
Kebahagian telah menyelimuti keluarga Demitri hingga mereka tak menyadari ada bahaya yang sedang mengancam mereka.
kembalinya Luna sembilan bulan yang lalu telah menyusun beberapa rencana untuk mempora porandakan keutuhan keluarga besar Demitri.
Sasaran pertamanya adalah keluarga kecil Laras, karena menurutnya Laras lah penyebab dari semua masalah yang menimpanya saat ini, kekejamanya pada Laras dimasa lalu sama sekali tak membuatnya puas, bahkan dia sempat mengambil hampir semua aset milik mendiang Herman ayah asuh Laras itu juga tak membuatnya jera, hingga harus berus berurusan dengan Robin siraja mafia yang punya power luar biasa.
Dengan kekuatanya ahirnya Robin mampu mengembalika hak putri kandungnya dari siasat licik Luna, nah disinilah letak dendam yang menyelimuti hati Luna.
Aksi Luna dimulai....
Pagi itu Tama sedang bersiap pergi ke Manado untuk menghadiri undangan seminar disalah satu kampus terbaik disana, seperti biasa dia diundang untuk menjadi pembicara dan berbagi ilmu serta wawasan dengan mereka.
"Dad, mau pakai dasi yang mana?" tanya Laras.
"Abu abu aja mi."
"Oke."
"Dad, nanti siang mami ada event lounching produk barunya Ryan sebagai desainer mami diundang gimana mami boleh pergi ga ya?" tanya Laras mencoba berdiskusi dengan suaminya sekaligus meminta ijin.
"Bukan daddy ga kasih sayang kan Zia lagi demam kan kasihan kalau ditinggal." Tama mengingatkan lagi bahwa putrinya membutuhkanya dibanding event itu.
"Ya udah deh." ucap Laras nurut.
"Nanti sore daddy juga langsung balik mi, nanti daddy temani kalian oke."
"Siap suamiku." jawab Laras.
__ADS_1
Laras melepas kepergian suaminya dengan senyuman dan ciuman mesranya, kemudian dia pun mengantar sampai didepan pintu, Zia masih dikamar dengan pengasuhnya karena masih tidur, semalem dia rewel maklum badanya sedikit demam karena gigi gerahamnya tumbuh.
Laras kembali masuk kekamar putrinya, dilihatnya putrinya masih terlelap dipelukan pengasuhnya, dia pun sengaja tak membangunkan pengasuh anaknya karena semalaman dia menemani Laras menjaga buah hatinya.
Laras keluar kamar putrinya, dia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang entah kenapa perasaanya menjadi tak nyaman.
"Ah mungkin hanya perasaan ku saja, semoga tak ada apa apa." dia pun mengambil ponselnya dan memerikasa pesan yang masuk, dia mendapat pesan dari Ryan bahwa Ryan ga bisa dateng diacara louncing produk baru mereka dikarenakan mami nya masuk rumah sakit, Ryan meminta tolong padanya untuk menggantikanya.
"Duh gimana ini, Zia sakit mas Tama ga ijinin terus aku mesti gimana?" Laras berfikir keras.
"Bagaimana kalau aku minta tolong mami saja?" Laras pun ahirnya mengirim pesan pada ibu mertuanya bawasanya dia meminta tolong untuk menjaga Zia sebentar, untung ibu mertuanya mau, Laras pun segera bersiap untuk pergi agar tak telat diacara pentingnya itu.
Laras membangun kan pengasuh Zia dan memberi pesan padanya untuk menjaga Zia selama dia pergi, bik Marni juga sebentar lagi datang dari pasar dengan mang Tono, Ditambah lagi ibu mertuanya pun sedang otw kerumah, Mbak sus pun mengiyakan perintah majikanya, dengan tergesa gesa ahirnya Laras pun melajukan kendaraanya untuk segera menghadiri acara itu dan secepatnya pulang.
Ada perasaan resah dihatinya karena dia pergi tanpa ijin suaminya, tapi disisi lain dia juga tak bisa menolak permintaan sahabatnya yang sudah sangat sering membantunya.
Betapa terkejutnya baby sitter yang menjaga Zia melihat ada 4 laki laki bertubuh kekar mendekatinya.
"Siapa kalian, mau apa kesini." ucap nya sambil mendekap Zia yang menangis.
"Jangan banyak bacot kamu." bentak salah satu dari mereka.
"Berikan bayi itu pada kami atau nyawamu melayang." ancam mereka.
"Tidak jangan dia putri majikanku." jawab Sus nya Zia berani dengan masih berusaha melindungi Zia, salah satu preman itu pun tak sabar dengan satu pukulan dibelakang kepala ahirnya mbak sus pun tumbang, mereka pun dengan leluasa membawa Zia pergi.
Dua jam kemudian mami Arini baru datang karena dia terjebak macet, dia merasa sangat curiga di karenakan suasana rumah sangat mencekam dikarenakan dia mendengar seseorang menangis dan sepertinya itu suara bukan suara Zia, melainkan suara orang besar.
__ADS_1
"Bik Marni ada apa?" tanya mami Arini gugup, bik Marni masih menangis sambil memangku teman kerjanya yang pingsan tak sadar sadar, dia terus mencoba menghubungi Laras tapi tidak diangkat.
"Tidak tau nya, saya baru datang dari pasar terus lihat sus nya Zia seperti ini dan dedek Zia hilang nya." jawab bik Marni terbata bata karena suaranya hampir habis karena menangis.
" Ya Tuhan." tentu saja berita ini membuat mami Arini terkejut setengah mati, dia pun langsung menghubungi Tama.
"Hallo Tam kamu dimana?" tanya mami Arini dengan suara bergetar.
"Tama dibandara mi, ini mau ke Manado tapi delay."
"Syukurlah delay Tam cepat kamu pulang ada masalah penting Tam." ucap mami Arini, spontan Tama pun berlari segera keluar bandara.
"Ada apa mi cerita aja, ada masalah apa?" desak Tama.
"Putrimu diculik Tam." jawab Mami Arini spontan.
"Apa mi?" tanya Tama setengah membentak.
"Maka cepatlah pulang Tam, ini susmu juga masih pingsan Laras mami hubungi ga bisa bisa." jawab Mami Arini.
"Emang Laras kemana mi."
"Laras ke imporium dan louncing produk baru katanya."
Mendengar jawaban maminya emosi Tama seketika meledak, dia langsung ingat jika sebelum berangkat dia sudah melarang Laras untuk tidak dateng ke event itu dan menjaga putrinya yang sedang sakit, dia bilang iya lalu kenapa dia nekat pergi.
"Awas saja kamu jika terjadi sesuatu pada putriku." ancam Tama.
__ADS_1
Bersambung...