
" Tam, om balik dulu ya udah malem, nanti kalau misalkan tante kamu cocok dengan desain desain perhiasanya beliau boleh ke tempat om, pelajari semua aja dulu." ucap Om Robin sambil melangkah keluar, disamping itu ada juga tante Arika yang hendak berpamitan juga.
"Siap om," jawab Tama
"Tam, tante juga pamit ya bilang mami mu tante balik, salam juga buat Laras ya."
"Siap tant." jawab Tama, Arika menganggukan kepalanya pada Robin seolah meminta ijin Robin untuk jalan duluan.
"Silahkan, " ucap Robin.
Arika pun berjalan menuju mobilnya, Robin tak sengaja menangkap mobil bam depan Arika kempes yang bagian depan, wah kebetulan sekali Tuhan maha baik sama gue batin Robin.
"Tam, ban depan tante kamu kempes tu yang kiri." ucap Robin sambil menunjuk ban depan Arika.
"Bener om bentar ya." Tama segera berlari untuk memberi tahu tantenya.
tok tok tok, Tama mengetuk kaca mobil Arika, Arika pun membuka kaca mobilnya.
"Ada apa Tam?" tanya Arika.
"Tant, ban mobilnya kepes tu."
"Oh ya."
"He em." Arika pun keluar dari mobilnya.
"Ya Tam gimana ini?" tanya Arika.
"Mau Tama anter?" tanya Tama.
Robin menghampiri mereka.
"Rumah kamu dimana?" tanya Robin tiba tiba, uuuwiiiihhhh om Robin langsung bergerak cepat eh.
"Radio dalam." jawab Arika.
"Kita searah mari ikut saya." ajak Om Robin sesopan mungkin agar Arika tak merasa bahwa dia memanfaatkan keadaan, padahal sih iya hahaha dasar tua tua keladi.
"Emang rumah kamu dimana?" tanya Arika sedikit curiga.
"Nanti aku tunjukan rumahku." jawab Robin.
"Udah tante ikut aja dari pada kemaleman udah gitu mendung lagi." ucap Tama.
"Ya udah deh." ahirnya Arika pun menyerah dan memilih ikut ke mobil Robin, Tama melambaikan tanganya ketika Robin membunyikan klaksonya, semoga berhasil om doa Tama.
Didalam mobil mereka masih jaim rupanya, tak ada yang terucap rupanya, Robin juga merasa sangat gugup, sesekali dia hanya melirik wanita disampingnya.
"Rumah kamu sebelah mana?" tanya Robin.
"Perempatan depan ambil kanan." jawab Arika.
"Apa kamu marah jika aku ingin lebih mengenalmu?" tanya Robin memberanikan diri mengutarakan isi hatinya, Arika tersenyum dan melempar pandanganya ke luar jendela.
"Kok senyum." goda Robin.
__ADS_1
"Anda ini aneh jangan termakan godaan Laras sama Tama tuan mereka hanya bercanda." jawab Arika.
"Tapi aku ingin serius sama kamu." balas Robin, Arika hanya diam.
"Tapi aku ga mau pacaran, bagaimana?" tantang Arika.
"Baik kita taaruf." Robin ga mau kalah.
"Ga mau." balas Arika, dia berfikir Robin ga akan berani jika langsung diajaknya menikah.
"Lalu gimana caranya agar aku bisa lebih mengenalmu?" tanya Robin penasaran.
"Menikah lah." jawab Arika, Robin tersenyum tanpa membuang waktu dia pun langsung tancap gas.
"Ya ayolah, menikah ya menikah." balas Robin mantap, Arika kembali tersenyum.
"Loh kok malah senyum lagi?" tanya Robin.
"Anda ini aneh loh, cari istri kok kayak beli baju asal lihat saja." ucap Arika.
"Ga papa aku udah ngrasa nyaman aja sama kamu." balas Robin.
"Tau ah, itu rumah aku pagar kuning." ucap Arika menunjukkan rumahnya, sebenernya dia gugup ingin langsung turun dan menghindari pria aneh disampingnya, Mobil yang Robin kendarai pun berhenti sempurna depan rumah Arika.
Arika membuka seatbelt nya hendak turun, tapi Robin tak kurang akal dikunci nya pintu itu hingga Arika terkejut.
"Kok dikunci?"tanya Arika heran.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku."
"Kamu mau ga jadi istri aku, sehidup semati bersamaku?" tanya Robin.
