PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Sahabat Sejati


__ADS_3

Ryan memang sahabat yang bisa diandalkan, semua keperluan Laras sudah dia siapkan dari tiket, paspor bahkan surat ijin dari dokter untuk perjalananya pun sudah ready, Laras tak menyangka bahkan Ryan pun akan ikut pulang keindonesia demi mengantarkanya agar selamat sampai tujuan, disamping dia merasa bertanggung jawab pada mertua Laras dia juga kasihan karena sekarang Laras dalam keadaan mengandung tak mungkin dia membiarkan sahabatnya melangkahkan kakinya dengan jarak yang terbilang cukup jauh.


Sesampainya dibandara..


"Ngapain lo ikutan turun, udah anterin gue sampai sini aja." ucap Laras jutek sambil dorong dorong pelan punggung Ryan.


"Dih, indonesia kan negara gue juga, kagak boleh gue pulang kesono."jawab Ryan tak kalah jutek.


"Ya udah ayo masuk kalau gitu tunggu apa lagi?" tanya Laras.


"Bentar tunggu calon bini dulu dong, belum pamitan." jawab Ryan sambil melihat jam tanganya.


"Dih belagu kayak punya aja." goda Laras.


"Punya lah, singa tampan lo ini udah ga jomblo gaes."jawab Ryan sambil menunjukan muka pede nya.


"Halu pasti." ledek Laras lagi.


"Haha, ya enggak lah ganteng gini siapa yang bakalan nolak."


"Hem, jomblo akut aja sombong." balas Laras.


"Ya enggak lah, bentar lagi kawin gue tunggu undangan dari gue awas lo ntar kalau ga dateng dipernikahan gue, gue ambil anak lo ntar."


"Selalu ngancemnya, kata nya udah punya calon bini udah sono halalin bikin sendiri sono." Laras masih tak percaya jika Ryan sudah tak jomblo, tak lama sebuah mobil mewah berhenti didekat mereka berdiri, Laras sangat terkejut yang turun dari mobil itu tak lain adalah bosnya siapa lagi kalau bukan miss Chintya, pujaan hati Ryan.


Chintya langsung menghampiri mereka dan langsung memeluk Ryan sambil menangis, entah apa yang mereka bicarakan Laras tak terlalu mengerti, mereka bicara dengan bahasa Prancis, tapi mereka terlihat sangat mesra bahkan Ryan mencium kening Chintya dan mengelus pipi gadis itu serta mengelap air mata Chintya yang terus menetes, Chintya kembali memeluk mesra Ryan bahkan mereka berciuman bibir didepan Laras, Laras memalingkan wajahnya karena malu, duh mereka sweet sekali sih.


Ryan melepas pelukannya, Chintya mengelap lipstiknya yang menempel di bibir kekasihnya, Ryan tersenyum dan membisikan sesuatu lagi ditelinga Chintya, Chintya hanya mengangguk sepertinya sudah mengerti.


Chintya berpaling dan menghampiri Laras serta memeluk sahabat yang baru tiga bulan dia kenal.


"Hati hati ya Ras, aku ikut seneng Ras salam buat keluargamu aku tunggu kedatanganmu nanti kalau lahiran kabari ya." ucap Chintya sambil memeluk sahabatnya.

__ADS_1


"Oke miss, aku pasti kabari, eh ngomong ngomong kapan jadianya." goda Laras.


"Rahasia." jawab Chintya sambil tersenyum manja, Ryan memeluk pinggang kekasihnya.


"Oke oke tapi kalian Sweet sekali aku iri." goda Laras lagi.


"Alah bentar lagi ketemu, awas kalau pamerin kemesraan depan gue ntar." ucap Ryan, Laras tersenyum, dia sudah membayangkan betapa bahagianya ntar ketika dia bisa bertemu lagi dengan kekasih hatinya. Laras merasa sudah tak sabar.


Chintya mengantarkan Laras dan Ryan di depan pintu keberangkatan, sebelum melepas tangan kekasihnya Ryan memberikan kecupan lagi dikening dan bibir Chintya.


"Kamu hati hati ya sayang."ucap Chintya.


