PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Suami Siaga


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


Laras sangat bahagian ketika menghadiri pesta resepsi pernikahan Izal dan Niken, perusahaan yang hampir mencelakai mereka pun sudah gulung tikar oleh ulah mereka sendiri, sesuai permintaan Laras bahwa Tama jangan sampai mengampuni mereka pun dilaksankan dengan baik oleh Tama.


Malam itu pesta berlangsung sangat meriah bahkan seluruh keluarga Izal yang ada dikampung halaman nya pun diundang termasuk paman dan bibi nya yang ada di Kediri, kedua kakaknya pun hadir senyum terlukis indah diantara bibir keduanya.


Tak henti hentinya Izal memuji kecantikan istrinya, bahkan ketika Niken mengatakan kaki nya terasa lelah Izal pun dengan sigap


membatunya duduk dan merapikan gaun istrinya, Niken bahagia karena pria nya saat ini sungguh sangat menyayanginya, Niken tak henti hentinya berucap syukur dalam hatinya karena Tuhan memberikan nya pendamping hidup yang mendekati kata sempurna.


........


Sebenernya ketika hendak berangkat Laras merasakan pergerakan baby yang ada dikandungan nya sedikit lambat tidak seperti biasanya, dan Laras juga merasakan mual yang teramat sangat, bahkan diperjalanan menuju gedung pesta dia sempat meminta supir pribadi Tama untuk menghentikan mobilnya karena sudah tak tahan dengan apa yang dia rasakan, dia pun mengeluarkan hampir separo isi perutnya, setelah merasa baikan dia pun nekat meminta pada Tama untuk tetep datang dipesta penikahan sahabatnya, hanya sebentar dia disana kemudian rasa mual itu datang lagi.


Ahirnya tubuh Laras terasa lemas dan keringat dingin meluncur begitu saja dari tubuhnya, Tama tak berfikir panjang lagi dia langsung meminta Aldo untuk membantunya menggendong istrinya, untuk dibawanya kerumah sakit segera, untung saja pesta sudah mau usai sudah tak banyak tamu yang hadir sehingga tak terlalu banyak memancing keributan.


Diperjalanan menuju rumah sakit Laras sedikit tersadar bahkan dia masih mendengar beberapa kali Tama memanggil nama nya, Laras tersenyum dalam kondisi itu ternyata suaminya sangat khawatir padanya.


Ini adalah kali kedua Tama mengantarkan nya kerumah sakit alasanya sama hendak melahirkan dulu Tama belum begitu paham tidak seperti sekarang tapi ini lebih membuatnya gugup karena Laras tak sadarkan diri, tentu saja lebih membuatnya khawatir.


Diruang perawatan...


Tama terus menciumi tangan dingin istrinya bahkan dia juga menangis.


"Mami ga papa daddy." ucap Laras lemas.


"Daddy takut mami." jawab Tama kembali menciumi kening dan pipi istrinya.

__ADS_1


"Sssttt jangan khawatir mami akan baik baik saja." ucap Laras menenangkan suaminya.


Dokter kembali memeriksa Laras, tekanan darahnya kembali tinggi, dokter pun menyarankan untuk melakukan tindakan pada Laras Tama hanya bisa pasrah yang penting kedua anak nya dan juga istrinya selamat.


Dokter juga berbaik hati dia mengijinkan Tama menemani istrinya diruang oprasi, tegang gugup dan juga takut menjadi satu, bukan Tama yang menenangkan Laras malah sebaliknya Laras yang menenangkan Tama.


"Daddy percayalah kami akan baik baik saja hapus air matamu, nanti kalau Zia lihat daddy nangis dia sedih dad." Tama masih saja tak mampu menahan perasaanya ketika istrinya dibawa masuk keruang oprasi, bahkan salah satu dokter menegurnya.


"Jika bapak tidak kuat bapak bisa menunggu diluar." ucap pak Dokter sambil mengelus pundak Tama.


"Tidak dokter saya ingin menemani istri saya berjuang melahirkan buah hati kami saya mohon dokter ijin kan saya menemaninya." ucap Tama memohon kebaikan sang dokter untuk, dokter pun mengijinkan Tama menemani istrinya diruang oprasi, Tama terus saja menggegam tangan istrinya dan sesekali dia mencium nya.


"Kamu tau mi, aku adalah pria paling beruntung didunia ini karena memilikimu." bisik Tama ketika obat bius mulai masuk kedalam tubuh Laras, Laras hanya tersenyum mendengar bisikan suaminya, kata itu seolah memberikan kekuatan untuk nya.


