
Pesawat yang membawa Laras dan Ryan landing dengan selamat dibandara
Soekarno-Hatta Jakarta, waktu menunjukan pukul 11.30 siang waktu setempat, karena sebelumnya mereka transit dulu di Bangkok, Laras tersenyum bahagia, Ryan membantu sahabatnya ini berjalan, jujur Ryan ngeri melihat perut Laras yang buncit dan harus berdesak desakan dengan penumpang lain.
"Lo istirahat aja Ras, biar gue yang ambil bagasi lo." ucap Ryan.
"Baiklah uncle tampan makasih banyak ya."goda Laras biasa tak lupa dia memberikan senyuman termanisnya.
"Uncle tampan jinjai gue ama elo, ga mempan rayuan lo tau ga." umapat Ryan sambil berlalu meninggalkan Laras dan berjalan menuju tempat bagasi mereka.
Laras berjalan mengikuti langkah Ryan, Ryan telihat menghubungi seseorang untuk menjemput mereka.
Tak lama mobil CRV warna merah marun sudah parkir didepan mereka, siap mengantarkan mereka kemanapun mereka pergi plus supirnya lagi.
"Yan mobil siapa ini?" tanya Laras.
"Dah masuk dulu, Lo lupa gue ketua geng dimari, asal gue batuk juga banyak yang bakalan rebutan jemput gue." ucap Ryan dengan gaya khas nya menaikan kerahnya bajunya ketika menyombongkan diri sambil membukakan pintu untuk Laras.
"Heemmm sombongnya, rambutnya belum disisir pak." tambah Laras mengingatkan gaya khas Ryan semasa masih SMA.
"Lupa gue, keseringan dipepet Chintya jadi gini ni." balas Ryan tertawa renyah.
"Dih ge er siapa juga yang mepet situ, situ kali yang ngejar ngejar ampek jengah tu si miss kalau cerita ama gue, gue juga bosen dengernye." ucap Laras sambil membetulkan posisi duduknya.
"Kemana ni kita?" tanya Ryan.
"Pondok Indah geng kemana lagi, bebeb gue ada disana." jawab Laras sambil memberikan ponselnya pada pak supir, pak supir pun mengerti dan melajukan mobilnya kearah Pondok Indah.
"Lo belum jawab ni mobil punya siape?" tanya Laras.
"Punya Dion." jawab Ryan.
"Dion?"
"Udah ga usah dipikir otak lo ga nyampek." goda Ryan.
"Ye, gini gini calon wali kota Tanggerang bro yang bakalan ngusir lo ntar." jawab Laras.
"Iye iye calon bu Walikota halu lo ketinggian." jawab Ryan, Laras tertawa renyah, saat ini hati Laras sungguh berbunga bunga bagaimana tidak sebentar lagi dia akan bertemu dengan pujaan hatinya yang sudah lama dia rindukan.
__ADS_1
"Kita ambil kiri apa kanan bu?" tanya pak supir.
"Kanan pak, itu pak rumahnya yang ada pos satpamnya."tunjuk Laras.
"Baik bu." jawab pak Supir.
"Buset Ras ini rumah Tama?" tanya Ryan.
"Bukan ini rumah mami." jawab Laras.
"Tajir gini Ras, ngapain lo susah susah kerja?" tanya Ryan heran.
"Bro yang tajir tu mertua gue ya masak iya laki gue yang sakit mereka yang ngobatin sedangkan gue masih mampu, kecuali kalau gue ga tau malu gaes, ah elo kagak ngarti ngarti dah." ucap Laras kesal.
"Beruntungnya Ras Tama dapet bidadari kayak elo, udah cantik baik hati punya pemikiran dewasa lagi hajiiiimmmm ampek pilek gue." goda Ryan.
"Terus aja angkat gue tinggi tinggi habis itu hempasin gue, puas lo." balas Laras.
"Banget." ih menyebalkan sekali sih huufff batin Laras, Ryan tertawa melihat Laras cemberut.
"Yuk turun mau dimari sampai kapan kita."
Alangkah terkejutnya Mami Arini melihat kedatangan Laras, ini memang kejutan karena sebelumnya Laras tak mengabarinya.
"Mami, apa kabar Laras kangen." sapa Laras sambil memeluk ibu mertuanya.
"Baik sayang kok ga bilang mau dateng, kamu apa kabar?" balas Mami Arini.
"Laras baik mi, oia mamas mana mi?" Laras sudah tak sabar rupanya ingin segera memeluk pemilik hatinya.
"Duh yang udah ga sabar sampai lupa ngenalin ajudanya." goda Ryan dia memang selalu tau sikon.
"Oia lupa sori pak bos gitu aja ngambek, mi ini Ryan yang sering ngobrol ama mami di telpon, Yan kenalin ini mami gue." Ryan menjabat tangan mami Arini.
"Ryan tant." ucap Ryan memperkenalkan diri.
"Makasih ya nak kamu udah jagain Laras selama ini, atas nama Tama mami ucapkan terima kasih." ucap mami Arini.
"Sama sama tant, kami sahabatan udah dari kecil jadi saya sudah kayak kakaknya." jawab Ryan.
__ADS_1
"Dih kakak ngarep." balas Laras mereka pun tertawa, mami Arini sangat suka dengan kekonyolan mereka.
