
Robin menyadari kebodohan nya, selama ini dia lengah dia mengira Luna sudah jinak, dia sangat tak menyangka bahwa selama ini diam diam Luna berencana menghancurkanya, mendengar cucunya diculik Robin langsung menyebar anak buahnya untuk mencari akar dari masalah yang menimpa putrinya.
Kali ini tak mudah bagi Robin untuk menembus dinding pertahanan Luna, ternyata saat ini yang ada dibalik Luna adalah musuh besar Robin, tapi Robin adalah si singa jantan yang perkasa, dia tak gentar dengan apapun meski dia berhadapan dengan king cobra sekalipun, Robin masih bisa tertawa ketika melihat Luna dengan wajah barunya sedang menari erotis disalah satu club milik musuh bebuyutan Robin, pasukan Robin yang setia jauh lebih banyak dari dugaan mereka.
Dengan senyum liciknya Robin memerintah para anak buahnya untuk menyeret Luna kehadapan nya.
....
Tak terasa seminggu sudah Zia diculik dan sampai saat ini keluarga Demitri dibantu pihak kepolisian belum menemukan jejak para penculik Zia.
Tama semakin stres dan tertekan, cintanya pada putrinya telah membutakan mata hati Tama akan sebuah kebenaran, dia semakin menyalahkan Laras atas semua yang terjadi pada dirinya dan putrinya, rasa bencinya pada Laras pun semakin menggunung.
Disisi lain Laras masih dalam masa kritisnya. dia sering menangis dalam lamunanya dia sangat merindukan putri semata wayangnya.
Kabar duka diterima oleh keluarga Demitri, pihak kepolisian telah menemukan mayat sesosok bayi yang ditemukan di dalam kardus disalah satu TPU dibilangan Jakarta Timur, mereka menduga itu adalah mayat Zia, mayat itu terlihat sudah bengkak dan membusuk, yang membuat mereka yakin bahwa mayat itu adalah mayat Zia adalah kesaksian suster pengasuh Zia, baju yang dikenakan Zia terahir kali adalah baju itu, sepatu dan juga juga gelang pemberian oma Arini yang bertuliskan nama Nazia, Keluarga Demitri sangat shock terlebih lagi Tama, dia menangis meraung raung ketika peti jenazah putrinya sampai dirumah.
Tak lama berselang datanglah Laras didampingi oleh Aldo dan Psikiaternya, Laras terlihat sangat lemas jangankan untuk menagis lagi berdiripun dia tak ada tenaga, berkali kali dia pingsan namun tak ada sedikitpun rasa iba dari Tama, Tama malah semakin muak dengan apa yang terjadi didepan mata nya.
Tama tak mengizinkan Laras berada satu mobil dengan jenazah putrinya, Keluarga Demitri tak bisa memaksakan ini mereka takut kemarahan Tama akan meledak, ahirnya mereka pun membawa Laras naik ke mobil Aldo, dipelukan Rosi dan Sharon Laras terus saja mengeluarkan air matanya tanpa suara, entah apa lagi setelah ini Laras tak mampu lagi berandai andai apalagi berfikir.
Laras menjerit histeris ketika peti jenazah putrinya dimasukan keliang lahat berkali kali Laras dan Tama pingsan, Robin hanya mampu melihat semua ini tanpa bisa berbuat apa apa, karena dia sendiri juga belum yakin akan dugaanya.
Selesai dari tempat pemakaman Zia Laras dan Tama langsung dibawa pulang kekeluarga mereka, untuk saat ini papi Bram dan seluruh keluarga sepakat untuk memisahkan kamar Laras dan Tama, mereka tak mungkin membiarkan mereka satu kamar mereka takut Tama akan berbuat nekat mengingat ancaman yang diberikan Tama pada Laras sangat menakutkan.
__ADS_1
"Kak minum dulu." ucap Sharon sambil membantu Laras bangun, tapi Laras masih meringkuk diranjang kamar tamu rumahnya, dia sama sekali tak mau merespon siapapun yang ada didekatnya, ditemani oleh Rosi dan Sharon Laras pun masih tak bergeming.
