PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Seharusnya Bahagia


__ADS_3

Keesokan harinya Laras sudah merasa enakan, empat hari mengurung diri dirumah tanpa melakukan apapun membuat badannya terasa lebih lemas tak bergairah. Laras bersiap siap untuk berangkat kerja, kali ini dia tak menyemprotkan parfum yang biasa dia pakai, dia malah memakai minyak telon di area perutnya agar tak mual, dia juga memasukan minyak itu kedalam tas nya untuk berjaga jaga.


Sesampainya dikantor kedua sahabatnya menyambutnya dengan hangat, terutama Siska yang suka menggodanya.


"Udah enakan buk? " tanya Siska.


"Sudah." jawab Laras sesingkat mungkin.


Jonathan masuk dan melewati meja Laras, seketika aroma Jonathan membuatnya merasa mual, Laras segera mengambil minyak telon ditasnya menuang ditanganya dan menciuminya, Sandra yang melihat itu langsung komen.


"Kenapa lo ngil (panggilan sayang Sandra buat Laras, simungil).?" tanya Sandra.


"Ga kenapa napa."jawab Laras dan mulai melanjutkan pekerjaanya, Laras sedikit tak tenang, aku ni kenapalah batinya, Laras pun segera mencari diinternet kira kira dia sakit apa kok rasanya sering mual, walau belum sampai muntah, betapa kagetnya Laras ketika mendapat jawaban atas ciri ciri sakit yang dia rasakan, HAMIL, hah, mungkin kah.


Dilihatnya kalender yang ada dimeja kerjanya, dihitungnya tanggal demi tanggal yang tertera disana, benar dugaanya sudah dua bulan ini dia tak kedatangan tamu bulananya, Laras tersenyum sendiri, semoga ini benar batin Laras.


Jika kabar ini benar seharusnya dia bisa gunakan untuk meluluhkan hati suaminya.


Laras melanjutkan pekerjaanya dengan baik, tak terasa hari sudah sore, dia ingin cepat pulang dan memeriksakam kecurigaanya kedokter kandungan.


Laras melajukan kendaraanya dengan tenang, dengan perasaan yang bahagia, berharap apa yang dia pikirkan menjadi nyata.


Setelah mendaftar dia pun mengikuti antrean untuk diperiksa, Laras melihat sekelilingnya, dia merasa sedikit iri dengan beberapa pasang suami istri yang terlihat manis menanti kehadiran buah hati mereka, Laras tersenyum dalam hatinya seandainya dia diposisi seperti itu pasti ini akan menjadi kebahagiaan yang luar biasa.


Giliran Laras diperiksa pun tiba, dia pun menyampaikan keluhan yang beberapa hari ini dia rasakan, dokter yang menanganinya pun paham dia tersenyum bersahabat, Laras segaja memilih dokter kandungan perempuan, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, mengingat betapa posesifnya suaminya, dan dugaan bu dokter yang menanganinya mengarah sama seperti pemikiran Laras sebelumnya.


"Untuk lebih pastinya saya akan memeriksanya ya bu, silahkan anda berbaring disitu. " Pinta sang dokter, suster pun membantu Laras berbaring, menaikan sedikit kemeja Laras bagian bawah, dokter memeriksanya dan tersenyum.


"Sus, siapkan USG kita cari tau sejak kapan dia hadir," ucap dokter pada asistenya.


"Dok, seriusan saya hamil.?" tanya Laras antusias.


"Insya Allah bu, kita cari tau pastinya ya, sudah berapa bulan ibu ga datang bulan?" tanya dokter.


"Seingat saya 2 bulan dok." jawab Laras.


"Oke." suster menuangkan gel kental diarea perut Laras, dokter mulai memainkan alat area sekitar perut Laras, dokter kembali tersenyum bahagian.

__ADS_1


"Bu, selamat ya ini baby anda." ucap sang dokter, Laras yang mengetahui dirinya hamil sangat bahagia, ingin rasanya dia loncat dari ranjang itu dan memeluk siapapun yang ada situ.


"Serius dok saya hamil, saya akan jadi mami dok? " tanya Laras bertubi tubi, air mata bening pun lolos disekitar sudut sudut mata indah Laras.


"Betul bu, usianya udah sekitar 10 minggu, masuk 3 bulan." jawab bu dokter.


"Makasih banyak dokter, Ya Tuhan, saya sangat bahagia Dokter( suster membantu Laras bangun dan merapikan bajunya), sus, aku bahagia, maukah kamu memeluku. " suster melihat atasannya memberi kode meminta ijin, dokter pun mengangguk tanda memberi ijin, suster itu Memeluk Laras dan mengusap usap punggungnya, Laras malah terisak dipelukan suster, apa ini kenapa aku malah menangis seharusnya aku bahagia bukan.


Suster melepaskan pelukanya dan tersenyum, senyum itu begitu tulus hingga sedikit memberi kekuatan untuk Laras bangkit.


"Makasih sus." ucap Laras.


"Sama sama bu, silahkan. "Laras pun segera berjalan dan kembali duduk di depan meja bu dokter. Dokter menuliskan beberapa resep Vitamin yang harus dia konsumsi agar dia dan bayinya selalu sehat.


"Bu dijaga ya dedek bayinya, jangan terlalu stres, kalau misalnya muntah, pusing, lemes itu wajar, hampir semua ibu yang hamil muda merasakan itu, oia ini saya tuliskan beberapa Vitamin, diminum ya bu, tekanan darah bu rendah, saya sarankan jangan terlalu stres, usahakan tidur teratur dan hindari begadang. " dokter itu memberikan beberapa nasehat yang harus Laras jalani, Laras yang hanya sebentar merasakan kasih sayang seorang ibu berasa memiliki ibu walaupun yang memberi nasehat dan perhatian adalah seorang dokter.