"Enggak kamu galak." jawab Arika kembali membuang pandanganya keluar jendela sambil tersenyum.
"Dari mana kamu tau aku galak?" tanya Robin.
"Hari itu pertama kali kita ketemu kamu ga mau senyum, padahal kan aku udah minta maaf, mukanya kaku serem banget." jawab Arika.
"La aku mesti gimana kan kita ga kenal tiba tiba kamu pegang dada aku." jawab Robin.
"Pertemuan kedua kamu gebrak meja kan itu juga serem berarti kamu galak." tambah Arika lagi.
"Kamu hanya lihat coverku berarti, beneran ga mau lihat dalemnya aku?" tanya Robin lagi (Uwiih mantap jiwa om keluarkan jiwa kadalmu).
Arika diam, dia bingung harus jawab apa.
"Baiklah aku kasih waktu kamu seminggu gimana?" tanya Robin.
"Buat apa?"
"Buat kasih aku kepastian." desak Robin (Terus om pepet)
"Ih nyebelin udah ah buka pintunya." pinta Arika, terdengar manja tak mencerminkan usianya, tapi Robin suka wanita disampingnya ini sungguh berbeda dengan kebayak kan wanita yang mendekatinya.
"Ga mau belum jawab." goda Robin.
__ADS_1
"Kita udah sama sama umur tuan Robin yang terhormat ga malu apa mau menikah." Robin tau jika Arika cuma alasan.
"Malu kenapa, emang kalau cinta ada malu nya gitu." jawab Robin masih dengan nada bercandanya (Mantap om lanjut, aku dipihakmu).
"Tau ah, aku mau turun." Arika masih kekeh dengan pendirianya yang tak ingin menikah.
"Aku bakalan ijinin kamu turun asalkan kamu jawab pertanyaan aku dulu, mau ga kamu jadi istri ku nemenin masa tuaku dan menikmati apa yang kita punya bersama."Robin benar benar tak mau menyianyiakan kesempatan langka ini.
"Baiklah tuan Robin yang terhormat kalau anda mau jawaban dari ku, heemmm oke kita menikah tapi dengan satu syarat." ucap Arika berusaha bernegosiasi dengan calon suaminya.
"Apa?"
"Jangan meminta hak mu jika aku belum siap." ucap Arika, syarat yang cukup mudah tapi tentu saja berat buat Robin, tapi sekali lagi Robin tak mau kehilangan lagi.
"Baik deal." Robin mengulurkan tanganya pada Arika, Arika melirik Robin dan dengan ragu ragu pun menyambut uluran tangan itu, Robin menatap lekat wajah calon istrinya cantik, terlihat menggemaskan.
"Kapan kamu siap aku lamar secara resmi?" tanya Robin, tanpa mereka sadari tangan mereka masih saling menggenggam.
"Kapanpun aku siap." jawab Arika.
"Baiklah bagaimana kalau malam minggu ini, apakah orang tuamu masih ada?" tanya Robin.
"Mereka sudah ga ada, keluargaku yang disini hanya tinggal mbak Arini dan mas Bram, kalau abangku tinggal di Kanada." jawab Arika.
"Baiklah aku akan memintamu pada mereka." jawab Robin.
"Apakah sekarang aku boleh turun?" tanya Arika.
"Tentu."
"Tangan nya." seketika Robin menyadari jika tangan Arika masih digengamanya.
"Oh sory." Robin pun melepaskan tangan itu dan menekan tombol kunci d pintu mobilnya.
" Tunggu."
"Apa lagi?"
"Kita belum bertukar nomer handphone." jawabnya.
"Baiklah, mana ponselmu?" pinta Arika.
Robin pun memberikan ponselnya pada Arika.
"Nah udah, aku masuk dulu ya." Arika memberikan ponsel Robin dan membuka pintu mobil, Robin meraih tangan Arika.
"Apa?" tanya Arika.
"Kamu jaga diri baik baiknya." pesan Robin.
"Kamu juga ya, nyetirnya ga usah ngebut." balas Arika, duh senengnya om Robin jiwa mudanya seketika meronta bahagia.
"Siap calon makmumku." jawabnya( uluh co cwiit nya).
Arika kembali tersenyum dan melambaikan tangan nya, Robin menunggu pujaan hatinya masuk kerumah baru dia menancap gas nya sambil bersenandung ria.
__ADS_1
Bersambung....