
Malam itu Tama sedang bercanda dengan putri kecilnya, dengan gemasnya dia terus memainkan pipi dan juga dagu mungil baby Zia.
"Mas, dia mau bobo jangan digangguin." tegus Laras.
"Dia lucu banget mi suka daddy." jawab Tama.
"Iya Laras juga tau tapi kasihan nanti rewel dia kalau mau bobo digangguin."
"Mi aku mau punya ginian yang banyak ya mi." pinta Tama.
"Ga nanti kamu ga mau nemenin, ga enak hamil sendiri ga ada yang usap usap pinggangnya." jawab Laras manja.
"Hehe maaf ya sayang, daddy janji manti kalau mami hamil lagi daddy bakal nemenin daddy akan nurut apapun yang mami mau." ucap Tama berjanji.
"Baiklah yang penting mas ga marah kalau Laras mau atur jarak kelahiran ya, mulesnya masih berasa ini." Tama pun mengangguk tanda setuju, selebihnya dia makin suka bermain dengan baby Zia, Laras hanya tersenyum ternyata pria dingin itu sangat penyayang dengan buah hatinya.
.....
Keesokan harinya Tama sudah bersiap dengan stelan kerjanya, meski memiliki baby Laras tak melupakan tugasnya sebagai istri, dia pun membantu Tama bersiap, sebelum keluar kamar Tama memberikan kecupan ringan dikening istrinya, senyum itu mengembang dibibir keduanya.
"Jangan lupa makan ya mas." ucap Laras.
"Aku malas sebenernya kamu panggil panggil aku Mas mi aku bukan mas mas ya Tuhan." lucu sekali mendengar Tama mengeluh.
"Iya koko ampun deh." goda Laras.
"Dih aku bukan orang cina." jawab Tama.
"Tapi matanya sipit." balas Laras.
Tama mencolek hidung Laras, selalu, Laras pun tersenyum.
"Habis itu Laras harus panggil apa, abang, oppa, masak mau dipanggil be lagi, malu atuh udah ada Zia." jawab Laras manja.
"Sekarang kan udah ada Zia kamu bisa panggil aku daddy mungkin." pinta Tama.
"Dih maunya." Tama tersenyum, terlihat menggemaskan, dengan mata sipitnya yang tertutup ketika dia tersenyum.
"Ya kan aku sudah jadi ayah sekarang mi boleh lah dipanggil daddy." balas Tama.
"Baiklah daddynya Zia, apa kamu senang heemmm, pria dingin bermata sipit." Laras tertawa pelan, dia pengambil kedua pipi Tama dan mengecup bibirnya, Tama yang merasa diajari langsung menyambut ciuman itu dengan cintanya, drama pacaran yang mereka ciptakan pun ahirnya usai ketika mendengar tangisan dari baby Zia.
Tama membantu mengangkat baby Zia dari box bayinya, dan memberikanya pada Laras.
Laras yang sudah siap disofa pun segera menerimanya, dan mulai mendiamkan Zia dengan memberinya ASI.
"Daddy berangkat dulu ya mi, sayang daddy kerja dulu oke doakan daddy ya." ucap Tama.
"Siap daddy jangan lupa Sholat." Laras mengingatkan kewajiban Tama sebagai muslim.
"Siap ratuku, nanti daddy kabari ya kalau udah sampai kantor heemmm heeemmm gemes daddy sama kamu dek." Tama masih saja suka memainkan pipi putrinya, ahirnya Tama mengecup kening Laras dan putrinya lagi kemudian berpamitan berangkat ke kantor.
Dibawah Izal sudah menunggunya dan sedang mengobrol dengan Pak Bram.
"Pagi semua." sapa Tama sambil mencium pipi maminya.
"Pagi sayang." sambut mami Arini.
__ADS_1
"Si baby udah bangun belum?" tanya Mami Arini.
"Sudah oma lagi mimik susu, oia oma ntar kalau udah tiga bulan kita pindah ya." ucap Tama.
" Boleh ga papa, tapi sering seringlah kemari, oia adekmu kemana tumben dia ga telpon mami dari kemarin?" tanya Mami.
"Dia lagi patah hati cewek inceranya mau nikah hahaha." jawab Tama, Pak Bram yang mendengar itu langsung menyaut.
"Kenalin aja mi sama anak teman mami kalau ada." suruh pak Bram.
"Mami belum ada yang pas pi, mau cari yang kayak Laras belum dapet." jawab Mami tersenyum, Tama yang merasa disindir hanya tertawa pelan.
"Bang kata asistenmu Robin mau ketemu." ucap Pak Bram sepelan mungkin agar istrinya tak mendengar.
"Ada apa ya pi?"
"Mungkin dia akan bertanya tentang Laras."
"Heemm."
"Kamu jawab aja sesuai yang kamu tau bang, selebihnya kamu suruh dia temui papi." ucap pak Bram.
" Baik pi, terimakasih atas semua bantuan papi." ucap Tama.
"Hemm, hati hati dijalan, oia kasih tau adekmu suru istirahat aja sampai tangan nya sembuh." ucap paka Bram.
"Siap pi Tama jalan dulu ya Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab pak Bram dan mami Arini.
Siang itu sesuai jadwal Robin dan asistenya pun datang ke perusahaan milik Tama, kantor telihat ramai karena banyak kariawan yang kembali kekantor setelah jam makan siang mereka usai, lift yang dinaiki Robin penuh hingga berasa sesak, tak sengaja dia berhadap hadapan dengan wanita yang sangat cantik, mata mereka saling menatap.
Robin dan wanita itu merasakan sesuatu yang aneh dalam hati mereka, terlebih ketika ada dua penumpang yang mau masuk, wanita itu semakin bergerak mendekat bahkan sempat menyentuh dada Robin.
