
Pak Bram dan putra sulungnya tak ingin memunda waktunya lagi, begitu mendapatkan tiket mereka pun langsung terbang ke Singapura untuk menemui Ayah kandung Laras, dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kekasih dan juga anak yang dikandungnya.
Begitu pesawat yang membawa mereka mendarat pak Bram dan Tama langsung dijemput oleh ajudan setia pak Bram.
Mobil yang mereka tumpangi pun langsung membawa ke apartemen milik Tama.
Sesampai nya diapartemen Tama langsung mengirim chat pada istri tercintanya, Laras begitu bahagia ketika mendapat pesan itu dia pun langsung membalas pesan Tama, serta mengirimkan foto baby Zia yang terlelap disamping Laras, kalau boleh jujur foto yang dikirim Laras membuat Tama merasa rindu dan ingin segera kembali ketanah air untuk bisa memeluk mereka secara nyata, tak lupa Laras juga berpesan pada suaminya untuk selalu menjaga diri, begitupun dengan Tama ah kalian Sweet sekali sih.
Keesokan harinya...
Beberapa pengawal Pak Bram sudah siap dilobi apartemen Tama, Pak Bram sudah memantapkan hatinya untuk bertemu dengan mantan sahabatnya yang belum lama ini menjadi musuh barunya.
"Pi, apakah Mr Robin ini sangat penting?" tanya Tama.
"Tentu saja dia pengusaha emas dan berlian terkaya disini, istrinya dimana mana." jawab Pak Bram sambil terkekeh.
"Hah istri?" Tama bingung.
"Bisa dibilang selir, istri sah nya sudah ga tau kemana." jawab Pak Bram.
"Sharon hari itu bilang bahwa istri Mr Robin menggugatnya, dia klien Sharon." jawab Tama.
"Salah satu simpanan Mr Robin itu tante Luna pi." tambah Tama lagi.
"Heemm, bodohnya Antok istri dimakan orang bisa ga tau."ucap Pak Bram.
"Aku penasaran apa yang membuat Robin jadi segila ini." ucap Pak Bram lagi.
"Mungkin kah cintanya pada Mami nya Laras yang tak dapet restu pi." ucap Tama.
"Bisa jadi." jawab Pak Bram.
__ADS_1
Mobil yang membawa mereka pun sampai di istana milik Mr Robinson pengusaha emas dan berlian asal Indonesia yang menetap di Singapura.
Robin menerima kedatangan mereka dengan sikap aroganya, dia duduk sambil menyilangkan kakinya dikursi kebesaranya, banyak pelayan wanita dan pria yang berjejer siap melayaninya, benar yang dikatakan Laras bahwa Robin adalah pria super arogan yang menakutkan, kekuatan nya terlihat jelas dari berapa ajudan yang siap kapan pun dia perintah.
"Hay Mr Demitri, senang bertemu denganmu siapa dia, apakah dia anakmu hah wahhh kamu punya generasi yang tampan rupanya." sapa Robin dengan angkuhnya.
"Baik Mr Robin yang terhormat bagaimana kabar anda." jawab Pak Bram, sebelum masuk Pak Br dan juga Tama sudah diperiksa apakah membawa senjata atau tidak, begitu juga para ajudan mereka, penjaga dirumah Mr Robin hanya mengizinkan Pak Bram dan Tama saja yang masuk.
"Aku suka sekali akan keberanian kalian Mr Demitri jika sudah masuk kemari maka kalian tau konsekuensinya kan." ucap Robin sambil meneguk wine yang ada ditangan nya.
"Tenang saja Mr Robin kami hanya ingin menyampaikan sesuatu saja kamu tidak perlu takut kami tak akan mengusikmu setelah ini." jawab Pak Bram.
"Kelihatanya terdengar penting katakanlah, jangan bertele tele aku tak ada waktu meladeni kalian." balas Mr Robin.
"Apa kamu tau jika Hana mengandung anakmu." ucap Pak Bram, hati Robin terasa tertusuk pisau ketika ada yang menyebut nama wanita yang selama ini dicintainya, Robin langsung menatap tajam ke arah tamunya.
"Siapa kalian berani menyebut nama wanitaku."ucap Robin dengan lantangnya. seketika Tama mengerti dan paham bahwa mr Robin sangat mencintai mami kandung Laras.
"Kalian jangan coba menipuku." hardik Robin.
"Katakan apa keuntungan kami jika menipumu Robin?"tanya Pak Bram.
"Kami tau bahwa kamu sangat mencintai Hana, dan Cinta mu pada Hana lah yang merubahmu menjadi pria kejam seperti ini." ucap Pak Bram lagi.
"Jangan sok tau kamu Bram." jawab Robin masih bertahan dengan sikap dinginya.
