PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Hari Bahagia (end)


__ADS_3

Zia sangat bahagia karena malam ini dia memakai gaun indah seperti mami nya, berkali kali dia bercermin dan dengan gaya centilnya dia sering meminta daddy Tama untuk mengambil fotonya.


"Daddy Oke." pinta nya dan mulai berpose ala princes Elza kesukaan nya.


"Cantik daddy?" tanya nya sambil meminta ponsel daddy nya karena ingin memastikan.


"Cantik." jawab Tama pelan tapi Zia sudah sangat senang, Laras yang lagi sibuk membantu pengasuhnya menyiapkan Zio dan Zoi pun hanya tersenyum melihat keakraban anak bapak itu.


"Dasar anak daddy mau nya perfec." goda Laras sambil melirik Tama.


"Harus itu mami, kira kira kalau daddy kawin lagi laku ga ya?" tanya Tama sambil merapikan rambut nya.


"No daddy." jawab Zia cemberut.


"Enggak sayang daddy cuma godain mami." jawab Tama, sambil mengelus punggung Zia.


"Awas aja kalau berani anak tiga ini mau dikemanain." ancam Laras.


"Duh daddy punya dua pacar yang super galak mana daddy berani." ucap Tama sambil tersenyum manja.


Pengasuh anak anak mereka sudah membawa turun Zia Zio dan Zoi kebawah untuk bersiap, tinggal lah sekarang Laras yang merapikan gaun dan tatanan rambutnya, Tama tersenyum melihat istrinya yang sibuk berkaca.


"Mami udah cantik." puji suaminya.


"Iya lah harus kalau enggak nanti daddy nglirik yang lain repot ntar." jawab Laras.


"Ga lah mami, kalian sudah cukup buat daddy bahagia." jawab Tama sambil memeluk tubuh mungil istrinya.


"Dad, mami sayang daddy." bisik Laras.


"Daddy juga sayang, kenapa lah kalau berduaan gini rasanya daddy pengen banget makan mami." goda Tama manja sambil menciumi pipi istrinya.


"Kalau daddy kayak gini yang ada para udangan udah pulang kita baru dateng." ucap Laras mengingatkan, padahal dia sudah mulai terbawa arus yang diciptakan suaminya.


"Mi, jangan pernah ada pikiran buat pergi ya, daddy mau selalu sama mami dan anak anak." pinta Tama lagi.


"Baiklah suamiku aku akan selalu ada untukmu, untuk anak anakmu juga." ucap Laras sambil merapikan dasi suaminya.


Tama tersenyum dan kembali meraih pinggang istrinya, bibir Tama pun tak tinggal diam jika dalam posisi seperti ini Tama tak mungkin melewatkan nya, makanan paling sedap didunia ini adalah bibir istrinya, Laras menyambut ciuman itu dengan kehangatan nya.


"Sudah ya sayang, nanti lagi telat entar." ucap Laras sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya, Tama tersenyum dan mengikuti apa yang Laras mau.


Semua sudah siap bahkan Zoi sudah berada digendongan Tama, Zoi tersenyum manja digendongan daddy nya sedangkan Zio dengan berada di gendongan pengasuh nya, Zia sangat manis berada digandengan mami nya.


"Mi, yang mana ruangan nya?" tanya Tama.


"Itu lo dad ada foto mereka." jawab Laras.


"Oo iya itu." ucap Tama sambil melangkah menuju ruang resepsi Vano dan Via, saat hendak mengisi buku Tamu mereka berpas pasan dengan Sharon dan juga Aldo yang membawa buah hati mereka juga.

__ADS_1


"Bang baru sampai?" tanya Aldo.


"Iya ni, kalian paham kan abang bawa pasukan." jawab Tama, Laras menoel pipi Deren dan menyapa adik ipar nya.


"Gimana Shar ASI nya lancar?" tanya Laras.


"Alhamdulilah kak lancar, punya kakak lancar?" tanya Sharon balik.


"Lancar Shar cuma mesti dibantu juga soalnya kamu tau sendiri babyku ada dua." jawab Laras.


"Tiga kakak yang gede ga dihitung hahahaha." balas Sharon.


"Oia lupa hahaha bisa aja kamu Shar, udah ah kalau diterusin kacau ntar." balas Laras, Tama dan Aldo sudah selesai mengisi buku tamu dan bersiap memasuki gedung resepsi, para undangan sudah berdatangan keluarga Demitri sangat di istimewakan bahkan mereka duduk di meja VIP, ini tak lepas dari aksi heroik Tama dan Aldo yang pernah menyelamatkan Livia dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh sahabat Via sendiri.


