
Laras mengetuk ruang kerja suaminya dengan kemarahan yang susah dikendalikan, Aldo membukakan pintu untuk kakak iparnya.
"Ada apa kak?" tanya Aldo, Laras hanya membalas pertanyaan Aldo dengan lirikan permusuhan.
Laras masuk keruangan itu tanpa kata awalnya, firasat Aldo sudah ga bagus ada hawa hawa peperangan disini.
"Ada apa mi?" tanya Tama pada istrinya, Laras hanya melipat kedua tangan nya dia masih menatap tajam ke arah Izal.
"Apa yang kamu lakukan pada wanita itu?" tanya Laras pada Izal dengan suara datarnya, Izal Aldo dan juga Tama pun terkejut, Izal belum berani menjawab kemudian Laras pun mengulangi pertanyaanya.
"Hay kamu pria berkemeja putih aku tanya sekali lagi apa yang kamu lakukan pada wanita itu hah." suara Laras sudah mulai meninggi, Izal masih belum berani menjawab karena dia juga gugup. Aldo dan Tama ingin membela sebenernya tapi mereka berdua juga masih menunggu Izal menjawab pertanyaan Laras.
"Kamu denger apa enggak?" tanya Laras lagi.
"Denger non." jawab Izal.
"Lalu kenapa ga jawab, atau perlu aku panggilkan polisi biar mau jawab?" tanya Laras lagi.
"Mi sabar mi, ini ga seperti yang mami pikirkan." ucap Tama berusaha membantu membela Izal.
"Emang apa yang mami pikir dad?" tanya Laras makin menjadi.
"Jadi gini kak..." ucap Aldo berusaha membantu membuat Laras tenang.
"Jadi apa hah, kalian mau membela pria bejat ini bisa bisa nya kamu ngrusak anak gadis orang sampai kayak gitu nangis aja sampai ga keluar suara." ucap Laras, seketika Izal bangkit dan berlari ke kamar dimana Niken berada.
"Hay jangan melarikan diri kamu, sini dulu aku belum selesai ngomong." teriak Laras, Tama dan Aldo tak menghiraukan Laras mereka berdua malah ikutan berlari menyusul Izal, tentu saja itu membuat Laras terkejut.
Laras pun mengikuti mereka bertiga meski dia tak ikutan berlari.
Tama dan Aldo hanya diam ketika melihat Izal memeluk Niken dan berusaha menenangkan gadis itu, tapi tidak dengan Laras dia kembali tersulut emosinya saat Izal memeluk sahabatnya.
"Hay siapa yang suruh kamu peluk peluk dia, enak aja berani peluk peluk udah nyakitin sekarang malah dengan nyaman nya kamu peluk peluk." ucap Laras sambil berusaha memisahkan tubuh sahabatnya dari pelukan Izal.
Izal dan Niken malah saling memeluk erat seakan mereka tak mau dipisahkan, membuat Laras semakin geram.
"Izal lepas ga dia sesak itu." pinta Laras sambil memukul pundak, Tama dan Aldo malah tertawa melihat Izal yang ingin mempertanggung jawabkan perbuatanya dengan memeluk erat wanita yang disakitinya disisi lain ada ibu hamil yang tak tau apa apa malah marah marah, hufff menggelikan sekali.
__ADS_1
"Non, ini ga seperti yang non pikir saya bisa jelaskan non." ucap Izal sudah mulai berani berbicara.
"Kamu pikir aku bodoh hah, dia sendiri yang bilang kalau kamu sudah ituin dia." tambah Laras.
"Iya non saya memang melakukannya tapi.... "
"Tu kan, masih aja kamu mau membela diri hah." Laras semakin marah mendengar jawaban Izal, Taa menggeleng gelengkam kepalanya sedangkan Aldo malah menertawakan kakak iparnya.
"Saya memang melakukanya non tapi saya ga sengaja." jawab Izal lagi.
"Ga sengaja apa maksudmu kamu mabok pas nglakuin itu iya jawab." Laras masih mengintimidasi Izal, Tama pun mendekati Istrinya.
"Mi sabar mi ini ga seperti yang mami pikirkan." ucap Tama.
"Kamu ini kenapa sih dad selalu bilang ga seperti yang mami pikirkan ga seperti yang mami pikirkan daddy tau ga siapa wanita ini?" tanya Laras.
"Mami kenal dia siapa?"tanya Tama.
"Dia sahabat mami daddy ." jawab Laras seketika Tama Aldo terlebih Izal pun terkejut.
"Dijebak?"
