
Hari demi hari si singa tampan makin gencar melancarkan aksinya, dia semakin semangat mendekati pujaan hatinya, seperti nya Chintya juga memberi harapan padanya.
Malam itu Chintya main ketempat Laras, Chintya ingin belajar masak makanan indo, dia bilang kangen masakan maminya dan ya Laras seneng hati mengajarinya masak masakan indo.
"Miss paling suka makan apa?" tanya Laras.
"Dulu mami suka bikinin aku salat sayur yang disiram saus kacang, apa ya namanya?" Chintya mengingat ingat lagi nama makanan itu.
"Pecel." jawab Laras.
"No."
"Karedok." tambah Laras.
"Ha, aku suka itu, sama mie ayam, daging masak itu apa namanya?"
" Soto." jawab Laras lagi.
"Bukan masakan padang kata mami."
"Rendangkah." jawab Laras.
"Betul, aku suka itu tapi hari ini aku pengen seblak tapi jangan pedas, boleh?" pinta Chintya.
"Siap ratuku, tunggu oke apa mau ikutan bikin?" tanya Laras.
"Mau ikutan belajar." pinta Chintya.
Laras dengan sabar dan telaten mengajari Chintya belajar memasak makanan khas indonesia.
"Nanti kalau kamu balik siapa yang bakalan ngajarin aku masak Ras, mami udah ga ada terus kamu nanti balik, sedih aku Ras." ucap Chintya manja.
"Kan ada Ryan, dia pinter masak loh miss dia kan punya restauran di Jakarta dan Bandung dia chef lo miss jangan salah." Laras lagi lagi mempromosikan sahabatnya.
"Benarkah?" tanya Chintya tak percaya.
"He em, miss pengen makan apa nanti minta dia aja bikinin pasti dia buatin." jawab Laras.
"Ga nanti dia minta aku jadi istrinya." jawab Chintya.
"Emang miss ga mau jadi istri Ryan, dia baik lo miss." ucap Laras, Chintya dan Laras saling lirik dan tersenyum, mereka sibuk berbicara pada pikiran masing masing, tiba tiba ada seseorang memencet bel rumah Laras, Laras pun berjalan membuka pintu.
"Hay malam." sapa tamu Laras.
"Hay malam juga pak bos." Ryan pun masuk, Mata Ryan langsung menatap seseorang yang tak asing dihatinya.
"Hay." sapa Ryan
"Hay juga." balas Chintya.
Ryan menaruh plastik buah untuk sahabatnya.
"Udah makan Yan?" tanya Laras.
"Belum ni," jawab Ryan.
"Kamu masak apa?" tanya Ryan sambil mendekati Chintya yang sedang mengaduk kuah seblak didapur Laras.
"Wah kelihatanya enak ni." ucap Ryan memuji,
Chintya mengambil satu sendok makan kuah seblak dan menyuapkanya ke mulut Ryan, serta meminta Ryan mengomentari masakanya.
"Enak udah, tambah garem dikit lebih enak." jawab Ryan, uwuu mesranya batin Laras.
"Seapa, seini?" tanya Chinya sambil menunjukan pada Ryan.
"He em udah, sip kamu udah cocok jadi istri." goda Ryan, Chintya tak menanggapi.
Laras yang paham dengan akal bulus sahabatnya hanya tersenyum.
"Eh Yan, Miss Tya pengen belajar masak makanan khas negara kita mau dong ngajarin?" goda Laras.
__ADS_1
"Kalau dia mau jadi istri aku ga usah belajar nanti aku yang masak dia tinggal nikmatin." celetuk Ryan, Chintya hanya diam dalam senyumnya.
Laras mengacungkan jempol pada sahabatnya.
"Apik." Laras memberi dorongan pada sahabatnya.
Chintya memberikan satu sendok kuah seblak lagi pada Ryan agar Ryan memberi komen pada masakanya yang sudah ditambah garam tadi, Laras melihat lagi adegan itu, seketika Laras mengingat suaminya, kalian Sweet sekali sih jadi kangen sama suamiku.
