PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Spot Jantung


__ADS_3

Apa yang ditakutkan Laras terjadi, setelah Ryan keluar pamit kemushola tak lamaTama datang, tentu saja jantung Laras berdetak lebih keras " Bagaimana ini, ah ada miss Chintya semoga dia bisa membuat suasanya menjadi baik." batin Laras.


"Assalamualaikum." sapa Tama.


"Waalaikumsalam." jawab semuanya.


"Hay ada tamu, hay cantik nya daddy." sapa Tama lagi, Chintya tersenyum manis pada Tama.


"Ga dikenalin nih temen nya?" itu bukan pertanyaan itu lebih dari ke godaan, heem dasar.


"Oia miss kenalin ini mas Tama daddy nya baby Zia, mas ini miss Chintya bos Laras di Paris sekaligus calon istrinya Ryan." Tama menatap Laras heran, calon istri Ryan jadi..


Tama tak ingin Laras tau bahwa dia telihat malu, tapi Laras tau jika Tama merasakan itu.


Tama pun mengulurkan tangannya pada Chintya, mereka berdua pun berjabat tangan dan berkenalan.


"Chintya."


"Tama." jawab Tama.


"Mana pria gila itu?" tanya Tama, tu kan...


"Mas dia bukan pria seperti itu, mas ga malu apa ngomong gitu ini ada istrinya, miss Chintya juga ngerti apa yang kita omongin."Laras sudah mulai menampakan kekhawatiranya, Chintya hanya tersenyum.


"Tu kan dibelain pasti kan ada sesuatu." tambah Tama.


"Ya ampun mas gimana lagi Laras mesti buktiin, kalau Laras ama Ryan ga ada apa apa. malu atuh mas kalau kita ribut depan tamu." jawab Laras sambil menjatuhkan pungung disisi sofa. dasar Tama sifat datarnya susah ditebak, dia ma santai aja dengan pemikiranya, Tama masih saja menunjukan sikap dinginya sampai Ryan datang.


"Hay semua." sapa Ryan, Tama hanya menatap Ryan sekilas tapi tidak dengan Laras, dia tak melepaskan pandanganya dari Tama meskipun Tama tak mengubrisnya.


"Mamas ih." Laras masih ga terima jika Tama bersikap seperti itu pada sahabat nya.


"Apa sih Ras, orang ga suka masak dipaksa suka kamu tu yang aneh." jawab Tama.


"Tanya aja mas kalau mas masih ga percaya sama Laras, tu ada orangnya." lama lama Laras geram juga dengan suaminya yang terus curiga ga berdasar padanya.


"Bro sepertinya kita mesti selesain masalah kita secara laki laki." tantang Tama seketika Laras pun terkejut.


"Ya ampun mas." Laras ketakutan, dia memegang tangan Tama.

__ADS_1


"Ga papa Ras, suami lo ga bakalan macem macemin gue lo lupa gue punya sabuk hitam hah." Ryan pun tak mau kalah dia pun menyambut tantangan Ryan.


"Ayok mari kita keluar." balas Tama, dia pun berdiri dan melepas jasnya dan memberikannya pada laras, mengendurkan dasinya serta menggulung lengan kemejanya seolah siap untuk baku hantam, tambah habis hati Laras dibuatnya.


"Siapa takut." tambah Ryan, Ryan pun tak kalah dia pun segera melepas jaketnya dan menitipkannya pada Chintya.


Larangan Laras sama sekali tak mereka dengar, Tama dan Ryan pun keluar meninggalkan mereka, tinggalah disana Laras yang menangis karena takut bukan tanpa sebab Laras sekhawatir itu, terahir mereka bertemu Tama marah besar pada Ryan, bahkan sampa mengeluarkan kata kasarnya.


"Miss bagaimana ini?" Laras masih menangis bahkan sampai sesegukan.


"Udah ga papa mereka kan udah dewasa, udah pasti bisa lah mikir masak ga malu kalau mau berantem, mereka juga orang terpelajar Ras udah jangan terlalu dipikirkan." Chintya malah lebih santai menghadapi situasi ini.


"Semoga mereka bicara baik baik ya miss." ucap Laras masih khawatir.


