
Sembilan bulan berlalu....
Hari ini adalah ulang tahun baby Zia kebahagiaan terpancar diwajah kedua orang tuanya banyak sekali hadiah yang dia terima terutama dari oma dan opa mereka, maklum Zia adalah cucu pertama mereka.
"Udah boleh dikasih adek ini." goda tante Rika.
"Ah tante bisa aja mulesnya masih berasa tant." jawab Laras seketika ruang tamu mami Arini menjadi riuh oleh tawa para tamu mereka.
"Bisa aja kamu Ras." ucap mami Arini.
"Tante ga pengen punya ginian tant," goda Laras sambil mengankat baby Zia untuk menunjukan maksudnya.
"Doain aja supaya lancar." jawab Om Robin malu malu, Laras langsung tanggap dengan apa yang dimaksud papanya.
"Seriusan om tante Arika isi?" tanyaku, mereka berdua terlihat malu malu, bahkan tante Arika menepuk paha suaminya dengan manja.
"Apaan sih pa malu atuh." bisiknya.
"Ngapain malu ma orang kenyataanya begitu, mama kan masih muda yang ga papa hamil." ucap om Robin.
"Bener kata om Robin tant, ga papa malah bagus nanti kalian jadi ga sepi ada temen dirumah." jawabku, tante Arika dengan malu malu menjawab.
"Insya Allah." jawabnya, mami Arini dan papi Bram yang baru datang menatap kami dengan curiga.
"Ada apa ini?" tanya papi Bram.
"Kita mau kedatangan anggota baru pi dikeluarga kita." jawab Mas Tama.
"Hah, siapa?" tanya papi Bram.
"Tante Arika hamil pi." jawabku.
"Wah mantap bro, selamat." papi Bram kemudian mengulurkan tangan nya pada om Robin, om Robin pun menyambut uluran tangan papi Bram dengan bahagia merekapun berpelukan.
"Kamu masih tokcer rupanya." bisik papi Bram.
"Sialan lo." umpat om Robin, semua yang ada diruangan tamu ini pun kembali tertawa.
"Udah berapa bulan Ka?" tanya mami Arini.
"11 minggu mbak." jawab tante Arika malu malu.
"Wah udah tiga bulan aja, ngidam ga kamu?" tanya Mami lagi.
"Ga sih mbak, cuma mas Robin kalau pagi muntah muntah dia." jawab tante Arika, kamu semua kembali tertawa.
"Hah, itu namanya kehamilan simpatik Ka, hebat banget kamu bisa menghajar suami aroganmu ini, dek kamu emang best." ucap mami Arini sambil mengelus perut adeknya.
"Ma, malu papa ." bisik om Robin, tante Arika hanya tersenyum sambil melirik suaminya, duh kalian sudah umur tapi masi sweet sih, seneng deh lihatnya batin Laras.
"Kamu kalau pengen makan apa bilang Ka, jangan diem aja." ucap Mami Arini, dia sangat paham dengan adeknya yang sedikit pendiam, apa lagi sudah berurusan dia cinta dia bisa mematung tak berkutik.
"Iya mbak, bersyukurnya mas Robin selalu siaga ko." jawabnya.
"Kalau dia ga siaga bilang sama aku, aku ada senjata yang bisa bikin dia tahluk." ucap Mami Arini.
__ADS_1
"Apa itu mbak?" tanya tante Arika.
"Ada, pokoknya kamu temang aja ya Ras, kamu dipihak mami kan?" tanya Mami Arini pada Laras, Laras pun langsung tanggap dan mengacungkan jempolnya.
"Bro kalau sudah musuh perempuan mending kita diam saja, pasti kalah." bisik papi Bram, Tama yang sedari tadi hanya memperhatikan kita pun ikutan tertawa, memang kekuatan perempuan ga ada duanya batinya.
****
Selama sembilan bulan ini Aldo tak mau pulang ke Indonesia dia lebih suka berada di Jepang baginya Indonesia menyakitkan selalu mengingatkan kekasih hatinya yang pergi entah kemana.
Pesawat yang membawanya dari Jepang mendarat dengan selamat dibandara Soekarno-Hatta jakarta, dia sangat malas membawa apapun dia hanya menenteng paperbag yang dia gunakan untuk membawa pesanan maminya, dia berjalan menuju mobil yang sudah stanbay menunggu kedatanganya.
Dengan memakai kaca mata hitamnya dia terlihat sangat tampan, dia bergegas masuk kedalam mobil, mobil yang dikendari supir pribadi keluarganya pun mulai melaju ditengah jalan tak sengaja mata Aldo menangkap seseorang yang dia kenal sepertinya dia lagi menunggu jemputan.
"Mang mang berhenti didepan wanita itu kita mang." ucap Aldo sambil nemepuk pundak supir nya.
"Yang mana den?" tanya pak Supir.
"Itu mang yang jaket hijau." tunjuk Aldo.
"Kena kau lampir." gumam Aldo.
"Kenapa den?"
"Ga ada apa apa mang."
"Ayo mang turun batuin aku masukin barang barang wanita itu kemobil." ucap Aldo, pak supir pun segera tanggap dan langsung
mengikuti perintah Aldo, pak supir langsung membuka pintu bagasi mobilnya.
