
Menjelang pagi Laras dipindah keruang perawatan, dengan setia Tama terus saja mendampinginya, bahkan kedua orang tua Tama dan Aldo sudah ada disana menunggu kedatangan Laras dikamar yang sudah Tama pesan untuknya.
"Ras selamat ya, mami sama papi seneng banget." Mami Arini memeluk Laras yang masih terbaring lemah.
"Makasih mi, pi." jawab Laras.
"Selamat kak, ahirnya aku jadi uncle juga hehehe." goda Aldo.
"Makasih pak Al." jawab Laras.
"Kok pak sih Kak, panggil aja Al atau ga uncle Al juga boleh." goda Aldo, Laras hanya membalasnya dengan senyuman.
"Bang babynya udah di azanin belum?" tanya Aldo.
"Udah diruang bayi barusan pas kakakmu dibersihkan tadi." jawab Tama.
"Oo."
"Ras, mami seneng banget mami udah jadi oma." Mami Arini tersenyum lebar pada menantinya, Laras membelas senyuma itu.
"Papi udah jadi opa mi, makasih banyak ya Ras, oia mi kasih hadiah mi jangan lupa, apa aja yang Laras minta kasih mi." ucap Pak Bram ikutan antusias.
__ADS_1
"Ga usah pi, Laras minta doanya aja biar Laras sehat terus bisa jaga dedek sampek mandiri pi." jawaban Laras seolah memberi tamparan pada hati Tama, seketika Tama ingat ucapanya sebelum Laras melahirkan, sekarang Tama merasa dirinya begitu jahat, dia berjalan mendekati istrinya, tanpa kata Tama kembali mencium kening Laras, kali ini Laras tak menolaknya karena didepan mereka ada mami dan papi Tama, Laras pun hanya diam tanpa kata meski hatinya menangis, Laras bingung dengan apa yang Tama inginkan, suasana menjadi hening, semua terasa dingin.
"Selamat ya bang ahirnya jadi bapak." Aldo memeluk abangnya mencoba mencairkan suasana.
"Makasih Al." Aldo berfikir omonganya berhasil dia pun tenang dan senang, padahal pada kenyataanya abang nya malah berfikir terbalik denganya.
"Bang kamu belum cerita lo ke kita kok kamu yang ngantar Laras kerumah sakit, emang kalian udah baikan udah ga marahan?" tanya mami Arini.
"Udah ga mi kami udah baikan, masalah diantara kami udah selesai ko mi, mami tenang aja." jawab Tama, Laras hanya diam dia malas membahas apapun dengan Tama sekarang, dia merasa matanya sangat berat beberapa kali dia menguap.
"Baguslah, udah jangan berantem lagi terlebih sekarang udah ada dedek bayi diantara kalian jika ada masalah diselesaikan dengan baik. kamu juga bang jangan terlalu kaku jadi orang." tambah mami Arini lagi masih berusaha mengingatkan putra kolotnya.
"Iya mi, Tama ngerti." jawab Tama.
"Kata suster dua jam lagi pi, Laras di suruh istrirahat dulu." jawab Tama.
Mami mengerti jika putra bungsunya menginginkan waktu lebih itu sebabnya dia mengajak papi Bram dan Aldo untuk pulang dulu.
"Ya udah papi sama mami pulang dulu ya bang, adekmu juga capek itu mami bawain baju ganti, kamu mandi dulu aja biar seger."
"Baik mi makasih ya, Al abang titip kantor sementara ya bilang Izal tolong kosongkan jadwalku untuk satu minggu kedepan aku mau nemenin anak sama istriku." pinta Tama, sekali lagi Laras tak perduli dengan apa yang suaminya mau, Laras menilai bahwa suaminya memang labil akut, malas rasanya meladeni sifat aneh nya itu
__ADS_1
"Siap pak bos laksanakan." ucap Aldo.
Orang tua Tama dan Aldo pun pamit, tinggalah diruangan itu dua insan yang berbeda pemikiran tapi sebenernya satu hati.
