PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Langkah Tama


__ADS_3

Selepas Magrib Tama dan Ryan sampai dirumah sakit, Laras sudah memasang muka cemberutnya, Tama makin suka dibuatnya.


"Malam semua." sapa Mereka.


"Malam juga." hanya Chintya yang membalas sapaan mereka.


Tama berjalan mendekati Laras, Laras tak menghiraukanya.


"Tu kan mulai, suaminya dateng bukanya disambut pakek senyuman malah cemberut ga senang gitu, sakit hati mas dek." goda Tama, Laras masih diam tak perduli, Ryan sudah duduk di sofa bersebelahan dengan Chintya, mereka hanya tersenyum melihat kekonyolan Tama.


"Apa sih, sana?" usir Laras.


"Mas bilang juga apa kamu ma boong kalau cinta ama mas." goda Tama lagi sambil berbisik hampir semuanya tak dengar, tentu saja bisikan itu membuat Laras semakin emosi, dia menatap marah kearah Tama, Tama hanya tersenyum seneng, setelah itu Tama pun kembali duduk bergabung dengan Chintya dan Ryan.


"Bik, bibik bisa pulang, besok Laras sama dedek bayi udah boleh pulang juga," suruh Tama.


"Baik den." jawab bik Marni.


"Bibik ditunggu sama Izal ya di lobi." ucap Tama.


"Baik den." bik Marni ahirnya berpamitan untuk pulang kerumah.


Ryan paham bener akal bulus pria didepanya, dia pun mengajak kekasihnya untuk pamit.


"Maaf pak Tama kami tak bisa lama lama disini, ada sesuatu yang harus kami kerjakan." ucap Ryan, ternyata Ryan juga pandai mendukung aksi Tama.


"Silahkan Pak Ryan, terimakasih karena anda sudah menyempatan waktu untuk menjenguk istri saya, saya harap anda tidak mengulangi kesalahan yang sama." balas Tama, seketika mata Laras melotot ke arah mereka, sampai kapan dia akan berfikir aku menghianatinya.


"Saya mengerti Pak Tama, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, saya minta maaf untuk itu." jawab Ryqn, Ryan dan Chintya pun berdiri dan mendekati ranjang Laras. Chintya memeluk Laras dan berpamitan, setelah itu giliran Ryan yang memeluk Laras dan menggegam tangan nya.


"Tu kan tadi digebukin ampun ampun sekarang peluk peluk lagi." Tama mulai memasang muka garang nya, Ryan tersenyum sambil menggaruk kening nya yang tak gatal, tapi tangan satunya masih berpegangan dengan Laras bahkan Laras makin erat memegangnya.


"Udah biarin Yan dia ga usah dengerin mahluk tak kasat mata itu." jawab Laras, wah nabuh genderang perang ini namanya.


"Berani ya sekarang ngatain." Tama mendekatkan wajahnya ke muka Laras, Laras malah mendorong dada Tama supaya menjauh darinya.


"Jauh sana ih." Laras benar benar geram pada suaminya.


"Baiklah aku pergi." Tama pun mengambil kunci mobilnya dan melangkah pergi, Laras hanya melihatnya tak sedikitpun dia berucap melarangnya meskipun hatinya ingin.

__ADS_1


"Ras baik baik lah sama suami jangan begitu." ucap Ryan.


"Dia nyebelin bikin marah aja." jawab Laras merajuk.


"Oke oke suka suka kalian aja, kita pamit ya soalnya Chintya masih banyak kerja, besok kita balik ke Paris, jangan berantem melulu ga baik buat hubungan kalian." ucap Ryan, Laras masih aja merajuk dia malas sekali rasanya membahas Tama.


"Iya nanti aku pikirkan." jawab Laras.


"Oke kita balik ya, baik baik ya kirimin aku foto baby Zia terus ya, kirim karya kamu juga okey, aku tunggu." ucap Miss Chintya. mereka pun berpelukan lagi.


"Segerakan pak, dikode terus masak ga berasa." goda Laras.


"Insya Allah awal bulan depan doanya ya."jawab Ryan, Chintya langsung mencubit perut Ryan.


"Au, sakit be." pekik Ryan.


