PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Kado Terindah (2)


__ADS_3

Tama clingukan kekanan dan kekiri seperti seorang pencuri setelah dirasa aman dia pun melangkah dengan tenang ke kamar Zia dimana orang yang dicarinya sedang bobo manis disana, Tama membuka pintu kamar Zia dengan tenang agar Zia Laras dan juga pengasuh Zia tak bangun, Tama membuka pintu kamar Zia lebar lebar kemudian menculik Laras dan membawanya, dengan bantuan kaki nya dia berhasil menutup kembali pintu Kamar Zia dengan pelan.


Laras merasakan tubuhnya melayang dia pun membuka matanya, tentu saja dia terkejut karena sekarang dia berada digendongan suaminya. Laras hendak berteriak tapi dengan cepat menutup mulutnya, dia ga mungkin membangunkan semua orang yang ada dirumah ini hanya karena tingkah konyol Tama yang menculiknya.


" Bukan pintunya mi." suruh Tama, Laras pun menuruti perintah Tama dibukanya pintu itu dan Tama pun leluasa masuk sambil masih menggendong istrinya, Tama menurunkan Laras diranjang king size nya, Laras hanya diam dan menurut.


Tama kembali berjalan kearah pintu dan menguncinya.


"Mamas mau ngapain?" tanya Laras sedikit gugup.


"Aku suamimu bukan suka suka aku lah mau ngapain, ngapain kamu takut kayak sama pacar aja." goda Tama sambil membuka selimut disebelah Laras dan merebahkan tubuhnya disana, Laras masih duduk bersila disebelah Tama, kumat aroganya.


"Mamas mau ngapain sih ngajakin Laras kesini emang ada apaan, Laras ngantuk mamas ih." Laras hendak beranjak dari ranjang, dengan cepat Tama mencekal tangan wanita cantik disampingnya, Tama tak membuang waktunya lagi, dipeluknya Laras dan Tama mulai nakal, mulai dari ciuman ciuman pelan ditengkuk Laras kini berubah menjadi ciuman nakal yang menggairahkan, bahkan tangan itu juga tak tinggal diam membuka beberapa kancing piyama Laras, Laras merasakan buku kuduknya merinding karena tingkah nakal suaminya.


Laras masih mencoba melawan agar tak terlena oleh cumbuan mesra suaminya.


"Mas jangan seperti ini." ucap Laras tubuhnya gemetar melawan rasa ingin dan menolak.


"Aku tau kamu ingin sayangku, aku juga ingin menjenguk mereka." bisik Tama sungguh nakal memang tapi ucapan Tama seketika menyadarkan Laras akan kado yang diberikan nya pada suami tercintanya.


"Oke oke wait, aku akan jelaskan habis itu terserah mamas mau lanjut ya kita lanjut." ucap Laras sambil memegang tangan Tama agar tak semakin menjelajahi area tubuhnya.


"Ga kamu boong aku udah tau udah paham juga ga usah dijelasin pokoknya sekarang aku mau jenguk mereka." paksa Tama bahkan sekarang tanganya sudah masuk di dalam baju Laras sudah mengelus diperut Laras dengan penuh cinta.


"Mamas nakal ih geli tau." Laras mulai tertawa pelan.


"Orang mamas ga ngapa ngapain lo cuma gini gini." Tama kembali mengelus perut istrinya.


"Mamas plis, geli ayo lah keluarin tanganya." pinta Laras.


"Enggak pokoknya aku peluk mereka mulai hari ini." jawab Tama masih ngotot.


"Oke, kamu menyebalkan mas Laras marah." ucap Laras manja.

__ADS_1


"Marah aja pokoknya kamu ga boleh kemana kemana." tambah Tama.


"Kok gitu."


"Aku sudah paham sekarang kata itu tak mempan bagimu ternyata disini (dia kembali mengelus perut Laras) sudah ada mereka yang melindungimu." bisik Tama suaranya terdengar lain seperti seseorang yang menahan hasrat.


"Sekarang mamas paham kan betapa jahatnya mamas sama Laras dan anak anak?" Laras kembali mengingatkan akan sifat labil Tama.


"Iya sayang mamas sadar maafkan aku ya sayang ku maafkan daddy ya anak anak daddy kalian tau ini adalah kado terindah yang daddy terima seumur hidup daddy kalian adalah segalanya buat daddy sayang, makasih ya mami telah jagain mereka bertiga untuk daddy, aku mencintaimu istriku sayang." ucap Tama sekarang dia merasa lega telah mengeluarkan isi hatinya pada orang yang tepat.