Tama menatap wajah Laras, mengelus rambut istrinya ketika Tama mendekatkan wajahnya hendak mengecup bibirnya Laras memalingkan mukanya hingga ciuman Tama mengenai pipi bagian bawahnya, Laras memiringkan tubuhnya memunggungi Tama, Tama mengerti jika Laras telah terluka olehnya, jika Laras sekarang marah padanya itu wajar toh dia memang salah, untuk saat ini Tama tak ingin memaksakan kehendaknya, dia takut nantinya Laras akan tambah terluka.
Tama memilih membersihkan dirinya, rasanya sangat tak nyaman dari kemarin pulang kerja sorenya mampir kerumah Laras dan semalaman utuh dia menemani istrinya berjuang untuk melahirkan buah hatinya.
Laras mendengar suara gemricik air dari kamar mandi, dia tau pasti Tama sedang mandi, Laras menangis dalam diam nya dia benar benar kuwalahan sekarang menghadapi Tama, sebentar dia baik sebentar dia cuek sebentar dia minta ini lalu sedetik kemudian dia mengubahnya menjadi ini, Ya Tuhan aku harus bagaimana menghadapinya.
Laras memejamkan matanya ketika mendengar suara pintu kamar mandi dibuka, Laras menyadari jika Tama mendekatinya, dengan lembut Tama mencium keningnya, membetulkan selimut yang menutup tubuhnya, setelah itu Tama pun merebahkan dirinya diranjang sofa rumah sakit yang disediakan khusus untuk yang menjaga pasien, Laras membuka mata pelan dan melihat Tama berbaring disana.
Laras membenci dirinya sendiri sekarang, kenapa dia tak bisa menahan perasaanya untuk tidak melihat pria yang dicintainya, yang dirindukanya, padahal pria ini jugalah yang telah banyak menyakitinya. ingin rasanya Laras berlari menjauh dari Tama, tapi apa perasaan cintanya lebih besar dari itu.
Laras tak bisa memungkiri bahwa dia sangat merindukan dekapan Tama, merindukan kasih sayang yang pernah Tama berikan, Tama adalah sosok yang romantis dan hangat sebelum kesalah pahaman menyerang hubungan mereka, air mata Laras kembali menetes ketika mengingat keinginan Tama untuk berpisah darinya setelah ini, Laras sudah bertekat dalam hatinya, dia sudah pasrah jika memang ini jalan terbaik untuk hubungan mereka kenapa enggak.
" Sudah lah Ras kamu jangan membuat berat posisimu sekarang, bukankah kamu sudah biasa sendiri, bukan kah kamu sudah biasa tak diinginkan lalu apa yang kamu takutkan, semua akan baik baik saja Ras, anakmu tidak akan sendiri kan ada kamu yang akan selalu menemaninya heemmm, percayalah Ras kamu pasti bisa membesarkan putrimu tanpanya bukan kah dari awal kamu sudah tau apa yang akan terjadi, lalu kenapa kamu berani jatuh cinta padanya hah, itu konsekuensi yang harus kamu terima jika berani jatuh cinta, mencintai seseorang yang tidak menginginkanmu itu memang sakit Ras bukankah kamu sudah mengerti itu bodoh sekali." bisikan dan umpatan sanubarinya telah membuka lagi luka lama yang selalu dia rasakan, Laras mengusap kasar air mukanya, sekeras apapun dia menolak tetap saja cinta nya pada Tama berasil mempora porandakan seluruh emosinya.
Laras benar benar tak bisa tidur meskipun dia sudah memaksa matanya terpejam, dia malah duduk dan memperhatikan Tama yang sedang menikmati alam mimpinya, Laras menatap wajah teduh Tama ketika terlelap.
"Dia memang tampan bahkan sangat tampan andai aku ditakdirkan menjadi pendampingmu seumur hidup ku mas aku rela tapi sayang itu tak akan pernah mungkin." guman Laras dalam lamunanya.
__ADS_1
Bersambung....