PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Jika itu Yang Terbaik


__ADS_3

Beberapa minggu ini Aldo selalu membuntuti kemana pun abangnya pergi, bahkan dia rela jadi asisten Tama lagi, sore itu Aldo berniat menceritakan apa yang sebenernya terjadi pada abangnya lima bulan terahir ini.


"Bang."


"Hem."


"Pengen curhat ni."


"Apaan." dasar batu pelit amat ngomong, batin Aldo.


"Tadi siang gue nabrak cewek bang cantik bener bang tapi sayang galaknyaaaaaa ga ketulungan, masak gue di lempari botol minumnya bang." Aldo menceritakan kejadian yang dialaminya tadi siang.


"Jangan terlibat sama cewek ntar lo pusing." ucap Tama mengingatkan.


"La kalau ga terlibat ama cewek kapan gue punya bini bang." balas Aldo.


"Bini bikin pusing aja dipengenin."


"Bikin pusing gimana buktinya pas abang sama kak Laras happy happy aja, abang aja yang ga bisa ngerti kak Laras, kasihan bang bini cakep baik hati ditindas dituduh macem macem pula." ucap Aldo berusaha mencari celah.


"Emang dia macem macem." balas Tama.


"Macem macem gimana maksud abang?"


"Lo kan udah tau ngapain nanya."


"Maksud abang hubungan kak Laras sama sahabatnya itu hahahahahaha, bang bang lo tu ya bodohnya kelewatan, punya hati dipakek bang jangan cuma ini(Aldo menunjuk kepalanya)." lama lama Aldo gemes juga ama abang nya ni.


"Apa maksud lo ngatain gue bodoh, orang gue lihat sendiri dia orang pelukan."


"Astaga bang, peluk kan tu macem macem ada pelukan suami istri, anak ibu, kakak adek, pertemanan, ya iya lah wajar kak Laras peluk temennya secara temennya itu rumahnya kan jauh bang dan doi mau balik ya ga papa kali peluk, makanya gaul bang jangan laptop aja dipacarin gitu aja kagak ngarti." Aldo makin geram dengan pola pikir abangnya yang kelewat kaku.


"Diem lo." hardik Tama.


"Bang Kak Laras itu cinta banget sama abang kalau abang ga percaya tanya no mami, betapa histeris nya kak Laras waktu lihat abang kecelakaan, dia juga bang yang bawa abang kerumah sakit ingat bang waktu itu dia juga lagi hamil muda, Kebayang ga bang apa yang kak Laras pikirkan waktu itu, gimana kalau abang ga selamat, gimana kalau anaknya lahir ga bisa lihat daddy nya gimana nanti kalau dia jadi janda lagi, gimana nanti dia bakal ngejalani hidupnya tanpa abang, Ya Tuhan apes bener nasib kak Laras orang nya masih ada sehat gini malah dia ngrasain semua yang dia pikirkan, gila lo bang tau ga." Kuping Tama berasa panas mendengar ocehan adeknya.


"Bodo amat." jawabnya ketus.


"Gue kasih tau sama lo ya bang, sebulan kak kak Laras ga pernah beranjak dari ranjang abang, sampai makan pun dia bawa kekamar abang supaya apa? supaya kalau pas abang bangun dia ada disamping abang, segitunya pengorbanan bini lo bang, lo sama sekali ga ngehargai nya malah marah marah lagi."


"Lo pikir gue percaya." ucap Tama.

__ADS_1


"Abang pikir gue boong, ni buktinya lihat sendiri bang." Aldo memberikan rekaman CCTV yang ada diruangan dimana dulu Tama rawat.


"Dan satu lagi bang kenapa kak Laras memutuskan untuk pergi ke Paris, malam itu dia ga sengaja mendengar percakapan mami sama papi, entah kenapa pas abang koma itu banyak sekali kejadian yang diluar dugaan, abang kena tipu pabrik kebakaran perusahaan hampir aja jatuh bang, dan papi jual hotel kita yang ada di Jogja, gue emang bilang ama papi biaya pengobatan abang biar Al yang tanggung, lah dari situlah kak Laras merasa ga enak sama orang tua kita bang, makanya dia nekat kerja supaya bisa biayain pengobatan abang dengan hasil keringatnya sendiri bang, segitunya bini lo mewujudkan cintanya buat abang, kebayang ga bang wanita hamil harus berjuang, bekerja dan pada ahirnya pengorbanan dia ga dihargai sama sekali sama orang dia cintai, menurut abang pria itu pantes ga dapet cintanya."Aldo mengambil ponselnya yang ada didepan Tama, Tama tak membalas ucapan adeknya, dia merasa terpojok sekarang.


Aldo merasa sudah jengah dengan abangnya. tanpa pamit dia pun meninggalkan ruangan abangnya, tinggalah Tama sekarang yang berperang dengan pikiran dan nalurinya.


*****


Laras baru pulang dari dokter untuk memeriksakan kandunganya, dari hasil pemeriksaan tadi Laras sudah dinyatakan pembukaan dua, dokter memintanya untuk mempersiapkan diri, dokter mengatakan biasanya pembukaan akan bertambah satu jam sekali, agar pembukaan cepat bertambah maka Laras di sarankan untuk berjalan jalan didalam kamarnya, jika kontraksinya dirasa lebih sering maka Laras harus segera kembali ke rumah sakit karena itu adalah pertanda waktu dia akan melahirkan semakin dekat.