"Mas."


"Heem."


"Besok potong rambut ya."


"He em, apapun yang kamu ingin sayang."


Laras tersenyum mendengar jawaban suaminya dia terlihat manis jika dalam keadaan jinak gini.


"Pas mami keluar dari rumah mereka udah berapa bulan mi?" tanya Tama.


"Dua minggu mas." jawab Laras.


"Kok panggil daddy mas lagi sih."


"Biar daddy kelihatan lebih muda." jawab Laras asal, Tama hanya tersenyum mendengar jawaban asal istrinya.


"Mas emang keluarga mamas ada yang kembar ya?" tanya Laras penasaran.


"Daddy punya kembaran mi tapi dia meninggal sehari setelah lahir kata mami." jawab Tama, dia masih asih mengelus dan merapikan rambut istrinya dan menciumi bau harum rambut itu, jika boleh jujur itu sangat menggairahkan untuk Tama.


"Oo, pantesan."

__ADS_1


"Pantesan kenapa mi?"


"Biasanya orang yang mengandung kembar itu kan biasanya keturunan mas, makanya Laras hingung kok bisa ya Laras hamil baby twins setahu Laras keluarga kita ga ada yang kembar eehhh ternyata bibit baby Laras kembar to." Laras sudah kembali bisa bercanda dengan suaminya.


"Kamu ini." Tama mencolek hidung mancung Laras, mereka kembali melepar senyum, Tama mengeratkan pelukanya, Laras menyandarkan tubuhnya didada bidang Tama yang sangat dia rindukan kehangatanya.


"Makasih banyak ya istriku."


"Sama sama suamiku." Tama kembali mencium kening Laras.


"Mas."


"Heemm"


"Laras kangen bau mamas." bisik Laras.


"Aku milikmu seutuhnya sayan." jawab Tama semesta mungkin. Laras menaruh wajahnya dileher Tama mengalungkan kedua tanganya dileher suaminya, Tama menyatukan kening mereka hingga mereka sama sama bisa menghirup aroma nafas yang mereka keluarkan, mata Laras terpejam kala itu Tama yang mendapat signal itu langsung melancarkan keinginan yang lama terpendam.


Apa lagi yang dia tunggu bahkan baju Laras pun udah dia buka separo, Tama menahan tengkuk Laras dan mulai mengecup bibir manis istrinya, Laras yang awalnya diam kini mulai bisa mengimbangi keinginan suaminya, tak dipungkiri dia pun merindukan cumbuan mesra Tama.


Malu tapi mau itulah ungkapan yang pas untuk mereka, bisa dikatakan bahwa mereka terlihat seperti pengantin baru yang akan melewati malam pertama, sungguh pelan dan lembut. Tama sungguh memperlakukan Laras dengan sangat lembut bahkan Laras sampai terbuai dengan perlakuan Tama yang sangat dia rindukan, Laras menjerit pelan ketika Tama menyatukan raga mereka, Tama tersenyum menang ahirnya wanita yang beberapa hari ini menghindarinya pun bisa dia tahlukan kembali.


Malam ini menjadi malam yang panjang dan indah bagi Tama dan Laras, meski tak serusuh biasanya tapi Tama adalah Tama tak pernah puas dengan sekali tancap apa lagi ini meskipun istrinya hamil muda dia tetap saja bersemangat bahkan ketika Laras meminta sudah dia hanya tersenyum dan terus melancarkan aksinya tanpa kata. Tama terus menciumi punggung Laras meski permainan telah usai, membuat pemilik punggung merasa merinding.


"Mas udah dong Laras ngantuk sayang." pinta Laras.


"Malam ini aku ga mau bobo kalau kamu gantuk ya bobo aja, aku mau ciumin kamu sampai puas." ucap Tama tak menghiraukan ucapan Laras.


"Kenapa kamu nakal sekali sekarang heeemmm."


"Karena aku udah lama puasa sayang wajar lah." Tama tersenyum licik.


"Tau ah selalu egoisnya." Laras memiringkan tubuhnya memunggungi suaminya, Tama malah senang dengan itu, dia pun tetap saja berbuat semaunya meski Laras sudah tertidur Tama masih saja memuaskan keinginan nya hingga dia tertidur.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2