
Tama keluar dari ruang kerja papinya dengan beragam ketakutan yang berkecambuk dipikiranya, bagaimana reaksi Laras jika mengetahui fakta ini, orang yang jadi sumber rasa sakitnya adalah orang tua kandungnya sendiri. Tama takut Laras akan hancur karena ini.
Aldo yang curiga dengan wajah masam abangnya langsung bertanya.
"Ada masalah apa bang?" tanya Aldo.
"Tak ada apa apa, abang kangen sama putri abang, abang balik dulu ya, Sharon thanks atas bantuan nya mari ikut saya kembali kerumah sakit, mobilmu ada disanakan." ucap Tama.
"Baik bang." jawab Sharon.
"Awas bang kalau dimakan sama lampir nanti." Aldo sangat suka rupanya menabuh genderang perang pada Sharon
"Lo pikir gue minat gitu makan bang lo, gue lebih suka memakan lo tau, gue bakalan becek becek lo sampai penyok lo denger." balas Sharon, Pak Bram yang barusan keluar dari ruangan pun tertawa.
"Kalian ini, papi doain kalian jodoh." ucap pak Bram.
"Amiiinnnnnn." jawab Tama semangat.
"Apaan sih pi. " Aldo yang merasa diserang segera menghindar, dia pun keluar rumah dan langsung masuk kedalam mobil, dia duduk kursi penumpang bagian dibelakang karena tangan kirinya retak, terpaksa dia harus menggendongnya.
Aldo sungguh merasa tersudut ditambah lagi sekarang papinya ikut ikutan menggodanya.
"Bang kamu duduk didepan biar papi yang bawa mobilnya, Sharon kamu dibelakang aja." sepertinya pak Bram sengaja ingin mendekatkan mereka, suka sekali dia menggoda putra bungsunya.
"Ih, apaan lo dekat dekat gue, jauh sana bisa kudisan gue deket elo." hardik Aldo sambil mendorong Sharon, Sharon sudah muak diplintir tangan Aldo kuat kuat.
"Kalau lo ga diem gue tambahin ni." ancam Sharon.
"Aaaa, ampun oke oke." jawab Aldo, Tama dan pak Bram yang melihat adegan itu langsung tertawa.
"Beneran ini papi doain kalian jodoh." ucap pak Bram.
"Amin." jawab Tama lagi.
Aldo dan Sharon tak perduli dengan ledekan pak Bram dan Tama, mereka hanya diam disepanjang perjalanan, perasaan Aldo sangat tak nyaman dia masih memikirkan pernikahan yang Sharon bicarakan tadi.
Sesampainya dirumah sakit, Sharon langsung berpamitan pulang karena ada banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Pak Bram dan Aldo juga pamit pulang, Mereka tak mampir keruangan Laras karena takut Laras akan curiga dengan apa yang mereka kerjakan.
Tama membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya sebelum masuk keruang rawat Laras, untung selalu ada baju ganti dimobilnya.
Dengan pipi yang sedikit kebiru biruan dan bibir robek sedikit Tama pun segera masuk keruangan istrinya, disana sudah ada mami Arini dan juga bik Marni yang menemani Laras.
"Sore semua." sapa Tama dengan senyum manisnya.
"Sore." jawab Semua, Laras yang melihat muka lebam suaminya langsung bertanya khawatir.
"Mas itu muka kenapa?" tanya Laras.
"Biasa cowok." jawab Tama.
__ADS_1
"Mamas Laras tanya serius mamas kenapa?" tanya Laras lagi.
" Tadi nolongin ibu ibu kecopetan, ni oleh olehnya dikroyok preman." jawab Tanya boong.
"Mamas ga boong kan." Laras sebenernya tak percaya.
"Ga sayang, sini peluk eemm kangen."Tama memeluk dan mencium kening istri tercintanya.
"Dedek mana yank, papi kangen ni?" tanya Tama.
"Diambil suster dimandiin, ini kita mau siap siap kata dokter kita udah boleh pulang." jawab Laras.
"Oh ya, bagus lah senengnya." jawab Tama masih tak mau melepaskan pelukanya.
"Mamas udah ah peluknya malu ada mami sama bik Marni." bisik Laras, Tama pun menurut, tak lama baby Zia pun dateng diantar oleh suster rumah sakit itu.
