
Disela sela perbincangan mereka Aldo masih saja sering mencuri pandang pada Livia membuat geram Sharon, bahkan Sharon mencubit paha Aldo.
"Aduh sakit queen." ucap Aldo sambil mengelus paha nya.
"Belum lagi tu mata mimi culek." balas Sharon geram.
"Emang ada apaan?" tanya Aldo pura pura tak paham.
"Lihat cewek bening aja nglirik terus mentang mentang istrinya lagi ga langsing." ucap Sharon geram, mereka berempat malah tersenyum melihat tingkah suami istri yang sedang bersitegang itu.
"Bukan gitu queen, ada sesuatu yang kamu ga tau nanti dirumah aku ceritain." ucap Aldo.
"Awas boong." ancam Sharon.
"Enggak sayang Ya Ampun kalau cemburu gini imut deh." goda Aldo, Sharon masih melirik marah pada nya.
Izal paham dengan rasa penasaran yang mengrogoti perasaan sahabatnya tapi dia biasa apa jika dia nekat membahas ini yang ada dia malah membuka luka lama Livia.
"Ga ada jadwal oprasi lo bro?" tanya Izal mulai memecah suasana.
"Ga ada untuk tiga hari kedepan bro, ga tau ya kalau ada yang urgent." jawab Vano, dia benar benar terlihat gugup sekarang kelihatan sekali jika dia susah payah menguasai perasaan nya.
"Emang Dokter ni dokter apaan sih?" tanya Niken.
"Dokter cinta mbak Niken tapi ga laku laku." saut Aldo.
"Anj*y diem ga lo." ancam Vano.
"Dia bukan dokter biasa yank, dia Ahli bedah jantung keren kan." ucap Izal.
"Baru asisten mbak Niken jangan dengerin mereka." balas Vano merendah.
"Awal nya emang asisten mas bro siapa tau nanti jadi dokter paling Top." balas Aldo.
"Amin masya Allah semoga amanah." ucap Vano, Vano dan Via sesekali saling lirik tapi mulut Via masih saja diam hanya sesekali juga dia tersenyum tapi senyum nya sungguh manis dihati Vano, pengen deh abang peluk kamu batin Vano mulai bergejolak aneh.
"Vi, dokter Vano masih single loh kamu mau ga jadi bini nya?" tanya Izal langsung memancing emosi Via dan Vano.
"Apaan sih bang." jawab Via pelan.
"Jangan malu malu Vi, dia kan tampan Vi udah gitu dokter lagi." tambah Aldo sambil menatap Vano, rasanya Vano udah pengen mukul kepala kedua sahabatnya aja.
"Heem." Via hanya tersenyum kecut, dia pun memilih pamit dan masuk ke kamarnya.
"Jangan tersinggung ya dok, dia belum bisa menata perasaan nya belum bisa mengontrol emosinya." ucap Niken.
"Ga papa mbak Niken, saya ngerti kok." jawab Vano.
"Eh yank, Aldo tadi pernah cerita katanya dia lo yang nolong Via waktu itu sama pak bos ku." ucap Izal memberitahu Niken, kini Sharon tau kenapa suaminya tadi terus memperhatikan Via.
"Seriusan pak Al?" tanya Niken.
"Sepertinya bener deh Nik, soalnya gue inget banget orang gue yang gendong dia, rambutnya bekas kebakar waktu itu sama daerah belakang tubuhnya kalau gue ga salah cuma aneh nya bajunya basah kuyup padahal ga ada hujan." ucap Aldo.
"Pak Al bener kondisinya saat itu emang seperti itu, jadi ceritanya pas dia mau di ajak berhubungan ga mau sicowok maksa dia terus nyiram badan dia pakai yang buat itu loh apa namanya ya ga tau aku pokoknya sejenis alkohol, nah setelah disiram sicowok nyalain korek api kata nya sambil ngancem dia, dia menghindar dong pas lihat api, begitu dia hendak lari si cowok langsung nglemparin korek api yang masih nyala ya udah rambut sama badan dia yang kena, dia lari lagi sampai kebalkon nah dibawah balkon persis ada kolam renang nyeburlah dia, setelah itu dia lari lagi katanya, untung nya sicowok ini ga ngejar soalnya dia jatuh dari tangga dan end atau sempet koma gitu aku ga begitu paham." Niken pun mau terbuka soal sepupunya karena ga ada guna nya lagi disembunyikan toh mereka semua juga ga masalah jika tau.
