PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Ujian Ini Sungguh Berat


__ADS_3

Kabar mengejutkan dari dalam ruang oprasi, dokter yang mengoprasi Tama tiba tiba pingsan untung saja dia memiliki asisten yang kemampuanya tidak diragukan meskipun itu cewek, asisten itu cepat tanggap menangani pendarahan yang diderita Tama, suami Laras ini sungguh luar biasa dia mempunyai semangat hidup yang sangat tinggi.


Dua jam kemudian..


Lampu didepan ruang oprasi sudah dipadamkan pertanda oprasi sudah selesai, mereka bertiga sangat tegang mengingat betapa parahnya luka Tama sebelum masuk ruang oprasi. mereka sangat bersyukur Tama mampu keluar dari ruang oprasi dengan selamat meskipun terjadi begitu banyak drama, tentu saja ini membuat sesak dada keluarganya.


Berkat doa kedua orang tua dan istri tercinta serta usaha tim medis ahirnya oprasi Tama berjalan dengan lancar. Dokter yang menangani Tama keluar dengan senyum yang merekah.


Laras dan mami Arini langsung mendekati Dokter dan menanyakan keadaan Tama.


"Dokter bagaimana keadaan putraku?" tanya mami Arini khawatir.


"Oprasinya berjalan lancar nyonya, putra anda mempunyai semangat hidup yang yangat tinggi, untuk sementara saya belum bisa mengizinkan siapapun menjenguknya, kalian hanya boleh melihatnya diluar ruangan sampai dia dinyatakan stabil dan bisa melewati masa kritisnya, atas nama dokter Arya saya ucapkan mohon maaf." jawab Dokter cantik itu.


"Tidak apa apa dokter, dokter Arya juga manusia biasa kami mengerti." ucap papi Bram.


"Dokter suamiku pasti selamat kan dia pasti sembuh kan?." tanya Laras sambil memegang lengan sang dokter.


"Insya Allah bu kenapa tidak, kita doakan saja semoga suami anda bisa segera melewati masa kritisnya." jawab Dokter.


Mendengar jawaban sang dokter yang optimis membuat Laras menjadi ikut optimis. dia yakin suaminya pasti sembuh.


Laras terus memangis didepan ruang rawat suaminya, betapa hancur hatinya sekarang melihat belahan jiwanya terbaring lemah dengan beberapa alat bantu yang menempel ditubuhnya, Mami Arini lebih sedih melihat menantunya yang terus menangisi putranya, dibanding melihat putranya yang terbaring lemah.


"Sabar lah nak mari ganti dulu bajumu percayalah mas mu pasti bisa melewati ini mami yakin, mas mu orang yang kuat." bujuk Mami Arini.

__ADS_1


"Ga mi, Laras mau disini aja, nanti kalau mas bangun gimana mi nanti kalau mas haus gimana mi." hati ibu mana yang tak trenyuh melihat ada seorang wanita yang begitu mencintai anaknya, segitu khawatirnya Laras sampai ganti baju pun tak mau.


"Ada papi yang jaga nak, ayolah ganti bajumu nanti kalau Tama lihat kamu seperti ini gimana." ucap papi Bram ikut membantu membujuk Laras.


Dengan dibantu ibu mertuanya ahirnya Laras mau menganti pakaianya, mami Arini sedikit curiga melihat perubahan tubuh Laras yang dinilai lebih berisi, khususnya diarea dadanya.


"Ras."


"Ya mi."


"Kamu hamil."


Deg..bagaimana ini haruskah aku jujur,ah sudahlah apa yang aku takutkan toh ini jiga anak Tama, cucu mereka.


"Iya mi." jawab Laras, tentu saja mami Arini sangat senang, dia terkejut dan memeluk Laras. Laras malah terlihat bingung.


"Tentu nak ada apa memangnya." Laras menangis dan memeluk ibu mertuanya lagi.


"Laras bingung menghadapi mas Tama mi, dia tak mau mengakui anaknya hiks hiks hiks." tangis Laras pecah ketika mengeluarkan isi hatinya.


"Kok bisa apa masalahnya Ras." tentu saja


mami Arini bingung.


"Sebulan yang lalu teman Laras yang dari Paris dateng kerumah mi, disamping dia main dia juga menawarkan kerjasama sama Laras, dia ingin Laras jadi salah satu desainer diperusahaan dia kerja."

__ADS_1


"Lalu masalahnya dimana?" mami Arini makin bingung.


"Waktu dia dateng mas Tama lagi dipalembang mi, belum sempet Laras cerita soal dia mas Tama sudah curiga bahwa Laras ada apa apa sama temen Laras ini, karena tanpa sengaja mas Tama lihat Laras dipeluk sama teman Laras didepan rumah ma, itu pelukan pertemanan mi Laras berani sumpah kalau mami ga percaya ini Laras ada kontaknya mami tanya aja." jawab Laras berusaha meyakinkan mertuanya. Mami Arini malah tertawa, sifat Tama sedikit mirip dengan papinya, pecemburu akut.


"Kamu sabar aja Ras, laki laki memang gitu, percayalah jika sudah ada cinta diantar kalian semua pasti baik baik saja, semua hanya butuh sabar kamu ngerti maksud mami kan." ucap mami Arini.


"Tapi mi, mas Tama benar benar ga percaya sama Laras dia mau Laras tes DNA kalau dedek lahir." ucap Laras raut mukanya menunjukan kesedihan yang mendalam, mami Arini mengeri pasti perasaan menantunya saat sakit.


"Apa kamu mencintai putra ku Ras?" tanya mami Arini.


"Laras mencintainya mi sangat." jawab Laras.


"Maukah kamu maafkanya." pinta mami Arini sambil memohon pada menantunya.


"Laras selalu memafkannya mi tanpa mami minta, Laras ingin membencinya mi tapi Laras tak bisa." sungguh mulia hatimu menantuku, putraku sungguh beruntung memilikimu. Mami Arini tersenyum kini dia benar benar percaya bahwa Laras sangat mencintai putranya.


"Mami minta kamu lebih bersabar ya Ras, percayalah kamu pasti bisa memenangkan hati suamimu percayalah." Sengaja atau tidak mami Arini telah memberinya banyak kekuatan.


"Mi, apakah mas Tama emang keras gitu orangnya?" tanya Laras.


"Mas mu itu hanya ga suka kalau miliknya diusik, dipegang pegang sama orang lain. ya begitulah dia tapi sebenernya dia penyayang, kamu lihat sendiri kan Ras dia sama adeknya aja kayak gitu apa lagi nanti sama kamu dan anakmu, percayalah kamu pasti lama lama bakalan ngerti sifat masmu 11 12 sama papinya, mami juga pernah diposisimu, mami ga terlalu pusingin sifat mereka pada ahirnya mereka juga pada pulang cari mami begitu sadar, yang kita iklas Ras pasti semua akan baik baik saja, nanti kalau dia masih gitu biar mami yang bicara kamu tenang aja, udah yuk kasihan papi kelamanan nunggu kita". ucap Mami Arini sambil membantu Laras memasukan baju baju kotornya.


"Baik mi, makasih banyak ya mi mami udah mau dengerin curhatan Laras, Laras bingung. tadinya mau gimana." jawab Laras.


Mami Arini tersenyum. senyum yang bahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki cucu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2