"Aku tau Robin kamu bukan tipe pria yang kejam, bagaimana jika aku tau dimana Hana dan juga putrimu sekarang?" Pak Bram mencoba memberi penawaran pada Robin.
"Apa maksudmu putri, aku punya putri hah...dan Hana, bukan kah nyawa Hana sudah habis ditangan Herman dan juga Lusi." ucap Robin penuh percaya diri.
"Dari mana kamu tau jika yang melenyapkan Hana adalah Herman dan juga Lusi, apakah Luna yang menghasutmu?" tanya Pak Bram.
__ADS_1
Robin tak menjawab dia hanya diam dan meneguk wine nya lagi.
"Robin Robin mau sampai kapan kamu percaya dengan rubah betinamu itu hah, jangan bodoh Robin tidak merasakah kamu jika kamu hanya dan manfaatkan olehnya, bahkan kamu hampir membunuh putri kandung dan juga menantumu sendiri." ucap Pak Bram sesinis mungkin.
"Apa maksudmu?"tanya Robin pemasaran.
"Aku sekarang mengerti bahwa selama ini kamu dibawah pengaruh Luna, sebenernya malam itu Hana tidak meninggal Robin, yang ada dimobil Hana itu sebenernya temanya. Malam itu memang Lusi yang membawanya, Lusi yang menyelamatkan kekasihmu dari tindakan papanya karena dia tak terima Hana hamil diluar nikah, Lusi menyembunyikan Hana diruang bawah tanah rumahnya agar tak ketahuan boleh papa mereka, kamu tau sendiri bahwa om Joko sangat ketaat pada aturan dan harga diri bukan." cerita Pak Bram membuat hati Robin goyah.
"Jangan bertele tele dimana Hana dan putriku sekarang?" tanya Robin dengan suara yang melemah.
"Sabar Robin aku belum selesai bercerita ( pak Bram mengela nafas dalam dan kembali melanjutkan ceritanya). ketika usia kandungan Hana memasuki bulan ke 8 Hana melakukan percobaan bunuh diri dia banyak kehilangan darah saat itu Robin, dan tim dokter hanya bisa menyelamatkan putrimu tapi tidak dengan Hana." ucapan Pak Bram membuat muka Mr Robin memerah, matanya berkaca kaca, dia membayangkan betapa menderitanya kekasihnya saat itu.
"Ya Tuhan apa yang aku lakukan." Hati Robin benar benat hancur saat ini, meskipun dia pria arogan ternyata di sudut hatinya masih tersimpan isi kelembutan seorang pecinta sejati.
"Apakah kamu tau Robin kenapa Luna memanfaatkan kebencianmu pada Herman dan Lusi yang kamu anggap bersalah itu?" tanya Pak Bram.
"Tidak." jawab Robin sambil mengangkat wajahnya menatap mantan sahabatnya dengan lekat.
"Ternyata Luna adalah mantan kekasih Herman, cinta mereka tak direstui oleh om Joko itu yang membuat Luna murka dan menanamkan kebencian yang berlebih terhadapmu, dan Luna aku akui sangat hebat sebab dia berhasil, bahkan kamu hampir saja membunuh darah dagingmu sendiri karena hasutan nya bukan." ucapan Pak Bram sedikit membuat Robin bingung.
"Siapakah anak yang kamu maksud, apakah seorang gadis yang dibesarkan oleh Lusi dan Herman?" tanya Robin serius.
"Kamu benar Robin dia putrimu, Herman dan Lusi tidak dikarunia momongan, yang dia besarkan adalah putrimu, yang kamu biarkan ketika disiksa oleh Luna, bahkan kamu mengizinkan preman suruhanmu untuk memperkosanya, tapi Tuhan masih melindunginya Robin, preman suruhan Luna itu sama sekali tak menyentuhnya bahkan melindunginya tanpa sepengatahuan Luna." jawaban Pak Bram bagaikan petir disiang bolong yang menyambar hati Robin, Robin langsung memegang kepalanya sangking terkejutnya.
"Ya Tuhan apa yang aku lakukan." Mr Robin duduk mematung disofanya dia sangat terkejut mendengar kabar yang dibawa oleh mantan sahabatnya ini.
"Aku harap kamu bisa mengambil tindakan atas apa yang Luna lakukan pada putrimu Robin, dan ya satu jangan kamu coba coba menyentuh putraku ini karena dia adalah cinta dan hidup dari putrimu, aku harap kamu paham dengan kata kataku Robin, selamat siang." ucap Pak Bram langsung mengajak Tama segera keluar dari istana milik Robin.
Tinggalah sekarang si Mr Arogan dengan seribu penyesalanya, dia terus berfikir andai waktu bisa diputar kembali dia pasti akan memperjuangkan wanita yang sangat dicintainya, apa lagi saat itu Hana sedang mengandung buah cinta mereka.
Bersambung....
__ADS_1