"Udah enak ini."jawab Ryan.
"Benarkah?" tanya Chintya sambil tersenyum manis.
" He em." jawab Ryan, dia pun membantu Chintya menghidangkan masakanya dimeja makan, Ryan dan Chintya melihat sahabat mereka menangis.Ryan sudah tau alasan Laras memangis, tapi tidak dengan Chintya.
"Kenapa?" bisik Chintya.
"Ingat suaminya." jawab Ryan berbisik juga, Ryan pun berjalan mendekati Laras dan mengelus lengan Laras dari belakang.
Chintya mengambilkan air minum untuk Laras.
"Aku kangen dia Yan." ucap Laras dalam tangisnya, Chintya memberikan minum pada Laras.
"Apa kamu ingin pulang Ras, aku pesenin tiket ya?" tanya Chintya.
"Ga papa miss, lagian ga sampai sebulan lagi kan kontraknya habis, aku ga perpanjang ga papa kan miss?" jujur Laras ga mau mengecewakan Chintya yang sudah sangat baik padanya.
" Iya ga papa, nanti via email aja ga papa, udah jangan terlalu kamu pikirin, eh ngomong ngomong udah periksa belum kandunganmu Ras?" tanya Chintya.
"Udah miss, kemarin pulang kerja, dia no yang ngaterin usianya udah 31 minggu miss dia sehat perkembanganya juga bagus." jawab Laras.
"Ih pengen deh." celetuk Chintya, Laras tersenyum.
"Kode pak." goda Laras untuk Ryan, Chintya melotot sambil tersenyum manis ke arah Laras.
Laras mencuci muka dan tanganya, mereka pun bersama sama menikmati masakan Chintya bersama sama.
Malam semakin Larut Chintya dan Ryan pun pamit pulang, tak lupa mereka berpesan pada Laras untuk hati hati dan selalu menjaga kesehatan.
"Chin mau mampir." ucap Ryan.
"Em, rumah kamu jauh ga?" tanya Chintya.
"Enggak, tu rumah aku." jawab Ryan sambil memunjuk kearah pintu yang mereka lihat.
"Aku sering main kesini lo kok baru tau rumah kamu disitu, kalian tetanggaan." ucap Chintya.
"He em, ibu mertua Laras nitipin wanita crewet itu sama aku, kasihan dia Chin udah hamil suaminya sakit pula." jawab Ryan.
"Iya kasihan, apa dia kerja buat biayain pengobatan suaminya?" tanya Chintya.
"He em kamu bener Chin."
"Tunggu, aku mampirnya ga lama ya kan udah malem."tawar Chintya sambil menghentikan langkahnya, Ryan tak mau menjawab dia hanya tersenyum, dia membukakan pintu untuk tamunya.
"Masuk Chin."
"Makasih." Chintya melihat keseluruh ruangan rumah Ryan, ini keren batin Chintya.
"Duduk Chin, mau minum apa?" tanya Ryan.
"Ga usah Yan barusan kan makan, minum juga kan kamu duduk aja." ucap Chintya.
"Chin boleh nanya ga?" tanya Ryan.
"Tanya apa?"
"Kamu udah ada seseorang belum?" kesabaran Ryan udah sampai dipuncaknya rupanya, Chintya tersenyum hampir tertawa tapi dia tahan.
"Udah." jawab Chintya.
"Siapa?"
__ADS_1
"Ada."
"Apa udah ga ada lagi kesempatan buat aku deketin kamu Chin?" tanya Ryan dengan muka bersedih, Chintya malah tertawa pelan melihat muka Ryan, dia cute banget kalau sedih gitu.
"Apa Ronald someone kamu?" tanya Ryan dia tau bos bahan itu rival terberatnya.
"Ga lah kan kami beda keyakinan, aku mau yang seiman." jawab Chintya.
"Chin, aku sayang sama kamu, kamu mau ga berjuang bareng aku?"tanya Ryan.
"Sepertinya kamu sedang melamarku Mr." goda Chintya.
