
Hari demi hari hubungan Laras dan suaminya semakim sweet, membuat sang asisen nya
sering senyum senyum sendiri jika berhadapan dengan mereka, sampai si Izal membedakan hubunganya dengan mendiang istri yang menurutnya datar datar aja, Laras sangat memanjakan suaminya, apapun keinginan suaminya Laras menurutinya dengan senang hati, seperti malam itu ketika Tama datang kerumah istrinya, dengan sabarnya Laras membuatkan makanan yang menurut Izal berlebihan, masak malam malam minta dibuatkan pastel, tau kan kalian pastel, belum buat isi, belum lagi kulitnya, tapi itu tak membuat Laras mengeluh, dia membuatnya dengan senang hati.
"Bos, sory ya kalo saya sedikit tertarik dengan hubungan bos dan nona, kalian sweet sekali." Izal tersenyum malu malu, Tama ikutan tersenyum dan mengerti apa yang asistenya ucapkan barusan.
"Bos, ini udah malem masak minta nya aneh aneh, bos ga tau ya kalo bikin pastel itu prosesnya lama bos." Ucap Izal lagi sambil melanjutkan pekerjaanya, tentu saja Tama langsung menghentikan kunyahanya.
"Benarkah?. "Tama tak percaya dengan ucapan asistenya.
"Ya iya lah bos, bayangin aja, nona mesti bikin kulitnya, isianya, isianya aja mesti ngrebus telurnya, ngupas wortel, kentang juga, belum bikin bumbunya, masak isianya, gorengnya, lama bos." Jawab Izal.
"Bener juga ya, tapi ini makanan favorit aku bro, enak banget bikinan bini gue, ga ada duanya, lo coba aja kalo ga percaya." Tama memberikan tisu buat Izal agar dia mencoba kudapan bikinan istrinya.
Izal ikutan makan kudapan itu, dikunyahan ketiga mata Izal terbelalak.
"Bener bos, ini uwenak tenan." Izal memberikan jempolnya pada Tama, Tama tertawa.
"Dibilangin ga percaya, gue ni kalo pulang kemari pasti gue minta ini, anehnya dia ga pernah ngeluh tu, dia selalu bilang iya suamiku, tunggu ya, gitu." Tama terdengar lugu ketika menceritakan istrinya dengan asistenya.
"Beruntungnya bos dapet istri begitu, saya rumah tangga sama mendiang istri belum pernah bos pulang kerja disambut, apa lagi dimasakin." Ucapan Izal tentu saja membuat Tama terkejut.
"Kok bisa, kalo hubungan kalian begitu kok bisa ada anak, gimana ceritanya? ." Tama malah penasaran dengan kisah cinta sang asisten.
"Dia itu seorang model dulu bos, bos taulah yang namanya model kan sibuk, sebenernya anak yang dia lahirkan itu bukan anak kandungku bos, dia hamil dengan bos nya, saat dia datang pada saya dan minta tolong, saya tak bisa menolaknya bos karena saya mencintainya dan saya juga sangat sayang pada putrinya, putrinya sangat cantik sama seperti mama nya, " Ternyata benar apa yang pernah papinya bilang, Izal memang mempunyai hati malaikat, hanya nasibnya saja yang kurang mujur.
"Lalu. "Tama merasa sangat kasihan dengan nasib cinta asistenya.
"Kami berteman sudah sangat lama sejak SMA, pas saya minta ke orang tuanya bos mereka marah besar, saya kena pukul abangnya, tamparan bapaknya juga, karena mereka taunya saya yang menghamili anaknya, padahal sampai ajal menjemputnya saya pun belum pernah menyentuhnya bos." Kisah Izal sedikit mengingatkannya pada istrinya, Laras itu janda masih perawan, yang ini duda masih perjaka.
"Serius lo, jadi lo belum pernah tidur dengan istri lo." Izal tersenyum dan menggeleng.
"Wah, kisahmu lebih extrim dari seseorang." Ucap Tama.
__ADS_1
"Siapa bos?." Izal juga penasaran dengan apa yang ingin bos nya katakan.
"Ada deh, kepo lo, udah cepetan kerjanya, habis itu pulang sono, gue mau pacaran ama ayang beb gue." Izal hanya tertawa dan mengeleng gelengkan kepala tak percaya, susah emang kalo udah ngadepin manusia super bucin.
"Iye bos, astaga, bentar lagi juga kelar, jangan lupa besok pagi kita ke Palembang." Ucap Izal sambil menaikan kaca matanya.