"Ya Tuhan kasihan sekali." ucap Sharon.
"Tapi pas gue balik lagi kerumah sakit kata bang Tama udah dirujuk ama keluarganya soalnya keadaan nya parah, koma apa ya?" tanya Aldo memastikan.
"Iya setelah dapet kabar tanteku langsung nyusulin dia dan malam itu juga Via dibawa ke Singapur karena kondisinya parah banget, seminggu baru sadar kayaknya seingatku.
__ADS_1
"Kasihan sekali dia." ucap Aldo.
"Thanks ya pak Al udah nolongin adekku." ucap Niken sambil menangkupkan kediua tangan nya kearah Aldo.
"Ga masalah Nik, gue masih ga habis pikir ada pria kayak gitu itu pacar nya apa gimana?" tanya Aldo lagi.
"Bukan pak Al, mereka sahabatan cuma si cowok ini suka sama Via, dan pas diajak liburan juga Via ga ada pikiran aneh aneh orang mereka sahabatan." jawab Niken.
"Pantesan dia gitu soalnya orang yang paling dia percaya yang nglakuin ini ke dia." tambah Aldo, suasana kembali hening mereka sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
"Boleh aku bicara sama dia mbak?" tanya Vano memberanikan dirinya karena dia merasa bahwa dia ingin mengobati luka Via dengan cintanya.
"Boleh dok tapi saya mohon jangan paksa dia jika tak ingin."pinta Niken.
"Pasti." jawab Vano, Setelah mendapat ijin dari Niken, Vano pun menyusul Via ke kamar.
Vano mengetuk pintu kamar Via tapi tak ada jawaban, Via masih tak menjawab Vano pun memegang handle pintu itu mencoba menekan nya dan bersyukurlah dia karena pintu itu tak dikunci dari dalam.
"Vi apa aku boleh masuk?" tanya Vano, Via yang duduk diranjang hanya memberikan tatapan permusuhan pada Vano.
Vano pun melangkah dan ikut duduk disamping Via, Via masih tak bergeming.
"Vi jangan marah dong kan aku cuma pengen kenal lebih dekat sama kamu."ucap Vano.
"Aku ga mau, pergi sana." suruh Via.
"Kenapa?" tanya Vano.
"Ga kenapa napa pokokny aku ga mau kenal sama kamu." jawab Via jutek dan membuang pandangan nya kesamping.
"Apa aku terlihat menyeramkan untukmu?" tanya Vano.
"Semua laki laki itu menyeramkan." jawab Via, Vano menangkap tubuh Via gemetar seperti seseorang yang benar benar ketakutan, Via beranjak dari duduknya dan mencari tas tangan nya, Vano melihat Via memegang sebotol obat, dari kemasanya Vano tau itu adalah sekelas obat tidur Via menuang beberapa obat itu dan hendak meminum nya dengan cepat Vano merebut obat itubdan membuang nya.
"Tidak Vi, bukan begini caranya." jawab Vano.
"Aku ga mau tau pokoknya kembalikan obatku kalau tidak aku teriak." pinta Via setengah mengancam Vano.
"Teriak aja biar mereka semua tau tentang apa yang selama ini kamu lakukan pada dirimu sendiri." gertak Vano.
"Aku maua tidur dokter dan aku benci bangun." ucap Via, Vano pun melempar obat itu dan memilih memeluk Via.
"Kenapa kamu benci bangun, apakah kamu takut?" tanya Vano, Via mengangguk dan meremas baju Vano, Vano tau betul jika itu adalah bentuk ekspresi kemarahan Via.
"Mulai sekarang kamu jangan takut, apa kamu mau percaya pada pria sekali lagi?" tanya Vano, Via menggeleng tapi dia tak memungkiri bahwa dekapan Vano terasa nyaman baginya.
"Kamu berhak bahagia Vi." ucap Vano.
