PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Maafkan Salahku


__ADS_3

" Al sini lo mau kemana?" tanya Tama.


"Pulang lah bang, semaleman ga peluk bini rasanya gimana gitu." ***** dasar Aldo bisa aja bikin panas suasana.


"Enak aja pulang, sini bantuin gue dulu." pinta Tama.


"Bantuin apaan, kan udah ada ayang beb tinggal minta ama dia pasti dikasih." jawab Aldo.


"Diem lo jangan bikin gue tambah malu." jawab Tama, Laras hanya diam dan pura pura tak mendengar semuanya, Sharon malah senyum senyum dengan tingkah koyol kedua kakak beradik itu, dia pun memilih segera membersihkan dirinya.


"Malu apaan sih kan kak Laras bini elu masak ya malu." Aldo malah lebih semangat menggoda abangnya.


"Sini ih." Tama mulai tak sabar, Aldo pun mendekat.


"Apaan?"


"Siniin kupingnya." ucap Tama.


"Apaan?" Aldo pun mendekatkan telinganya.


"Bantuin gue mandi." bisik Tama, Aldo kembali tertawa.


"Diem lo *****." umpat Tama.


"Ngapain kan abang lagi sakit." jawab Aldo iseng padahal dia tau maksud abangnya.


"Enggak gue udah sembuh." jawab Tama dia tak menyadari bahwa jawabanya semakin membuat adeknya ini semakin semangat menggodanya.


"Weh mantap bener ni ibu malaikat kedatangan nya langsung bisa bikin abang gue sempuh." celetuk Aldo.


"Diem lo musang bikin gue malu aja, cepetan bantuin." desak Tama.


"Oke oke." jawab Aldo, dia langsung menyiapakan baju ganti untuk abangnya dan meminta Sharon sekalian menyiapakan air hangat untuk abangnya, Sesekali Tama menatap ke arah Laras tak jarang juga Laras meliriknya, mereka terlihat seperti ABG yang saling naksir tapi tak berani mengungkapkan.


Laras sudah selesai dengan aktifitasnya kemudian dia berajak dan meminta baju ditangan Aldo.


"Biar kakak aja Al." ucap Laras, Tama memanggil Aldo lagi.


"Al gue malu." bisik Tama, Aldo tersenyum.


"Ga papa bang kan kakak yang mau gimana sih." jawab Aldo sambil membuka selimut Tama dan hendak membantunya berjalan menuju kamar mandi.


"Al gue mandinya sama elo aja gue malu, kan gue lagi bau sekarang." bisik Tama sambil melangkah ke kamar mandi.


"Iye giliran bau aja lo kasih ke gue, dasar abang durhaka." balas Aldo.


"Adek gue sayang yang tampan bantuin gue nolak ya sayang." rayu Tama.

__ADS_1


"Dih amit amit." umpat Aldo, Tama tersenyum bahagia, Laras yang sudah siap dikamar mandi terpaksa keluar memberi jalan untuk Aldo untuk membantu suaminya bersiap, kemudian dia masuk lagi.


"Kak abang malu katanya mandi kakak, biar sama Aldo aja mandinya." ucap Aldo.


"Ga ada enak aja, biarin aja dia malu gue bini nya lo aja yang keluar sana." sepertinya Laras benar benar mempunyai dendam pribadi pada Tama.


Waduh ternyata kakak iparnya bisa galak juga, Aldo sampai merinding dibuatnya.


"Tapi abang malu katanya kak." Aldo masih berusaha membantu abangnya.


"Elo keluar atau mau gue mandiin sekalian." ucap Laras dengan tegas, kali ini Aldo bener bener tak berkutik, dia memilih dijalur yang aman.


"Bang sori gue ga bisa bantu elo, bini lo galak ternyata." ucap Aldo sambil membantu abangnya duduk di kursi yang udah disiapkan Aldo sebelumnya.


"Al tega lo penghianat lo." umpat Tama pelan karena takut dengan Laras, Aldo pun segera keluar, dengan cepat Laras menutup pintu kamar mandi dan menguncinya, tinggalah sekarang dikamar mandi hanya ada dua sejoli yang sibuk menata gemuruh didada masing masing.


Mulut mereka saling diam tapi Tama hanya menurut dengan apa yang Laras lakukan pada tubuhnya, Laras mulai membuka kancing baju suaminya, kemudian menutup bagian sensitif Tama dengan handuk kecil dan membantu Tama melepas celana pendek dan celana dalamnya.


"Aku bisa sendiri mi." bisik Tama.


"Diem ga." balas Laras suaranya agak terdengar ketus, Tama pun menurut dan memilih diam.


Laras mulai mengelap tubuh Tama air agar saraf ditubuh Tama tak terkejut, kemudian barulah Laras mengguyur tubuh Tama mulai dari kaki paha badan barulah dia mengambil lagi air dan diguyur pelan ke kepala Tama, Tama memejamkan matanya menikmati guyuran air yang sudah lama tak dia rasakan.


