
Tama tertawa lihat papi nya merayu maminya, mereka lucu sekali, Laras sudah merebahkan tubuhnya diranjang king size dikamar mereka, Tama pun segera menyusul istrinya dan ikut mengistirahatkan raganya.
"Daddy udah ah ga lucu." ucap Laras.
"Hehe iya mi, ahhh dasar wanita aneh hobi kok cemburu." ucap Tama.
"Heeemmm kayak situ enggak aja, situ kalau cemburu lebih parah ampek ngajak pisah segala." ungkit Laras.
"Ga mulai ya mi."
"Lah sendirinya yang mulai, dad mami bener bener penasaran nih sama tamu papi tadi, dia kaya ya dad kok kasih Laras sama Zia berlian?" tanya Laras.
"Kaya mi banget, mi menurut mami om Robin itu gimana, serem ga?" pancing Tama.
"Kalau cerita yang mami pernah denger sih dia serem tapi pas lihat asli nya dia terlihat baik dan penyayang." jawab Laras.
"Kamu suka ga sama dia mi?" tanya Tama Lagi.
"Suka apa maksudnya."
"Karakternya maksud daddy."
"Oohh."
"Gimana mi?"
"Dia baik sayangnya player mami ga suka."
"Ya wajar lah mi namanya juga duda, mami mau denger sesuatu tentang dia ga?" tanya Tama.
"Kenapa dia ga nyari istri aja sih dad, biar tua dia masih tampan lo." jawab Laras.
"Dih mami, memuji pria lain di depan suami itu ga baik lo mi." Tama cemberut.
"Ya Tuhan suamiku kita kan lagi ngomongin om Robin ya mami ngomongnya sesuai
kenyataan lah, dia memang tampan hehehe."
"Baiklah baiklah heemmm(Tama menghela nafas dalam dalam) kasihan tau dia mi." ucap Tama.
"Kenapa?"
"Dia ga bisa kumpul sama orang yang dicintainya, makanya sampai sekarang dia milih sendiri." ucap Tama.
"Dia kan selingkuhan bik Luna dad." ucap Laras.
"Iya daddy juga tau, selir dia ma banyak mi, bukan cuma bibikmu, tapi sayang dia belum menemukan tambatan hati yang pas, giliran dapet malah ditinggal selama lamanya." Tama mulai memancing simpati Laras untuk papa mertuanya.
"Kasihanya dad."
"Makanya daddy bersyukur ada mami yang dampingin daddy sekarang ditambah lagi daddy punya bidadari kecil kita, sebenernya om Robin juga punya putri mi, tapi sayang mereka belum sama sama tau kalau mereka sebenernya ada hubungan darah." ucap Tama, Laras masih setia mendengarkan.
__ADS_1
"Kasihanya dad, daddy kenal sama putrinya om Robin?" tanya Laras.
"Kenal mi."
"Kenapa ga dikasih tau." balas Laras.
"Daddy belum ketemu waktu yang pas." jawab Tama.
"Ooo."
"Om Robin bilang dia takut putrinya ga bisa terima background nya dia, dia kan gitu mi banyak pacar takutnya putrinya malu." ucap Tama.
"Pria itu aneh ya dad ga ada cinta tapi tega nidurin." ucap Laras.
"Ya ga semua pria mi, kalau daddy ya ga bisa begitu." balas Tama.
"Heemmmm alasan, hari itu dateng dateng minta hak." tambah Laras.
"Udah ya mi ga mulai, daddy udah bilang kalau daddy ga cinta sama mami mana mungkin mami daddy makan, gila aja dan lagi kita udah halal takut juga kali mi daddy ni." ucap Tama.
"Apakah saat itu juga pengalaman pertama daddy?" tanya Laras.
"Iya, mami kan tau daddy belum pernah telibat dengan wanita selain sama mami." ucap Tama.
"Daddy daddy hubungan kita lucu ya." ucap Laras.
"Iya, heemmm semoga kedepanya ga ada masalah yanh berarti ya mi yang menghadang hubungan kita."
"Mi."
"Heemm."
"Jika daddy merahasikan sesuatu dari mami apa mami marah?" tanya Tama.
"Ya enggak lah dad ngapain mami marah, pasti daddy punya alasan, emang daddy punya rahasia apa, yangvpenting aga ada wanita lain aja dihati daddy semua aman." jawab Laras sambil mengelus dada suaminya.
"Daddy bukan pria seperti itu mi, apa lagi anak daddy perempuan." jawab Tama.
"Mami mau jadi yangvpertama dan terahir buat daddy apa boleh mami seserakah itu dad, jangan kayak om Robin ya dad, ga mau mami." ucap Laras sambil memanyunkam bibirnya, dan Cup...Tama mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya.
