
Pagi itu Laras bangun dengan perasaan yang sangat nyaman, Tama sudah pamit dari tadi malam karena memenuhi janjinya pada mami dan Aldo untuk penjaga papinya dirumah sakit, Laras sudah bersiap dengan mobil baru yang Tama kirim kemarin.
Dalam perjalanan ke kantornya Laras terus membayangkan betapa bahagianya hubungan yang ia jalani bersama suaminya, kali ini Laras tampil lebih cantik dan modis, mengingat setiap hari setiap saat suaminya akan menghampirinya, sayang nya sampai sekarang mereka belum sempat bertukar nomer hape, entah lupa apa sengaja yang jelas mereka lebih nyaman bertemu secara tiba tiba.
....
Disini bukan hanya Laras yang suka membayangkan hubungan manis mereka, Tama pun bangun tidur dengan begitu bahagianya, setelah berpamitan dengan mami papinya Tama pun bersiap berangkat ke kantor, dengan baju yang sudah ia siapkan sebelumnya di mobil, Asisten barunya juga sudah bersiap dibelakang kemudi, Tama keluar rumah sakit dengan begitu gagahnya, banyak pasang mata terkagum kagum dengan pria berdarah campuran Indo Jepang ini. Big bos LUCAS compeny ini memang mengagumkan, mau dipandang dari sebelah manapun dia tetap wow.
Izal sang asisten barunya tersenyum sambil membukakan pintu untuk big bosnya.
"Pagi pak". Sapa Izal.
"Pagi Zal, gue mau duduk depan aja bareng sama elo". Ucapan Tama membuat Izal menilai bahwa sifat arogan bos nya hanya pura pura.
"Siap pak". Jawab Izal, Izal pun memutari mobilnya dan bersiap dikursi kemudi. Izal melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Jadwal gue hari ini apa Zal". Tanya Tama, Uwiihhh si bos, jadwalnya suruh gue inget diluar kepala bro, harus extra siaga ngadepin doi, batin Izal.
"Jam 8 rapat dengan pemegang saham, Jam 11 Ketemu dengan pemilik konveksi yang bakalan menghendle barang kita pak, jam 3 kita ke pabrik pak". Jawab Izal, Tama hanya menganguk agukan kepalanya.
"Jam 2 lo jangan ganggu gue oke, kalo ada yang cari bilang aja sibuk". Suruh Tama, heemmm pasti ketemu doi, bos sweet banget sih batin Izal, Tama sibuk memainkan ponselnya, dicarinya disana nomer Laras ternyata ga ada, mereka belum pernah bertukar nomer ponsel, Ya Tuhan, Tama tersenyum menyadari kebodohanya.
"Zal, udah ada cewek belum?". Tanya Tama.
"Belum mikir kesana pak". Jawab Izal.
"Belum bisa lupa sama mendiang istri?". Tanya Tama lagi. Izal hanya tersenyum.
"Santay aja bro, nanti kalo udah jodoh juga ketemu, kamu yang sabar aja". Tama ternyata bukan searogan dan sesengak seperti cerita Aldo sebelumnya.
"Insya Allah pak". Jawab Izal.
"Lo ama gue jangan pak pak, kalo pas formal aja, kalo lagi santai gini lo panggil gue abang juga ga papa". Suruh Tama lagi, tentu saja Izal ga seberani itu.
"Siap bos". Jawab Izal lagi.
__ADS_1
"Oia gue masih ada dendam ama elo". Tama mengingatkan Izal, Izal tau apa maksud bosnya.
"Ampun bos". Izal tersenyum.
"Awas aja lo kalo ga setia ama gue, gue sekarang bos lo bukan papi, apa lagi bocah sialan itu paham". Tama memang kadang dingin, kadang menyebalkan tapi sesekali juga kocak.
"Siap, ampun bos". Izal menghentikan mobilnya pas didepan lobi gedung perkantoran milik bos barunya, Izal membukaka pintu untuk bos besarnya, setelah itu ia pun memberikan kunci mobilnya pada satpam disana.
Belum ada sebulan kantor ini digemparkan oleh pergantian bos mereka dari pemilik lama ke pemilik baru, tentu saja bukan itu yang membuat para kariawati terpana melainkan ketampanan bos barunya beserta asisten pribadinya, sekarang lagi begitu bos baru mereka keluar mobil mata mereka berasa mendapat vitamin, ditambah lagi pemandangan baru yang mereka lihat pagi ini, ketampanan sang bos baru makin sempurna dengan pendamping baru bos mereka.
"Siapa lagi yang dibelakang bos kita, Ya Tuhan, indah banget ciptaanmu". Soal ghibahin cowok mereka memang jagonya.
Tama seakan sudah kebal dengan penilaian para perempuan terhadapnya, dia tak pernah perduli dengan apa yang mereka bicarakan tentangnya, Tama terus melangkah menuju lift yang akan membawanya keruangan kerjanya.