Aldo langsung turun dan menghampiri Aldo, dengan cool nya dia melepas kacamatanya didepan Sharon.
Aldo langsung menarik paksa tangan Sharon dan mengajaknya masuk kemobil, tentu saja Sharon melawan.
"Eh apa apan ini, eh pak supir barang barang saya mau dibawa kemana, eh Musang apaan sih." Sharon kembali meronta.
"Kamu nurut atau...." Aldo tak meneruskan kata katanya, dia lebih memilih menggendong Sharon paksa dan memasukanya kedalam mobil.
Aldo memberikan beberapa lembar uangbpad supirnya.
"Mang kamu naik taksi aja ya, mobil nya aku bawa jangan cerita apa apa soal ini sama mami mengerti." ucap Aldobpada supirnya.
"Siap den." Aldo kemudian masuk kedalam mobilnya dan bersiap duduk dibelakang kemudi, sang supir hanya tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Dimobil Sharon berusaha menetralkam gemuruh dadanya, dia melirik ke arah Aldo yang terlihat marah padanya, Sharon sama sekali tak berani mengeluarkan suaranya dia memilih menunggu.
Benar saja sampai di parkiran apartemen Aldo tak ada satupun kata yang terucap dari bibir keduanya.
"Turun." perintah Aldo.
"Ga mau apaan." Sharon berusaha melawan.
"Jangan membuatku hilang kesabaran Sharon, aku bilang turun ya turun." Aldo meninggikan suaranya.
Sharon menyadari sekarang bahwa Aldo sangat marah padanya.
__ADS_1
"Al lo marah?" tanya Sharon pelan.
"Turun."
"Iya." Sharon ga ada pilihan lain selain nurut, dia akan cari tau kesalahanya didalam.
Dengan mengandeng kasar tangan Sharon Aldo pun membuka pintu lift apartemennya, lama kelamanan gengaman tangan itubpun mengendur menjadi gandengan mesra seperti sepasang kekasih.
Aldo membawa Sharon masuk kedalam apartemenya kemudian dia pun menjatuhkan tubuhnya disofa ruang tamunya, Sharon pun duduk disamping Aldo dan menaruh tas gendongnya disampingnya.
"Al lo kenapa?" tanya Sharon.
"Ngilang kemana kamu selama ini?" tanya Aldo ketus.
"Gue ke Makasar Al bantuin usah kakek." jawab Sharon.
"Boong."
"Enggak Al gue ga boong, gue bisa buktiin."
"Kenapa kamu pergi ga bilang bilang."
"Dih sok marah, emang siapa elo aneh." Sharon berusaha mengajak Aldo becanda dia tapi dia tak menyangka bahwa perkataanya tambah menyulut emosi Aldo.
"Oh aku bukan siapa siapa kamu ya, ya udah sana kamu pergi itu kunci mobilnya bawa aja." deg, Sharon menatap lekat kewajah Aldo, sungguh tenang tapi kemarahan sungguh tak bisa disembunyikan, rahang Aldo mengeras matanya memerah.
"Al maaf." ucap Sharon.
"Untuk apa kamu minta maaf toh kita bukan siapa siapa." jawab Aldo ketus.
"Al maaf kalau gue perginya ga pamit, maaf Al gue nglupain lo waktu itu, gue pikir lo ga akan perduli sama ini maaf ya Al."jawab Sharon sambil memegang lengan Aldo.
"Al." Sharon berusaha meredakan amarah Aldo dengan memeluk Aldo.
"Lepasin pelukan elo *****, gue laki laki."
"Ga mau sebelum elo maafin gue." jawab Sharon, Aldo membiarakan Sharon memeluknya bahkan tanpa dia sadari dia sangat menikmati ini, Aldo menghirupbharum aroma Sharon yang selama ini dia rindukan.
"Al maafin gue."
"Hem."
"Bener ya."
"Hem"
"Serius."
Sharon melepaskan pelukanya dia teraenyum manis pada Aldo karena sudah memaafkanya.
"Makasih." Sharon masih mengalungkan tanganya pada Aldo, Aldo meliriknya sambil tersenyum bersahabat.
"Lain kali kalau pergi bilang, gue cariin elo lampir kagak ada kawan berantem jadi sepi hidup gue." goda Aldo.
"Dih tadi pas marah aku kamu sekarang balik elo gue dasar jin tomang." umpat Sharon hendak melepaskan tanganya dari leher Aldo, dengan cepat Aldo mencegahnya.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini sebentar saja Shar gue kangen sama elo." Mata Aldo menatap mesra kewajah Sharon, Sharon hanya menuruti keinginan Aldo, mata mereka kembali saling menatap wajah mereka begitu dekat, entah mendapat dorongan dari mana Aldo berani memcium bibir Sharon, ternyata Sharon juga menginginkan ini, Sharon menyamankan posisinya dia pun naik kepangkuan Aldo, sesaat mereka terbuai akan ciuman indah itu. Aldo melepas pangutanya spontan mereka menyadari apa yang mereka lakukan Sharon kemudian beranjak dari panguan Aldo dan duduk menjauh, mereka masih berusaha menata gemuruh didada mereka masing masing, mereka sama sama malu.
Bersambung....