
Tiga hari berlalu Tama sama sekali tak memberi kabar pada Laras, tentu saja membuat dia kebingungan, apa yang terjadi sebenernya, dia ingin menghubungi asisten pribadi suaminya tapi sayang dia tak memiliki nomer kontaknya. Laras menghembuskan nafas dengan kasar.
"Kemana sih kamu suamiku, Aku kangen tau.?" Laras mondar mandir lagi dikamarnya, pikiranya buntu, ga mungkin kan dia tanya pada kedua orang tua Tama, yang ada nanti mereka malah curiga.
Laras segera bersiap siap untuk berangkat ke kantor, siapa tau Tama sudah ada dikantor, semoga dia sudah ada dikantor, doanya.
Laras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pikiranya masih saja berkecambuk tak menentu, gelisah karena tak mendapat kabar dari orang yang sangat dicintainya.
Laras memarkirkan kendaraanya di parkiran khusus kariawan disana, tak sengaja Laras berpas pasan dengan Izal.
"Pak Izal." Panggil Laras sambil berlari kecil mendekati asisten suaminya., Izal pun menoleh.
"Dimana suamiku?. "Laras tak bisa lagi menahan perasaanya.
"Maaf non saya kurang tau. "Laras tau dia bohong.
"Plis pak, aku mohon, aku sudah menunggunya dari tiga hari yang lalu, bahkan dia berjanji langsung kerumah begitu dateng. tolong kasih tau aku dimana suamiku. " Laras mengucapkan itu semua dengan berlinangan air mata, membuat Izal tak tega.
"Aku mohon pak Izal, jangan membuatku seperti ini, jika aku ada salah biar kami selesaikan, apa bapak ga kasihan dengan kami. " Ucapan Laras hampir membuat Izal goyah.
"Tapi non saya beneran ga tau. "Izal masih berpegang pada kesetiaanya.
"Jika terjadi sesuatu pada suamiku aku tidak akan segan segan melaporkanmu pada polisi." Laras berusaha mengancam, ini pekerjaan yang tidak masuk akal berada ditengah tengah pertengkaran suami istri
Izal bingung harus jawab apa.
"Non. "
"Cepat kasih tau kalo ga treak ni. "Laras tak kehabisan akal.
__ADS_1
"Oke oke, astaga, pak Tama ada diapartemenya. "Jawab Izal.
"Antarkan aku kesana? ."Pinta Laras, duh gimana ini matilah aku batin Izal.
"Tapi non saya banyak pekerjaan, bentar lagi saya rapat. "Jawab Izal, Laras tak terima dengan penolakan Izal.
"Oo, kamu alasan ya, beneran treak ni. " Ancam Laras lagi, Izal ga ada pilihan lain selain mengantarkan Laras pada Tama.
Diperjalanan menuju apartemen Tama, Laras hanya diam, batin Izal kalian emang cocok, ga banyak ngomong tapi tukang ngancem.
"Udah sampai non. "Ucap Izal.
"Ooo, jadi dia tinggal disini."
Izal terkejut apa istrinya ga pernah kesini, aneh, kalian ini suami istri apa pacaran sih. Izal melirik majikan perempuanya dengan heran.
"Apa non belum pernah kesini sebelumnya?."
"Cepet turun antarkan aku ketempatnya. "Izal berasa nasibnya diujung tanduk, terlanjur basah, udah kena marah ya udah kena marah sekai lagi ga masalah.
" Kuatkan hatimu Zal."Ucapnya untuk dirinya sendiri sambil mengikuti langkan istri bosnya.
"Cepat. "Hardik Laras tak sabar.
"Iya non ini saya jalan, non matilah saya sekarang." Ucap Izal khawatir dengan nasipnya sendiri.
Laras tak menghiraukan ucapan Izal, dia terus saja memantapkan niatnya, bertemu dengan suaminya dan bertanya apa yang membuat Tama menghindarinya.
Didepan pintu Tama, Laras meminta Izal untuk memencet bell untuknya, karena jika dia yang mengetuk dia yakin Tama tak akan membukakan pintu untuknya, tak lama Tama pun membukakan pintu, Izal disambut dengan muka kesal oleh big bosnya, ruh nasib gue yang istri galak yang laki serem, kalian kenapa sih, huuff Izal menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Apa lagi? ."Hardik Tama kasar, Izal belum sempat menjawab tapi Laras sudah menerobos masuk.
"Lo ga denger omongan gue ya."Tama marah pada asistenya. Izal hanya diam, percuma baginya sekarang jika ingin membela diri.
"Kamu pergi aja Zal, biar aku yang ngadepin pria tukang menghindar ini. "Ucap Laras.
"Tapi non. "Tentu saja Izal takut jika Tama melakukan hal yang pernah ia katakan, karena dia paham kenapa Tama marah pada istrinya.
"Ga papa, dia ga akan bunuh aku."Jawab Laras meyakinkan Izal, ahirnya Izal pun menurut, dia pun meninggalkan suami istri yang sedang bersitegang itu.
Tanpa bicara Laras langsung duduk dan menaruh tas nya disofa, Laras melipat kedua tanganya didada, Tama tak menghirukan istrinya, Tama memilih masuk kamar dan menguncinya. Laras tak perduli dia tak mengejar Tama, Laras membiarkanya.
"Aku mau tau sampai kapan kamu bakalan ngunci diri dikamar, dasar pria aneh, punya masalah ma diselesaikan bukanya malah kucing kucingan kayak anak kecil. "Guman Laras.
Hampir satu jam Laras menunggu, namun Tama tak jua keluar dari kamarnya, Laras memutuskan untuk mengetuk pintu itu.
Tok tok tok..
"Be buka pintunya dong, kamu kenapa sih? ."Laras merasa bingung dengan keadaanya sekarang.
"Be, plis kalo kamu ada masalah katakanlah, jangan menghindar, aku mohon. " Tama masih saja diam tak menjawab
"Be kalo aku ada salah aku minta maaf, tapi kasih tau dulu apa salahku be."
Laras mengetuk pintu kamar Tama lagi.
Tok tok tok
Laras mendengar suara langkah kaki mendekat, Tama membukakan pintu untuk Laras, tanpa berkata apapun Laras langsung memeluk suaminya.
__ADS_1
Tama tak membalas pelukan itu, dia sangat dingin, Tama membuang mukanya tak menghiraukan tatapan mesra istrinya.
***Bersambung***