"Iya jika kamu oke, aku kan udah bilang bakalan langsung halalin kamu." jawab Ryan.
"Ya udah halalin aja tunggu apa lagi." jawab Chintya mantap, mata mereka saling melirik dan melempar senyum, hati Ryan yang telah lama menunggu dengan segala rasa hausnya berasa mendapat air yang siap dia teguk untuk menghilangkan dahaganya, adem banget rasanya.
Ryan beranjak dari duduknya hendak memeluk Chintya tapi sayang Chintya menahan keinginan Ryan dengan menahan dada Ryan dengan kedua tanganya.
"Hayo mau apa." celetuk Chintya.
"Aku happy beb, peluk dikit." pinta Ryan.
"No belum halal, jauhan sana."
"Dikit aja." rengek Ryan.
"Pokok nya no halalin dulu baru boleh." balas Chintya seketika Ryan lemas dan menjatuhkan tubuhnya disamping Chintya, Chintya tertawa pelan, kalau boleh jujur Ryan sangat bangga pada kekasihnya, Chintya sangat menjaga dirinya mengingat ini adalah negara yang memiliki budaya yang boleh dibilang bebas, tapi dengan menjunjung norma dan agama yang dia anut dia sungguh bisa membentengi dirinya dengan itu.
"Baiklah beb, aku akan menunggu saat itu. mau kah kamu menjaga semuanya untukku beb?" tanya Ryan, Chintya mengangguk.
"Aku mencintaimu calon makmumku." ucap Ryan, Chintya tersenyum manis dan meminta Ryan mengantarkanya pulang.
*****
Jakarta...
Pagi pagi sekali seperti biasa, Mami Arini sudah bersiap hendak merawat buah hatinya, mulai membersihkanya dan mengganti pakaian Tama, dua perawat pria yang akan membantunya pun sudah siap didepan pintu kamar Tama.
Sebelum masuk Mami Arini selalu menghela nafas dalam untuk menguatkan hatinya. Perawat itu pun membukakan pintu untuk mami Arini, begitu pintu dibuka mereka sangat terkejut karena tak melihat Tama diranjangnya.
" Kemana putraku hah?" mami Arini berteriak histeris kebingungan mencari dimana Tama berada.
"Tama, abang... kamu dimana?" mami Arini keluar kamar Tama untuk mencari anaknya, begitu pun dua perawat itu mereka pun kalang kabut ikutan mencari dimana keberadaan Tama.
Asisten rumah tangga mama Arini yang barusan masuk dari pintu belakang pun terkejut.
"Ada apa nya kok nangis, gugup gitu?" tanya Susi asisten mami Arini.
"Kamu lihat putra ku ga Sus, dia ga ada dikamar?" tanya mami Arini sambil menangis sesegukan.
"Den Tama maksudnya?" Susi tanya balik dengan muka datarnya membuat Mami Arini ingin marah.
"Iya Sus, putraku yang dirumah siapa lagi."
"Itu lagi ngeteh ditaman." tunjuk Susi.
"Hah, ngeteh kamu serius sus." jawab Mami Arini hendak melangkah mendekati putranya, tapi Susi cepat mencegahnya.
"Nya tunggu, Susi kasih tau sesuatu dulu." jawab Susi.
"Sepertinya Den Tama ga ingat kalau dia habis sakit nya, tadi pagi pas Susi bersihin dapur seperti biasa dia ngageti Susi dan minta makan." jawab Susi.
"Kamu serius sus." jawab Mami Arini.
"Iya nya, terus aden juga udah wangi sepertinya udah mandi." jawab Susi.
"Tapi kayak masih bingung gitu, nyonya yang sabar ya hapus air matanya dulu nya nanti dia tambah bingung."
"Kamu bener Sus, ngobrolnya nanti lagi, bilang sama dua perawat itu mereka boleh kembali kerumah sakit sekalian dokter Rafael suruh kesini." pinta Mami Arini, seraya pergi meninggalkan asistenya dan melangkah mendekati putra tercintanya.
Bersambung...
__ADS_1