
Malam ini menjadi malam yang membahagiakan buat Robin, sudah hampir dua minggu lebih dia tak bertemu dengan putri semata wayangnya, serta cucu cantiknya.
Tama memang sengaja mengundang papa mertuanya untuk datang, disamping alasan ingin mempertemukan nya dengan istrinya dia juga punya alasan lain tentang bisnis yang baru akan dirintiisnya.
"Selamat malam om, selamat datang kembali dirumah kami." sambut Tama.
"Terimakasih nak, dimana pria tua itu?" tanya Robin menanyakan besan nya.
"Papi lagi ke Jogja om mengurus pembukaan hotel baru kami." jawab Tama.
"Makin jaya aja si pria tua itu, boleh kayaknya kawin lagi hahahaha." jawab Robin.
"Jangan kedengeran mami om bisa ngamuk nanti." jawab Tama membalas candaan papa mertuanya.
"Hahaha iya iya." jawab Robin.
"Mana putri sama cucu papa?" tanya Robin sambil berbisik.
"Ada om, bentar lagi turun ga papa kan pa sementara Tama panggilnya om?" tanya Tama
"Ga papa santai saja kalau sama papa." jawab Robin.
"Duduk om." ajak Tama.
"Terimakasih." balas Robin.
Tak Lama Laras pun keluar kamar dan menuruni anak tangga sambil menggendong baby Zia, Mata Laras dan Robin saling bertemu, ingin rasanya Laras memeluk pria paruh baya yang ada didepan nya ini, tentu saja ini terjadi karena ikatan batin yang begitu kuat diantara keduanya.
"Malam om." sapa Laras.
"Malam juga nak, eh ada bidadari kecil sini salim opa." sapa Robin untuk Zia, Zia pun seakan mengerti bahwa itu adalah opa kandungnya, Zia memegang erat jari telunjuk Robin.
"Mau gendong opa nak?" tanya Robin pada Zia.
"Cuci tangan dulu opa." ucap Laras pelan, mata Robin langsung menatap wajah putrinya, Laras hanya tersenyum, Robin pun mengangguk.
"Oke tunggu opa ya nak." ucap Robin.
Robin berlari pelan menuju wastafel didapur keluarga Tama untuk segera mencuci tangan nya, kebahagiaan terpancar begitu nyata dimata Robin.
Selesai mencuci tangan nya Robin bergegas kembali dan menghampiri Laras.
"Mana cucu opa." pinta Robin, Laras pun memberikan baby Zia pada Robin, Laras menangkap jelas kebahagiaan dimata papa nya, Robin begitu senangnya mengajak Zia bercanda, sampai tak menyadari Laras dan Tama memperhatikan tingkah konyolnya, Imej Robin yang dingin dan arogan seakan runtuh dimata Laras ketika dia melihat interaksi antara pria paruh baya itu dengan putrinya.
"Om, sebenernya saya mau ngenalin om sama tante saya, dia ingin ngajak om join." ucap Tama.
"Boleh." jawab Robin tanpa melihat ke arah Tama, dia malah asik bercanda dengan baby Zia.
__ADS_1
"Tante kemarin sempet ke Singapur dan mampir di salah satu toko perhiasan om disana dan dia tertarik sepertinya om, saat tante cerita tentang itu saya pun kasih tau kalau saya kenal pemiliknya makanya dia pengen ketemu om, ga masalah kan om?"tanya Tama.
"Ga masalah."jawab Robin kembali tak menghiraukan Tama dan Laras, Laras menertawakan pelan suaminya.
"Pesona Zia lebih kuat dibanding kamu dad." bisik Laras ditelinga suaminya.
"Kamu bener mi, kalau sekarang dia kita rampok mungkin ga berasa." balas Tama.
"Gimana kalau kita todong kakek tua yang tajir ini dad." tambah Laras.
"Boleh, habis itu kita pakai uangnya buat keliling dunia ya mi."Laras tertawa pelan.
"Kalian ini,"ucap Robin.
"Dia denger mi." bisik Tama.
