PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Menjengkelkan


__ADS_3

Dua jam berlalu..


Seorang suster masuk kedalam ruangan Laras membawa bidadari kecil, sedari tadi Laras memang tidak bisa tidur meski kantuk berkali kali melandanya, tapi hati dan pikiranya selalu membawa nya untuk memikirkan apa yang akan dilalui nya setelah ini.


"Pagi bu Laras." sapa Suster cantik yang menggendong bidadari kecilnya.


" Pagi sus." Laras berusaha bangun dan duduk dari ranjangnya.


"Bagaimana perasaanya?" tanya suster.


"Sssttt suami saya barusan bobo sus, kasihan dia kita ngomongnya bisik bisik aja ya." pinta Laras, tanpa ia sadari Tama mendengar ucapanya dia pun tersenyum dalam hati.


"Baiklah bu, maaf saya tak melihatnya." jawab suster, Laras menerima baby mungil yang dibawa suster dengan perasaan yang susah dibayangkan, Laras meneteskan air matanya membuat Laras bingung.


"Ibu kenapa menangis?" tanya suster.


"Ga sus saya hanya bahagia."


"Baiklah saya mengerti, silahkan anda kasih ASI dedek bayinya, dua jam lagi saya kesini untuk mengambilnya dimohon anda mempersiapkan nama untuk sang baby beserta fotokopi surat nikah ya bu sama foto kopi KTP bapak sama ibu untuk mengisi surat lahir sibaby." ucap suster menjelaskan karena menurut data Laras belum memberikan itu


semua.


"Oke suster untuk data datanya boleh agak sorean, mbak saya belum kesini sus." jawab Laras.


"Baiklah tak masalah bu." jawab suster dan pamit undur diri.


Tama bangun dari tidurnya ketika mendengar sang baby menangis, Laras terus menenangkanya dan mencoba memberi Asi, Tama berjalan mendekati mereka seketika Laras memasukan lagi payudaranya karena Tama melihatnya.


"Kok dimasukin lagi kenapa Ras?" Laras diam tak menjawab, Tama tau istrinya malu dia pun mengambil kain gendongan yang ada di tas Laras, menutupkan kain itu dibagian atas tubuh Laras.


"Nah udah ga kelihatan, sekarang kamu bebas Ras coba kamu kasih lagi."suruh Tama, Laras pun memberi putrinya Asinya lagi, sibaby yang sedari tadi kehausan pun dengan lahap menerimanya, Tama menatap Laras yang diam mengunci mulutnya didepanya.


"Kenapa mas ngliatin Laras begitu?" tanya Laras.


"Ga ada apa apa." jawab Tama, sifat dingin nya kembali lagi dasar es balok batin Laras.

__ADS_1


Tama mengelus pipi baby mungil yang sedang menikmati hidangan lezatnya.


"Enak ya dek cucunya, daddy mau dong dibagi." goda Tama mencoba bercanda dengan bidadari kecilnya.


"Mas."


"Heemm."


"Dedek kan udah lahir, mamas bisa mempersiapkan surat pisah kita sekarang." ucap Laras sambil menatap wajah Tama, kata itu memang sangat menyakitkan tapi mau ga mau harus dia ucapkan.


"Bahas itu entaran aja Ras." jawab Tama.


"Kenapa?" tanya Laras.


"Di tengeh tengah kita lagi ada dia, dia juga manusia Ras punya telinga punya hati, kamu ga malu mau ribut depan bidadari kecil yang menggemaskan ini hah, daddy gemes dek andai daddy boleh cium udah daddy uluk uluk kamu hah, gemes daddy." Tama terlihat lucu dan happy ketika memainkan pipi bidadari kecilnya.


"Oke." Laras kembali memfokuskan dirinya pada putri kecilnya.


"Kamu udah siapkan nama belum buat dedek bayinya?" tanya Tama.


"Belum mas." bahkan menyebut putriku anakmu aja kamu ga mau mas, lalu kenapa kamu menunda dan mengulur waktu lagi, masih kurangkah kamu menyakitiku mas, batin Laras bergejolak lagi.