Mereka pun bersiap pulang.
Laras langsung menerima bayi mungil itu, Tama yang gemas dengan bidadari kecilnya terus menowel nowel pipi gembil gadis kecil hasil karyanya.
"Jangan daddy nanti besar pipi adek." ucap Laras.
"Habis kamu lucu sayang gemes daddy, daddy gigit ya mana tanganya." Tama mengelus tangan kecil itu dan pura pura mengigitnya.
"Au atit daddy." suara Laras semakin membuat Tama senang memainkan putrinya.
"ntar malem udah boleh bobo daddy lo, mau ga bobo daddy hemm heemm lama lama daddy gigit bener kamu gemes daddy."
suaminya, dia sama sekali ga nyangka bahwa Tama akan segitu sukanya pada putrinya.
Mami Arini bersiap membantu membawa barang barang Laras, dibantu oleh Bik Marni dan supir pribadi Mami Arini.
"Mas." panggil Laras.
"Hem."
"Keperluan baby Zia ada dirumah kita lo." ucap Laras.
"Mamas udah mengatur semuanya sayang kamu tenang aja, yang penting ntar malem kamu.." goda Tama.
"Mamas ah, kambuh." Laras merajuk.
"Hehehe, ga ga mas tau." jawab Tama.
"Ga nakal ya." Laras mengingatkan.
"Mengertilah sayang mas puasanya lama." bisik Tama.
"Siapa suruh ngambek ngambek segala." balas Laras.
Tama hanya tertawa pelan, dia paham dengan kebodohanya.
__ADS_1
Mobil Alphart yang membawa mereka pun ahirnya sampai dimension keluarga Demitri, Tama langsung membantu istri nya masuk kedalam kamarnya.
Ini adalah kali kedua Laras menginjak kan kakinya dikamar pribadi Tama di mension keluarga besarnya, Laras tertegun ketika masuk kekamar itu, ingatan tentang perlakuan Tama terahir kali padanya membuatnya sedih.
" Kenapa istriku, kamu ingat kenangan pertama masuk kamar ini ya?" tanya Tama.
Laras mengangguk, Tama mengambil baby mungil yang telah terlelab digendongan istrinya dan menaruh di box bayi.
Tama menghampiri Laras dan menggendongnya lalu duduk disofa dan memangku tubuh kurus Laras.
"Mulai hari ini aku akan memperlakukanmu dengan baik ratuku." ucap Tama, Laras tersenyum.
"Sayang."
"Hem."
"Sampai kapan mas puasa?" tanya Tama, selalu batin Laras.
"Mas kan paham agama udah tau kan jawabanya." goda Laras.
"Jangan menggodaku istriku, ap kamu ga tau mas susah payah menahannya." bisik Tama.
"Mamas bobo dikamar bawah aja kalau gitu." ucap Laras.
"Ga mau." jawab Tama, tiba tiba ponsel Tama berdering, Izal mengabarkan bahwa tiket yang Tama mau untuk menuju Singapura sudah dia pesan malam ini dia sudah bisa terbang ke Singapura.
"Sayang malam ini mas ke Singapur ya." ucap Tama.
"Ya mamas baru juga ketemu."
"Iya sayang sory, papi minta mamas nemenin beliau meeting." jawab Tama.
"Baiklah." jawab Laras rela ga rela melepas kepergian suaminya.
"Ras."
"Hem."
"Maukah kamu berjanji sekali lagi pada mamas." ucap Tama.
"Janji apa mas." jawab Laras.
"Apapun yang terjadi nanti aku ingin kamu tidak akan pernah berubah, aku ingin hati mu tetap utuh untukku istriku." ucap Tama.
"Mas selalu menginginkan hati Laras, apakah Laras telah memiliki hatimu suamiku?" tanya Laras
"Kamu sudah berada disini ketika ijab qobul aku ucapkan istriku." jawab Tama jujur.
"Tapi galak." jawab Laras.
"Maaf." Diahir kata mereka telah menyatukan bibir mereka dan kembali meyakinkan perasaan masing masing, Tama tersenyum bahagia begitu pun Laras.
__ADS_1
Bersambung...