
Ryan langsung membopong tubuh Laras yang lemas tak berdaya kedalam mobil milik Dion sahabatnya, bik Mirna sangat tanggap dia langsung membawa perlengkapan bos barunya yang pingsan, Ryan memangku
sahabatnya dan berusaha menyadarkan Laras.
"Ras, bangun Ras Ya Allah Ras." Ryan berusaha menepuk nepuk pipi Laras.
"Den ada minyak kayu putih ga?" tanya bik Marni.
"Coba buka tas nya bik barang kali ada minyak atau apa gitu." pinta Ryan, bik Marni pun membukanya dan menemukan sebotol minyak kayu putih, bik Marni mengoleskam dipelipis Laras dan juga didadanya.
"Den merem dulu den." pinta bik Marni ketika memasukan tanganya ke dada Laras.
"Iya bik, aku merem." Ryan nurut juga rupanya.
"Udah den."
"Kok belum mau sadar ya bik, Ras hay bangun Ras." Laras masih diam, mobil yang membawa mereka pun sampai juga di RS Bakti Mulia dekat rumah Laras.
Laras langsung mendapatkan penanganan, Selang oksigen dan infus telah dipasang di tubuh Laras, tak Lama Laras pun membuka matanya.
"Ras lo bikin gue takut." Ryan mengusap usap tangan Laras yang dingin.
"Gue dimana Yan?" tanya Laras.
"Lo dirumah sakit Ras." jawab Ryan.
"Anak gue ga kenapa napa kan Yan?"
"Ga papa Ras, semua aman kata dokter lo jangan banyak pikiran takutnya lo kontraksi diawal, soalnya usia kandungan lo baru 33 minggu Ras kasihan kalau belum waktunya lahir terpaksa harus lahir." ucap Ryan, Laras mengangguk mengerti.
"Non yang sabar ya." Bik Marni yang barusan mendengar kisah tentang Laras jadi ikutan nangis.
__ADS_1
"Iya bik." jawab Laras
"Non ga sendirian, sekarang ada bibik yang bakal nemenin sama jagain non kan ya kan den." bik Mirna mengelus lengan Laras dengan kasih sayangnya, bik Mirna yang baru beberapa jam kenal sama Laras saja merasa sangat sedih dengan nasibnya, lalu kenapa orang yang sangat Laras sayangi sama sekali tak perduli dengan Laras, apa salah Laras mas Tama, jerit Laras dalam hati.
"Makasih bik." jawab Laras lagi.
"Iya non sama sama." jawab bik Mirna.
"Ras gue kasih tau mami lo ya." ucap Ryan.
"Ga usah Yan, dia udah pusing dengan keadaan mas Tama, gue ga mau bebanin dia lagi." jawab Laras.
"Ya udah kalau itu mau lo, yang penting sekarang lo harus sabar yang kuat demi buah hati lo ya, tekanan darah lo agak tinggi Ras lo mesti hati hati ya, lupakan semua beban yang ada dihati lo yang mesti lo pikirin hanya lo harus sehat kuat tujuan hidup lo adalah buah hati lo, lo ga mau kan dia sendirian." Ryan mencoba membakar semangat sahabatnya dengan menggunakan anaknya, semoga kali ini dia berhasil dan bisa membuat Laras kembali bersemangat.
****
Dikediaman Demitri..
Mami Arini kembali mondar mandir dikamarnya seketika dia ingat putra bungsunya siapa tau dia bisa bujuk abangnya yang kolot itu.
Mami Arini pun bergegas mengambil tas tangan dan kunci mobilnya, dia pun tancap gas ke apartemen Aldo, sebelumnya dia berpesan sama asisten rumah tangganya untuk memberitahu pak Bram jika dia kerumah Aldo, sebenernya dia udah kirim pesan sih cuma takut pak Bram ga baca dan langsung pulang.
Sesampainya dirumah Aldo mami Arini langsung memencet bel, ternyata disana juga ada Izal yang sedang membantu Aldo bekerja.
"Ada apa mi tumben mami dateng biasanya minta adek yang kerumah." sapa Aldo sedikit terkejut dengan kedatangan maminya.
"Dek, mami bingung." jawab Mami Arini.
"Bingung kenapa mi?"
"Kakak iparmu udah pulang dek." jawab Mami Arini mulai membicarakan kegelisahannya.
__ADS_1
"Bagus lah mi pasti mereka lagi pacaran sekarang, kangen kangenan iya kan mi dasar mereka bucin tingkat haluan" umpat Aldo.
"Kamu salah dek." tentu saja Aldo dan Izal terkejut dengan jawaban mami Arini karena setau mereka Laras dan Tama adalah peciinta sejati.
"Salah gimana sih mi orang abang ma kakak tu sweet banget." Aldo ga mau kalah dengan apa yang dia tau selama ini.
"Apa kalian ga tau selama ini mereka bermasalah?" tanya mami Arini.
"Saya inget bu, dulu sewaktu saya ngenter bos kerumah non Laras ketika kami pulang dari palembang bos ngliat non Laras dipeluk ama cowok, saya tau waktu itu bos marah tapi expresinya biasa aja, terus hampir sebulan beliau ga mau ngantor kerjaan minta di email atau ga saya kerumah bawain kerjaan," jawab Izal, mami Arini dan Aldo mengerutkan kening mereka.
"Apakah laki laki ini yang memeluk Laras." mami Arini menunjukan foto Ryan di ponselnya.
"Bener bu." jawab Izal.
"Astaga ini abangmu bener bener keterlaluan, masalahnya cuma cemburu to, jadi ruyam begini nuduh kakakmu macem macem, kalau yang ini juga mami kenal, nama nya Ryan sahabat kakakmu dia asli Tanggerang situ tapi dia sekarang tinggal di Paris nerusin usaha bapaknya, bener bener si Tama buta sudah hatinya gara gara cemburu huff gemes mami." kini mereka bertiga paham bahwa masalah yang dihadapi sepasang manusia bucin ini hanyalah cemburu dan sifat Tama yang kelewat posesif.
"Mami tenang aja mi nanti adek coba ngobrol sama abang." ucap Aldo.
"Jangan lupa bro biasanya bos minta bukti." Izal mengingatkan kebiasaan big bosnya pada Aldo.
"Iya ya, mi ada nyimpen foto foto atau Video gitu ga ma, kan sebelum kak Laras berangkat ke Paris dia kan yang jaga abang."
"Ada mami bang, ni."mami menunjukan rekaman suara dan Video saat mereka melakukan panggilan.
"Dikamar rawat abang juga ada CCTV kan dek."
"Ya udah , sip itu mi nanti adek aja yang coba deketin abang, mami pantau perkembangan abang aja jangan sampai di drop dan ngedown lagi." pinta Aldo.
"Duh dek, mami legaan sekarang makasih ya dek."
"Sama sama mi."
__ADS_1
Bersambung...