
Tama yang melihat istrinya kesakitan langsung meminta Aldo untuk memanggil dokter, ini kedua kalianya Laras pingsan Tama hampir gila dibuatnya, didekapnya istri tercintanya, berkali kali Tama mencium kening istri cantiknya, Laras masih memejamkan matanya diam tak bergeming, bahkan ketika Tama menangis Laras pun masih tak mendengarnya.
Tim dokter pun masuk untuk memeriksa keadaan Laras, sementara mereka memberikan obat melalui infus untuk menghentikan pendarahanya. Dokter memberikan beberapa nasehat pada Tama dan ahirnya Tama pun mengerti, dia berhenti mendekap Laras sekarang dia memilih berada disisi pujaan hatinya, dia terus menciumi tangan istrinya kadang kadang dia juga mengusap kening Laras tak jarang pula dia mengecup kening itu, rasa takut kehilangan telah membelenggu jiwa Tama.
Mami Arini yang melihat kejadian itu langsung mendekati putranya, mengelus pundak Tama dan berkata.
"Ketika kamu koma Laras pun bertingkah seperti ini nak, jadi mama mohon janganlah kamu terus menyalahkan kepergianya ke Paris, dia melakukan itu juga karena dia sangat mencintaimu, dia ingin kamu sembuh, dia ingin kamu menatapnya lagi, hidup bersamanya menjalani hari hari bersama, maka jadilah kamu pelindungnya, kamu tahu kan dia sekarang dalam bahaya." ucap Mami Arini, Tama tak menjawab tapi dia tetap mendengarkan nasehat ibunya.
"Pergilah nak, tangkap mereka yang melakukan tindakan keji pada istrimu, kamu cerdas nak kamu pasti bisa mengalahkan mereka, papimu sudah menunggumu." ucap Mami Arini, dia tau Tama pasti bisa membuka tabir hitam yang menyelimuti kehidupan Laras.
"Makasih banyak mi, tolong jaga Laras dan anak Tama buat Tama ya mi tolong kabari Tama kalau dia sudah sadar." Tama menghapus air matanya dan mencium kening Laras serta membisikan kata cinta ditelinga istrinya.
"Aku mencintaimu istriku, doakan aku bisa menangkap mereka akan kuhajar mereka untukmu aku janji." ucap Tama ditelinga Laras.
Tama juga berpamitan pada putri kecilnya yang berada digendongan Chintya.
"Titip dia bentar ya miss." ucap Tama.
"Siap mr. Tama." jawab Chintya.
Aldo mengelus pundak abangnya.
"Anak buah papi sudah mengetahui markas mereka bang, sebaiknya kita ke tempat yang udah siapkan, papi sudah ada disana." Tama, Aldo dan juga Ryan pun segera menyusul ke markas Papi Bram.
Dilobi tiba tiba kepalanya sedikit terasa berputar Tama inget kejadian kecelakaan itu dan...
"Tunggu." ucap Tama.
"Al, sebaiknya jangan pakai mobil gue." ucap Tama.
"Kenapa bang?" tanya Aldo heran.
"Gue yakin mereka udah apa apain mobil gue, terahir mereka bikin rem gue blong." jelas Tama.
"Musuh lo bener bener Gila bro." tambah Ryan.
" lo bener bro," jawab Tama.
"Kita pakek mobil gue." usul Ryan.
"Sip, okey bro." jawab Tama.
Ahirnya mereka pun masuk ke mobil Ryan, Tama langsung menyuruh anak buah nya untuk memeriksa mobilnya, dan hasilnya sangat mencengangkan, disana ada di pasang beberapa CCTV, gila pantesan selama ini mereka tau pergerakan Tama. sepertinya mereka sudah ahlinya.
Sesampainya dimarkas Pak Bram, mereka bertiga sudah disuguhi 3 orang yang sudah babak belur, sepertinya mereka hampir pingsan dibikin oleh anak buah Pak Bram.
Tama yang melihat ketiga ******** itu ingin rasanya langsung menghajarnya, untung Aldo dan Ryan langsung mencegahnya.
__ADS_1
"Woe woe bro tenang sabar, jangan kotorin tangan lo, kita punya cara yang lebih keren." bisik Ryan.
"Kalian ikut papi sekarang." perintah papi Bram.
Mereka bertiga pun mengikuti pak Bram masuk kedalam ruang kerja pak Bram.
"Coba kamu pelajari ini." Papi Bram memberikan beberapa berkas pada Tama.
"Ini gila pi." ucap Tama.
"Coba kalian dengar ini, ini adalah kesaksian mantan pembantu dirumah mendiang ayah mertuamu." ucap Papi Bram.
Mereka berempat mendengarkan rekaman itu dengan teliti, muka Tama memerah darahnya mendidih, emosinya memuncak, Tama tak bisa menahanya lagi, ingin sekali dia menghajar paman dan bibi Laras sekarang juga.
"Jadi benar kecurigaan papi selama ini, bahwa mendiang ayah meninggal bukan karena serangan jantung tapi karena diracun, mereka kejam sekali pi." ucap Tama geram.
"Tapi apa masalahnya ya pi, paman Antok adek kandung ayah kan?" tanya Tama.
"Tentu saja, cuma mereka tidak dibesarkan bersama, Antok diasuh oleh kakek neneknya waktu itu mungkin itu yang menyebabkan kecemburuan sosial diantara keduanya." ucap Pak Bram.
"Tapi ga mungkin dia senekat itu kalau ga ada faktor lain pi." ucap Tama.
