PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Gelisah


__ADS_3

Robin melajukan kendaraanya dengan hati berbunga bunga, ini sungguh menjadi sesuatu yang sangat tak disangkanya, diusia yang terbilang sudah tak muda lagi Robin dikaruniai rasa cinta yang begitu indah, belum lama kebahagiaan yang dia rasakan ketika dia tau bahwa wanita yang sangat dia dambakan meninggalkan seorang putri yang cantik berhati peri ditambah lagi cucu imut yang sangat lucu, Robin berubah menjadi pria arogan dan kejam karena pengalaman hidup yang mengajarinya untuk itu.


Penolakan dan penghinaan dari mendiang ayah Hana serta penghianatan mantan istrinya memberikan dampak yang dasyat bagi pria paruh baya ini, dia sungguh tak menyangka bahwa Tuhan akan membuka hatinya kembali untuk seorang wanita yang baru tiga kali ditemuinya, nasibnya sungguh mujur kali ini hanya ada sedikit drama dalam hubunganya dengan wanita pujaanya.


Robin menatap lurus kejalanan yang kini dilewatinya, kata kata Laras kembali ternginyang ditelinganya, suara itu terdengar merdu walaupun nadanya sedikit ketus.


Ancaman Laras yang mengharuskan dia untuk tidak main perempuan lagi membuahkan hasil, tekat Robin sangat kuat untuk merubah sikapnya, mulai hari ini akan ada tiga bidadari yang mengisi hatinya, pertama ada tante Arika, Laras dan juga bidadari kecil milik Laras dan Tama, siapa lagi kalau bukan baby Zia, beruntung sekali nasib mu om Robin.


Ketika memasuki kamar hotelnya jam dinding menunjukan pukul 11 malam, dilihatnya ponsel yang ada disaku celananya, dia langsung memencet tombol satu yang bertuliskan my wife (belum om ampun deh), dia tersenyum ketika membaca tulisan itu diponselnya.


"Dia wanita yang indah, kira kira berapa ya umurnya." gumam Robin, dia kembali tersenyum dan mencium ponsel nya, entah kenapa ponsel itu seperti ada bau tante Arika yang tertinggal diponselnya dia menyukainya.


"Ka, Mas udah sampai hotel." itu yang Robin tulis diponselnya, "Eh kok mas sih malu maluin aja." gerutunya, dia pun menghapusnya lagi pesan itu.


"Mas udah sampai hotel sayang." lalu dia kembali menulis pesan itu, kali ini dengan sedikit keraguan dia tetap memencet tombol hijau dan yess pesan melayang sampai ke ponsel tante Arika dengan sempurna.


Kebetulan malam itu tante Arika juga sama sama belum tidur dia pun membaca pesan itu dengan senyuman bahagianya, dia ingin membalas tapi ragu.


"Nanti kalau aku ga balas kasihan dia nunggu." ahirnya tante Arika pun membalas pesan chat dari om Robin.


"Iya."balasnya, disebrang sana om Robin membaca pesan itu dengan hati yang sedikit kecewa, dia pun melanjutkan nya dengan kembali mengirim balasan.


Robin...


"Kok balasnya cuma gitu."


Arika...


"Terus."


Robin...


"Ga ada kata sayang gitu?"


Arika...


"Ih genit."


Robin...


"Cuma minta disayang aja dibilang genit."


Arika...


"Iya sayang."


Robin..


"Makasih."


Arika...


"Sama sama."


Robin...


"Mimpi indah ya."


Arika..


"Kamu juga ya."

__ADS_1


Robin..


"Besok aku pulang ya sayang."


Ketika membaca itu Arika sedikit terkejut.


dia pun penasaran dan ahirnya bertanya.


Arika..


"Pulang kemana?"


Robin..


"Emang Tama ga cerita aku tinggal dimana?"


Arika...


"Enggak."


Robin tersenyum.


Robin..


"Suamimu ini tinggal dinegri orang sayang."


Arika tersenyum membaca kata suami dari pesan kekasihnya.


Arika..


"Suami???" belum pak."


Robin..


Arika..


"Amin."


"Emang bapak tinggal dimana?"


Robin..


"Loh kok jadi bapak sih, tadi tuan sekarang bapak, malu aku."


Arika


"La terus."


Robin


"Mas aja."


Arika..


"Ga mau ah situ tua "


Robin..


"Tapi mau kan?"


Arika..

__ADS_1


"Hehe"


Robin..


"Mas tinggal di Singapur sayang."


Arika...


"Oo, kirain tinggal di Jakarta."


Robin..


"Nanti kalau kita udah nikah mas beli rumah di Jakarta, gimana?"


Arika..


"Kan kita cuma berdua pak, ga udah beli tinggal dirumah aku aja."


Robin..


"Aku sering pergi pergi apa kamu keberatan."


Arika..


"Pergi kemana, apa istrimu banyak hihihi?"


Robin..


"Satu aja baru mau ni."


Arika..


"Hehe, aku ngantuk bobo yuk."


Robin..


"Oke selamat bobo sayang."


Arika..


"Oke sama sama."


Wah bungan bunga cinta benar benar bermekaran sekarang, anehnya kebahagiaan ini malah membuat mereka gelisah tak bisa tidur karena menahan keinginan untuk bertemu.


Berbeda dengan om Robin dan tante Arika yang sedang dimabuk asmara meski diusia yang terbilang tak muda lagi, mereka sepakat untuk mengikat janji sehidup semati.


****


Disini ada mas Aldo yang tak tenang mencari dimana keberadaan pujaan hatinya saat ini, ingin bertanya tapi pada siapa, masalahnya tak satupun teman Sharon yang dia kenal.


"Kenapa aku jadi seperti ini sih, aaaiiissttt dasar lampir ganguin otak gua aja." umpatnya.


"Pantesan abang malas jatuh cinta rasanya ga enak banget." tambahnya.


"Lagian kenapa gue ***** bener ya, bukan nya minta nomer handphone pas bareng, ahhhh oon oon." Aldo memukul keras kepalanya sendiri.


Aldo kembali duduk sofa kamarnya, kembali mengingat masa masa dimana dia menjahili Sharon, tak terasa air matanya menetes dan..


"Apaan sih gue, ngapain gue nangis gue kan cowok gila gila gue gila, sial." umpatnya


Jatuh cinta pada wanita yang hanya mengajaknya berangan semu memang sungguh menyakitkan, Aldo sebenernya menyadari tapi sayang nya kita tak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta.

__ADS_1


Aldo melangkahkan kakinya keranjang dengan malas, dipeluknya bantal yang pernah Sharon pakai waktu itu, diciumnya bantal itu bahkan dia juga memeluk bantal itu seolah sedang memeluk tubuh langsing Sharon seperti yang dia lakukan malam itu.


Bersambung...


__ADS_2