"Maaf." ucap nya sambil menurunkan tanganya dari dada Robin, Robin si pria paruh baya yang arogan dan dingin itu sama sekali tak memperdulikan wanita cantik didepan nya, dia hanya diam dan terus menjaga imej nya.
Pintu Lift pun terbuka para kariawan Tama segera keluar dan kembali ke meja kerja mereka masing masing, wanita itu menundukan kepalanya tanda berpamitan dan ucapan maafnya, Robin hanya diam tak perduli.
Ahirnya Robin pun sampai di ruangan menantunya, Izal pun mempersilahkan Tamau bos nya untuk masuk dan mempersilahkan mereka duduk.
"Maaf Mr Robin apa yang membuat anda ingin bertemu dengan saya." ucap Tama sambil mengulurkan tangan nya dan mempersilahkan tamunya duduk.
"Maaf pak, maaf boleh tau nama anda?"
ucap Robin.
"Saya Tama Demitri Mr. suami dari Laras." jawab Tama.
"Baik sebelumnya saya minta maaf nak karena sudah menyita waktumu." ucap Robin.
"Tidak masalah, ada yang bisa saya bantu." ucap Tama.
"Maukah kamu mencaritakan tentang putriku padaku." permintaan Robin tak terlalu mengejutkan buat Tama, dia menilai ini wajar karena dia sekarang juga seorang ayah.
"Tentu saja Mr. kenapa tidak, apa yang ingin anda ketahui tentang istri saya, ah maaf putri anda." jawab Tama
"Sebelumnya maukah kamu memanggilku papa." permintaan Robin kali ini membuat Tama terkejut.
__ADS_1
"Apa anda tidak keberatan Mr?" tanya Tama.
"Tentu saja tidak nak, papa malah bahagia jika seandainya kamu berkenan memanggilku papa, papa berasa tak sendiri lagi didunia ini." ucap Robin.
"Baiklah pa, jika itu yang papa mau." Tama pun menuruti apa yang Robin mau.
"Apa putriku cantik?" tanya Robin.
"Sangat pa, putri anda sangat cantik jika tidak mana mungkin aku aku menikah dengan nya." Tama tersenyum lebar, dia berusaha mencairkan suasana biar tidak terlalu tegang dan kaku.
"Kalau boleh jujur papa belum pernah bertatap muka langsung dengan nya, papa hanya pernah mendengar namanya saja dari cerita Luna." ucap Robin.
"Benarkah anda belum pernah bertemu dengan putri anda?" tanya Tama, lalu dari mana Laras tau tentang Robin.
"Belum, boleh kah aku melihat fotonya?" tanya Robin.
"Tentu saja pa, kenapa tidak." jawab Tama, dia pun mengutak atik ponselnya dan memperlihatkan foto foto Laras yang ada diponselnya.
Robil menutup munutup mulutnya dengan satu tanganya karena terkejut.
"Ada apa pa?" tanya Tama.
"Dia mirip sekali dengan mamanya (Robin membuka dompetnya dan menunjukan foto Hana pada Tama) lihatlah ini papanga bohong." ucap Robin sambil memberikan foto Hana pada Tama.
"Bener pa, mendiang mama cantik banget persis banget sama Laras." puji Tama.
Mata Robin memerah ketika memasukan foto Hana kedompetnya lagi.
"Sabar ya pa, iklaskan biar mama tenang disana." ucap Tama.
"Papa udah iklas nak, cuma papa sangat menyesal karena papa baru tau kalau dia mengandung buah cinta kami, seandainya papa tau, pasti papa bakalan perjuangin dia saat itu." ucapan Robin membuat Tama yakin bahwa pria yang terkenal arogan ini bukan pria biasa, dia memiliki hati yang baik dan bertanggung jawab, Tama menjadi kasihan padanya.
"Apa papa mau bertemu dengan putri dan juga cucu papa?" Tama mencoba menawarkan sedikit kebahagiaan untuk mertuanya.
"Apakah papa masih berhak bertemu demgan nya nak, papa sudah mendukung seseorang untuk menyakitinya, papa sudah berlaku tak baik padanya apa papa pantas endapatkan maafnya?" tanya Robin dimatanya terlihat ketakitan dan penyesalan yang mendalam.
"Siapapun yang masih ada didunia ini berhak memperbaiki diri pa, Laras adalah wanita baik hati dia pasti memaafkanmu, terlebih papa juga ga tau kan kalau dia ada." ucapan Tama sedikit memberi kekuatan pada jiwa Robin.
"Begitukah?"
"Percayalah pa."
"Tapi papa belum siap mengatakan yang sebenarnya pada istrimu siapa papa sebenernya."
"Tidak masalah pa, papa bisa pelan pelan mengenalnya, datanglah malam ini kerumah kami, saya undang papa makan malam dirumah kami." Tama ternyata pria yang bijaksana dan baik, Robin merasa beruntung memiliki menantu yang mengerti dirinya.
"Apa kamu serius?" tanya Robin.
"Tentu saja pa, datang lah dan lihatlah putrimu." ucap Tama.
"Terimakasih banyak nak, papa pasti datang." ucap Robin dengan senyuman yang menggembang diwajahnya, dia sudah berumur tapi masih terlihat tampan.
Robin pun mengundurkan diri dengan ketetapan hatinya malam ini diaemberanikan diri untuk bertemu dengan putro kandungnya.
Penasaran deh sama reaksi Robin saat bertatap muka dengan Laras, penasaran juga dengan Laras yang akan bertemu dengan selingkuhan istri paman nya, selama ini dia hanya sering mendengar namanya dari preman preman yang dulu sering keluar masuk rumahnya.
Bersambung....
__ADS_1