PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Livia


__ADS_3

"Aldo mana?" tanya Izal pada salah satu teman diclub futsal nya.


"Otw katanya." jawab salah satu teman mereka.


"Hay brother." sapa Vano sambil mengangkat satu tangan nya untuk menjabat pada sahabat sahabatnya.


"Widih pak dokter makin cakep aja." ledek Izal.


"Tapi sayang jomblo." saut Aldo tiba tiba udah ada dibelakang Vano.


"Anj*r dasar awas lo ya." Vano langsung melempar tas sepatunya ke arah Aldo.


Mereka yang ada dilapangan serempak menertawakan Vano, Vano hanya cuek dan memakai sepatunya, Permainan futsal pun mereka mulai gerak licah dan gesit para pemain nya pun menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para anggota tim, tak sengaja Izal terus memperhatikan Vano yang dinilai nya lain menurutnya, permainan pun usai. ditengah lapangan mereka mulai mengistirahatkan raga mereka, Vano kembali menjadi pusat perhatian Izal.


"Van lo kenape?" tanya Izal, karena menilai sahabatnya ini lebih pendiam dari biasanya.


"Enggak gue ga kenapa napa hanya mikirin salah satu pasien gue aja." jawab Vano.


"Kenapa dia?" tanya Izal.


"Dia divonis kanker Zal dan tunangan dia pergi ninggalin dia." jawab Vano sedikit ingin berbagi dengan sahabatnya, Izal hanya berusaha menjadi pendengar yang baik karena dia juga tak punya solusi buat pasien Vano.


"Gue jadi takut mau memulai hubungan Zal." ucap Vano.


"Van, setiap manusia itu punya jalan hidup sendiri sendiri, lo lihat gue ingat kan waktu gue kehilangan istri yang ga pernah nganggep gue, awalnya gue juga takut melangkah Van tapi Tuhan mempunyai cara tersendiri buat kasih gue pendamping hidup, lo lihat bini gue sekarang meski pertemuan kami ga disengaja tapi dengan keinginan kami saling mengerti memahami dan menerima ahirnya kita bisa jalan kan." ucap Izal.


"Lo bener banget Zal, tapi belum ada yang nyangkut ni mana umur udah tua hahahah." ucap Vano menertawakan dirinya sendiri.


"Emang lo kagak ada yang klik gitu, temen se profesi elo mungkin apa mbak sus gitu ga ada Van?" tanya Aldo.

__ADS_1


"Ada sih tapi doi takut sama gue, mungkin lihat badan gue yang bongsor ini." jawab Vano seketika Izal langsung ingat sepupu istrinya.


"Eh tunggu, lo bilang apa tadi?" tanya Izal memastikan.


"Apaan sih lo ga mikir macem deh." ucap Vano tersipu malu.


"Kagak gue cuma mastiin seandainya iya pun gue dukung." pancing Izal.


"Serius lo?" Vano mulai terpancing dan ahhh kena batin Izal.


"He em, serius nanti gue omongin sama bini gue lo nurut aja." ucap Izal dia percaya bahwa Vano bisa menjaga Via.


"Tunggu kalian ngomongin apaan sih?" tanya Aldo kepo.


"Rahasia." lirik Vano pada Izal, Izal hanya tersenyum karena dia tau bahwa soal percintaan Vano bukan orang yang mudah terbuka.


"Kampr*t kalian ama gue aja rahasia rahasiaan." umpat Aldo.


"Maksudnya?" tanya Vano penasaran.


"Eeheem( Izal menghela nafas dalam dalam dan mulai menceritakan apa yang dia ketahui tentang Livia) gini bro gue mau wanti wanti elo kalau elo emang mau mundur setelah denger cerita gue, gue ga masalah gue malah seneng karena lo udah kasih keputusan diawal tapi jika lo mutusin buat lanjut lo harus siapin mental elo karena ni cewek bener bener bukan tipe cewek yang masih kuat, dia bener bener rapuh bro." ucap Izal berusaha meminta pengertian Vano.


"Gue siap dengerin." jawab Vano.


"Ini yang gue tau dari bini gue ya, kalau cerita detailnya gue ga tau." ucap Izal


"Oke." ucap Vani menyetujui apa yang Izal katakan.


"Tu cewek pernah jadi korban pelecehan bro bahkan doi hampir mati dibakar." Izal mulai mau terbuka tentang Livia.

__ADS_1


"Hah gila, serius lo bro?" tanya Vano tentu saja dia terkejut.


"Gue ga boong, untung pas rambut ama tubuh bagian belakang dia terbakar dia langsung loncat dari lantai dua nyebur ke kolam renang, belum sempet ketangkep udah ada yang nolong doi." ucap Izal.


"Gila, terus siapa pelakunya ketangkep ga?" tanya Vano geram.


"Bini gue ga mau cerita siapa pelakunya, kejadianya juga udah lama cuma gue ga bisa maksa bini gue buat cerita detail kejadianya, intinya kan elo udah tau, kalau lo mau serius ya ga papa gue siap jadi jembatan kalian tapi jika lo mau stop gue ga masalah, mendingan orang lain yang nantinya bermasalah sama dia dari pada sahabat gue, gue takut hubugan antara elo gue Niken dan dia jadi ga enak aja, gue yakin lo paham bro." ucap Izal.


"He em, gue ngerti pantesan dia takut banget sama cowok yang belum dia kenal meskipun lo bilang sama gue aman kan." ucap Vano mengingat pertemuan pertanya dengan Via yang dinilainya Via lain dibanding dengan cewek yang mendekati dia.


"Gue juga baru tau ketika pertama lo ketemu dia bro, nah disitu bini gue cerita tentang doi." ucap Izal.


Vano diam tapi tak memungkiri bahwa didalam hatinya ada rasa simpati untuk apa yang terjadi pada incaran hatinya.


"Jujur gue sedih dengernya bro." ucap Vano.


"Ya pastilah, gue aja ga nyangka dan kejadian itu terjadi pas dia masih muda banget." ucap Izal.


"Gila." tambah Vano.


"Baru lulus SMA kata bini gue bro, makanya dia ga mau lanjut kuliah takut dideketin cowok kata bini gue." jawab Izal.


"Jiwanya yang kena bro." ucap Vano.


"Makanya gue bener bener minta ama elo, kalau emang lo cuma buat seneng seneng mending jangan dia, tapi kalau lo serius gue siap bantu elo." ucap Izal kembali menyakinkan sahabatnya.


"Insya Allah gue siap bro, gue jadi pengen kenal doi lebih dekat." ucap Vano.


"Baiklah kalau gitu ntar coba gue diskusikan sama bini gue." jawab Izal.

__ADS_1


Vano kembali diam dan memikirkan apa yang barusan dia bahas bersama sahabat sahabatnya, dia mulai memantapkan hatinya untuk melangkah.


Bersambung....


__ADS_2