"Habis daddy keras keras ngomongnya." mereka berdua pun tertawa lagi, Robin tak mau memperdulikan tingkah kurang ajar Laras dan suaminya, dia terus saja bermain dengan Zia, tak lama mami Arini pun datang.
"Malam semua."sapa Mami Arini.
"Malam mi." Robin masih asik dengan Zia.
"Loh kalian ini gimana ada tamu kok ga dibikinin minum." ucap Mami Arini.
"Ga usah mi kita pinjemin Zia aja om Robin udah seneng iya kan om?" ucap Laras.
"Sembarangan kamu." canda Mami Arini.
"Tam, tolong bantu tantemu parkir kayaknya susah dari tadi maju mundur ga kelar kelar."suruh mami Arini.
"Siap mi." Tama pun beranjak dari duduknya dan melangkah pergi untuk membantu tantenya, sedangkan Mami Arini masuk kamar untuk menaruh barang barangnya, diruang tamu tinggalah Laras dan Robin yang masih bercanda dengan Zia.
"Pah." panggil Laras.
"Iya sayang ada apa."jawab Robin.
"Apa kamu papa ku?" tanya Laras tiba tiba sambil melipat kedua tanganya seolah mengintimidasi Robin, Robin hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Kok cuma senyum, orang Laras nanya?" Robin malah gugup ketika mendengar pertanyaan Laras untuk kedua kalinya, Robin merasa seperti disuruh mengakui kesalahanya.
"Iya kamu benar." jawab Robin pelan.
"Baiklah." tambah Laras, pembicaraan mereka belum usai tapi Tama dan tante nya masuk.
"Om ini tante Tama yang tadi Tama ceritakan." ucap Tama, Robin mengangkat wajahnya melihat tante yang dimaksud Tama.
Deg
__ADS_1
Dia wanita itu.....
"Malam semua, malam Ras." sapa tante Arika.
"Malam tant, ih makin muda aja." goda Laras.
"Biasa aja kamu Ras." jawab Tante Arika.
Arika mengulurkan tanganya pada Robin, Robin pun menyambutnya dengan senyuman malu malunya, Laras heran kenapa papa nya terlihat salah tingkah ketika melihat tante Arika, jangan jangan...
"Om udah kenal sama tante?" tanya Laras.
"Oh enggak hanya pernah ketemu." jawab Robin masih salah tingkah.
"Sebaiknya om bicarakan dulu urusan kerjanya, sini Zia nya biar Laras jaga dulu."ucap Laras sambil mengambil putri kecilnya dari gendongan Robin.
"Dad, bantu bunda bentar dong." Laras sengaja mengajak Tama kedapur guna melihat tingkah aneh papanya, Tama pun menurut saja karena dia kurang peka.
"Dad perhatikan papa deh, kayaknya naksir sama tanter Arika." ucap Laras
"Masak sih mi ada ada aja kamu."
"Ye, perhatikan dulu lihat tu papa salah tingkah tante juga dad."
"Mana mi ngawur kamu." Tama masih tak percaya, lama lama dia ikutan curiga juga.
"Kamu bener mi, tingkah papamu aneh tante Rika juga gimana kalau kita comblangin mereka mi." ajak Tama.
"Boleh dad, biar bokap Laras tobat main ceweknya." ucap Laras spontan mengakui bahwa Robin adalah papanya.
"Mi barusan mami serius ngomong gitu?" tanya Tama.
"Ngomong apa?"
"Barusan mami ngakuin lo kalau om Robin itu ayah mami." jawab Tama.
"Ngakuin ya, salah denger kali daddy." Laras berusaha mengelak.
"Enggak mi orang daddy denger." desak Tama.
"Ya udah sih, ni pengangin dedek Zia mami mau bikin minum." ucap nya tiba tiba ketus, Tama tertawa pelan dibuatnya.
"Dih marah mami mu aneh dek."
Laras tak mengiraukan godaan suaminya, tapi hatinya merasa sedikit tenang karena tampa dia sadari dia sudah mengakui bahwa Robin adalah ayah kandungnya.
Bersambung....
__ADS_1