Disisi lain Aldo dan papi Bram masih belum berani mendekati Tama, saat ini Tama dalam mode yang sangat berbahaya dia bisa melakukan apapun yang dia kehendaki.
Diruang tamu ada om Robin dan juga om Bram yang sedang mengintrogasi suster pengasuh Zia, dia sendiri juga kaget dan shock dia merasa sangat bersalah atas ini.
"Bin sebaiknya kita sudahin pertanyaan ini sepertinya dia shock, takutnya jiwanya juga terguncang." ucap Pak Bram.
"Hemm." jawab Robin sesingkat mungkin.
Kemudian Pak Bram meminta bik Marni untuk membawa pengasuh Zia kekamar untuk menenangkan diri, belum sampai kekamar mereka dikagetkan dengan suara pintu yang ditutup dengan sangat keras membuat semua orang yang ada dirumah itu menjadi terkejut.
"Ada apa lagi ini." ucap pak Bram.
"Dimana wanita sialan itu?" Tanya Tama pada semua orang yang ada dirumahnya, dia tak melihat tangan Robin sudah mengepal siap menghajarnya karena berani mengatai putrinya wanita sialan.
Aldo berisiap menghadang abangnya begitu juga Pak Bram tapi ini adalah Tama dia selalu hidup dalam pikiran piciknya.
"Keluar kamu wanita sialan." teriak Tama, Laras yang mendengar teriakan Tama seketika bangun, dia merasa suara itu adalah perintah baginya, Sharon dan Rosi sudah berusaha menghalangi Laras keluar tapi dengan tenang Laras menjawab larangan mereka.
"Tak apa aku sudah siap dengan apapun yang terjadi padaku, kalian tak usah takut." ucap Laras.
"Tapi kak bang Tama lagi marah ini bahaya buat kakak." balas Sharon.
__ADS_1
"Lebih baik aku mati ditanganya Shar dari pada aku hidup seperti ini." jawab Laras sambil memakai sendalnya.
"Kak jangan keluar." cegah Sharon lagi.
Tersengar Tama menggedor pintu kamar yang ditempati Laras dan kembali berteriak.
"Laras keluar kamu pertanggung jawabkan kesalahanmu." teriak Tama lagi.
"Bang sabar ini juga bukan sepenuhnya salah kak Laras, ini musibah bang." Aldo berusaha meredam emosi abangnya.
"Kamu tidak tau masalahnya maka lebih baik kamu diam " Bentak Tama.
Tak lama Laras pun membuka pintunya, dengan langkah gontai Tama mendekati Laras, kedua tangan Tama dipegang oleh Aldo dan pak Bram mereka takut Tama akan menyakiti Laras.
Mata mereka bertemu dengan senyum kebencian nya Tama mulai membuka suaranya.
"Aku sudah bilang kan jika sesuatu terjadi pada putriku maka aku akan menghancurkanmu apa kamu ingat hah." suara Tama yang awalnya halus menjadi meninggi, Laras hanya diam meski kakinya sudah tak kuat menyangga berat badanya dia tetap berusaha berdiri tegak dan mendengarkan apa yang suaminya ingin kan.
"Tam sabar Laras juga terluka." bisik Pak Bram, disebrang sana ada seorang ayah yang tak tega melihat putri semata wayang nya diperlakukan lebih buruk dari seekor binatang posisinya sebagai seorang istri dan ibu telah diijak injak oleh suaminya sendiri oleh orang yang sangat dicintai putrinya, namum om Robin lagi lagi tak bisa berbuat apa apa terlebih saat ini ada istri dihadapanya, jika dia turun tangan maka berarti dia melanggar lagi sumpahnya pada Laras untuk merahasiakan status hubungan mereka.
Dia berfikir penderitaan yang diterima putrinya sudah cukup sampai disini, dia tak mau menambah lagi beban Laras dengan sifat egoisnya.
Bersambung..
__ADS_1