Dipelaminan...


Disana terlihat kedua mempelai yang masih terlihat malu malu, karena pernikahan mereka sama sekali tidak diawali dengan pacaran, bahkan saat ini Via masih gugup jika Vano memegang tangan atau pinggang nya.


Mata mereka sesekali saling lirik, sejak ijab qobul Vano ucapkan sampai sekarang Via masih merasakan bahwa apa yang dilewatinya saat ini adalah mimpi, padahal sudah berkali kali pria disampingnya menunjukan bahwa saat ini cinta mereka telah menyatu dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


"Ak." bisik Via.


"Ia sayang apa?" tanya Vano.


"Ini beneran ga sih?" tanya Via malu malu.


"Beneran enggak nya kita buktikan nanti ya setelah ini." bisik Vano ditelinga cantik istrinya.


"Ada deh." jawab Vano sambil membantu Via duduk.


"Aak jangan macem macem ya." ancam Via.


"Loh jangan macem macem gimana sayang, kan Aak udah dapet ijin tadi." balas Vano.


"Aak jangan bikin Via takut ah." ucap Via dengan muka tegang nya.


"Enggak sayang gitu aja takut, kan aak janji aak ga akan maksa Via kalau Via belum siap tapi peluk boleh kan." goda Vano sambil melirik istrinya, Via tersenyum tanda menyetujui.


Semua tamu undangan mengantri untuk bersalaman dan memberi selamat sekaligus mengambil foto bersama untuk kenang kenangan.


"Bro selamat ahirnya, ntar pecah telor nya pelan pelan aja jangan terlalu ngegas." ucap Aldo.


"Anj*y gue deg degan s*tan." umpat Vano sambil berbisik ketika Aldo memeluknya.


"Hahaha oke oke gue paham." ucap Aldo sambil melepaskan pelukan sahabatnya, Aldo beserta istri pun memberi selamat pada Via, giliran Tama yang memberi selamat pada Vano.


"Uwiihhh ahirnya dapet gerbong juga." goda Tama.


"Alhamdulilah bang." ucap Vano dengan senyum khas nya.

__ADS_1


"Pelan pelan aja, atau mau gue beliin obat rasanya dasyat lo kalau ga percaya tanya aja ama Izal." bisik Tama membuat Vano tertegun dan tersenyum malu.


"Anj*y set*n kagak, ga adek ga abang sama sama kampret." umpat Vano, Via yang tak paham kenapa suaminya terus mengumpat dia hanya ikutan tertawa karena Tama pun tertawa mendengar umpatam suaminya, uluran tangan dan pelukan Tama pun beralih pada seorang gadis yang pernah dia selamatkan dan kini sudah dianggap adek nya sendiri oleh Tama dan Aldo.


"Vi, selamat ya abang ikut seneng jangan jadikan masa lalumu menjadi momok menakutkan lagi, melangkahlah kedepan kamu berhak bahagia adiku, Insya Allah Vano akan jagain kamu dia pria yang baik, kalau dia macem macem kamu kasih tau abang biar abang kepret dia." ucap Tama sambil memegang kedua tangan Via.


"Iya bang Insya Allah Via udah ga takut lagi, makasih banyak ya bang." balas Via.


"Iya sama sama Vi, abang doakan semoga rumah tangga kalian selalu bahagia dan cepet dapet momongan." ucap Tama, semua orang yang mendengar doa Tama pun mengamini nya.


Malam semakin larut para tamu undangan pun sudah pada berpamitan, tibalah saat nya kedua mempelai dengan diantar oleh para keluarga bersiap memasuki kamar pengantin mereka, lambaian tangan beserta doa terbaik telah mengiringi langkah mereka ketika memasuki gerbang kehidupan baru Via dan Vano sebagai suami istri.


Vano membantu Via mengganti pakaian nya, mengambilkan baju ganti untuk istri tercintanya.


"Ak."


"Ya sayang." jawab Vano.


"Jika setelah ini aak ga bisa terima keadaan Via, Via iklas ak yang penting bagi Via aak sudah melihat kondisi tubuh Via secara halal." ucap Via, mata nya berkaca kaca seakan dia rela dengan jalan hidup yang akan dia hadapi setelah ini termasuk keputusan Vano akan nasib nya.