"Aku merasa tak berhak memberinya nama Ras karena selama ini aku tak ikut menjaganya." ucap Tama.


"Bukan karena anda ragu dia putrimu apa bukan." jawab Laras, Tama menatap Laras.


"Ga papa mas, mungkin siang ini tes DNA yang mas mau udah bisa mas terima, dan mas bisa bebas dari kami silahkan mas teruskan melangkah kejalan yang mas mau, Laras ga papa Laras iklas Insya Allah." tambah Laras, ucapan Laras benar benar menyayat hati Tama, tapi dia berusaha setenang mungkin dia ga mau terbawa emosi yang Laras ciptakan.


"Kenapa jadi kamu yang menentukan kemana aku harus melangkah, suka suka aku lah aku mau kemana sama siapa, ya dek ya." ucap Tama dengan muka datar tanpa dosa, mukanya benar benar menyebalkan, kamu ni manusia bukan sih batin Laras.


"Tau ah." gerutu Laras, Tama masih aja cuek.


"Dih marah aneh." goda Tama.


"Kenapa jadi Laras yang aneh, bukanya kemarin situ yang maunya begitu." jawab Laras jengkel, sekarang dia benar benar marah.

__ADS_1


"Ya kan kemarin, sekarang kan lain orang daddy udah ada pacar sekarang, mami mu aneh dek, bagi dong dek itu nya dikit aja dek." Tama membuka sedikit kain penutup PD Laras, tindakan koyol Tama mampu menyulut emosi Laras.


"Ih apa sih." Laras menatap tajam ke arah Tama.


" Dek mami marah mulu yak, kenapa yak." Dasar manusia aneh, Laras tak mau menghiraukan Tama meskipum berkali kali suaminya ini mengajaknya bercanda.


Laras tak merasakan lagi babynya mengisap ****** sususnya dilihatnya lagi ternyata sibaby udah bobo.


"Bobo ya dek." Laras memasukan PD nya ke tempatnya semula dan membuka gendongan yang tadi menutup dadanya, Tama melihat Laras susah mengancingkan bajunya tanpa disuruh dia pun membantu Laras mengancingkan bajunya.


"Ga usah mas ih."


"Dih ga usah kegeeran aku bantuin kamu karena kita sesama manusia, emang kamu pikir apa?"


"Dasar dasar sana ngapain deket deket Laras." usir Laras.


"Suka suka aku lah, sini putriku." Tama mengambil babynya dari tangan Laras, Laras bener bener malas sekarang mau marah pun percuma Tama benar benar manusia tanpa dosa. Laras menatap Tama tajam ke arah Tama, ingin rasanya Laras melempar sesuatu ke arah beruang kutup yang ada didepanya.


"Ngliatin nya ga usah gitu juga kali, aku tau kamu kangen sama aku, aku tampan ya mau cium ni."dengan gaya gokilnya Tama mendekatkan wajahnya ke depan Laras. Laras masih menatapnya penuh kebencian.


Tama menjauhkan lagi wajahnya dari Laras.


"Jangan terlalu benci sama aku ntar jatuh cinta lo." Laras semakin dibuat muak oleh Tama, justru kemarahan Laras kali ini memberikan kepuasan tersendiri di hati Tama, biasanya Laras hanya pasrah dan menurut padanya tapi sekarang Laras berbeda dari biasanya, Tama menyukainya.


"Sini mamas anaku, mamas jauh sana." umpat Laras Lagi.


"Ngusir mulu dah dari kemarin, terimakasih kek udah ditemenin juga." tambah Tama.


Laras menyerah dengan kegilaan Tama dia pun memilih merebahkan lagi tubuhnya diranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selumut.


"Dasar manusia menjengkelkan." umpat Laras.


"Aku denger."


"Bodo."

__ADS_1


Tama tertawa puas, meski tertawanya pelan tapi itu sukses membuat Laras semakin jengkel ketika mendengarnya.


Bersambung...


__ADS_2