PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Berahirnya Hubungan


__ADS_3

Sharon dan Rosi tetap siaga dibelakang Laras, mereka terus menjaga keseimbangan Laras, entah mengapa ketika melihat mata sayu Laras disudut hati terdalam Tama ada sedikit rada iba, tapi sayang lagi lagi emosi tetap menguasai jiwanya, Tama memasukan kedua tangan nya disaku celananya, mata mereka saling menatap lagi Tama menghela nafas dalam dalam lalu kembali mengeluarkan suaranya.


"Maaf Ras aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, aku harap kamu paham dan menyadari kesalahanmu terlalu dalam rasa sakit yang kamu berikan padaku, aku yakin kamu tau kenapa aku semarah ini sama kamu aku selalu berharap kamu jadi istri terbaikku selalu siaga menjaga buah hati kita tapi apa kamu tega meninggalkanya disaat dia sakit, kalau kamu bilang kamu sayang sama buah hatiku kamu bohong Ras aku tidak percaya, kamu tidak bisa menjaga apa yang aku amanahkan padamu lalu masih pantaskah kamu disebut sebagai istriku, maka dari itu pergilah aku tak membutuhkanmu." selesai mengucap apa yang ada di pikiranya Tama pun kembali lagi kekamarnya, orang yang pertama kali memeluk Laras malah sus pengasuh Zia.


"Ibuuuukkkkk maafkan saya bu maaf bu." tanggis sus sambil mendekap tubuh Laras.


lamunan Laras terdadar oleh tangisan pengasuh putrinya.


"Ga papa sus ini adalah musibah siapapun yang menjaga Zia saat itu jika itu terjadi maka terjadilah kita tidak ada kuasa apa untuk melawan kehendak Nya." ucap Laras, bik Marni yang menemani dan menjadi saksi hidup perjuangan Laras mengandung dan melahirkan serta menjaga baby Zia pun memangis menjadi jadi, dia pun ikutan menangis.


"Non yang sabar ya, non ga seperti yang aden bilang non sangat baik non juga sangat sayang sama dedek Zia, jangan pikirkan apa yang aden katakan tadi ya non kan hanya kita yang tau bagaimana non mengandung dan melahirkan non harus kuat non pasti bisa." tanpa sengaja ucapan bik Marni memberikan tamparan keras pada kedua orang Tama, dengan lirikan kebencian bik Marni berani memberikan protesnya pada mami Arini dan Papi Bram, dia seperti seorang ibu yang anaknya disakiti, Laras menganguk mengiyakan ucapan bik Marni.


"Bik, sus terimakasih banyak buat kalian yang selama ini sudah bantu saya menjaga saya dan Zia, Zia pasti juga berterimakasih sama kalian sekarang tolong bantu saya sekali lagi ya tolong doain Zia terus semoga dia tenang disana dan mendapat mengasuh yang baik seperti kalian." ucap Laras pada kedua pekerjanya, mereka kembali saling memeluk dan menangis.


"Non pokoknya dimanapun non berada jika butuh bibik non telpon saja, non jangan hapus nomer bibik ya non kita sudah janji kan bahwa bibik boleh kerja sama non kapan pun bibik mau." Laras kembali tersenyum kasih sayang bik Marni untuk nya tidak diragukan lagi.


"Insya Allah bik jika Tuhan berkehendak kita pasti ketemu lagi, sekarang Laras bukan istri mas Tama lagi berarti Laras ga bisa tinggal disini Laras minta maaf ya bik jika selama kita bareng Laras suka ngrepotin bibik." tangan mereka masih saling memegang baru kali ini mereka melihat hubungan seorang asisten rumah tangga dengan majikan melebihi sama seperti hubungan ibu dan anak.

__ADS_1


"Sudah tugas bibik non, non jaga diri baik baik ya sangat sakit lagi setelah ini." peluk bik Marni.


"Insya Allah bik." Seisi ruangan itu hanya mematung tapi tak ada satupun orang disana yang tidak menangis semua mengeluarkan air mata bahkan si raja singa yang arogan pun ikutan menangis.


