
Robin keluar ruangan dan berbicara pada mami Arini, sambil berbicara dia pun langsung mengajak mami Arini naik pergi menjeput Laras.
Dimobil....
"Mbak sebelumnya saya minta maaf, saya memang orang tua Laras tapi saya tak bisa memaksanya terlebih cara laki laki berbicara dengan perempuan kan berbeda dengan sesama jenis mbak, sebenernya saya mau minta tolong ibu sambung Laras berhubung dia ga bisa ninggalin bayinya gimana kalau mbak aja yang coba ngomong sama Laras, siapa tau dia luluh mbak mengingat kalian kan sesama istri" ucap Om Robin.
"Boleh Bin sekalian gue juga mau minta maaf sama dia karena ga bisa belain dia waktu itu padahal saat itu gue tau bahwa dia ga salah Bin." jawab Mami Arini.
"Iya mbak kita sama sama tau bahwa mereka sama sama egois, oia mbak satu lagi saya mau minta tolong." pinta Robin.
"Tolong mbak tetap rahasiakan apa yang mbak tau tentang saya dari Rika." Mami Arini mengerutkan dahinya, permintaan yang aneh batin Arini.
"Maksudmu apa Bin?" tanya mami Arini bingung.
"Sebenernya Rika belum tau siapa saya mbak dan apa yang saya miliki, saya ga mau Rika merasa saya tipu saya memang berniat membahagiakan dia dengan mengikuti gaya hidupnya yang sederhana mbak, saya harap mbak memakluminya." ucap Robin.
"Iya Bin gue paham Bram juga sudah cerita semua sama tentang lo dan maksud lo juga ,lo tenang saja soal itu asal kan lo ga mainin adek gue aja." jawab Mami Arini, mobil yang mereka tumpangi pun sampai ditujuan, Mami Arini juga terpesona dengan jet pribadi milik Robin.
" Gue ga nyangka Bin ternyata lo beneran tajir melintir hahaha, mujur bener adek gue ck ck biar suaminya kakek kakek kalau tajir gini siapa yang nolak." goda Arini.
"Udah ah mbak jangan bikin saya malu." jawab Robin sambil tersipu malu.
Didalam pesawat...
"Mbak apakah Bram sudah cerita sesuatu tentang Zia sama mbak?" tanya om Robin.
"Ga Bin papinya anak anak ga ada cerita apa apa tentang cucunya ke gue." jawab mami Arini dengan beribu pertanyaan di pikiranya tentunya.
"Sebenernya yang kita kubur waktu itu bukan Zia mbak." ucapan Robin tentu saja membuat Mami Arini terkejut.
"Maksud lo apaan Bin?" tanya Mami Arini tak percaya.
"Saya sudah bicarakan ini dengan Bram waktu itu mbak, kami sepakat memisahkan mereka sementara waktu agar mereka bisa lebih bersikap dewasa, saya rasa sekarang Tama udah menyadari kesalahanya, kalau Laras saya masih belum tau kita lihat nanti ya mbak semoga dia berubah fikiran dan mau menemui dan memaafkan Tama." jawab Om Robin.
"Semoga ya Bin, terus sekarang Zia dimana apa dia udah ditemukam Bin?" tanya mami Arini.
__ADS_1
"Sudah mbak tak lama setelah penemuan mayat itu dan pelakunya sudah Robin bikin jera bahkan dia sekarang berada dirumah sakit jiwa." jawab Robin.
"Siapa yang tega melakukan ini pada rumah tangga putra dan mantuku Bin?" tanya mami Arini dia masih ga habis pikir.
"Siapa lagi kalau bukan Luna siwanita rubah itu, Zia dijual pada pasangan suami istri asal Jerman, untungnya pas saya jemput Zia mereka dengan suka rela menyerahkanya." jawab Robin.
"Ya Tuhan dia jahat sekali sih, kok kamu bisa tau Bin kalau itu bukan mayat Zia ?" tanya Mami Arini penasaran, Robin sudah menduga bahwa wanita yang ada disekelilingnya adalah bodoh kurang pemgalaman dalan hal beginian taubnya shoping aja hah kalian ini, gitu aja mesti dijelasin Robin tertawa dalam hatinya dia merasa harga dirinya melambung tinggi karena belum ada satu wanita pun yang bisa menandingi kecerdikkannya.