Dijalan Tama bertemu dengan Laras, dan kedua sahabatnya, langsung timbul ide jahilnya.
"Hay kamu bertiga". Panggil Tama pada Laras dan kedua sahabatnya, ini membuat Izal sedikit terkejut.
"Saya pak".Jawab ketiganya.
"Siapa diantara kalian yang desainya disetujui pada rapat kemari?". Tanya Tama dengan gaya bossy nya.
"Kamu ikut aku, sekarang". Laras menoleh kepada kedua sahabatnya, mereka malah mendorong Laras maju untuk mendekati bos mereka, mau ga mau Laras pun mengikuti Tama, Izal ingin ketawa, bisa bisaan ni bos batin nya.
Mereka bertiga pun memasuki lift khusus untuk Tama, sesampainya dilantai ruanganya Tama meminta sekertarisnya untuk mengantar Izal keruangan yang akan Izal tempati selama kerja dengannya, dan dia tak mau diganggu sebelum rapat dimulai, Izal sangat paham dengan maksud bosnya.
Tama membukakan pintu untuk istrinya, Laras pun masuk.
"Be, ada apaan, ntar aku telat absen nya". Ucap Laras sedikit kesal dengan Tama.
"Siapa bosnya disini".
"Kebiasaan, selalu begitu kamu ma be, tapi kan atasanku bukan kamu be, ayolah jangan gini, dirumah aja main nya". Rengek Laras, Tama gemas dan langsung melahap mulut istrinya yang sedari tadi mengomel.
Tama melepaskan pangutannya dan mengelap bibir istrinya dengan jari jarinya.
__ADS_1
"Be, kamu ma nakal, liptiknya ilang kan". Tama tersenyum sambil menatap mesra istrinya.
"Aku kan kangen be, biarin aja ga usah pakek lipstik, kamu tetep manis be". Tama membawa Laras ke kursi kebesaranya dan memangkunya.
"Be, udah ya, ini udah mau telat akunya". Laras terus berusaha lepas dari gengaman suami mesumnya.
"Bentar lagi sayangku, mana henfon". Pinta Tama.
"Mau ngapain?".Tanya Laras.
"Kita belum tukeran nomer lo be". memainkan rambut Laras dan menciuminya, ni orang kenapa sih, dulu aja bilang bau, sekarang aja seneng bener mainin rambut.
"Ya udah mana henfon kamu, habis ini lepasin aku ya". Tama memberikan ponselnya pada Laras, Laras pun mencoba membuka kunci layar ponsel suaminya. Laras terkejut kok foto mereka pas wedding jadi Walpeper diponsel suaminya.
"Be, kamu dapet foto ini dari siapa? " Tanya Laras sambil menunjukan layar ponselnya pada suaminya.
"Ada deh, tapi sayang disitu kamu ga senyum, kayaknya tegang banget, emang apaan sih yang kamu takutin? "Tanya Tama, Laras tak sadar jika Tama hanya mengulur waktunya.
"Ya takut ama kamu lah be, kamu aja galak ama aku, masak aku ditendang, malem udah kena pukul siangnya lagi kena marah plus tendang, emang kalian kenapa sih kalo ama aku pada galak, emang apa salahku? " Ketika mengucapkan semua itu mata Laras nerkaca kaca, membuat Tama ikut merasakan sakit yang belahan jiwanya rasakan. Tama pun memeluk istrinya dan mengusap lembut punggung Laras.
"Sssttttt, sayang maafin aku ya be, maaf banget, percayalah honey aku akan jadikan hidupmu sangat bahagia mulai sekarang heemm". Laras melepas pelukan Tama, Tamapun membantu istrinya mengusap air matanya.
"Udah sarapan belum". Laras menggeleng.
"Mau sarapan bareng heemmm". Tawar Tama.
"Ga be, aku bawa roti lapis tadi, kamu mau". Jawab Laras.
"Boleh". Larasbpun beranjak dari tempat duduknya dan membuka Tas yang berisi makan pagi dan siangnya. Tama tersenyum melihat kotak makan yang menurutnya begitu kecil.
"Tinggalkan semua kotak makan itu, aku mau, kamu kembalilah keruanganmu nanti aku pesankan makanan untuk kamu". Laras diam sambil melirik suaminya, dia ma semaunya sendiri, Laras malas membantah suaminya, dia tau dia ga akan menang.
Sebelum pergi Tama memberikan kecupan ringan dibibir istrinya, seperti mendapat tenaga lebih mereka pun sama sama semangat melalui hari ini, meski merasa berat berpisah tapi mereka tak ada pilihan lain selain menjalani ini.
****
__ADS_1
Hari ini juga Aldo bertolak ke Jepang karena harus mengantikan papinya dengan berbagai kesibukan disana, banyak jadwal papi yang tertunda karena cidera lutut itu. Aldo tak ingin mengecewakan kedua orang tua angkatnya, dia pun menjalankan amanah kedua orang tuanya dengan sepenuh hatinya.
***Bersambung***