"Kita doa sama sama ya mi Al fatihah." bisik Tama lagi ketika sang dokter sudah mulai menyayatkan pisau bedah nya Tama bertambah tegang, dia ada melihat sedikit di pantulan kaca yang ada disebelahnya, tak berselang lama terdengar suara tangisan bayi, bayi pertama telah lahir dengan slamat, lalu untuk kedua kalinya Tama dan Laras mendengar tangisan bayi kedua mereka, Tama dan Laras saling melempar senyum, mereka belum bisa menjabarkan kebahagiaan yang mereka rasakan, tapi Tama terus saja menatap istrinya dan mengelus rambutnya seolah dia mengatakan bahwa kamulah wanita terbaik ku istriku.


"Selamat ya pak, bu bayi kalian sudah lahir dengan selamat mereka berdua laki laki." ucap suster pada Laras dan Tama.


"Mereka lucu sekali suster." ucap Tama, lalu kedua suster itu pun membawa kedua bayi Laras diruang perawatan khusus bayi untuk membersihkan mereka.


Setelah menjalani oprasi Laras pun dibawa keruang pemulihan, Laras masih merasa lemas bahkan pengaruh obat bius itu pun masih terasa, beberapa kali Tama mencium kening nya, mengelus pipi nya dan kadang juga mengecup bibir istrinya nya mereka terlihat sangat sweet sekali.


"Istriku aku mencintaimu." ucap Tama, Laras hanya tersenyum, kenapa suamiku jadi bucin gini padahal memikirkan bakalan hidup dengan nya lama pun enggak mengingat sikap awal Tama ketika mereka menikah, meninggalkanya tinggal sendiri hanya mentranfer kebutuhanya, bertemu dan menyapanya pun tidak, tapi sekarang dia terus saja menempel terus padaku sungguh menggelikan kamu suamiku, batin Laras.


Memenangkan hati Tama adalah kebanggaan tersendiri buat Laras, pria laabir egois dan memiliki cara berfikir yang sangat unik, karena dia bisa membingungkan lawan bicaranya.


Malam itu Zia ga bisa tidur dia terua menanyakan mami dan daddy nya kenapa ga pulang pulang terpaksa oma dan opa nya membawa Zia kerumah sakit karena Zia terua saja menangis, meski diperjalananb dia tidur dipangkuan pengasuh nya tetap sa membuat oma opa nya tak tega.

__ADS_1


Laras sudah dibawa keruang perawatan, bahkan sekarang dia juga sudah terlelap ketika Zia dan oma opa nya dateng.


"Tam gimana istrimu apa baik baik saja?" tanya mami Arini.


"Baik mi, anak kami juga sudah lahir." jawab Tama.


"Hah lahir, bukan kah HPL (Hari perkiraan lahir) nya masih dua minggu lagi?" tanya mami Arini.


"Iya mi Laras ada masalah sedikit dokter menyarankan untuk melakukan tindakan." jawab Tama lagi.


"Ya Tuhan, jadi menantuku barusan oprasi kok kamu ga kabari mami sama papi, jadi kamu sendirisan tadi Aldo mana?" tanya mami Arini bertubi tubi.


"Kejadianya sangat cepat mi Tama ga sempat mikirin apa apa, begitu sampai sini Laras masuk ruang perawatan Tama suruh Aldo balik soalnya istrinya masih di gedung, toh Laras juga udah sadar eh ga taunya dia ngedrop lagi ya itu dokter bilang gimana kalau bayi nya dilahirkan soalnya tekanan darah nya naik turun dan sudah keluar bercak darah gitu tadi mi tapi belum sempet mules sih." Tama menceritakan dengan detail keadaan istrinya.


"Mami bangga padamu putraku mami ga nyangka pria labil yang menyebalkan bisa jadi suami siaga." ucap mami Arini sambil memeluk putra kesayangan nya, Tama hanya tersenyum dan kembali meminta doa ibunya.


"Zia nanyain kalian terua sampai nangis ga keluar suaranya jadi mami bawa kesini." ucap mami Arini.


"Ya udah mi, tidurin disitu aja sus mami ama papi balik aja biar Zia disini, besok bawain baju ganti ya mi, kamu pulang aja sus biar Zia aku yang jaga." ucap Tama.


"Baiklah kamu hati hati ya nak jaga anak istrimu kalau ada apa apa hubungi papi." ucap pak Bram.


"Siap pi makasih banyak ya." ucap Tama.


"Iya sama sama, selamat ya papi dan mami sangat bahagia putraku," ucap pak Bram sambil memeluk putranya.


"Makasih juga pi atas dukungan nya selama ini." balas Tama, setelah itu pak bran dan mami Arini pun pulang, Tama menghampiri bidadari kecilnya dan memberikan ciuman yang menggemaskan dipipi gembil putri cantiknya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2