PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Memilih


__ADS_3

Tama masih terlelap dalam tidurnya, Laras selalu setia disamping suaminya, meskipun keadaan Tama sudah dinyatakan stabil tapi Tama belum juga sadar, ini sudah hampir sebulan Tama memejamkan matanya, mama Arini juga selalu berada disamping Laras bahkan sering mengingatkan Laras bahwa dia sedang mengandung jadi harus tetap menjaga kesehatan, kadang Laras sampai lupa makan dan minum vitamin nya karena sibuk memikirkan belahan jiwanya yang tak kunjung membuka matanya.


Siang itu papi Bram datang dengan muka yang sedikit kusut, sekarang perusahaan Tama papi Bram yang mengendalikan, masalah selalu datang bertubi tubi,berawal dari penipuan yang dialami putranya, sang penipu sudah tertangkap memang dan dijebloskan ke penjara tapi sayang mereka tak mampu mengembalikan uang yang mereka curi karena sudah mereka habiskan dimeja judi alhasil kerugian Tama hilang begitu saja, kecelakaan putranya yang ternyata direncanakan oleh orang yang sama, bagaimana pak Bram tak geram dan sekarang masalah baru datang meskipun ini terjadi karena ketidak sengajaan, tiga hari yang lalu pabrik kertas yang memproduksi puluhan ribu buku tulis habis dilalap sang jago merah, ini juga sukses menguras emosi kedua orang tua Tama, pak Bram tak ada pilihan lain selain menjual aset pribadinya untuk menutupi kerugian perusahaan putranya.


Apa yang dikatakan Mami Arini adalah benar bahwa sifat Tama dan papinya tak jauh beda disamping sifat posesifnya pak Bram juga menyayangi para kariawanya, dia berfikir bahwa pekerjaan adalah hidupnya, kariawan yang membantunya juga hidupnya, makanya dia berusaha semampunya, selama dia bisa dia akan tetap berusaha untuk merangkul mereka dalam sebuah keluarga dalam ikatan kerja, meskipun perusahaan diambang kehancuran pak Bram sama sekali tak mengurangi jumlah kariawan, dia memilih menjual hampir separo aset pribadinya untuk menyokong perusahaan putranya, untuk menggaji para kariawan yang menggantungkan nasibnya pada pundak putranya.


Ketika pak Bram datang Laras terlihat tidur disofa, dia sangat lelah.


"Mi, bagaimana ada perkembangan?" tanya pak Bram.


"Belum pi, masih sama seperti kemarin kemarin." jawab Mami Arini sedih.


" Gimana mantu kita mi, apa masih nangis mi?"


"Masih lah pi, namanya juga belahan jiwanya kena musibah."


"Tama beruntung ya mi, istrinya sangat mencintainya."


"He em, papi beruntung ga punga mami."


"Kalau itu jangan diragukan lagi ratuku, mami segalanya buat papi." cie papi Bram uhuuyyy.


"Gombal, dulu sering marah aja."goda mami Arini.


"Ga sayangku, papi jaim aja waktu itu, papi udah naksir kok waktu pertama kali ayah kasih lihat foto mami ke papi."

__ADS_1


" Serius pi?"


"He em." sebenernya Laras bangun dan mendengar obrolan mertuanya. duh tua tua keladi, sweet sekali sih mereka, mau dong kayak gitu batin Laras.


"Mi, papi jual hotel kita yang yang di jogja ya buat nutupin usaha anak kita, soal biaya rumah sakit Aldo yang mau tanggung, dia bilang kita fokus diperusahaan saja." tak dipungkiri pak Bram sangat sedih menceritakan ini.


"Tak apa pi, kalau kita iklas pasti nanti juga ada gantinya." jawab Mami Arini, ketika Laras mendengar obrolan mertuanya yang ini Laras merasa begitu bodoh, ini adalah urusan rumah tangganya lalu kenapa dia malah merepotkan mertuanya, dari urusan perusahaan dan biaya rumah sakit suaminya mereka yang tanggung mereka yang pikirkan.Laras pura pura bangun dan menyapa mertuanya yang baru dateng.


"Siang pi." sapa Laras.


"Siang Ras, bagaimana kabarmu, cucu papi gimana sehat?" tanya pak Bram.


"Sehat pi, Alhamdulilah, Laras ke ijin ke kamar mandi bentar ya mi pi."


"He em"


Laras keluar dari kamar mandi dengan muka yang lebih segar dia langsung duduk dimeja makan dan bergabung dengan orang tua suaminya.


"Maaf mi pi, bolehkah Laras merepotkan kalian sekali lagi?" tanya Laras sedikit gugup.


"Apapun yang jadi ganjalan dihatimu nak, katakanlah." mami Arini adalah perempuan yang lembut pantesan papi Bram tahluk padanya.


"Mi maukah mami menjaga mas Tama untuk Laras?" tanya Laras.


" Apa maksudmu nak?" tanya mami Arini heran.

__ADS_1


"Maafkan Laras mi pi, karena kami telah merepotkan mami dan papi di masalah rumah tangga kami, maukah mami dan papi ijinkan Laras kerja lagi dan membayar rumah sakit suami Laras sendiri, Laras ingin menangung susah senang rumah tangga Laras dan mas Tama sama sama mi." ucap Laras dengan nada lembutnya.


"Apa maksudmu nak, milik mami dan papi milik kalian juga." jawan pak Bram.


"Laras tau itu pi, tapi Laras benar benar merasa bersalah jika terus berada diposisi seperti ini, Laras berasa tak berguna sebagai istri padahal sebenernya Laras mampu, Laras yakin." jawab Laras. Mami Arini dan Papi Bram saling menatap.


"Kamu mau kerja dimana Ras, bukanya kamu sudah resign dari kantor Tama." jawab Mami Arini, Laras membuka Laman mensosnya dan menunjukan email dari sahabatnya yang mengatakan perusahaan tempatnya bekerja bersedia mengotrak Laras secara eksklusif untuk karya karya yang Laras buat.


"Wow Ras ini sangat amazing, kalau mami sih setuju kamu pergi, mami siap jaga anak bandel itu buat kamu." jawab mami Arini.


"Bener banget Ras, pergilah ga papa lagian kontraknya ga bikin kamu lama lama disana kan cuma enam bulan selebihnya bisa online kan." jawab papi Bram.


"Bener pi jika Laras pergi sekarang Insya Allah Laras bisa melahirkan disini, setiap bulan Laras akan usahakan pulang." jawab Laras.


Pak Bram yakin Laras bisa menjalankan rencananya mengingat nominal yang Laras dapat dari kontraknya juga terbilang amazing.


"Ras, apakah kamu setuju jika Tama kita bawa pulang, kata dokter kita harus beli alat alat sendiri jika mau merawatnya dirumah, nanti kita ambil satu atau dua perawat dari rumah sakit ini untuk bantu kita, dokter akan melihat perkembangannya setiap hari sama seperti dia dirawat dirumah sakit." pak Bram berusaha memberikan ide agar mereka tak begitu kelelahan dirumah sakit.


"Laras ikut aja pi, yang penting ini pilihan terbaik untuk suami Laras tapi bolehkah mulai sekarang Laras yang biayain kebutuhan mas Tama pi?" tanya Laras.


"Silahkan nak, asal kamu ga nolak bantuan mami papi, kamu harus pikirkan juga kebutuhanmu masih banyak buat anakmu." jawab Papi Bram.


"Laras yakin Laras pasti bisa pi, doakan Laras ya mi pi."


"Tentu nak, kamu yang sabar ya." jawab Mami Arini sambil mengelus pundak mantunya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2