"Ya ga lah mi, daddy udah janji dalam hati daddy sendiri, daddy akan setia sama mami sampai kapanpun." jawab Tama.
Suasana menjadi hening, Tama ragu jika ingin mengatakan rahasia yang dia ketahui soal Laras, tapi dia berfikir lagi apa salahnya jika jujur.
"Mi."
"Hemm."
"Jangan terkejut ya mi."
"Terkejut kenapa dad?"
__ADS_1
"Kekasih om Robin yang daddy maksud itu tante Hana mi adeknya bunda kamu." ucap Tama, ekspresi yang Laras tunjukan sedikit bingung.
"Serius dad?" tanya Laras.
"He em."
"Mami malah ga tau lo dad kalau bunda punya adek." jawab Laras.
"Bunda ga pernah cerita?"tanya Tama.
"Enggak."
"Daddy bingung mi gimana cara ngomongnya sama kamu." ucap Tama sepelan mungkin.
"Emang daddy mau ngomong apa sih."
"Janji sama daddy ya mi, apapun yang daddy katakan daddy harap mami kuat."ucap Tama sambil mempererat pelukanya.
"Daddy mau ngomong apa ngomong aja." Tama mencium kening istrinya, dia merasakan gemuruh didadanya, tapi otaknya mendukungnya untuk jujur.
"Om Robin itu adalah...(Tama merasakan ucapanya terasa tertahan ditenggorokanya) dia adalah papa kandungmu mi."dan deg mata Laras langsung menatap Tama tak percaya, dia langsung bangun dan duduk diranjang, Tama pun mengikuti istrinya, dia memegang kedua tangan Laras dan menciumnya.
"Jangan bilang kalau bunda menghianati ayah dad." ucap Laras selirih mungkin.
"Ga mi bukan begitu ceritanya."
"Lalu.."
"Bunda juga bukan ibu kandungmu mi, kamu adalah anak tante Hana dan om Robin, ketika melahirkanmu tante Hana meninggal, dan om Robin tak tau jika saat itu tante Hana tengah mengandung mu mi, cinta mereka tak direstui olek kakek kita, bahkan yang om Robin tau tante Hana sudah meninggal sebelum kamu ada, karena berita yang dia terima tante Hana mengalami kecelakaan dimalam ketika dia diusir dari rumah karena ketahuan hamil diluar nikah." Tama benar benar tak mau merahasikan apapun sekarang dari istrinya.
"Aku ga tau dad, aku pusing aku ga bisa berfikir sekarang."ucap Laras, Tama pun mengerti.
"Ya udah berbaringlah mi, nanti kalau mami sudah siap dengan semuanya daddy akan ceritakan semua yang daddy tau tanpa terkecuali."ucap Tama kembali mendekap tubuh istrinya, Tama mengelus punggung istrinya agar Laras kuat menghadapi kenyataan yang ada.
Laras mengunci rapat mulutnya karena dia benar benar belum sanggup menerima kenyataan yang ada.
***
Bahagia telah menyelimuti hati Robin pertemuanya dengan Laras dan cucu nya membuatnya susah tidur, dia pun memilih berkeliling hotel, Robin duduk sendiri disalah satu meja di restoran yang ada dihotel tersebut, ketika sedang memesan makan tak sengaja mata nya menangkap sesosok wanita yang ada di lift kantor Tama, tanpa Robin sadari dia memuji kecantikan wanita yang pernah menyentuh dadanya tanpa sengaja itu.
Robin tersenyum ketika mata mereka tak sengaja bertemu, begitu pun wanita itu. Robin berbicara sendiri dengan hatinya, jika boleh jujur yang Robin rasakan kali ini sama seperti ketika dia melihat Hana pertama kali, perasaan apa ini mungkinkah aku jatuh cinta padanya, ahhh mana mungkin batin Robin.
Lamunan Robin ketika terdengar suara ponselnya berdering, dia pun langsung mengangkat panggilan itu, betapa terkejutnya Robin mendengar bahwa Luna kabur.
"Kalian ini bisa kerja tidak." bentak Robin di sela aela panggilanya, semua mata yang ada direstoran itu kesetika tertuju pada Robin termasuk wanita yang memarik perhatianya, mata mereka bertemu lagi, Robin terlanjur malu dia pun segera membayar makanan yang dia pesan dan segera meninggalkan restauran itu.
Asisiten pribadi Robin selalu stanby kapanpun Robin butuhkan, dia langsung meminta ajudanya untuk melacak dimana wanita rubah itu melarikan diri, tak butuh waktu lama bagi seorang Robin untuk mengetahui pergerakan musuhnya.
"Awasi dia terus, waktu yang dia miliki tinggal besok, jika dia tak berhasil maka seret dia dihadapanku."perintah Robin asistenya.
"Siap bos." jawabnya.
__ADS_1
Bersambung....