibir Tama, tentu saja otak mesum Laras dan Tama datang mata mereka saling menatap, Aldo tak bisa dibohongi karena dia juga raja omes.


"Eehhheeemmm, kalau mau ciuman ciuman aja biar kita tutup mata ya queenn" masih aja si Aldo ceplas ceplosnya, Tama menendang pelan kaki adeknya karena gemes.


"Aaahhh sakit abang, dikasih lampu hijau malah nendang." ucap Aldo sambil meringis kesakitan.


"Makanya kalau ngomong diatur, gue mau cium bini gue ga perlu minta ijin dari elo, aneh." umpat Tama, Sharon kembali heran dengan kedua kakak adek itu, Laras beranjak dari duduknya dan membereskan sisa sisa peralatan makan dan obat Tama, tiba tiba kepalanya terasa pusing, Sharon yang melihat kakak iparnya hampir jatuh langsung sigap berlari menangkapnya.

__ADS_1


"Kak kakak kenapa Ya Tuhan." teriak Sharon mengejutkan Aldo dan Tama.


"Sini kakak duduk aja biar Sharon aja." Sharon membatu Laras duduk disamping Tama.


"Mami kenapa mi?" tanya Tama khawatir.


"Boleh Laras baring pusing banget rasanya." pinta Laras pada Tama.


"Tentu saja." Tama memberikan pahanya sebagai bantal untuk Laras, Laras tek menolak dia pun nurut Sharon mengambikan selimut tipis untuk menutupi kaki indah Laras. maklum disitu ada laki laki lain selain suaminya.


"Kakak kenapa?" tanya Sharon Laras menggeleng dan terus memijat kepalanya.


"Kakak laper mau maem?" tanya Aldo, Laras kembali menggeleng, Laras memejamkan matanya ketika Tama membantunya memijat pelan kepalanya.


"Masih sakit mi?" tanya Tama.


"Udah enggak." jawab Laras, Tama masih mengusap usap rambut istrinya.


"Queen tadi pesen sarapan belum?" tanya Aldo pada istrinya.


Alangkah terkejutnya Sharon ketika membuka pintu yang dateng bukanlah tukang makanan yang dia pesan melain kan ibu mertuanya bersama seorang pengasuh anak yang menggendong seorang gadis cantik yang munggil.


"Shar hoooee, kedip matanya." ucap mami Arini sambil tersenyum memperhatikan mantunya yang tertegun ketika terpesona akan seorang gadis yang dia bawa.


"Mi, Sharon ga mimpi kan coba cubit Sharon mi." ucap Sharon, mata nya masih menatap lekat kewajah Zia yang tersenyum manis padanya.


"Sini sus biar aku gendong gadis cantik ini." suster Zia pun memberikan Zia pada Sharon, meski malu Zia tetep mau digendong Sharon.


"Coba lihat aunty bawa siapa?" Seru Sharon berjalan menghampiri suami dan kakak iparnya.


Aldo berdiri dari duduknya matanya tak berkedip dia tak percaya ini terjadi tapi ini kenyataan bahkan dia melihat istrinya beberapa kali mencium pipi gembil Zia yang harum ini, Aldo berjalan mendekati Sharon yang menggendong Zia dan mengulurkan tangan besarnya untuk meminta Zia menjabat tanganya.


"Hay anak manis masing ingat sama uncle yang tampan ha?" tanya Aldo.

__ADS_1


"No.."Zia menggeleng Aldo menepuk kepalanya dan memasang muka sedih.


"Sedih aunty uncle kenapa dia tega nglupqin uncle tampan nya padahal kalau kita ketemu selau makan es krim ya ty." ucap Aldo sambil menoel noel pipi Zia dengan gemas, Zia hanya menatap heran ke arah Aldo sepertinya dia masih berusaha mengingat uncle nya.


Laras bangun dari pembaringanya, dia menatap Tama yang tertegun, dia pun menyadarkan Tama dengan menyenggol lenganya.


"Mas."


"Heemm."


"Mass." ulang Laras, Tama pun sadar dari keterkejutanya.


"Iya apa mi." jawab Tama sambil menghapus air mata nya.


"Sssttt dad, Zia tak suka lihat orang menagis ayo tersenyumlah." Laras memeluk Tama dan mengelus kepala serta pundaknya.


"Ssttt udah nagisnya Laras tau kalau mamas bahagia tapi untuk saat ini tolong jangan nangis nanti Zia takut sama kamu ga mau nanti dia sama daddy heemm." Tama mengangguk Laras pun membantu Tama mengusap air matanya.


"Daddy jelek kalau nangis." bisik Laras, mata Tama masih memperhatikan Aldo dan Sharon yang masih asik menggoda Zia mereka memang sengaja mengulur waktu agar Tama tenang dan mempersiapkan hatinya.


"Putri daddy cantik mami." ucap Tama.


"Lihat dulu siapa emaknya." balas Laras sambil melirik manja kearah suaminya, Tama tersenyum meledek. " Syukur dia udah bisa tersenyum." batin Laras.


"Tapi kan aku yang buat mi." balas Tama tak mau kalah.


"La itu tau kenapa dulu ribut ga percaya." Laras memanyunkan bibirnya.


"Mi bibir nya jangan dimantun manyunin gitu napa." bisik Tama.


"Kenapa situ horny ya omesnya dateng?" Laras makin gemes dengan suami labilnya.


"He em."

__ADS_1


"Dasar." Tama kembali tertawa, kebahagiaan dia terima hari ini tak bisa dia lukiskan kejutan yang luar biasa pokoknya, Vitamin kehidupanya telah kembali meski raganya lemah tapi Tama semangat untuk bangkit kembali menata hidupnya dan kembali sehat seperti semula.


Bersambung....


__ADS_2