
Seminggu sudah Laras dikurung dirumah mewah milik Robin di Singapura, tak ada kabar apapun untuknya dari Robin yang ada hanyalah perlakuan istimewa dari para pelayan pelayan yang menurut Laras sangat menjengkel kan itu, tak ada satupun dari mereka yang mau bicara santai dengan nya mereka hanya terus menyuruhnya makan minum mandi bahkan dia mau masak pun tak boleh, Perasaannya bertambah resah ketika ingatan tentang buah hatinya datang, dia sering menangis jika dia mengingat betapa lucunya Zia saat ini, Zia sudah bisa mengucapkan banyak kosa kata bahkan ketika terahir kali mereka bertemu Zia sudah suka berlari dan bertanya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui.
Usianya memang baru lima belas bulan tapi tingkah lucunya sering membuat Laras dan Tama merasa bahagia, Laras tersenyum dan mencium foto Zia yang ada di handphone nya, dia buka lagi lembaran demi lembaran foto foto digaleri ponselnya, ada banyak sekali foto mereka bertiga, tanpa Laras sadari jari jarinya dengan lincah menghapus foto foto nya bersama Tama.
"Ini sudah berahir bukan lalu untuk apa aku menyimpanya, dia sudah melepasakan aku, aku bukan istrinya lagi semua sudah tak ada artinya lagi Laras buat apa lagi kamu mengingatnya." gumam Laras, dia pun menaruh lagi ponselnya dinakas ranjangnya, kemudian dia kembali meringkuk lama lama kantuk pun menghampirinya, dengan memeluk baju Zia yang dia bawa ahirnya dia pun tertidur pulas.
.....
Sesuai info yang dia dapat tentang keberadaan cucu cantiknya ahirnya Robin pun terbang ke Jerman, dia rela meninggalkan istri tercintanya yang hamil besar itu, untungnya tante Rika mengerti dengan pekerjaan suaminya, bahkan sebelum perutnya bertambah besar dia pun selalu diajak kemana pun Robin pergi, tanpa rasa curiga sedikit pun ahirnya tante Rika mengizinkan Robin melakukan perjalanan nya.
Jerman, Berlin..
10.30 siang waktu setempat Robin ditemani beberapa tim pengacaranya bertandang kerumah sepasang suami istri yang disinyalir telah membeli Zia dari Luna.
Saat mereka datang hanya ada seorang wanita yang sedang menggendong seorang bayi, wanita tersebut sangat terkejut begitu melihat kedatangan Robin dan beberapa orang yang tidak dia kenal, Robin tersenyum karena info yang dia dapat tidak meleset, dia melihat sendiri bahwa Zia berada digendongan seorang wanita yang membukakan pintu untuknya dan tim pengacaranya.
"Selamat siang nyonya boleh kami masuk?" tanya salah satu tim pengacara Robin.
"Tentu saja tuan, ada masalah apa ya?" tanya sang tuan rumah, Robin dan kedua pengacaranya pun masuk kedalam rumah orang tua asuh Zia, sedangkan mereka yang lain menunggu diluar agar pemilik rumah tidak terlalu shock dengan maksud kedatangan mereka.
"Sebelumnya kami minta maaf nyonya karena telah mengganggu ketenangan anda." ucap sang kuasa hukum Robin.
"Baik tidak masalah, sebelumnya anda sekalian ini siapa ya?" tanya Ibu angkat Zia, Zia yang melihat Robin selalu mengulurkan tangan nya hendak ikut, tetapi Robin hanya tersenyum tak menyambut keinginan Zia sebelum semua masalah ini clear.
"Baik perkenalkan nama saya Victor dan ini Luise serta ini adalah bapak Robin dari Singapura," jawab kuasa hukum Robin.
__ADS_1
mendengar kata Singapura membuat tubuh ibu angkat Zia bergetar.
"Anda tidak perlu takut pada kami nyonya, tapi satu yang anda harus ketahui bahwa anda telah melakukan tindak pidana perdagangan manusia." tambahnya lagi, perkatakaan kuasa hukum Robin sukses membuat Ibu angkat Zia gugup tak menentu.
"Apa maksud kalian, dia anaku dia putriku." jawab ibu angkat Zia.
"Bagaimana anda tau jika yang kami maksud adalah bayi yang ada digendongan anda padahal kami belum mengatakan apapun." tambah Victor, ibu angkat Zia seketika diam karena dia sudah merasa terpojok.
"Apakah anda mengenal wanita ini?" tanya Robin sambil menunjukan sebuah foto yang ada di ponselnya.