"Iya beb, kamu juga ya tunggu aku balik oke."balas Ryan.


"Iya." jawab Chintya lembut, mata mereka saling menatap senyum mengembang diantara keduanya, dengan berat hati ahirnya Chintya pun mau melepaskan Ryan pergi. Chintya melambaikan tangan dan terus menatap sampai punggung Ryan benar benar tak terlihat.


Laras melangkah duluan ditempat mereka harus cek in, Ryan meminta tiket Laras dan menyuruh Laras duduk dikursi yang disediakan diruang tunggu.


"Cie, ahirnya singa tampan sahabatku udah ga jomblo gaes, berani lagi ciuman depan gue dih ga tau malu." goda Laras.


"Diem lo bebek." umpat Ryan.


"Sejak kapan?" tanya Laras.


"Rahasia." jawab Ryan.


"Dih, ama gue aja main rahasia rahasiaan segala, awas ntar kalau pas nikah ga ngundang, gue cabut lo dari warga negara Tanggerang." goda Laras.


"Dih siapa elo?" Ryan ga mau kalah.


"Siapa gue, calon kepala daerah Tanggerang puas lo." jawab Laras asal, Ryan mengacak rambut sahabatnya.


" Ih apaan sih." Laras memukul pelan tangan sahabatnya.

__ADS_1


"Gemes bener gue ama lo, ga ada berubah berubahnya lo hah udah tua hamil pula masih aja gokil tingkat dewa." Ryan masih aja.


"Hehe, Yan gue ga sabar pengen cepetan terbang terus ketemu ama mamas ku." ucap Laras, Ryan sadar jika sahabatnya sangat merindukan tambatan hatinya.


"Sabar buk ga sampai 24 jam lo udah bisa peluk peluk pria aneh lo itu." jawab Ryan


"Iya semoga semuanya baik baik saja ya Yan." Sebenernya ada rasa khawatir dalam hati Laras, tapi kenapa harus khawatir toh alasanya pergi kan jelas, lagian kedua orang tua Tama juga mengizinkanya kan.


Dia yakin pasti Tama akan mengerti apa alasanya.


"He em, semoga saja kalau pun nanti dia marah apa emosi lo harus lebih sabar, dia kan baru bangun dari tidur anggap aja nyawanya belum ngumpul." ucap Ryan.


"Dia benci banget tau Yan ama elo." ucap Laras.


"Kenapa?"


"Lo inget ga waktu terahir kita ketemu lo kan peluk gue depan rumah lah itu dia ngliat ya udah gue dikatain selingkuh ama lo, dia ga percaya tau Yan kalau anak yang gue kandung ini anak dia." ucapan Laras kali ini membuat Ryan bingung.


"Serius lo laki lo sampai segitunya, kiraon cuma ga paham hubungan kita ga sampai kesitu." ucap Ryan terkejut.


"He em beneran Yan gue ga boong, selama ini tu gue dimusuhin sama dia, dia ga pernah pulang kerumah tapi aku ga tau ya pulang apa ga bisa jadi dia sering dateng cuma gue ga tau, soalnya gue sering lihat mobil dia parkir depan rumah gue." Ryan mengangguk anggukan kepalanya sedikit bisa mencerna jiwa labil Tama.


"Laki lo labil Ras, gengsinya ketinggian sebenernya bener yang lo bilang kalau doi cinta mati sama elo cuma doi ga mau kelihatan bucin ama elo, pokoknya intinya sabar udah itu aja, apapun yang dia katakan entar jangan lo masukin kehati, ingat dia baru bangun tidur bisa aja dia masih melupakan sesuatu oke." Ryan mengelus pundak sahabatnya, Laras tersenyum. Laras sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Ryan, yang selalu siap membelanya kapanpun dan dimanapun, yang selalu mengingatkanya akan jika dia salah.


"Gue beruntung punya elo Yan." ucap Ryan.


"Bukan kah sebaik baiknya manusia adalah yang bisa bermanfaat untuk orang lain, bener ga gaes."


"Betul, Insya Allah gue menuju kesana." Balas Laras.


"U udah dilingkup sana geng." ucap Tama, Laras tersenyum mengerti.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2