"Kenapa kamu ngomong begitu istriku?" tanya Vano tak habis fikir.


"Karena bekas luka Via parah ak, Via takut nantinya aak akan menyesal mempunyai istri bertubuh monster seperti Via." ucap Via lagi, Vano menatap wajah cantik Via, memeluk tubuh ramping istrinya, serta mengecup kening bidadari hatinya.


"Istriku jangan berucap seperti ini lagi, mengerti, aak sedih yank kalau kamu terus seperti ini Aak sudah pernah melihat luka mu maaf jika Aak tak jujur istrinya Izal sudah pernah kasih tau aak lewat foto karena dia juga ingin menyakinkan aak apakah aak serius apa engga, dan aak ga masalah dengan itu jika kamu ingi menghilangkan luka itu juga bisa kamu lupa jika suamimu ini dokter ha, kalau soal luka begitu ma kecil." ucap Vano.


"Aak serius?" tanya Via.


"Heemm aak serius."


"Beneran ga boong?" tanya Via lagi.


"Beneran istriku aak ga boong." jawab Vano, mata mereka saling menatap senyum mengembang diatara keduanya, sekarang apa lagi yang mereka tunggu, Vano mendaratkan kecupan pertama dibibir wanita yang kini mengisi hatinya, meski Via belum membalas kecupan itu tapi Vano sudah sangat bahagia, Via tak menolak perlakuan mesranya, jika boleh jujur saat ini dadanya berasa mau meledak antara ragu takut dan juga ingin, Via membatu melepas jas yang dipakai suaminya, melepas dasi dan juga beberapa kancing baju Vano, Vano belum paham dengan apa yang istrinya pikirkan yang jelas ini terasa sangat indah baginya.


"Istriku apakah boleh aku melakukannya?" tanya Vano, Via hanya tersenyum.


"Via bersih bersih dulu ya, tunggu." jawab Via. Yes berarti boleh, oke istriku aku akan menunggumu batin Vano, Via pun masuk kekamar mandi dan membersihkan dirinya meski gemuruh didadanya susah untuk dikenadalikan tapi Via berusaha tenang Via menancapkan pikiran positif dalam otaknya bahwa sekarang Vano suaminya memiliki hak penuh atas dirinya, dan malam ini adalah malam dimana penantian mereka telah berahir mereka memiliki ruang yang halal untuk melakukan nya maka apa lagi yang mereka tunggu Via menertawakan dirinya sendiri ini sungguh lucu dan menggemaskan, dia kembali menarik nafas dalam dalam agar tak terlalu gugup , ahirnya dia pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih fres dan pakaian yang sedikit menggoda, Via merebahkan tubuhnya disamping Vano yang sudah menunggunya.


"Sudah yank?" tanya Vano sambil menyambut Via dalam pelukan nya, Via hanya mengangguk manja.


Vano kembali menatap mata istrinya binar cinta terpancar diantara mata bening permaisuri hatinya, Vano yakin dengan ini Via pun juga hati mereka telah terpaut lama tapi inilah saat nya pembuktiam itu, Vano mulai menuntun Via untuk mewujudkan cinta mereka meski kaku namun Via mampu menerima setiap sentuhan Vano dengan hati yang berbunga tak ada lagi keraguan diantara keduanya, cinta yang mereka rasakan telah mereka rajut menjadi tali kasih dalam sebuah ikatan pernikahan, semoga pernikahan ini langeng dan tak akan pernah ada kesalahpahaman yang berarti, hingga kata Apa Salahku? tak akan pernah hadir lagi diantara kalian.


End


Hay hay kalian para raeders ku yang baik hati dan tidak sombong terimakasih ya sudah setia dengan karya karyaku, saya Rini Sya mengucapkan banyak banyak terimakasih dan mohon maaf jika alur ceritanya tak sesuai dengan keinginan kalian, tapi inilah aku dengan gayaku sendiri setelah ini aku akan memulai dengan karyaku yang baru, coretanku yang baru berjudul IMPIAN DEKA yang akan memanjakan kalian dengan imajinasiku yang lebih ekstrim, untuk lebih lengkapnya kaliam bisa langsung clik judulnya...


Novel Apa Salahku aku tutup sampai disini ya geng, semoga kita bisa bertemu lagi dikaryaku yang lain, i love u buat kalian yang udah setia..


Salam manis

__ADS_1


Rini Sya.



__ADS_2