PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Salah Paham


__ADS_3

Seminggu berlalu Tama pun kembali ke Jakarta, kali ini dia meminta Izal untuk langsung mengatarnya pulang ketempat dimana istrinya tinggal, hari memang sudah petang ketika dia masuk ke komplek perumahan yang Laras tinggali, Tama sudah tak sabar ingin memeluk istri tercintanya yang sudah seminggu dia tinggalkan untuk urusan pekerjaan, Tama juga sudah meminta pada asistenya ini bahwa dia tak ingin diganggu untuk dua hari kedepan, dia ingin bermanja manja dengan istrinya, Izal pun paham maksud dengan apa yang bos nya inginkan, bahkan diam diam Izal pun mendukung keinginan bosnya untuk selalu menjaga keharmonisan rumah tangganya.


Mobil yang membawa Tama pun masuk digang rumah Laras, betapa terkejutnya Tama ketika melihat seoramg pria keluar dari rumah yang Laras tinggali, bahkan pria itu terlihat mesra dengan istrinya, sebelum pria itu masuk ke mobil pria itu memeluk Laras dan memegang kedua tanganya, tentu saja itu membuat darah Tama mendidih. Izal langsung paham dengan situasi didepanya.


"Bos, jangan sampai bos salah paham, sebaiknya tanyakan langsung mungkin nona punya jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang kita lihat. "Tama sangat geram, tapi dia memilih diam Izal tahu bahwa saat ini bos nya sedang emosi.


"Aku lelah Zal, bawa aku keapartemen aja." Pinta Tama, Izal pun menurut, diperjalanan menuju apartemenya mulut Tama hanya diam, dia sama sekali tak menunjukan expresi kemarahanya, ini membuat Izal sedikit bingung, bos satunya ini memang susah ditebak.


Mobil yang Izal kendarai pun ahir nya sampai di lobi apartemen dimana Tama tinggal.


"Lo langsung pulang aja Zal, oia dua hari kedepan jangan ganggu gue, kalo dia lihat lo bilang aja gue masih di Palembang."Pinta Tama.


"Tapi bos.. "Tama tak menghiraukan asistennya, Tama turun dari mobil dan melangkah dengan gontai, rasanya sangat malas, bayangan indah bermanja manja dengan istri tercinta nya pun sirna, kekecewaan tentang apa yang ia barusan lihat sangat menyakitkan.


Tama duduk disofa ruang Tamunya, melepas jas dan dasinya, Tama membaca lagi beberapa pesan yang dia kirim dan terima dari Laras selama mereka berpisah, sepertinya Tama muak dengan itu, Tama lempar ponsel yang ia pegang hingga hancur berantakan, Tama beranjak dan melangkahkan kakinya kedalam kamar dan langsung merebahkan tubuhnya diranjang king size nya, kasur empuk itu pun tak mampu membuatnya tenang, Tama bangun lagi dan duduk disisi ranjang, perasaan gelisah dan kesal terus menghantuinya.


Tama memutuskan mandi dan berendam, tapi tetap saja perasaan memuakan itu berputar putar diotaknya, ingin rasanya malam itu dia kembali kerumah Laras tapi dia takut lepas kendali, dia sangat tau jika dia sangat sulit mengendalikan dirinya ketika marah, dia takut akan menyakiti fisik Laras, tapi berada dikondisi seperti ini pun dia juga tak bisa tenang.


Malam ini Tama hanya menghabiskan waktunya untuk berfikir sampai dia tak sadar telah lama membawa tubuhnya berendam, hingga air yang tadi nya hangat sudah menjadi sangat dingin.

__ADS_1


Tama beranjak dari bathupnya dan membilas tubuhnya, rasanya masih sama, lemas dan tidak bergairah.


Disatu isi sang asisten juga gelisah, dia tak tenang meninggalkan bos nya dalam masalah seperti itu, ahirnya setelah selesai membersihkan dirinya dia pun pergi ketempat dimana bosnya berada, tak lupa dia pun membawakan makan malam untuk bosnya.


Tama tak perduli dengan siapa yang memencet bel apartemenya, dia masih saja berbaring disofa ruang tamu, tentu saja itu membaut gelisah sang tamu, hampir setengah jam Izal menunggu ahirnya Tama pun membukakan pintu, Tama terlihat tenang, Izal pun lega.


"Bos tidak apa apa kan?. " Tanya Izal.


"Apaan sih lo ganggu aja."gerutu Tama.


"Ga bos, saya cuma khawatir."Jawab Izal, sebenernya dalam hatinya Tama pun seneng dengan perhatian sang asisten. Tama duduk di sofanya lagi, Izal mengikutinya.


"Lo cari tau siapa laki laki tadi. " Tama mulai memberikan perintahnya.


"Bos, yang namanya suami istri itu harus terbuka, kenapa bos ga nanya sendiri sama non Laras, biar ga ada kesalah pahaman, saya rasa non Laras punya jawaban atas apa yang membuat bos seperti ini. "Tama menghela nafas dalam dan menatap asistenya.


"Gue takut ga bisa ngendaliin emosi gue Zal, gue takut nanti nyakitin fisik dia, belum tentu dia salah tapi aku susah berfikir lagi jika berdekatan dengan seseorang yang membuat ku tak tenang." kini Izal mengerti kenapa Tama milih menghindar.


"Baik bos, saya akan cari tau siap laki laki itu. " Jawab Izal.

__ADS_1


"Lo pulang aja gue ga papa, untuk sementara jangan ganggu gue, kalo pun dia nanyai gue jangan kasih tau dia, kamu mengerti. "Ucap Tama.


"Bos, "


"Hem.. "


Izal tak melanjutkan kata katanya, dia takut menyinggung perasaan orang yang telah memberinya pekerjaan, Izal terus menunggu sampai Tama terlelap disofa, dia berdiri hendak menaruh makanan yang dia bawa ke meja makan, tak sengaja dia melihat ponsel Tama berantakan. Izal pun memungutnya dan menghaktifkan nya kembali, ah masih bisa, dia pun memaruh ponsel itu dimeja dekat Tama berbaring. Izal masuk ke kamar bosnya untuk mengambil selimut, setelah memakainnya dia pun memilih pulang.


....


Laras sangat bahagia karena hari ini adalah hari terahir Tama menjalankan perjalanan


bisnisnya itu artinya Tama akan datang kerumah dimana dia tinggal, sesuai chat yang Tama kirim tadi.


Malam semakin larut tapi Laras masih setia menunggu kedatangan suaminya. berkali kali Laras menghubungi suaminya tapi tak bisa, Laras semakin gelisah, dia semakin khawatir karena mendengar gemuruh petir disertai hujan lebat dan angin kencang, Tama memang jarang pulang, tapi dia tak pernah mengingkari janjinya ketika mengatakan mau datang, sejauh ini Tama selalu menepati kata katanya.


Laras merebahkan tubuhnya disofa, lama lama kantuk pun mendatanginya hingga dia tak mampu lagi bertahan ahirnya Laras pun memejamkan mata dan tertidur disofa ruang Tamunya.


***Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2