Laras sedang menjalankan saran dokter didalam kamarnya ditemani bik Marni, bik Marni pun mempersiapkan keperluan Laras dan sijabang bayi, bik Marni sudah selesai dengan pekerjaanya, dia pun ijin keluar untuk mempersiapkan keperluanya juga sekaligus hendak menghubungi mang Tono untuk mengantarakan Laras kerumah sakit.


Bik Marni terkejut melihat seorang pria yang tidak dikenalnya tiba tiba bisa masuk kedalam rumah majikanya.


"Maaf anda siapa ya?" tanya bik Marni, Tama mengerutkan keningnya dan menjawab.


"Saya pemilik rumah ini." jawabnya sambil melangkah meninggalkan bik Marni yang terkejut.


"Ya Allah sombongnya, apa mungkin itu suami non Laras ya, galak amat yak, ngeri." gumam bik Marni sambil mengidik ngeri.


Tama membuka pintu kamar Laras tanpa bertanya dia udah tau kalau Laras pasti ada dikamar nya.


"Ras." panggilnya.


Laras pun menoleh, dia sama sekali tak menyangka jika suaminya akan datang kerumah yang dia tinggali, Laras masih bengong karena rasa tak percaya ditambah keterkejutanya.


"Bisa kita bicara." ucap nya lagi.


Laras menganguk dan berjalan mendekati Tama, Tama duduk disofa kamar Laras, Laras pun duduk disebelah Tama.


"Silahkan." ucap Laras.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Tama.


"Laras baik, mas gimana?" Tama hanya berdehem dan melanjutkan apa yang menjadi tujuannya datang menemui Laras.


"Apa kamu marah sama aku Ras?" tanya nya.


"Enggak." ucap Laras bohong.


"Apa benar kamu yang membayar biaya pengobatanku Ras?" tanya Tama.

__ADS_1


Laras bingung harus jawab apa, Laras hanya diam.


"Kenapa kamu bikin aku hutang budi sama kamu Ras." Laras melirik sebel dengan pria bodoh disamping nya, kini Laras makin yakin bahwa pemikiran mereka ga akan pernah bisa sejalan, Laras memalingkan wajahnya agar Tama tak menangkap ekspresi kekesalan plus sakit karena kontraksi yang dia rasakan diperutnya, Laras menghela nafas dalam.


"Lalu mas maunya kita gimana?" tanya Laras, dia sudah merasa tak sanggup lagi berhadapan dengan pria super menjengkelkan didunia.


"Aku ga mau terlibat lebih dalam lagi sama kamu Ras bagaimana kalau kita pisah?" penawaran yang sangat menyakitkan memang, untung Laras sudah mempersiapkan hatinya sebelumnya, meskipun begitu kata perpisahan adalah momok yang paling menakutkan bagi wanita, apa lagi boleh dibilang Laras sangat mencintai Tama, Laras berusaha keras tak meneteskan air matanya meski lehernya berasa tercekik karena itu.


"Jika itu yang mas mau Laras bisa apa, lakukan yang menurut mas baik, masalah tes DNA nanti Laras kirim ketempat mamas."jawab Laras pelan sambil meringis menahan sakit diperutnya.


Mereka diam, terdengar seseorang mengetuk pintu.


" Masuk bik." perintah Laras.


"Maaf non, mang Tono sudah datang, non gimana masih datang dan pergi mulesnya?" tanya bik Marni sambil menaruh nampan yang dipegangnya dimeja samping sofa dimana Laras duduk, tanpa diminta kedua tangan bik Marni mengusap usap perut dan pinggang Laras.


"He em bi." jawab Laras, Tama yang melihat adegan itu menjadi berfikir mungkinkah dia mau melahirkan.


"Mau pergi sekarang apa masih mau dirumah non, masih bisa tahan ga?" tanya bik Marni terlihat begitu khawatir, Ahirnya Tama pun bertanya.


"Kamu kenapa Ras?"


"Laras ga kenapa napa mas, Laras tinggal dulu ya ga papa kan." jawab Laras sambil berpamitan.


"Minum teh manis nya dulu non biar ada tenaga." keringat dingin sudah keluar dari kening Laras pertanda dia benar benar menahan sakit, bik Marni membantu Laras meminum tehnya.


"Masih bisa tahan non?" tanya bik Marni lagi, Laras mengangguk.


"Bibik masukin barang barang kemobil dulu ya, non tunggu disini dulu jangan kemana mana nanti bibik jemput ya." Bik Marni langsung berdiri dan mengambil tas baju serta perlengkapan Laras dan membawanya keluar kamar.


"Ras keringat mu banyak sekali kamu kenapa Ras?" tanya Tama lagi, Laras tak mau menjawab dia membiarkan Tama berfikir sendiri, Laras beranjak dari duduknya dan mengambil tas tanganya, saat itu juga Laras merasakan ketubanya pecah, getah bening mengalir begitu saja dipaha dan kaki Laras membuat Tama gugup.


"Ras kamu ngompol itu?" tanya Tama gugup, Laras ga mau menjawab karena rasa yang dia rasakan begitu hebat, sesak didada karena permintaan pisah dari suaminya ditambah rasa mulas yang mulai menyerangnya.


Bik Marni masuk kekamar dia melihat air ketuban Laras sudah merembes di kaki Laras, dia pun berteriak kuat.


"Ya ampun non, ketubanya sudah pecah gimana ini." suara bik Marni terdengar menusuk ditelinga Tama, dan juga sangat menyakitkan dihati nya, seketika dia menatap wajah pucat istrinya.


"Den tolong bantu bibik angkat non Laras jangan sampai air ketubanya habis den." tanpa bicara Tama langsung membopong Laras, membawanya masuk kedalam mobil dan membawanya kerumah sakit.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2