"Iya non kami dijebak, iya kan mbak." Izal kembali menatap mata Niken yang basah karena air mata Izal membantu mengelap air mata itu dan memeluknya lagi untuk menenangkanya.
"Aku masih ga percaya dengan kalian bertiga, kalian mungkin bisa nipu dia tapi tidak dengan ku." ucap Laras sambil menatap mereka bertiga secara bergantian.
"Mi boleh ga mami ikut daddy akan daddy ceritakan kronologinya." ucap Tama sambil memegang tangan Laras.
"Kenapa ga disini aja, apakah kalian akan menambah kebohongan lagi demi membela pria bejat ini." ucap Laras masih saja kekeh dengan pemikiranya.
"Bukan gitu mi, nanti kalau kita bicarakan disini dia akan lebih tertekan kasihan mi, ini kan sesuatu yang tidak bagus untuk dibahas mereka berdua korban mi." ucap Tama sebisa mungkin mengambil hati istrinya.
"Yang korban pasti sahabatku lah kalau pegawaimu ini pasti menikmatinya dasar laki laki mesum." umpat Laras sambil menatap Izal dengan penuh kebencian bahkan tanganya masih sempat memukul geram lengan Izal.
"Mi ayolah sini ikut daddy biar daddy jelaskan semua." Laras mulai bisa nurut dengan suaminya, tapi tak menutupi kekesalanya pada Izal masih ada.
"Awas kamu jangan sampai lari dari tanggung jawab kamu." ancam Laras sambil melangkah keluar kamar tamu rumahnya.
__ADS_1
"Sabar ya Zal mbak nya juga saya akan coba jelaskan pada istri saya sepertinya dia salah paham." ucap Tama, Izal mengaguk mengerti.
Tama menyusul istrinya yang duduk kesal disofa ruang tamunya, begitu juga Aldo dia pun memilih meninggalkan Izal dan Niken sendiri agar Niken juga lebih tenang.
"Mi, mami ni salah paham yang Izal bilang itu bener bahwa mereka berdua dijebak, ada orang yang sengaja kasih mereka obat laknat mi, sama bukan hanya Izal yang dikasih temen mami juga dikasih jadi mereka berdua melakukanya dialam bawah sadar mereka."ucap Tama.
"Daddy yakin, atau daddy hanya mau membela pria bejat itu." ucap Laras masih tak percaya.
"Yang dibilang abang itu bener kak, Izal dan wanita itu dijebak bahkan jebakan itu sebenernya ditujukan pada abang, beruntungnya abang tak menghadiri pertemuan itu dia minta Izal yang mewakili jadinya Izal yang masuk kedalam jebakan mereka." tambah Aldo.
"Apaaaaaa?" pekik Laras.
"Iya mi, Aldo bener dan sekarang kita lagi cari siapa pelakunya." tambah Tama.
"Ya Tuhan jahat sekali mereka, tapi kalian ga boong kan?" tanya Laras meyakinkan.
"Enggak mi kami ga boong, kami juga ada bukti kok kalau kami ga boong kalau mami ga percaya kami bisa tunjukan buktinya iya kan Al." ucap Tama.
"Ya Tuhan, pokoknya mami minta daddy usut kasus mereka sampai tuntas, mami mau yang ngejebak sahabat mami harus dihajar, jangan ampuni mereka daddy." ucap Laras dia sudah mampu mengendalikan emosinya.
"Pasti mi, daddy tak akan mengampuni mereka." jawab Tama mantap.
"Baiklah mami temui teman mami dulu, kasih tau mami perkembangan kasus ini, jika kalian gagal mami sendiri yang akan usut, kalian paham." ancam Laras, dia terlihat sangat serius sekarang.
"Siap bu bos." jawab Tama, Laras pun beranjak dari duduk nya dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Niken.
"Huufff untung bukan gue Al yang kena jebak." ucap Tama sambil mengelus dadanya.
"Kalau abang bisa mati hari ini juga kali bang, kakak ipar kalau marah ngeri, tapi tadi dia bilang apa bang kalau kita gagal dia mau usut sendiri, gaya betul kakak ipar ini." ucap Aldo meremehkan kakak iparnya.
"Hay lo jangan lupa bapak dia siapa?" ucap Tama mengingatkan, seketika Aldo sadar bahwa dia salah besar telah meremehkan seorang putri Si Raja Singa yang sangat disegani dikelasnya.
"Oh iya sory bang lupa, dia lebih kuat dari kita." canda Aldo.
"Makanya, jangan macem macem." balas Tama kemudian mereka tertawa sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Bersambung...
__ADS_1