PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Dia Suamiku


__ADS_3

Malam itu mereka masih sama sama saling diam, posisi mereka masih berada di depan jendela, Laras memberanikan diri meminta ijin pada suaminya untuk pergi.


"Mas."


"Hem."


"Boleh Laras ke Paris." Tama manusia tanpa ekspresi itu hanya diam.


"Rumah mode disana tertarik bekerja sama dengan Laras, mereka menyukai desain desain Laras." ucap Laras lagi, Tama membalikan tubuhnya dan duduk kembali dikursinya semula.


"Dengan siapa kamu pergi?" tanya Tama.


"Sendiri, tapi disana Laras ga sendiri, Laras sama temen yang hari itu bikin mas marah." jawab Laras. Tama menatap Laras sekilas.


"Bagaimana aku bisa percaya sama kamu, kamu tau dia penyebab hubungan kita jadi seperti ini lalu sekarang kamu mau pergi untuk menemuinya, gila aja." Tama emosi.


"Mas, harus berapa kali Laras bilang kami ga ada hubungan special seperti yang mas pikirkan." jawab Laras ikutan geram.


"Terserah, mau pergi ya pergi aja." jawabnya sambil berlalu pergi meninggalkan Laras.


"Ya Tuhan salah lagi aku belum juga dijelasin tujuan nya apa udah marah aja, Ya ampun Laras mesti gimana ngadepin orang kayak gini." Laras bicara pada dirinya sendiri.


Laras merapikan barang barangnya dan bersiap pulang, ketika hendak memasuki mobil dia mendengar seseorang berbisik yang mengatakan hendak mencelakai Tama. Laras langsung tancap gas ke kediaman Tama, entah diterima atau tidak yang jelas dia harus segera memastikan sendiri bahwa suaminya baik baik saja.

__ADS_1


Diperjalanan menuju apartemen Tama jalanan menjadi macet, Laras menurunkan kaca jendela dan bertanya pada seseorang pengendara motor disana.


"Bang ada apa ya kok macet ?" tanya Laras.


"Ada kecelakaan neng didepan". jawabnya.


"Oh kecelakaan." gumam Laras, perasaanya tak nyaman, Laras langsung turun dan berlari kecil menuju kerumunan disana, Laras melihat mobil terbalik. Mata Laras terbelalak tak percaya itu mobil Tama suaminya.


beberapa orang berusaha mengeluarkan tubuh Tama yang terhimpit bodi mobil.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan dia, dia suamiku." teriak Laras histeris, beberapa orang memegangi Laras agar Laras tak mendekat, takut mobil itu meledak tentunya.


Hampir setengah jam Laras menangis dan meronta ahirnya beberapa orang itu bisa membawa Tama keluar bersamaan dengan dikeluarnya Tama dari mobil Laras meronta kembali dan melepaskan diri dari orang orang yang menghalanginya. Laras langsung memeluk tubuh suaminya yang penuh darah.


"Suamiku jangan pejamkan matamu aku mohon, aku mohon sayang, Tama aku mencintamu." Laras menciumi kening Tama yang penuh darah.


"Jangan menangis." bisik Tama setengah sadar.


"Aku ga nangis sayang, suamiku aku mencintaimu, apa kamu dengar hem." Laras mengucapkan kata itu dalam isaknya,


"Hem." Tama sempat tersenyum, tak lama ambulance datang mereka pun membawa Tama, Laras pun ikut masuk kedalam ambulance yang membawa suaminya.


Didalam mobil ambulance Laras terus mengengam tangan suaminya dan membisikan kata kata cintanya agar Tama tak kehilangan kesadaranya, agar Tama tetap terjaga.

__ADS_1


"Sayang kamu harus kuat aku mohon." Laras menciumi tangan suaminya, beberapa kali Tama mencoba membuka matanya tapi berat.


"Ras aku ngantuk." bisik Tama.


"Tidak sayang jangan bobo, jangan sekarang aku mohon,( Tama masih berusaha menjaga kesadaranya) tidak jangan pejamkan matamu sayang sebentar lagi kita sampai heemm, sabar sayang jangan bobo aku mohon suamiku." Laras berteriak karena Tama tak mendengar ucapanya, Tama menyerah dia malah menutup matanya Tama pingsan. Denyut nadi Tama melemah membuat tim medis yang menangani Tama di dalam mobil langsung panik.


"Suamiku aku mohon dengarkan aku, dedek bantu mami bangunin papi sayang." Laras menagis sampai sesegukan sambil memegang perutnya.


Lima menit kemudian mobil ambulance yang membawa Tama pun sampai, para tim medis berbondong bondong membawa Tama turun dari ambulance, Laras mengikutinya sambil berlari kecil, Laras sampai lupa jika dia sedang mengandung.


Dokter UGD dirumah sakit itu langsung meminta ruang oprasi segera, karena keadaan Tama boleh dibilang sangat kritis, Tama kehilangan banyak darah dan luka yang dideritanya pun sangat parah.


Laras terus menangis didepan ruang oprasi, memanggil nama sesorang yang telah berhasil bertahta didalam singgasana hatinya, orang yang telah menguasai seluruh emosinya, jika orang bilang bahwa cinta itu tak mengenal cara, cinta tak mengenal dendam, cinta tak mengenal bahasa, itubsungguh benar adanya buktinya berapa kali Tama menyakiti hatinya nyatanya Laras masih setia mencintainya, dia masih setia menunggunya dengan rindunya.


Sejam kemudian kedua orang tua Tama pun sampai ditempat dimana Tama sedang berjuang melawan mautnya. Mami Arini menangis histeris melihat tubuh menantunya penuh darah anaknya, belum lagi kalau melihat Tama yang terkapar tadi, untung dia tak melihatnya secara langsung.


"Apa yang terjadi dengan suamimu nak?" tanya mama Arini masih dalam tangisnya.


"Tadi pas pulang dari kantor Laras tak sengaja mendengar seseorang ingin mencelakai mas Tama mi, tentu saja Laras ikuti mobil mas Tama dari belakang, dan dijalam hiks hiks hiks mas Tama....mami." Laras kembali memeluk ibu mertuanya.


"Yang sabar nak semoga Tama bisa melewati ini semua." ucap papi Bram.


Papi Bram agak menjauhkan dirinya dari Laras dan juga istrinya, dia menghubungi orang kepercayaanya untuk menyelidiki penyebab pasti kecelakaan yang menimpa putra kesayanganya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2