
Sudah empat hari ini Aldo dan Sharon dilarang ketemu bahkan mami Arini lebih ketat dari biasanya, ponsel Aldo disita agar dia sama sekali tak bisa menghubungi kekasihnya, mami Arini dan papi Bram sangat suka melihat anaknya seperti ini, merengek dan merengek padanya, sebentar lagi rengekan itu tak akan mereka dengar sebab Aldo akan menjadi milik orang lain mereka berfikir akan membuat perasaan mereka puas menerima manjaan dari putra bungsu mereka.
"Mi, handphone dong bentar aja." rengek Aldo mengikuti kemanapun maminya pergi, kedapur ke kamar bahkan ketika maminya mandi pun ditunggunya didepan kamar mandi membuat papi Bram merasa ingin memukul kepala putra bungsunya.
"Ngapain lo dikamar papi?" tanya pak Bram.
"Nungguin mami mandi pi." jawabnya masih menempel di depan pintu kamar mandi.
"Mami mandi kok tungguin, emang mau ngapain?" pak Bram pura pura tak tau maksud putranya.
"Al mau pinjam handphone Al pi mausuruh Izal kesini." jawab Aldo berbohong.
"Ahh boonh aja kamu kalau kamu mau minta Izal dateng biar papi telponin." jawab pak Bram sambil merogoh ponsel yang ada disakunya.
"Aaahhhh ga jadi pi ga usah." Aldo keluqr dari kamar pak Bram sambil mengomel pak Bram yang melihat itu tertawa kegirangan.
Mami Arini membuka pintu kamar mandi dia heran dengan suaminya yang tertawa sendiri.
"Kenapa pi kok ketawa sendiri?" tanya mami Arini.
"Anakmu lucu mi."
"Siapa?"
"Calon pengantin yang kena pingit."
"Ooo, pasti dia minta handphone ya, masih nungguin mami tadi pas papi masuk." mami Arini memastikan apa yang dia pikirkan.
"Iya mi dia kayak gini, kasihan banget hahahaha." ucap pak Bram sambil mempraktekan gaya Aldo.
"Hahaha lucunya pasti mukanya kusut ya pi, orang tinggal dua hari aja masak ga sabar." mami Arini merasa sangat senang menggoda putranya.
"Namanya juga cinta mi, jangan kan Aldo papi aja kalau ga ketemu mami ya kangen kok." rayu pak Bram.
__ADS_1
"Halah alasan kalau udah ketemu Robin juga lain ngomongnya papi pikir mami ga tau apa." ucap mami Arini sambil menyisir rambutnya.
"Dih enggak mi kata siapa pasti Rika ya ngadu ke mami?" tanya pak Bram.
"Ya ga perlu tau siapa yang ngadu asal hangout sama temen juga mami tau papi lupa sama mami kalau udah lihat jidat licin." geram mami Arini.
"Enggak sayangku kamu yang nomer satu ga ada yang lain." rayu papi Bram.
"Awas aja kalau ada yang lain mami pecat papi jadi opa nya Zia." jawab Mami Arini sambil keluar dari kamar.
"Ya ampun perempuan kalau udah cemburunya keluar ancamanya nakutin, hih ngeri." pak Bram mengidik ngeri sendiri.
....
Aldo dan Sharon wedding...
Suasana gedung pernikahan Aldo dan Sharon terlihat sangat mengah, maklum ini adalah pernikahan pertama yang keluarga Mami Arini dan papi Bram gelar, pernikahan putra pertama mereka malah ga terekpose karena Tama tak menginginkanya.
Aldo terlihat gagah dan tampan dengan stelan tuxedo nya, didepan pintu aula pernikahan mereka Aldo menunggu istrinya, kebahagiaan terpancar dari wajah Aldo tekika melihat Sharon datang digandeng oleh kakeknya, Aldo menyambut tangan Sharon yang diberikan oleh kakeknya.
"Siap kek." jawab Aldo, Aldo diijinkan untuk mencium kening mempelainya sebelum mereka melangkah kepelaminan, tepuk tangan keluarga menandakan bahwa mereka juga ikut merasakan kebahagiaan kedua mempelai.
Aldo menggandeng Sharon berjalan menuju kepelaminan.
"Queen kamu cantik banget." bisik Aldo ditelinga ratunya.
"Kamu juga tampan jo." balas Sharon.
Dipelaminan senyum terus mengembang dibibir keduamya, Aldo dengan sigap menjaga istrinya bahkan tak jarang Aldo berbisik menanyakan apakah istrinya sudah lelah apa belum.
"Queen kalau capek duduk aja " bisiknya.
"Ga papa ya, kakiku pegel jo." balasnya.
__ADS_1
"Iya ga papa mari aku bantu." bisik Aldo sambil membantu merapikan gaun istrinya.
Sharon pun duduk dikursi pelaminan ditemani oleh Aldo, sesekali mereka saling melirikdan melempar senyum, kekaguman yang mereka rasakan dalam hati masing masing pun tak bisa ditutupi.
Didalam pesta pernikahan yang mewah itu juga berdiri sepasang suami istri yang menginginkan pernikahan seperti ini, dulu dia menolak mentah mentah keinginan orang tuanya untuk menikahkan mereka secara mewah, siapa lagi kalau bukan siraja gengsi mamas Tama putra Demitri.
Sekarang malah berbanding terbalik dia ingin menggelar pernikahan mewah jika nanti istrinya mau.
"Mi." bisik Tama ditelinga istrinya.
"Heemmm." jawab Laras.
"Kita umumin pernikahan kita yuk mi, daddy pengen deh duduk dipelaminan kayak mereka." ucap Tama menyuarakan keinginan hatinya, sebenernya keinginan ini sudah ada ketika dia menghadiri pesta pernikahan Ryan dan Chintya.
"Dih papi kita udah ada anak, malu atuh." jawab Laras.
"Daddy ga malu daddy malah mau." bisik Tama. Laras hanya tersenyum sambil melirik suaminya, tapi seru juga kali ya kalau mereka bisa duduk dipelaminan seperti Aldo dan Sharon, Kalau boleh jujur dari kecil dia juga memimpikan pernikahan seperti ini.
"Mami pikir pikir dulu ya." bisik Laras.
"Kenapa emangnya mi."
"Malu sama Zia mami hehehe."
"Loh kok malunya sama Zia."
"Nanti kalau mami dibilangnya hamil diluar nikah gimana?" tanya Laras.
"Ya enggak lah mi nanti kan ada video nya kapan kita ketemu dan menikah." desak Tama.
"Kalau boleh jujur seperti inilah pernikahan impian mami dad." ucap Laras.
"Daddy wujudtin ya mi."
__ADS_1
"Dibilang mami pikir pikir dulu hehe." Laras bergelut manja dilengan Tama, tanpa malu Tama mencium kening istrinya, duh kalian ga kalah sweet sama pengantinya.
Bersambung....