PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

Keesokan harinya Laras masih bekerja seperti biasa, berharap dia akan bertemu dengan suami tercintanya, apapun yang akan terjadi dia tetap bertekat untuk mendapat maaf dari suaminya. Benar saja saat dia memasuki lobi perkantoran nya Laras melihat suaminya yang berjalan menuju lift khusus untuknya, tapi tak seperti biasanya, Tama tak memperdulikanya meskipun dia melihatnya.


Tama bersikap seperti bos pada umumnya, membalas sapaan kariawanya dengan senyum tertampanya, tapi itu tak berlaku untuk Laras, Tama sangat dingin padanya,


bahkan nomer ponsel Laras pun diblokir oleh nya sehingga Laras tak bisa menghubungi atau pun berkirim pesan padanya.


Siang itu Laras tak sengaja berpas pasan dengan Tama saat hendak pergi ke kantin, hari ini dia tak bawa bekal karena semalam dia menangis dan tadi kesiangan.


Tama diikuti asiatenya hendak pergi keluar kantor, dengan cepat Laras berjalan mengikuti suaminya, untung saat itu dia sendiri sehingga tak ada yang curiga.


"Be," panggilnya, Tama pura pura tak mendengar, dia terus saja melajukan langkahnya, bahkan ketika Tama berhenti tepat didepan lift pun dia masih saja tak perduli, Laras berlari kecil mengejar Tama, Izal menjadi kasihan pada istri bosnya ini. mereka bertiga berdiri didepan pintu lift khusus Tama, Tama masih saja cuek padanya.


"Be, aku mau bicara, maafkan aku be, beri aku kesempatan." ucap Laras, mulut Tama masih diam.


"Be, aku mohon, aku bisa gila karena ini be, aku mohon, beri aku kesempatan. " Laras masih saja memohon, bersamaan dengan itu pintu lift terbuka Tama dan asistenya pun masuk, Laras menatap suaminya ketika pintu hendak tertutup, hati Tama benar benar beku, sampai tak bisa mendengar tangisan penyesalanya.


Laras tak jadi mengisi perutnya, rasanya perutnya sudah penuh terisi sesak oleh rasa sesalnya, dengan berat hati Laras kembali keruanganya, Laras menangis dalam diamnya, kata kata Tama tadi malem kembali teringang lagi ditelinganya, membuat merinding bulu kuduknya, rasanya sangat sakit jika diingat.


Laras melanjutkan lagi pekerjaanya, beberapa hari lagi dia harus siap menyerahkam desain cover buku tulis yang akan segera siap cetak. dia dan teman setim nya sudah mulai mengerjakanya tinggal menyerahkan pada pimpinan mereka.

__ADS_1


Laras menghapus air matanya ketika mendengar langkah kaki mendekatinya, Laras tau yang datang adalah teman setimnya dan juga sahabat sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Siska, Sandra dan juga Jonathan.


"Sayang udah Makan." sapa Siska sambil menepuk pundak Laras, saat itu juga Laras berdiri dan langsung menangis dipeluka Siska, tentu saja mereka terkejut, mereka baru kali ini melihat Laras menangis menjadi jadi bahkan mereka tak tau apa sebabnya.


"Hay, kamu kenapa Ras? " tanya Siska sambil mengelus pundak Laras, Laras hanya menggeleng dan masih melanjutkan tangisanya. Sandra pun ikutan mengelus pundak Laras. Jonathan berinisiatif mengambilkan Laras minum.


"Minum lah Ras, biar kamu sedikit tenang." Sandra menyodorkan gelas berisin air yang barusan Jonathan ambilkan. Laras melepas pelukannya, dia mengambil air yang dibetika Sandra dan meminumnya, Laras pun duduk, ketiga sahabatnya menatap Laras demgan beribu pertanyaan.


"Lo kenapa Ras? " tanya Sandra sambil mengelus lengan Laras.


"Gue melakukan kesalahan fatal San."jawab Laras masih dalam isaknya.


"Temen gue kemarin yang dari Paris dateng, dia main kerumah, ga sengaja suami gue lihat dia peluk gue sama cium pipi gue, dia marah besar dan mengatakan kalau gue wanita murahan San." tentu saja mereka terkejut mendengar Laras sudah menikah, setau mereka status Laras masih janda, sepertinya Laras tak menyadari telah membuka status nya yang sebenarnya pada ketiga sahabatnya.


"Ras kamu serius sudah ada suami lagi? " tanya Siskan dengan nada sehalus mungkin agar Laras tak tersinggung, saat itu juga Laras tersadar dan bengong, duh mati aku keceplosan, batin Laras.


Laras tak ada pilihan lain selain jujur, dia pun mengakui pada ketiga sahabatnya bahwa dia sudah menikah, tentu saja dia tak bisa jujur siapa sebenernya suaminya.


"Iya gaes gue udah nikah beberapa bulan yang lalu."jawab Laras, tentu saja mereka terkejut, mereka saling menatap heran tentu saja.

__ADS_1


"Suamimu orang mana Ras? "tanya Jonathan kepo, Sandra langsung mendorong lengan Jonathan, soalnya Sandra tau kalau dia ada rasa sama Laras.


"Dia ga tinggal disini, dia tinggal diluar daerah. "jawab Laras berbohong.


"Dia masih disini sekarang? " tanya Siska.


"Udah balik Sis, karena marah itu dia langsung balik. "jawab Laras.


"Ras, lo tenang aja, coba tunggu dia tenang dulu, sambil lo buktiin kalau lo ga ada apa apa sama temen lo itu, nanti kalau doi udah tenang udah ga marah baru lo jelasin kalau itu cuma pelukan persahabatan. " ucapan Siska memang benar, tapi mereka tak tau bagaimana sifat Tama sesungguhnya.


Tapi tak ada salahnya mencoba, sebaiknya aku beri dia waktu sampai dia bener bener tenang, batin Laras.


"Thanks ya gaes kalian udah mau demgerin curhatanku. "Laras menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan Sandra.


"Ga papa Ras, kita bertiga siap kok dengerin curhatan elo, elo ga usah sungkan kalau ada masalah cerita aja, kita siap dengerin kapanpun dan dimanapun, iya kan geng."ucap Sandra, yang lain mengangguk tanda setuju.


Setelah merasa Laras lebih tenang dan baikan mereka pun melanjutkan pekerjaanya, tapi tidak dengan Laras, dia masih memikirkan penolakan Tama atas keinginanya meminta kesempatan kedua.


Sabar ya mbak Laras..

__ADS_1


***Bersambung***


__ADS_2