Laras kembali memeluk kedua pekerjaannya senyuman mereka menandakan putusnya hubungan yang mereka jalin selama ini.


Laras berjalan mendekati kedua mertuanya.


"Mi pi Laras minta maaf jika selama Laras jadi mantu mami dan papi Laras hanya memberikan rasa khawatir pada kalian, Laras juga minta maaf tak bisa menjaga apa yang menjadi kebanggaan kalian Laras minta maaf mi pi." tubuh lemas Laras ambruk di pelukan mami Arini, Laras hampir pingsan tapi Laras masih memotifasi dirinya sendiri untuk sadar.


"Tidak nak kamu tetap anak dan mantu terbaik mami, Laras dengar?" ucap Mami Arini Laras mengangguk tanda mengerti sekaligus mendengar. Laras kembali berdiri tegak dia menghapus air matanya.


"Ayo Ras." jawab Rosi sambil menggandeng dan memapah Laras, Sharon pun dengan setia membantu Laras.


Semua orang yang ada didalam rumah itu mengantar kepergian Laras dengan perasaan mengharu biru dengan jantung yang berdetak penuh emosi, terlebih Mami Arini dan juga Aldo ingin sekali rasanya mereka menampar muka Tama hingga sadar.


Melihat kepergian Laras om Robin langsung meminta anak buahnya untuk membuntuti kemana putrinya pergi, kali ini dia tidak mau kehilangan putrinya lagi terlebih sekarang Tama sudah melepaskanya itu berarti sekarang Laras adalah tanggung jawabnya.

__ADS_1


"Bram bisa kita bicara." bisik Om Robin ditengah tangis para orang orang yang menyesali apa yang terjadi sekarang.


"Ada apa Bin." jawab Pak Bram tapi masih mengikuti langkah Robin, lalu sampailah mereka diteras belakang rumah Laras.


"Bram tanpa Tama sadari dia sudah menjatuhkan talak satunya pada putriku yang itu artinya mereka sudah tidak ada hubungan suami istri lagi dan secara tidak langsung diapun mengembalikan tanggung jawabnya kepadaku dan sebagai orang tua kandung Laras melewati kamu akupun menerimanya Bram." ucap Om Robin, kalau boleh jujur saat ini pak Bram sungguh sangat malu dengan apa yang putranya lakukan pada putri sahabatnya.


"Maafkan kebodohan putraku Bin." balas pak Bram dia tak bisa mengeluarkan kata kata lagi selain itu.


"Tak apa Bram, mungkin jodoh mereka hanya sampai disini kita sebagai orang tua hanya bisa berharap dan mendoakan selebihnya mereka yang menjalani." Robin terlihat sangat bijak dalam berfikir, tak sedikitpun ada rasa benci yang dia perlihatkan pada keluarga sahabatnya.


"Kalau boleh jujur aku sangat malu padamu Bin, terlebih pada mendiang Herman dia sudah menitipkan putri kesayanganya padaku tapi apa aku hanya bisa memberikan neraka padanya." ucap pak Bram penuh penyesalan.


"Semua akan baik baik saja Bram, aku akan menyembuhkan luka putriku percayalah dan iya jika Tama sudah siap dengan surat cerainya suruh kuasa hukumnya menemuiku kamu mengerti maksudku kan, aku tak ingin melihat putriku menangis lagi karena ini." pinta om Robin serius.


"Baiklah Bin jika itu yang kamu mau tapi aku masih berharap jika mereka bisa rujuk lagi." pak Bram pun menyuarakan keinginannya.


"Baiklah Bram ternyata hubungan perbesanan kita cukup sampai disini." Om Robin mengulurkan tangan nya dengan ragu pak Bram membalas uluran tangan itu.

__ADS_1


"Maafkan keluargaku Bin, sampai kapanpun putrimu adalah putriku." jawab Pak Bram, om Robin hanya tersenyum kecut dan melangkah pergi meninggalkan pak Bram yang berdiri mematung menyesali perbuatan putranya.


Bersambung...


__ADS_2