"Kamu benar bang, coba kalian perhatikan ini, sebelumnya Hotel xxxxx itu adalah milik Orang tua Luna, tiba tiba saja Hotel itu berpindah tangan pada kakek Laras disitu letak masalah sebenernya, mungkin Luna merasa keluarga hancur gara gara ini makanya dia senekat ini dan mulai mempengaruhi Antok." ucap Papi Bram sambil menyodorkan beberapa bukti kepemilikan Hotel Xxxxx Sebelum ganti nama menjadi Hotel Candra.
"Ini dibeli atau gimana ini pi?" tanya Tama makin penasaran.
"Soal itu papi belum tau, tugas kita mencari tau kuasa hukum mendiang Herman." jawab Papi Bram.
"Saya Ryan om." ucap Ryan.
"Oke, eemmm sebelumnya siapa nama ayahmu dan bagaimana bisa kenal dengan Herman?" tanya Papi Bram, sebelumnya dia juga banyak kenal teman teman mendiang sahabatnya.
"Nama ayah saya Rudi om ibu saya Sarah om." ucap Ryan.
"Tunggu, apa ayahmu pemilik restauran Huggo?"tanya Papi Bram.
"Benar om." jawab Ryan.
"Wahhh, kamu udah gede ya hah bagus bagus kalau kalian berteman, sudah lama kali aku tak jumpa ayahmu, bagaimana kabar beliau sini aku kasih tau rahasia ayahmu?" goda pak Bram.
"Apa om?" tanya Ryan.
"Jago ngrayu cewek hahahaha." jawab papi Bram mengenang masa masa mudanya.
"Om bisa aja." jawab Ryan.
"Serius ga percaya, kalau kamu ga nurunin sifat ayahmu rugi, kamu lihat aja ibumu cantik kan dia itu perayu ulung hahaha, dia itu paling bisaan diantara kami, oia dimana sekarang pejantan tangguh itu ha, kasih tau dia Bram mencarinya, diajak cari cewek lagi ama Bram." canda pak Bram.
__ADS_1
"Pi ada kami mau kami aduin ke mami."
tangkis Aldo.
"Berani kamu aduin kemami papi pecat kalian jadi anak." ancam papi Bram.
"Galakan dia dari mami bro." bisik Al ditelinga Tama, Tama masih tak bergeming dengan candaan mereka otak nya masih berputar dengan apa yang terjadi dengan ayah mertuanya dan istrinya.
Ryan tersenyum dalam diamnya ketika mendengar candaan papi Bram, papi Bram pun menepuk pundak Ryan hingga menyadarkan nya dari lamunan.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, dimana ayahmu hah?" papi Bram kembali bertanya.
"Ayah sudah meninggal tiga tahun yang lalu om." jawab Ryan.
"Ya Tuhan, maaf om turut berduka om sudah lama sekali tak bertemu dengan beliau terahir pas pemakaman Herman." jawab Papi Bram.
"Tak apa om, itu sudah menjadi janji papi pada sang pencipta." jawab Ryan.
"Pi." panggil Tama.
"Heemm."
"Mungkin kah tante Luna punya dendam lain kenapa sekarang dia mengincar aku dan Laras?" tanya Tama.
"Tunggu bro, mami dulu pernah cerita bahwa tante Luna itu mantan pacar om Herman, tapi sayang mereka ga jadi menikah malahan om Herman dijodohkan dengan tante Lusi mendiang bunda nya Laras." ucap Ryan membuka cerita yang tak sengaja dia pernah dengar dari maminya.
"Kenapa begitu?" tanya Tama.
"Bisa jadi Ini persaingan bisnis, bukankah om Bram tadi bilang Hotel keluarga Tante Luna jatuh ketangan keluarga om Herman, disini yang mesti kita cari tau bro, disamping masalah perasaan ternyata tante Luna juga ada masalah lain."ucap Ryan.
"Kamu bener Bro, lalu kita mulai dari mana pi, soalnya Resort milik ayah Laras sekarang sudah mulai dilelang sama paman Antok." ucap Tama meminta pendapat papinya.
"Kamu tenang aja bang, papi udah minta tim pengacara papi untuk menggagalkan rencana mereka, Kalian fokus pada masalah ini dulu, yang lain biar papi yang urus." jawab Papi Bram.
"Pi bolehkan Tama titip anak dan istri Tama dirumah papi untuk sementara waktu?"tanya Tama.
"Tentu saja nak, kenapa tidak rumah papi kan rumah kalian juga." jawab papi Bram, Aldo malah tertawa pelan.
"Siapa suruh kamu tertawa."hardik papi Bram.
"Ga pi, Al hanya merasa lucu awal awal disuruh nikah ama Kak Laras marah marah ga karuan sekarang bucin nya kelewatan." ucap Aldo, mereka serempak menertawakan Tama, Tama hanya melirik geram kearah adeknya.
"Hahaha, kamu bisa aja Al bikin papi ketawa, setelah masalah ini giliran kamu yang papi carikan jodoh." ucap Papi Bram, spontan Aldo merasa terpojok.
"Al kan masih mau main p." jawab Al mencoba membentengi dirinya.
"Rasain." umpat Tama.
__ADS_1
Ternyata masalah yang menghadang Tama dan Laras sangat berat, ditambah lagi kisah cinta mereka yang masih seperti benang kusut, Laras masih merasa jengkel dengan sikap Tama meskipun beberapa kali Tama memberinya kode. Tama memang begitu.
Bersambung....