Tama yang mendengar keributan diluar kamar nya pun penasaran ahirnya dia memutuskan untuk melihat siapa yang datang, begitu membuka pintu alangkah terkejutnya dia melihat istrinya yang datang udah gitu dia sedang bercanda gurau dengan pria yang pernah membuat darahnya mendidih, dan saat itu terulang kembali, Tama tak tahan dengan pemandangan itu ahirnya dia pun berdehem.
"Eeheeemmm." mereka bertiga pun menghentikan candaan mereka dan menoleh kearah suara.
Laras tersenyum bahagia melihat siapa yang sedang berdiri dibelakangnya, Laras berjalan mendekati Tama tapi sayang...
"Jangan mendekat." larang Tama, mami Arini dan Ryan pun saling menatap.
"Kenapa?" tanya Laras sepelan mungkin.
"Heh kamu tanya kenapa, kamu pikir aja sendiri." jawab Tama ketus.
"Apa maksudmu suamiku?" tanya Laras sambil meneteskan air matanya.
"Pe de sekali kamu menyebutku suamimu, masih pantas kamu disebut istri hah." hardik Tama dengan nada emosinya.
"Aku memang istrimu mas." jawab Laras dengan suara yang sedikit tertahan.
"Istri kamu bilang hah lucu sekali, istri mana yang tega ninggalin suaminya yang terbaring lemah tak berdaya, empat bulan aku tidur Ras apa pernah kamu dateng untuk sekedar mengelap wajahku, apa pernah kamu datang untuk sekedar mengelus rambutku enggak kan( Tama diam sesaat lalu melanjutkan lagi uneg uneg nya) kamu malah pergi ninggalin aku demi laki laki ini kan, aku sudah tak membutuhkanmu Ras aku bisa sendiri sekarang ada keluargaku yang bisa menerima baik buruknya aku, cukup sampai disini aku mengharapkanmu, pergilah dan jangan pernah tunjukan wajah murahanmu itu padaku." ucapan Tama sukses membuat gunung kerinduan yang ada dihati Laras runtuh seketika, hati Laras terasa panas seakan disiram oleh air yang baru saja mendidih, Tuhan apa salahku hanya pertanyaan itu yang terngiang di otak Laras.
"Bang Laras bukan wanita seperti itu kamu salah."ucap Mami Arini.
"Apa yang salah mi, bahkan dia berani membawa prianya datang kerumah ini." Otak Laras tak sanggup lagi menerima penjelasan apapun Laras sudah ngeblank, hatinya hancur , Ryan ingin mengeluarkan suaranya tapi mama Arini melarangnya, Ryan paham jika Tama belum bisa menerima tekanan, jika kamu bukan suami Sahabatku sudah aku hajar mulut busukmu itu, Tama melihat Ryan mengepalkan tanganya dan mengeraskan rahangnya seakan menantangnya secara terang terangan, mata Tama dan Ryan saling menatap, tatapan permusuhan tentunya.
"Oia aku bukan tipe pria brengsek yang tidak bertanggung jawab, sesuai perjanjian kita aku tetap meminta hasil tes DNA atas bayi yang kamu kandung jika itu terbukti anak kandungku aku pastikan akan bertanggung jawab penuh untuknya, tapi jika bukan maka bersiap siaplah menerima pembalaskanku kamu tidak akan pernah selamat dariku ******." sekali lagi hati Laras terasa lebih panas oleh ucapan Tama ini lebih menyakitkan dari apapun Tuhan, Apa salahku kata itu kembali terngiang dipikiran Laras, sepertinya Laras sudah tak bisa merasakan apa apa lagi diotaknya, semua terasa penuh dan berat hingga tak meninggalkan rasa sedikit pun.
Laras memundurkan langkahnya dan berjalan mendekati Ryan, Laras memengang lengan Ryan karena dia merasa tak sanggup lagi berdiri, ingin rasanya dia berteriak menangis dan meluapkan segala rasa yang membuat sesak dadanya.
"Yan tolong bawa aku pergi dari sini." pinta Laras dengan suara yang hampir tak terdengar, mami Arini yang melihat kondisi Laras sangat iba.
"Sabar ya nak, biar mami nanti yang ngomong sama mas mu." ucap mami Arini, Tama muak dengan drama yang ada didepan matanya dia pun kembali masuk kekamar dan membanting pintu sekeras mungkin membuat kaget mereka bertiga.
"Maafkan mamas mu ya Ras, bersabarlah sedikit lagi." Laras tak memghiraukan ucapan ibu mertuanya bukan karena tak sopan hanya perasaannya memang sudah tak mampu lagi menerima untaian kata kata, memorinya terasa penuh dengan kata kata yang barusan suaminya ucapkan.
"Ayo Ras." Ryan memapah Laras untuk keluar rumah mami Arini dan kembali membawanya masuk kedalam mobil, Ryan benar benar sangat iba sekarang pada sahabatnya, Ryan sangat tak menyangka bahwa suami sahabatnya ini punya pikiran yang sangat kolot dan picik, Ya Tuhan Ras kuat banget kamu ngadepin pria aneh ga berperasaan begitu kayak ga ada yang lain aja batin Ryan.
Bersambung....
__ADS_1