"Saya sudah membayarnya dengan uang yang sangat banyak jadi anak ini adalah hak saya dan anda tidak boleh mengambilnya." jawab ibu angkat Zia sambil berdiri hendak bawa lari Zia, Zia pun menangis karena pelukan yang lakukan ibu angkatnya tak sengaja menyakitinya karena terlalu erat.
"Anda jangan egois nyonya, anda tidak tau bukan bahwa ibu kandung dari anak ini hampir gila karena kehilangan buah hatinya, kami tidak mau bertele tela lagi dengan anda nyonya, kita langsung saja pada pokok permasalahanya, anda mau menyerahkan anak ini dengan suka rela atau kita meja hijaukan?" bagai makan buah simalakama ibu angkat Zia tak ada pilihan.
"Silahkan anda pikirkan nyonya, jika nada mengembalikan bayi ini dengan baik baik kepada kami maka kami tidak akan menuntut anda sedikitpun, bahkan sebaliknya kami akan mengembalikan uang yang sudah anda berikan kepada wanita ini." tambah Luise.
"Baiklah nyonya ini adalah saya dan dia (Robin menunjukan foto foto Zia ketika bersamanya bahkan foto foto Zia ketika dia merayakan ulang tahunya yang pertama) ini adalah saya nyonya, ini putri saya ibu dari Zia dan yang ini adalah Ayahnya, apakah anda masih ragu nyonya?" tanya Robin.
"Bahkan anda lihat sendiri bukan dari tadi dia mengulurkan tangannya pada saya karena saya adalah opa kandungnya." tambah Robin, Dengan berderai air mata ahirnya ibu asuh Zia menyerahkan Zia pada Opa kandungnya, tak lupa juga dia mengemasi barang barang Zia dan memberikanya pada Robin.
"Terimakasih banyak nyonya anda sudah merawat cucu saya dengan baik, saya doakan anda kan mendapatkan keturunan sendiri tanpa harus melakukan hal yang memalukan seperti ini." ucap Robin, ibu asuh Zia pun mengangukan kepalanya dan berterimakasih juga, semua masalah dengan keluarga ibu asuh Zia sudah clear, kuasa hukumnya sudah membantunya menyelesaikanya.
Robin tak menunggu waktu lagi, dia pun langsung meminta kepada asisten nya untuk menyiapakan jet pribadinya, dia sudah tak sabar ingin mempertemukan Zia dengan putri tercintanya.
Hampir dua belas jam Zia dan Robin tiba di Singapura untung saja didalam pesawat Zia tidak rewel dia begitu anteng berada di gendongan opa nya, tak lupa juga Robin menyiapkan pengasuh untuk Zia, untungnya Zia adalah anak yang mudah beradaptasi.
__ADS_1
Ketika mereka sampai di Singapura hari masih sangat gelap, dan Zia juga sudah terlelap dipangkuan Robin.
"Dimana putriku?" tanya Robin pada kepala pelayan dimension nya.
"Dia masih dikamarnya tuan." jawabnya.
"Apa dia masih susah tidur?" tanya Robin lagi.
"Masih tuan kadang kadang dia juga menangis setiap kali bangun dari tidurnya, setelah lelah menangis dia akan tertidur kembali." jawab kepala pelayan itu.
"Apa selama ini dia masih susah makan?" tanya Robin lagi.
"Masih tuan, sepertinya dia selalu mengingat anak nya, apakah itu anaknya tuan?"
tanya kepala pelayan itu penasaran.
"Hem." jawab Robin, kepala pelayan itu pun membukakan pintu kamar Laras untuk Robin , Robin tersenyum ketika melihat putrinya tertidur pulas tapi hatinya pun trenyuh ketika melihat mata yang terpejam itu bengkak, mungkin karena kebanyakan menangis.
Robin menarik tangan Laras dengan pelan, kemudian menaruh kepala Zia tepat dilenganya, Laras merasa tanganya ada yang menindihnya ahirnya dengan pelan dia membuka matanya yang terasa berat, Laras terkejut melihat siapa yang tidur dilenganya seketika air matanya meluncur begitu saja, karena melihat putri cantiknya telah tertidur pulas disampinya, Laras membungkap mulutnya agar tangisnya tak terdengar oleh putri kesayanganya
"Ssstttt... jangan nangis nanti dia bangun, dia bari saja terlelap di mobil." ucap Robin sambil mengelus rambut Laras.
"Om."
"Ssttt udah bahasnya besok aja, sekarang tenanglah jangan bangunkan dia oke." Laras hanya menganguk, dia terus mengelus pipi gembil Zia, jika tak ingat pesan papa nya mungkin dia sudah menangis menjadi jadi bahkan dia ingin sekali mendekap bayinya ini agar tak ada yang mengambilnya.
__ADS_1
Bersambung...