"Baik bu dokter saya akan turuti nasehatmu." jawab Laras.


"Jangan lupa bulan depan ditanggal yang sama kita kembali periksa dedek bayinya ya. saya mau berat badan ibu dan bayinya bertambah oke, usahakan makan banyak." dokter itu tersenyum dan mengulurkan tanganya, Laras pun menyambutnya dengan senyuman dan ucapan terimakasih.


Laras keluar dari ruangan sang dokter dengan perasaan campur aduk, antara senang dan takut, senang karena dia akan menjadi seorang ibu, takut karena kondisi hubunganya dengan sang suami sedang tidak baik, dia takut Tama akan menolak kehadiran anak mereka.


Laras mengambil nafas dalam dalam, mempersiapkan diri mendengar apapun jawaban yang akan diberikan Tama atas kehamilanya.


Sebelum turun dari mobil Laras membaca beberapa kali Asma Allah agar hatinya siap dan kuat, aku pasti bisa, tapi tak memungkiri bahwa dia berharap suaminya akan menerima kehadiran bayi mereka dengan senang hati.


Lift yang membawanya menaiki gedung apartemen dimana pujaan hatinya tinggal pun berhenti persis didepan pintu tempat tinggal Tama.


Laras memencet bel dengan sedikit takut, tak lama terdengar seseorang membuka pintu, ternyata dia asiaten suaminya, si Izal.


"Masuk non. "suruh Izal, Laras mengangguk dan masuk kerumah suaminya.


"Mas Tama ada pak Izal ?" tanya Laras.


"Ada non, lagi mandi." jawab Izal, Laras pun duduk disofa, menunggu suaminya selesai mandi, tak lama Tama membuka pintu kamarnya masih mengusap usap kepalanya menggunakan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


"Siapa yang dateng Zal? "tanya Tama, suasana rumah menjadi hening, Laras pun berdiri dari sofa dan menatap Tama.

__ADS_1


"Ada apa kesini? " tanya Tama ketus dan berjalan mendekati Laras dan Izal.


"Bisa kita bicara mas? " tanya Laras.


"Waktumu lima menit." jawab Tama.


"Aku ingin bicara berdua." pinta Laras.


Tama memberikan handuknya pada Izal dan mengajak Laras masuk kamarnya, Laras mengambil handuk itu dari tangan Izal dan mengikuti suaminya masuk kekamar Tama.


Ini adalah pertama kalinya dia masuk kekamar dimana biasanya suaminya menghabiskan malam malam tanpanya, Laras memaruh handuk basah Tama di tempatnya, Laras mempercepat langkahnya mengingat waktu yang diberikan Tama padanya hanya lima menit.


Tama sudah menunggunya disofa kamarnya, Laras segera menyusul dan duduk disebelah Tama.


"Ada apa, cepat katakan, kamu tau kan aku malas lama lama melihatmu, " ucap Tama, sungguh terdengar menyakitkan, tapi dia sudah mengambil keputusan tak ada gunanya lagi mundur.


"Saya hamil." ucap Laras pelan, tapi Tama mendengarnya dengan sangat jelas, dia memang manusia tanpa ekspresi, Tama hanya diam tak bereaksi apapun.


"Kenapa kamu memberi tahuku, apa kamu yakin dia anaku?" pertanyaan Tama kali ini sungguh tak bisa diterima oleh hati kecil Laras.


"Tentu saja, hanya kamu yang meniduriku." jawab Laras sepelan mungkin, Laras berusaha keras agar tak menjatuhkan air matanya.


"Heh, aku tidak yakin, mengingat dengan mudahnya kamu mengijinkan laki laki lain menyentuh tubuhmu." jawab Tama masih dalam keteguhan pemikiranya.


"Baiklah kalau anda tidak percaya, saya permisi." Laras merasa tak mampu lagi meneruskan pembicaraanya dengan Tama, percuma dia jelaskan Tama tak akan pernah mau mengerti, Laras beranjak dari duduk nya lalu..


"Aku mau tes DNA." ucap Tama. Laras menghela nafas berat mendengar permintaan Tama yang menurutnya seperti pisau yang ditancapkan dihatinya secara membabi buta. sungguh sangat menyakitkan.


"Tapi aku tak bisa memberikanya selama dia masih dirahimku, maukah anda menunggunya setelah dia lahir. " jawab Laras, Laras tak bisa membohongi betapa hancurnya perasaanya saat ini, ingin rasanya dia mengahiri hidupnya, rasanya sangat lelah selalu berada dikeadaan seperti ini.


"Oke tak masalah aku akan menunggu." jawab Tama, Laras tak tau apa lagi yang harus dia ucapkan, Laras pun melangkah keluar dari kamar Tama, Laras hebat meskipun hatinya sakit, perasaanya hancur dia tetap bersikeras tak akan menjatuhkan air matanya dihadapan orang lain, dia tetap tersenyum pada asisten suaminya.


"Saya permisi pak, selamat malam. " ucap Laras sambil mengambil tas tanganya.


"Malam non. " jawan Izal sambil melangkah


membukakan pintu untuk istri bosnya.

__ADS_1


Laras memasuki lift itu lagi, disini tak ada orang, Laras tak sanggup lagi membendung air matanya, saat itu juga dia tumpahkan segala sesak didadanya, dia memukul dadanya agar rasa ini segera berahir.


Bersambung....


__ADS_2