Chintya hanya meliriknya geram.


"Wah, ditunggu undanganya." Laras terlihat lebih antusias.


"Insya Allah." jawab Ryan.


"Udah tadi, sholat bareng gue juga suami lo itu istimewa Ras, beruntung lo dapetin dia." ucap Ryan.


"Kenapa lo jadi belain dia sih, kan dia curigain kita lo digebukin bener ga tadi?." tanya Laras heran.


"Hahaha, yang pinter napa dibodohin mau terus aja lo, heran gue, begitu mau jadi walikota, yang ada Tanggerang banjir mulu bu kagak habis habis."ledek Ryan. Laras hanya tertawa malu.


Chintya dan Ryan pun ahirnya berpamitan, ternyata Tama sudah menunggunya diblobi rumah sakit.


"Yan." panggil Tama.


"Hay bro kenapa muka lo kusut amat?" tanya Ryan.


"Bahaya Yan, Resort Laras yang diBali dilelang sama Pamannya, baru aja gue dapet info dari orang suruham gue." Tama mulai mau berbagi informasi sama Ryan.


"Matilah kita, gimana kalau kita kerumah temen gue malam ini." ucap Ryan memberi ide.


"Boleh, apa ayahnya temen lo ada disini?" tanya Tama.

__ADS_1


"Bro lo ngrasa ga kalau gerak gerik lo diperhatikan sama mereka, Laras bro.." Mereka pun berlari kembali kekamar Laras.


mereka sangat terkejut ketika sampai disana Laras sudah ga ada, itu membuat panik mereka bertiga.


"Ras, Laras." panggil Tama.


Tama hendak membuka pintu kamar mandi ternyata pintunya dikunci.


"Dikunci bro." ucap Tama panik.


"Dobrak aja." ucap Ryan, mereka berdua pun mendobrak pintu kamar mandi, setelah pintu terbuka betapa terkejutnya mereka karena melihat Laras pingsan dengan tangan dan kaki diikat, serta mulutnya tertutup lakban.


Dengan kepanikan yang mereka rasakan ahirnya Tama pun menggendong istrinya dan membawanya ke ranjang.


"Bro lo lihatin anak lo biar Laras kita yang urus."


Tanpa kata ahirnya Tama langsung berlari keruang bayi, Tama masih beruntung bayi nya masih ada, Tama langsung memeluk bayi mungil itu dan membawanya, sekarang dia tak percaya pada siapapun, dia akan menjaga bayi dan istrinya sendiri.


Suster juga bercerita padanya tadi ada seseorang yang bertanya tentang bayinya, bersyukurnya mereka tak ceroboh, kini Tama menyadari bahwa lawanya bukan orang biasa bahkan mereka hendak mencelakai keluarga kecilnya.


Tama pun segera mengerahkan anak buah nya untuk segera melacak siapa dalang yang dari semua kejadian yang menimpa istrinya serta hampir menculik bayinya.


Tama meminta kepada kedua orang tuanya untuk datang kerumah sakit agar membantunya untuk menjaga anak dan istrinya, Orang tua Tama pun tanggap, tanpa sepengaetahuan Tama, papi Bram juga ikut menyelidiki kasus Laras.


Saat orang tua Tama datang Laras sudah sadarkan diri, Tama yang masih menggendong bayinya langsung memeluk dan mencium istrinya.


"Sayang apa kamu tau yang mengikatmu tadi heemm?" tanya Tama pada Laras.


"Suaranya mirip dengan yang mencelakaimu waktu itu mas." jawab Laras.


"Bukankah mereka sudah tertangkap." jawab Aldo yang ikut datang juga.


"Sepertinya mereka salah orang Al." ucap Tama.


"Bisa jadi pi, bang apakah abang pernah mencurigai seseorang selama ini?" tanya Aldo.


"Hanya paman dan bibi Laras Al ga ada yang lain." jawab Tama.


"Mungkin kah mereka juga yang merancanakan ini?" ucap Tama. Mereka pun mulai mengumpulkan bukti dan mulai mengatur strategi, suasana semakin tegang ketika Laras merasakan sakit diarea perutnya dan darah meluncur keluar dari jalan lahirnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2