"Kok pagi sih, siang aja, kecuali kalo gue diapartemen lo boleh jadwalin gue pagi pagi." Izal mengigit bolpoinya dan menatap aneh kearah raja bucin didepanya.
"Bos, ini kan baru jam 8, bentar lagi saya pulang, habis itu terserah bos mau ngapain, pokonya besok pagi jam 6 bos harus siap. susah bos cari tiketnya astaga, kasihanilah saya." Dalam hati Izal berdoa agar bosnya tak mempersulit pekerjaan nya.
"Ah elu, cepetan, habis itu pulang sono, ganggu aja." Izal hanya tertawa, ternyata Aldo benar bahwa Tama sebenernya emang sangat menggemaskan.
Izal memang belum lama bekerja dengan Tama, tapi sudah cukup memberikan kesan yang baik bagi sang asisten bahwa bos nya sangat baik hati dan bersahabat, sejauh ini Tama belum pernah mempersulitnya, bahkan baru sebulan ini bekerja Izal sudah dua kali mendapat bonus, Tama memang tak pelit, hanya tak suka jika ditatap wanita selain istrinya.
....
Dikamar Laras sudah menunggu suaminya selesai kerja, sambil menunggu ia duduk dimeja kerjanya sambil membuat beberapa desain gaun malam pesanan temannya.
Besok pagi dia akan menjemput teman lamanya yang akan datang dari Prancis, teman Laras ini adalah seorang desainer handal disana, banyak karyanya yang dipakai oleh artis artis papan atas, bukan hanya artis dalam negri yang memakai karyanya tapi tak sedikit juga artis luar nengri yang memakai desainya.
"Udah kerjanya, pak Izal udah pulang?."Tanya Laras.
"Udah be, aku bersih bersih dulu ya. "Ucap Tama seraya meninggalkan istrinya dan masuk ke kamar mandi, Laras juga beranjak serta menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya.
Tama keluar dengan handuk masih melilit indah dipinggangnya, dia memang wow batin Laras sambil curi curi pandang ke arah suaminya, Tama memakai baju yang disediakan istrinya, bajunya wangi, bukan aroma seperti biasanya, tapi Tama menyukai aroma yang dipilih istrinya untuk bajunya.
"Ganti pewangi ya be?." Tanya Tama.
"He em, enak baunya kan, itu dikasih sama kawan aku be, tester. "Jawab Laras.
"Kawan, siapa be, kok aku ga tau, cewek apa cowok? ". Tanya Tama sambil melangkah menyusul dimana istrinya berbaring.
"Cewek be, bos parfum." Jawab Laras.
__ADS_1
"Ooo, boleh ni be beli enak kok baunya. " Suruh Tama sambil merebahkan tubuhnya dan menatap langit langit kamarnya, Laras hanya tersenyum.
"Kenapa be kok melamun?. " Tanya Laras.
"Ga papa be, aku cuma kasihan aja sama Izal." Jawab Tama.
"Kenapa be?. "Laras jadi kepo juga, Tama pun menceritakan apa yang barusan ia dengar dari asistenya.
"Kasihan ya be, duda rasa perjaka." Laras tertawa kecil.
"Kayak kamu be."Goda Tama.
"Dih, ga godain ya be, udah bobo sana". Tama adalah Tama sipria arogan yang aneh menurut Laras, sekarang menjelma menjadi pria kocak yang menggemaskan.
Laras menatap mesra mata suaminya, sipit sipit menggemaskan.
"Kenapa be?." Tanya Tama.
"Enggak, kamu tampan suamiku". Jawab Laras.
"Ngrayu." Tama tersipu malu.
"Ga suamiku, kamu memang tampan."
"Sini peluk suami tampanmu, besok aku ke Palembang ya, bangunin pagi ya be, jam 6 dari rumah." Ucap Tama sambil merentangkan tangan nya, Laras pun mendekat kepelukam suaminya. Tama mencium mesra pipi istrinya.
"Be, aku perginya agak lama ya, semingguan aku disana, sanguin ya be." Ucap Tama sambil mengeratkan pelukanya.
"Sanguin apa, mau dibikinin pastel lagi?. "Tanya Laras.
"Bukan. "
"Lalu. "
__ADS_1
Tama tak menjawab dengan kata kata, dia lebih suka menjawab dengan perbuatanya. Tama memang biang rusuh yang nakal.
***Bersambung***