"Biarlah itu menjadi rahasia saya mbak." jawab Robin, Arini mengerutkan dahinya dia sangat penasaran dengan apa yang Robin lalukan sehingga dengan mudah dia menemukan keberadaan Zia cucunya.
****
Mami Arini ternganga ketika masuk ke istana milik Robin.
"Masuk mbak." ajak Robin.
"Tunggu Bin, ini rumah elo Zia sama Laras tinggal disini?" pertanyaan mami Arini tentu saja membuat heran om Robin.
"Mbak jangan gitu ah, rumah mbak juga kayak gini kan." jawab Robin merendah.
"Jadi diijinin ni saya cari istri lagi." tanpa mami Arini sadari tanggapan Robin tentang pemikirannya menjadi lain dengan apa maksud ucapkannya.
"Berani macem macem gue pecat lo jadi opanya Zia." ancamanya selalu sama, Robin hanya tersenyum.
Robin meminta salah satu maidnya untuk memanggilkan Laras, Laras yang mengetahui papa nya datang pun segera keluar dari kamarnya dengan menggandeng Zia.
Mata Laras tak berkedip ketika melihat siapa yang datang, dia ingin menghindar dengan membawa Zia tapi seketika dia ingat nasehat sahabatnya untuk tidak menghindari masalahnya.
"Mi." sapa Laras.
"Hay." balas mami Arini.
"Apa kabar Ras?" tanya Mami Arini.
"Baik mi, mami sama papi apa kabar." jawaban Laras membuyarkan lamunannya ketika menatap Zia cucunya, Zia tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Kami semua baik Ras kecuali suamimu." jawab Mami Arini.
"Maksud mami apa, ada apa dengan mas Tama?" tanya Laras seketika gugup.
Sebelum menjawab pertanyaan mantunya, Mami Arini duduk berjongkok didepan Zia merentangkan tangannya dan tersenyum bersahabat pada cucu cantiknya.
"Hay inces nya oma, sini sayang oma kangen, cantiknya cucu oma ni ha." seolah terhipnotis dengan senyuman omanya Zia langsung menyambut pelukan omanya, Mami Arini malah menangis mendapat balasan pelukan dari Zia.
"Oma nanis no no no." ucap Zia.
"Ga sayang oma ga nangis, napa lagi ni air mata nakal bener, tu kan oma ga nangis udah oma buang air matanya, sini sayang gendong oma." Mami Arini kembali menahan tangisnya ketika memeluk Zia, Laras membantu ibu mertuanya menghapus air matanya, mami Arini mengangguk angguk tanda mengerti bahwa Zia tak suka jika ada orang yang menagis.
"Sini Zia sama opa nak, opa punya coklat banyak banyak siapa mau." Robin memang sangat pandai mengambil hati siapapun termasuk mengambil hati Zia.
"Zia mau opa." jawab Zia lugu.
"Om jangan banyak banyak kasihnya om kasihan giginya." gerutu Laras, Robin mengambil Zia dari gendongan mami Arini
"Mami mu cerewet sekali Zia pusing opa." Zia tertawa seakan paham bahwa opanya senang sekali mengganggu maminya.
"Dasar kakek kakek jelek." umpat Laras, Mami Arini hanya tersenyum melihat kekonyolan bapak anak ini, Robin pun membawa Zia pergi agar Arini leluasa membujuk Laras untuk ikut denganya menjenguk Tama.
"Duduk mi, mau minum apa?" tanya Laras.
"Ga usah Ras, mami kesini hanya ingin minta maaf sama kamu karena saat itu mami ga bisa belain kamu." ucap mami Arini.
"Ga papa mi Laras sudah mengiklaskan semuanya, toh sekarang Zia baik baik saja." jawab Laras.
"Ras boleh mami tanya sesuatu?"
"Apa mi?"
"Apakah masih ada cinta dihatimu untuk putra mami Ras?".
Bersambung...
__ADS_1