Via masih diam.
"Lupakanlah semua nya Vi, tak semua pria jahat seperti dia ada." ucap Vano sambil mengelus rambut Via seketika Via sadar bahwa saat ini dia berada ditempat yang tidak seharusnya.
"Dih peluk peluk." ucap Via sambil mendorong dada Vano, Vano pun hanya tersenyum toh yang meluk duluan bukan dia tapi Via nya sendiri.
"Vi apa kamu mau memberiku kesempatan untuk menjagamu?" tanya Vano serius.
Via mentap Vano sekilas dan memundurkan langkah nya dan duduk disofa kamarnya.
"Apa kamu mau Vi?" tanya Vano sekali lagi. Via masih diam dia memilih tak menjawab pertanyaan dokter tampan disampin nya.
"Aku ga mau maksa kamu Vi tapi aku berharap kamu mau melangkah bersama ku, saling menerima kekurangan dan kelebihan masing masing." bujuk Vano lagi.
__ADS_1
"Saya tak secantik yang dokter pikirkan." ucap Via.
"Aku udah tau." balas Vano.
"Semua tentang mu aku tau, termasuk pria bejat yang melakukan itu sama kamu bahkan yang nolongin kamu serta yang bawa kamu kerumah sakit aku juga tau Vi." ucap Vano, Via hanya menatap heran ke arah Vano.
"Jangan heran gitu biasa aja lah, kan kamu juga udah tau kalau aku dokter dan aku pasti mempelajari ini kan." ucap Vano lagi.
Via masih terlihat berfikir tentang ajakan Vano untuk memulai sebuah hubungan.
"Apa kamu mau Vi memulai nya denganku?" tanya Vano lagi.
"Saya tidak tau dokter, lagian anda berhak dapetin cewek yang lebih baik dan cantik tentu nya dari saya." ucap Via berusaha menolak.
"Tapi aku jatuh cinta nya sama kamu."
Via tak mau ambil pusing dengan apa yang Vano ucapkan dia malah memilih memunguti obat nya yang berantakan, Vano membantu nya dan menjaga agar Via tak minum obat itu lagi.
"Jangan minum obat ini lagi ya Vi." pinta Vano.
"Kalau aku ga bisa bobo kamu mau nemenin?" tanya Via bercanda tapi Vano menganggapnya serius.
"Siap tuan putri kalau lagi ga kerja." jawab Vano serius.
"Ga dokter saya hanya becada." ucap Via.
"Tapi aku serius." balas Vano.
"Udah ah keluar sana." pinta Via, dia hanya ga mau Vano tau kalau dia gugup dan mulai merasakan perasaan aneh yang mulai tumbuh dihatinya.
" Kasih nomer ponsel kamu dulu baru aku keluar." pinta Vano.
"Dih maksa." balas Via.
"Ya kan usaha Vi aku kan mau deket sama kamu." ucap Vano, Via tak mau terlalu lama berdebat dengan Vano dia pun meminta ponsel Vano dan mengetik nomernya di ponsel Vano, Vano langsung mengecek nomer ponsel yang diberikan Via pada nya.
"Siap siap aku gangguin ya Vi." goda Vano.
"Tau ah udah sana," usir Via lagi sambil membalikan tubuh Vano dan mendorong nya sekuat tenaga, aneh nya tubuh Vano sama sekali tak bergeming membuat Via sebel.
"Janji dulu." ucap Vano.
"Janji apaan?"
"Jangan pernah minum obat itu lagi."
"Iya pak dokter puas."
"Satu lagi."
"Aku mau kamu jaga hati kamu buat aku." ucap Vano lagi sambil menoleh Via yang ada dibelakangnya.
"Kita lihat nanti." jawab Via.
"Ga jadi pergi kalau gitu." desak Vano.
"Dih maksa."
"Biarin, janji dulu."
"Sudah lah pak dokter jangan membuat susah dirimu, aku tau anda hanya kasihan pada saya." ucap Via, Vano menangkap luka yang mendalam dihati Via.
__ADS_1
"Aku tidak kasihan padamu Vi, tapi aku jatuh cinta padamu."
Bersambung...