"Iya kita doakan saja." jawab miss Chintya.


....


Dilain tempat...


"Bro lo udah makan belum?" tanya Tama, dih ni orang kesambet apa batin Ryan heran, Tama tau jika sahabat istrinya ini terkejut dengan perubahan sikapnya, tapi Ryan bisa mengimbangi.


"Kita ngopi aja kalau gitu gimana?". Lah beneran kesambet ni orang.


"Boleh, tapi lo kagak salah makan kan?" Tama tertawa mendenngar jawaban Ryan, Tama makin suka jika ada seseorang yang curiga padanya.


"Hahaha elo bro ada ada aja, ya enggak masak iya salah makan, ni bro gue kasih tau gue ga suka main kasar gue sukanya yang alus alus." jawab Tama asal, Ryan langsung menghentikan langkahnya.


"Maksud lo apaan?" Ryan mengerutkan dahinya.


"Kagak, ayo pokonya gue ga bakalan apa apain elo takut amat, gue janji lo bakalan selamat ditangan gue, gini gini gue juga takut kali sama bini." Tama kembali mengeluarkan sifat yang tak mudah ditebak lawanya, Ryan semakin curiga mungkinkah Tama menjebak dan hendak mempermainkanya, ah pikirkan itu nanti gue kan laki ngapain gue takut batin Ryan dia pun melajutkan langkahnya lagi.


"Masuk bro." Tama sudah siap dikursi kemudi. Ryan masih jaga jaga tentunya, tapi dia ga nolak keinginan suami sahabatnya ini.


Tama mulai melajukan kendaraannya, Tama memakai kaca mata hitamnya, dia terlihat tenang dan tanpa beban, apa yang dia mau bingung gue, pantesan Laras stres dibuat nya orang dia hampir hampir gila gini susah banget ditebak maunya.


"Bro sebelumnya gue minta maaf ama elo atas sikap gue selama ini sama elo, yang curiga tanpa bukti." ucap Tama, nah lo kan kejutan lagi.


"Santai aja bro, yang penting lo sama Laras baik baik aja, kasihan dia bro dari kecil menderita ya masak iya udah punya suami masih aja menderita." jawab Ryan.

__ADS_1


"Apa lo kenal bini gue udah lama bro?" tanya Tama.


"Bukan lama lagi bro dari orok kali hahahaha." jawab Ryan.


"Serius lo, berarti lo tau dong sejarah tentang keluarga bini gue?" tanya Tama penasaran.


"Sedikit, cuma kalau yang detail gue ga begitu paham bro mungkin kalau lo tanya mami dia pasti paham soalnya beliau sahabat bundanya Laras." jawab Ryan.


"Serius lo bro ." jawab Tama antusias.


"Emang Laras ada masalah apa bro ampek lo cari info tentang keluarganya?" tanya Ryan.


"Laras ga ada salah apa apa bro, kita turun yuk gue bakal jelasin ke elo asisten gue udah nunggu didalem." ajak Tama. Ryan mengerti sekarang Tama tak seburuk yang mereka pikirkan.


Tama dan Ryan memasukin restauran yang sudah menjadi tujuan Tama, pas masuk para kariawan bukanya menyapa Tama malah menyapa Ryan.


"Sore pak." Sapa salah satu kariawan yang mengenal Ryan.


"Heemm, gimana oke ga hari ini?" tanya Ryan, tentu saja Tama heran.


"Lo kenal ama mereka bro?" tanya Tama.


"Kenal lah bro orang gue bos nya." jawab Ryan.


"Ooo, ini punya elo."


"Peninggalan papi." jawab Ryan.


"Tajir juga lo bro." umpat Tama.


"Tajiran bini elo kali bro kalau paman ama bibinya ga serakah." jawab Ryan.


"Nah itu yang mau gue bahas ama elo." jawab Tama seketika, ahirnya Ryan pun mengerti maksud Tama mengajaknya meski semua tampak berbelit belit.


"Okey siap." jawab Ryan.


Ahirnya mereka pun masuk disalah satu ruangan VIP yang sudah Tama pesan untuk meeting penting mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2