Laras mengambil sabun disebelahnya dan mulai menyabuni tubuh suaminya, dalam diamnya Laras menangis, sedih karena melihat tubuh Tama yang sangat kurus, Tama mengeluarkan suaranya lagi ketika melihat istrinya menangis.


"Mi jangan diemin daddy." ucap Tama, sepertinya dia lupa bahwa dalam pikiranya Zia sudah ga ada.


"Diem ga." ucap Laras kembali melotot kearah Tama, tentu saja Tama takut.


"Galak amat mi." ucap Tama pelan.


"Apaan si ma mi ma mi, aku bukan mami mu aku istrimu."jawab Laras.


"Iya mi daddy tau, tapi kan daddy udah ucapin kata itu mi berarti kita????" jawab Tama.


"Talakmu ga berarti bagiku."jawab Laras dia kembali mengguyur tubuh Tama dan membilasnya, Laras membantu Tama mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan memakaikan baju untuk suaminya, membantu Tama menyikat giginya, banyak pertanyaan yang berputar dipikiran Tama kenapa Laras bilang Talaknya yang berarti untuknya, ada apa ya????.


Laras memapah Tama berjalan keluar kamar mandi.


"Mau duduk disofa apa diranjang?" tanya Laras.


"Disofa aja." jawab Tama, Aldo yang melihat abangnya keluar kamar mandi langsung membantu memapahnya.


Laras mengambil minyak kayu putih tas nya dan mengoleskanya diperut dada dan punggung Tama, tak lupa juga dia memakaikan crem wajah untuk Tama agar wajah suaminya terlihat lebih fres, Laras menyisir rambut suaminya.


"Udah berapa lama ga potong rambut?" tanya Laras.

__ADS_1


"Dua bulan."jawab Tama.


Tak lama pegawai rumah sakit mengantarkan sarapan pagi untuk Tama, Laras langsung menerimanya dan bersiap menyuapi Tama.


"Aku ga mau maem yang itu ga ada rasa." sifat tukang protes Tama sudah kembali.


"Kamu mau makan baik baik atau aku paksa?" tantang Laras.


"Baik baik mi Ya Tuhan galaknya dari tadi." Tama mulai berani mengeluh.


"Bener kak gitu bagus marahin aja udah berhari hari dia ga makan kata mami." ucap Aldo memberikan dukungan penuh pada kakak iparnya.


"Penghianat diem lo." umpat Tama pada adeknya, Aldo kembali tertawa, Sharon memukul pelan lengan suaminya karena dia gemas Aldo terus saja menggoda abangnya sejak kedatangan Laras.


"Aaa." suruh Laras meminta Tama membuka mulutnya.


"Itu ga enak mi."


"Mau sembuh ga?"


"Mau tapi ga mau makan yang itu."


"Ck, sementara makan ini dulu nanti siang aku kasih apa yang kamu mau oke."


"Janji."


"He em." jawab Laras, ahirnya Tama pun nurut pada istrinya, memakan makanan dari rumah sakit yang menurutnya hambar ini.


" Mi maafkan kesalahan daddy ya." ucap Tama tiba tiba, Laras pun diam dia jadi teringat kejadian kejadian itu lagi, tapi dengan kelapangan dadanya dia berusaha mengiklaskan semua nya.


"Maafin Laras juga ya mas ga nurut sama mamas waktu itu." jawab Laras.


Mereka saling melempar senyum, Aldo dan Sharon yang melihat adegan itu pun ikut merasakan aura kebahagiaan mereka, Laras kembali memberikam suapan pada Tama, Tama kembali membuka mulutnya.


"Nah gitu dong biar kuat nanti gendong Zia kalau Zia dateng." ucap Laras mulai mau terbuka tentang putri mereka, Tama terkejut mendengar ucapan Laras, bukan hanya Tama Aldo dan Sharon pun ikutan terkejut.


"Kenapa mukanya begitu?" tanya Laras.


"Mami tadi ngomong apa, Zia kan udah????"


"Ck siapa bilang maka nya lain kali jangan gedein emosi, dimanipulasi orang daddy percaya aja." jawab Laras sesantai mungkin, jika diperhatikan gayanya persis banget dengan ayah kandungnya.


Tama berhenti mengunyah dia bingung bagaimana caranya mengekpresikan kebahagiaanya, Laras tau jika suaminya sangat shock dengan kabar yang dia bawa, terlebih pasti sekarang dia menyadari kebodohanya karena terlalu mengedepankan emosinya.


Bersambung...


Author "Setelah ini kita lihat seperti apa reaksi kebahagiaan Tama bertemu dengan putri cantiknya siapa lagi kalau bukan Faheesa Nazia Demitri."

__ADS_1


__ADS_2